MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Pendarahan



"Apa?" teriak Daren seketika merasa panik, "Bukannya tadi istri kamu baik-baik saja?"


"Airin tiba-tiba saja pendarahan, Dad. Sekarang dia di bawa ke ruang operasi," jawab Eden buliran bening seketika berjatuhan membasahi wajahnya.


"Ya Tuhan. Kita ke sana sekarang," sahut Daren segera berjalan keluar dari dalam ruangan, bahkan dia tidak sempat berpamitan kepada istri dan juga mertuanya.


Daren berjalan secara tergesa-gesa bersama Eden putranya. Dia benar-benar merasa khawatir. Pikirannya pun seketika melayang ke masa lalu ketika ibu kandung Eden menghembuskan napas terakhir setelah melahirkan putranya itu. Dia berharap kejadian yang sama tidak akan menimpa menantunya. Dirinya tidak ingin putranya ini merasakan apa yang pernah dia rasakan dahulu. Sakitnya di tinggal untuk selamanya oleh istri tercinta, dan harus membesarkan putranya sendirian tanpa seorang pendamping.


Akhirnya mereka pun sampai di depan ruang operasi, tubuh Eden seketika melemas. Dia terduduk di kursi tunggu dengan perasaan khawatir. Daren sang ayah duduk tepat di samping putranya.


"Airin pasti akan baik-baik saja, Ed. Kamu harus yakin itu," ucap Daren seraya mengusap punggung putranya lembut, "Dia wanita yang kuat, ini hanya pendarahan biasa. Daddy yakin dia akan selamat."


Daren berusaha untuk bersikap setenang mungkin, meski sebenarnya hatinya di landa rasa khawatir. Kejadian yang menimpa ibu kandung Eden kala itu seolah memenuhi otak kecilnya. Rasa sakit yang pernah dia rasakan waktu itu pun seakan kembali terasa begitu menyiksa. Namun, sebagai seorang ayah, Daren berusaha untuk menyembunyikan semua itu. Dirinya tidak ingin Eden semakin dilanda rasa panik yang berlebihan nantinya.


"Kalau Airin sampai kenapa-napa, gimana?" tanya Eden seraya terisak juga menahan rasa sesak.


"Hey! Jangan pernah bicara seperti itu. Ingat, ucapan adalah doa, Ed," imbuh Dareh mengingatkan, "Bicaralah yang baik-baik dan yakinlah bahwa, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya."


"Tapi saya benar-benar takut, Dad. Saya takut Airin akan--" Eden menahan ucapannya seraya menunduk sedih, telapak tangannya menggenggam erat jemari sang ayah, "Daddy bilang sama saya kalau Ibu kandung saya meninggal setelah beliau melahirkan saya. Saya takut Airin akan bernasib sama seperti beliau."


"Tidak, sayang. Airin pasti akan baik-baik saja, kamu tidak boleh berkata seperti itu," tegas Daren dengan nada suara bergetar, "Ingat, Tuhan sesuai dengan prasangka hambanya. Berpikirlah yang baik-baik dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa."


Eden mengangguk samar masih dengan kepala menunduk. Telapak tangannya semakin erat dalam menggenggam jemari Daren seolah ingin mendapatkan kekuatan. Buliran bening pun tidak berhenti membasahi wajahnya. Eden benar-benar merasa terpuruk.


"Tunggu! Di mana cucu Daddy?" tanya Daren tiba-tiba saja teringat sang cucu.


"Dia ada bersama perawat, Dad," jawab Eden dengan nada suara lemah.


"Lebih baik cucu Daddy itu tinggal di ruangan Mommy Nata, Daddy gak tenang jika harus meninggalkan dia dengan orang lain, meskipun dengan Perawat sekalipun," pinta Daren merasa khawatir, "Apa kamu tahu kasus bayi yang ketukar itu? Daddy tidak mau kalau cucu Daddy yang tampan itu sampai tertukar dengan bayi orang lain."


"Terserah Daddy saja, lakukan apa yang menurut Daddy baik," jawab Eden dengan nada suara lemah.


"Kamu tunggu di sini sebentar, Daddy akan meminta Perawat untuk memindahkan putra kamu ke ruangan Mommy Nata."


Eden hanya menganggukkan kepalanya.


Daren mengusap punggung putranya lembut sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan sang putra sendirian.


* * *


Ceklek!


Pintu ruangan di mana Nata berada pun di buka. Daren masuk ke dalam ruangan bersama sang cucu di dalam gendongannya. Nata dan ke dua orang tuanya sontak menoleh dan menatap wajah laki-laki itu dengan perasaan khawatir.


"Mas Daren," sapa Nata, ke dua matanya tertuju kepada bayi yang saat ini di gendong oleh suaminya, "Dia putranya Eden?"


"Sini Daren, berikan kepada Mommy. Biar Mommy gendong dia," ucap Merry meraih bayi merah yang masih di bedong itu, "Tampan sekali kamu, Nak," lirihnya seraya menimang bayi tersebut.


"Bagaimana keadaan Airin, Mas?" tanya Nata seraya menatap sayu wajah suaminya, "Dia baik-baik saja, kan?"


"Airin masih berada di ruang operasi, Mas juga gak tahu dia kenapa," jawab Daren, raut kesedihan terlihat jelas dari wajah tampannya.


Sebagai seorang istri, Nata tentu saja dapat merasakan bahwa suaminya ini sedang tidak baik-baik saja. Wajahnya terlihat ceria sebelumnya, bibirnya bahkan senantiasa menyunggingkan senyuman bahagia sebelum Eden datang dan membawa kabar yang menyedihkan. Kebahagiaan yang semula terpancar dari wajah Daren seolah sirna begitu saja.


"Airin pasti baik-baik saja, Mas," ucap Nata seraya mengusap punggung tangan suaminya lembut, "Bawa aku ke sana, Mas. Aku juga ingin menemani Eden di sana, kasihan dia kalau harus di tinggal sendirian."


"Mana bisa, sayang. Tubuh kamu masih lemas," jawab Daren merasa keberatan.


"Aku baik-baik saja, Mas. Aku udah gak apa-apa," imbuh Nata mencoba untuk meyakinkan, "Bawa aku pakai kursi roda, aku mohon. Aku ingin menemani Eden."


Daren memejamkan ke dua matanya. Dia merasa bingung harus berbuat apa sekarang. Dirinya pun tidak ingin jika istrinya sampai kenapa-napa. Namun, dia tahu lebih dari siapapun betapa keras kepalanya Natalia Agatha istri yang sangat dia cintai itu.


"Tak apa, Daren. Bawa saja Nata pakai kursi roda," sahut Jude yang juga masih berada di sana, "Si kembar sama cucu-mu biar kami yang menjaganya di sini."


Daren menghela napas panjang seraya menatap wajah istrinya, "Kamu yakin akan baik-baik saja jika Mas bawa kamu ke sana? Mas takut kamu kenapa-napa, sayang. Kamu baru saja melahirkan bayi kembar lho," tanya Daren benar-benar merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja, Mas sayang, aku ke sana juga pakai kursi roda," jawab Nata mencoba untuk meyakinkan suaminya, "Yang bahaya itu jika aku ke sana sambil lari-lari, baru kamu patut khawatir."


Lagi-lagi Daren hanya bisa menghela napas berat, dia pun meraih kursi roda yang memang sudah tersedia di sana. Dirinya benar-benar akan membawa Nata untuk menemani Eden, sedangkan si kembar dan cucu kesayangannya akan di jaga oleh Jude dan juga Merry, mertuanya.


* * *


"Ed," sapa Nata sesaat setelah dia tiba di hadapan Eden yang saat ini masih menunduk sedih.


Eden sontak mengangkat kepalanya lalu menatap wajah sahabat sekaligus ibu sambungnya dengan tatapan mata sayu.


"Mom Nata," gumam Eden seketika merentangkan ke dua tangannya lalu memeluk tubuh Nata, "Airin, Mom. Airin ..." Tangis Eden seketika pecah di dalam pelukan Natalia tanpa sungkan dan tanpa rasa malu sedikitpun seolah wanita itu adalah ibu kandungnya sendiri.


"Kamu tenang, Ed. Aku yakin Airin akan baik-baik saja," jawab Nata mengusap punggung putra sambungnya lembut, "Pendarahan adalah hal yang sering terjadi kepada Ibu yang baru saja melahirkan, percayakan kepada Dokter dan yakinlah bahwa istri kamu akan baik-baik saja."


Eden tidak mengatakan apapun lagi. Yang dia lakukan adalah mendekap erat tubuh Nata, layaknya seorang anak kecil yang sedang mencari ketenangan dari seorang ibu.


Klik!


Lampu ruangan operasi seketika padam sebagai pertanda bahwa operasi baru saja selesai diadakan. Seiringan dengan itu, Dokter pun keluar dari dalam ruangan tersebut. Eden segera mengurai pelukan lalu bangkit dan menghampiri sang Dokter, hal yang sama pun di lakukan oleh Daren.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia baik-baik saja, kan?"


BERSAMBUNG