
\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*
Seorang wanita cantik sedang bergelut di depan setumpuk berkas yang membuatnya pusing tujuh keliling.
Huhh
Alexi Ferrers, yap wanita itu adalah Alexi Ferrers. Banyak sekali berkas yang mengharuskan untuk ia menyelesaikan hari ini juga. Alexi berhenti sejenak membaca - baca berkas - berkas itu ia memijit pelipisnya yang tiba - tiba terserang pusing.
Apalagi dengan kejadian tadi pagi yang membuatnya tambah pusing dan tak sepenuhnya bisa berkonsentrasi dengan berkas yang ada di hadapannya.
Flashback On.
Alexi bangun dari tidurnya sangat pagi sekali sebelum matahari naik ke permukaaan, ia segera menuju ke kamar mandi untuk memulai ritual mandinya. Tak membutuhkan waktu lama hanya sekitar 20 menit Alexi akhirnya menyelesaikan ritual mandinya dan segera menuju ke dapur membuat sarapan untuk suami dan anak - anaknya.
Cukup lama ia menghabiskan waktunya di dapur hampir sekitar 1 jam ia berperang dengan bahan masakan dan alat - alat dapur akhirnya Alexi menyelesaikan masakan spesialnya yaitu Pancake dengan siraman sirup maple di atasnya membuat tampilan Pancake itu lebih menggiurkan.
Saat melihat tampailan Pancake dan aroma Pancake yang menguar keluar perut Alexi berdemo untuk segera di isi dengan Pancake itu.
Setelah di rasa semua beres Alexi segera meuju ke atas ke kamarnya dan suaminya untuk membangunkan Darren dan menyiapkan kebutuhannya.
Sesudah sampai di depan pintu kamarnya, Alexi memegang knop pintu dan memutarnya dan setelah pintu terbuka Alexi langsung masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah Darren suaminya yang masih bergelung di bawah selimut dengan nyenyaknya.
Wajahnya yang polos saat tidur seperti ini membuatnya berkali - kali lipat lebih tampan, tanpa sadar Alexi tersenyum tipis melihat pemandangan ini.
Setelah puas memandangi Darren, Alexi segera membangunkan Darren dari tidurnya.
" Darren, bangun! " Alexi menggoyangkan pelan bahu suaminya tapi Darren tetap terlelap dalam tidurnya.
" Darren, bangun! " Kali ini Alexi menepuk pelan pipi suaminya. Darren mengerang dalam tidurnya, perlahan kelopak mata Darren terbuka Alexi tersenyum melihat Darren sudah bangun tapi tatapan Darren membuat senyum Alexi pudar. Darren menatap Alexi dengan datar tanpa ekspresi sedikit pun.
'Tak biasanya Darren menatapku seperti itu saat bangun tidur, biasanya ia selalu menebar senyumnya kala melihatku pertama kali saat ia bangun dari tidurnya' Alexi berucap dalam hati.
Tapi Alexi tetap diam meskipun Darren menatapnya seperti itu, Darren bangkit dari kasur kemudian melenggang pergi begitu saja ke kamar mandi tanpa memperdulikan raut wajah Alexi yang sudah memerah menahan tangis.
Sebelum ke kamar mandi Darren melihat raut wajah Alexi yang menahan tangisnya tentu saja tanpa sepengetahuan Alexi. 'Maaf sayang' Ucap Darren dalam hati.
Alexi terus memperhatikan Darren sampai tubuh suaminya itu hilang di balik pintu kamar mandi, setelah itu Alexi menuju ke kamar anak - anaknya.
Dengan melihat kedua buah hatinya mungkin saja mood Alexi yang tadi rusak akibat Darren suaminya bisa kembali saat menatap wajah - wajah polos kesayangan Alexi itu.
Dengan penuh semangat Alexi segera menuju ke kamar kedua buah hatinya dan langsung melenggang masuk ke dalamnya. Sama dengan yang Alexi lihat di kamar Darren suaminya, kedua buah hatinya juga bergelung di bawah selimut.
Alexi membangunkan kedua buah hatinya dengan menciumi wajah kedua buah hatinya bergantian.
" Hello baby, wake up " Alexi terus menciumi wajah kedua buah hatinya bergantian terus menerus. Tapi yang di dapatkan Alexi sama halnya dengan yang di dapatkan di kamar Darren suaminya, kedua buah hatinya menatapnya datar ke arah Alexi.
Kalau Aldrich Alexi sudah biasa karena memang dari dulu wajahnya selalu datar tapi kalau Maisha, dia selalu ceria dan tak pernah menampakkan wajah datarnya seperti itu apalagi kepada Alexi.
Alexi jadi bingung entah apa kesalahannya sampai semua orang yang ia sayang menatapnya datar seperti itu.
Flashback End.
Alexi kembali berkutat dengan berkas - berkas yang ada di hadapannya, ya meskipun pikirannya melayang entah kemana.
Lama Alexi berkutat dengan berkasnya. Waktu makan siang akhirnya tiba. Alexi menunggu telfon atau sekedar chat dari Darren suaminya tapi hasilnya nihil tak ada notofikasi apapun dari aplikasi telfon berwarna hijau tersebut.
" Huhh, mengapa dia tak menghubungiku sama sekali? " Tanya Alexi pada dirimu sendiri, Alexi mendeguskan nafasnya kasar lalu menyandarkan badannya ke kursi kebesarannya.
Alexi memejamkan matanya sejenak kemudian melanjutkan kegiatannya yaitu memeriksa berkas - berkas dan membubuhinya dengan tanda tangannya.
Alexi tak peduli walaupun sudah waktunya makan, selera makannya tiba - tiba hilang jadi ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Alexi. Ia hanya diam tak merespon ketukan tersebut dan memilih melanjutkan memeriksa berkas yang ada di hadapannya. Tak lama Marry muncul dari balik pintu.
" Excuse me miss, it's time for lunch. Is Miss not eating? " ( Permisi Nona, sudah waktunya makan siang. Apakah Nona tidak makan? ) Alexi hanya menggelengkan kepalanya dan tetap fokus pada berkasnya.
" Do you want to buy anything? " ( Apakah Nona mau di belikan sesuatu? ) Tanya Marry lagi.
" Not. You eat I will continue my work !! " ( Tidak. kau makanlah aku akan melanjutkan pekerjaanku!! ) Marry menundukkan kepalanya tanda hormat kemudian berlalu pergi dari hadapan Alexi.
...
Tak terasa hari sudah sore. Waktunya untuk pulang bagi karyawan kantoran begitu juga dengan Alexi.
Sampai 30 menit kemudian Alexi baru sampai di halaman mansionnya, ia segera turun dan masuk ke mansion. Di dalam terlihat sepi seperti tak ada kehidupan.
Biasanya ada suara kedua buah hatinya yang menyambutnya tapi sekarang tak ada satupun suara.
Huft
Alexi menyalakan lampu yang ada di mansionnya kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu ia turun ke lantai satu dan mulai memasak makan malam.
Bahkan para pelayan juga tak satupun terlihat, sebenarnya kemana mereka semua. Alexi sudah sangat bingung dengan situasi ini. Apa sebenarnya yang terjadi?
Akhirnya makanan yang Alexi masak telah jadi dan ia menatanya di meja makan dan menunggu kedua buah hatinya dan suaminya pulang. Mungkin saja mereka ke mansion Mommy terlebih dahulu karena Mommy merindukan dengan cucu - cucunya dan sebentar lagi pulang.
...
Sudah 2 jam Alexi tapi yang ia tunggu tak ada menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia bertambah khawatir dan dari tadi ia sudah mencoba menelfon suaminya itu tapi tak kunjung di angkat, hanya suara operator yang dari tadi menjawab.
Alexi semakin gelisah memikirkan segala kemungkinan - kemungkinan yang ada tapi ia segera mengenyahkannya. Alexi bahkan sampai melupakan makannya.
Alexi duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan masih mencoba untuk menghubungi suaminya itu tapi tetap saja hasilnya nihil.
Sampai Alexi tak sadar bahwa ia terlelap di sofa ruang tamu dengan handphone yang berada di genggamannya yang menampilkan nomer suaminya.
...
Sayup - sayup Alexi mendengar suara keributan di sekitarnya, perlahan ia membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah lampu - lampu kecil yang di susun dengan rapi dan indah.
Alexi terkejut dan melebarkan matanya, kantuknya tiba - tiba hilang tatkala matanya menangkap sosok yang dari tadi ia coba ingin tau keberadaannya.
Darren, Yap itulah orangnya. Dan yang membingungkan lagi adalah saat ini ia berada di dalam dekapan suaminya itu dan berada di tempat asing.
" Darren " Cicit Alexi lirih, ia takut Darren menampilkan wajah datarnya seperti tadi pagi. Tapi pemikirannya salah saat ini Darren tersenyum lebar kepada Alexi, bagaikan sihir Alexi terbius dengan senyuman suaminya ia ikut tersenyum.
Darren menurunkan Alexi dari gendongannya dan berkata.
" 3 2 1 " Ucap Darren sambil membalikkan badan Alexi yang semula menghadap ke arahnya menjadi membelakanginya.
Di sana di atas langit kota New York, kerlap - kerlip dari kembang api saling bertabrakkan dan membentuk kata " HAPPY BIRTHDAY MY WIFE " tak sampai di situ kekaguman Alexi kembang api itu membentuk suatu kata lagi yaitu " MOMMY DARI ANAK - ANAKKU. "
Alexi tak bisa membendung air matanya lagi, air matanya meluncur bebas melewati pipinya. Ia menuutup mulutnya, ia sangat terharu dengan perlakuan suaminya itu.
" Happy Birthday My Wife " Bisik Darren di telinga Alexi, Alexi membalikkan badannya dan memeluk suaminya erat.
Tiba - tiba suara riuh terdengar dari arah belakang, Alexi membalikkan badannya dan terkejut. Di situ seluruh orang - orang yang di sayangnya berada di depannya.
Lagi - lagi Alexi menangis haru, ia sangat bahagia.
" Mommy " Tiba - tiba panggilan tersebut mengalihkan atensina dari orang - orang yang ia sayangi.
Kedua buah hatinya berlari dan memeluk kakinya erat sambil berkata. " Happy birthday Mommy " Alexi tersenyum. Ia mensejajarkan tinggi badannya dengan kedua buah hatinya kemudian memeluk mereka erat.
" Makasih sayang " Ucap Alexi, ia mencium puncak kepala kedua buah hatinya bergantian dan di balas dengan kecupan sayang dari kedua buah hatinya di pipi. Aldrich di pipi kiri dan Maisha di pipi kanan.
Satu persatu mengucapkan Happy birthday kepada Alexi begitu juga dengan sepupu satu - satunya Billy. Tapi sayang Bibi dan pamannya masih di balik jeruji besi karena kasus yang mereka lakukan dan membuat Darren tak terima akan semua hal tersebut.
Semua orang kembali menikmati pesta yang Darren persiapkan. Darren membawa Alexi ke ujung roftop untuk menikmati indahnya pemandangan Kota New York dari atas yang menampilkan seliruh Kota New York.
" Maaf ya sayang aku dan anak - anak tadi pagi mengacuhkanmu. " Alexi hanya tersenyum dan berkata. " Thank You " Ucap Alexi tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan lampu - lampu di depannya.
" For what "
" For all " Darren kemudian memeluk bahu Alexi dari samping dan berkata. " Happy Birthday My Beutifull President'S Wife "
Dari arah belakang Aldrich dan Maisha menghampiri Alexi dan Darren. Alexi dan Darren pun menggendong kedua buah dan menikmati indahnya pemandangan di di depan mereka bersama - sama.
Tak ada kata mulus dalam hidup.
Semuanya pasti ada masalahnya tersendiri.
Entah itu masalah besar ataupun kecil.
Yang membedakan hanyalah bagaimana kita menyelesaikannya.
**End**.