MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



"Ya, anggap saja begitu," jawab Daren santai seraya menyeka mulutnya yang sedikit basah karena air minum, "Daddy 'kan sudah bilang semalam, kalau Daddy ingin kamu cepat menikah. Terlalu lama menduda bisa keburu tua nanti."


Eden seketika menarik napas berat dengan raut wajah kesal, "Saya gak suka di jodohkan, Dad. Emangnya sekarang ini jamannya Siti Nurbaya apa pake di jodoh-jodohin segala?" decak Eden selera makannya seketika hilang.


"Ya sudah begini saja, kalau kamu gak mau dijodohkan maka kamu harus mencari jodoh kamu sendiri, gimana?" tanya Daren membuat pilihan untuk sang putra.


Eden meletakan sendok berikut garpu di atas piring, dia pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya menatap wajah sang ayah, "Saya sudah bilang, Dad. Saya tidak berniat untuk menikah lagi, Daddy jangan paksa saya dong,"ketus Eden seketika merasa kesal.


"Gak bisa dong, sayang. Walau bagaimana pun kamu harus memberikan Ibu baru untuk putra kamu, kasihan dia," sahut Daren membuat Nata seketika membulatkan bola matanya.


"Mas!" ujar Nata menatap tajam wajah suaminya.


Daren sontak memejamkan ke dua matanya. Kenapa dirinya bisa mengatakan hal seperti itu di depan Jackie dan juga si kembar? Si kembar dan Jackie tentu saja merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ayah mereka.


"Maksud Daddy apa? Memangnya Kaka Eden punya putra?" tanya Axelia dengan kening yang dikerutkan, "Bukannya Kaka Eden itu duren ya, alias duda keren?"


Daren sontak tersenyum lucu, hal yang sama pun di tunjukan oleh Nata. Mendengar celotehan putrinya yang satu ini membuat mereka tidak kuasa untuk menahan tawanya.


"Astaga, sayang! Tahu dari mana kamu istilah duren?" tanya Daren seraya menahan senyuman di bibirnya.


"Dari mana ya?" sahut Axelia seraya memutar bola matanya mencoba untuk mengingat, "Aku juga lupa tahu istilah itu dari mana, hehehe!" Axelia seketika tersenyum cengengesan.


"Anak pintar, kamu persis seperti Kaka Eden. Kaka emang duren, alias duda keren," imbuh Eden, rasa kesalnya seketika hilang setelah mendengar celotehan Axelia yang terdengar lucu dan menggemaskan.


"Tapi Kaka Eden gak laku, buktinya masih belum punya pacar sampai sekarang," celetuk Xela membuat mood seorang Eden kembali hancur berantakan.


"Ish, dasar! Awas kamu ya," decak Eden seraya menatap wajah Xela dengan tatapan mata kesal.


"Sudah cukup, Eden. Kamu apa-apaan? Masa di godain sama anak kecil aja marah sih?" ujar Nata mencoba untuk menenangkan mereka berdua.


"Akh, sudahlah. Saya sudah kenyang," ujar Eden seketika berdiri tegak, "Jackie, Kaka antarkan kamu sekolah sekarang yu, kamu sudah selesai makan, kan?"


"Sudah, Kak, tapi si kembar sama Mommy belum selesai makan," jawab Jackie seraya menatap wajah si kembar dan juga sang ibu secara bergantian.


"Si kembar biar berangkat sama Daddy saja. Kita berangkat berdua."


"Ya sudah kalau begitu," Jackie berdiri tegak, "Dad, Mom. Aku berangkat sama Kaka Eden ya, Xelia, Xela, kita ketemu di sekolah aja ya."


Si kembar menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


"Tunggu, Ed. Jangan lupa apa yang Daddy katakan, kalau kamu tidak ingin Daddy jodohkan, maka kamu harus mencari jodoh kamu sendiri," sahut Daren tegas dan penuh penekanan.


"Gimana nanti aja," jawab Eden singkat seraya berjalan meninggalkan ruang makan bersama Jackie sang putra.


Di kantornya, Eden tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Permintaan Daren sang ayah mengusik ketenangan hati seorang Eden. Mana mungkin dia menikah lagi di saat dirinya belum bisa lepas dari bayang-bayang mendiang istrinya? Cintanya hanya untuk Airin seorang, perasaan cinta seorang Eden seolah telah terkubur bersama jasad istrinya 5 tahun lalu.


Selama 5 tahun itu pula, tidak ada wanita yang dapat menggantikan bahkan belum ada wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta. Eden mengusap wajahnya kasar. Satu-satunya jalan agar sang ayah tidak menjodohkan dirinya adalah dengan cara mencari jodohnya sendiri. Masalahnya adalah, dirinya tidak memiliki teman kencan. Jangankan pacar, teman dekat wanita pun dia tidak punya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu seketika di ketuk dan buka, Michel masuk ke dalam ruangan hendak melaporkan sesuatu. Eden sontak menoleh dan menatap wajah itu dengan kening yang dikerutkan. Sebuah ide konyol pun tiba-tiba saja melintas di dalam benaknya.


"Selamat siang, Pak Bos," sapa Michel berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di depan meja, "Pak Daren meminta saya untuk menyerahkan laporan hasil meeting kemarin. Apa perlu saya antarkan laporan itu sekarang, Pak?"


Eden diam seribu bahasa. Ke dua matanya nampak menatap lekat wajah sekertaris yang baru bekerja selama 2 bulan dengannya. Hal tersebut tentu saja membuat Michel merasa salah tingkah.


"Pak Bos?" sapa Michel seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Eden.


"Jadilah pacar saya," pinta Eden secara tiba-tiba.


"Hah? Ma-maksud Pak Bos?" tanya Michel dengan wajah merah merona. Jujur, hati wanita berusia 25 tahun itu pun seketika merasa berbunga-bunga.


"Maksud saya, hanya berpura-pura menjadi pacar saya, Michel. Jangan salah paham dulu," ralat Eden seraya tersenyum kecil, "Jadi begini, Daddy saya akan menjodohkan saya dengan seorang wanita dan saya tidak suka di jodohkan, satu-satunya cara agar beliau tidak menjodohkan saya adalah dengan mencari jodoh saya sendiri," jelas Eden panjang lebar.


"Eu ... maksud Anda saya hanya berpura-pura menjadi pacar Pak Bos, begitu?" tanya Michel seraya menghembuskan napas berat merasa kecewa.


Eden seketika berdiri tegak lalu menghampiri Michel seraya menatap wajahnya lekat, "Betul, betul sekali! Kita hanya berpura-pura pacaran, Michel. Ayah saya itu keras kepala, kalau dia sudah memutuskan sesuatu, maka tidak ada yang dapat merubah keputusan dia. Kecuali ya itu, saya harus mencari jodoh saya sendiri."


Eden duduk di tepi meja tepat di depan Michel sekretarisnya. Hanya wanita ini yang dekat dengannya, dan hanya wanita ini juga yang bisa dia mintai pertolongan.


"Kenapa kamu diam saja, Michel? Kamu mau 'kan menolong saya?" tanya Eden penuh harap, "Kalau perlu, saya akan membayar kamu. Anggap saja, kamu adalah kekasih bayaran saya."


Michel diam seribu bahasa. Dia tidak tahu apakah dirinya akan menerima tawaran sang Bos atau tidak. Michel memang menyukai laki-laki ini, menjadi kekasihnya adalah hal yang sangat dia ingin. Namun, bukan sebagai kekasih bayaran, melainkan kekasih sungguhan.


"Maaf, Pak Bos. Saya butuh waktu untuk berpikir," jawab Michel merasa ragu.


"Kenapa kamu harus berpikir segala? Kamu cukup terima tawaran saya. Gak cuma-cuma lho, saya akan membayar kamu," tegas Eden berusaha untuk membujuk.


"Eu ... boleh saya bicara jujur sama Bapak?" tanya Michel menatap lekat wajah Eden terlihat gugup.


"Bicara saja, santai gak usah tegang begitu, Michel. Astaga!" decak Eden seraya tersenyum menyeringai.


"Jujur, saya menyukai Pak Bos. Sejak hari pertama saya bekerja di sini, Pak Bos adalah sosok yang mengagumkan. Bisa menjadi kekasih Pak Bos adalah hal yang sangat saya inginkan, tapi jika hanya sebagai kekasih bayaran, maaf saya tidak bisa. Saya takut akan terjebak nantinya."


BERSAMBUNG