
\*\*\* AUTHOR POV \*\*\*
sudah 1 minggu berlalu sejak kejadian terakhir kali, kini Darren kembali lagi ke rutinitasnya di perusahaan begitu juga dengan Alexi yang memulai kembali rutinitasnya di perusahaan tentu tanpa sepengetahuan dari Darren.
Entah kenapa Alexi masih saja tak bisa jujur terhadap Darren tentang siapa sebenarnya dirinya, Alexi hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan siapa dirinya sebenarnya kepada Darren suaminya.
Dan mungkin saja waktu itu tak akan lama lagi tiba untuk dirinya memberitahukan Darren tentang semuanya tanpa terkecuali sedikit pun.
saat ini Alexi sedang mengerjakan berkas - berkas yang harus ia tanda tangani agar dapat segera di selesaikan. tapi, tiba - tiba ponsel Alexi berbunyi.
*Chorus
'Cause I knew you were trouble when you walked in
So shame on me now
Flew me to places I'd never been
'Till you put me down
Oh, I knew you were trouble when you walked in
So shame on me now
Flew me to places I'd never been
Now I'm lying on the cold hard ground
( Taylor Swift - I Knew You Were Trouble*. )
Alexi pun mengangkat panggilan tersebut yang ternyata panggilan dari Darren.
" halo, Darren ada apa ? " sahut dan tanya Alexi saat panggilan tersambung.
" apa kita bisa makan bersama nanti siang ? aku ingin makan bersama dengan mu " pinta Darren manja. Di seberang telfon Alexi menyergitkan dahinya bingung dengan sikap Darren.
" kenapa dengan dirinya hari ini, tak seperti biasanya dia bersikap seperti ini kepadaku dan kenapa dia bertanya biasanya kan dia gak perlu tanya - tanya dahulu, apalagi sifat ditraktornya itu pasti dia gak mau ucapannya di bantah sekalipun itu orang terdekatnya " ucap Alexi dalam hati. cukup lama Alexi terdiam dengan segala pemikirannya dan Darren yang tak sabar terus saja memanggil nama Alexi berkali - kali.
" Lexi " panggil Darren di seberang telfon agak meninggikan suaranya karena dari tadi Alexi hanya diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
" ah, ya " sahut Alexi terkejut dengan teriakan Darren di seberang telfon.
" kamu kok diam aja sih, kamu gak mau makan siang bareng sama aku bilang aja gak usah gitu " setelah mengucapkan kalimat itu Darren langsung memutuskan sambungan telfonnya.
Alexi kalang kabut setelah Darren memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak tanpa mendengarkan Alexi berbicara terlebih dahulu.
.
.
.
.
.
\*\*\* ALEXI FERRERS POV \*\*\*
Saat ini aku sudah sampai di depan perusahaan Darren yang tak lain adalah suamiku sendiri. aku pun bergegas masuk ke perusahaananya, dan menanyakan ke bagian resepsionis di mana ruangan Darren karena memang ini baru pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di perusahaan.
Dan aku benar - benar terpukau dengan design dan tata letak dari perusahaan Darren.
" Is there anything I can help ? " ( apa ada yang bisa saya bantu ? ) tanya resepsionis itu dengan ramah dan tersenyum ke arahku.
" I want to go to the presdint room " ( saya mau ke ruangan presdint ) jawabku dengan tersenyum ke arah resepsionis tersebut.
" did you make an appointment ? " ( apakah sudah membuat janji ? ) tanya resepsionis itu masih dengan senyuman yang bertengger di bibirnya.
" em, that's it " ( em, ya sudah ) jawab ku, sebenarnya sih aku tak membuat janji dengan Darren tapi aku juga tak sepenuhnya berbohong karena tadi Darren memang menyuruhku ke perusahaannya untuk makan siang bersama sebelum kesalahpahaman itu terjadi.
" please go up to the 30 floor the room is on the left " ( silahkan naik ke lantai 30 ruangannya ada di sebelah kiri )
" thank you " ( terima kasih ) kemudian aku naik lift menuju ke lantai 30 tempat ruangan Darren berada.
tak lama aku pun sampai di lantai 30 tepat di depan ruangan Darren berada. di sini sangat hening sekretaris dan asisten pribadi Darren tak satupun ada di tempatnya. aku pun tak pikir panjang segera mengetuk pintu ruangan Darren tapi setelah aku mengetuk beberapa kali tak kunjung ada jawaban dari dalam ruangan Darren.
aku mulai jengah terus - terusan mengetuk pintu ruangan Darren tapi tak kunjung ada jawaban. akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Darren dan masuk ke dalam untuk urusan dia akan marah padaku iku akan menjadi urusan belakangan.
aku pun membuka pintu ruangan Darren dan aku sangat terkejut, hal pertama yang aku lihat di ruangan itu Darren sedang berciuman dengan seorang wanita yang berada di pangkuannya. akhirnya aku membaranikan diri untuk memanggil Darren.
" Darren " panggil ku lirih dengan air mata yang yang terus mengalir melewati pipiku, aku tak kuasa menahan kesedihan ini. semuanya tumpah dan pertahananku runtuh, hatiku sakit bagai di tusuk - tusuk dengan pedang.
saat ini aku masih berdiri di ambang pintu dengan air mata yang setia mangalir di pipiku dan aku lihat Darren sangat terkejut mendapati diriku berada di depannya terbukti dengan dia langsung mendorong wanita itu untuk melepaskan tautan mereka berdua.
khatelyna, ya khatelyna lah yang sedang bercumbu mesra dengan Darren suamiku saat ini. ku lihat dia tertawa sinis memandang ke arah ku. aku sudah tak tahan lagi akhirnya aku pun berbalik dan pergi meninggalkan dua manusia yang masih setia dengan terkejutannya karena ke datangan ku di hadapan mereka.
sepanjang jalan aku tak henti - hentinya mengeluarkan air mata dari pertama aku keluar gedung perusahaan Darren, bahkan semua karyawan Darren yang ku lewati menatapku aneh karena aku berjalan tergesa - gesa sambil menangis dengan pilunya. dan juga aku sudah tak peduli dengan semua orang yang menatap ku aneh atau apalah itu, aku terus berjalan tak tentu arah.
setelah aku rasa cukup jauh dari gedung perusahaan Darren, aku memberanikan diri menengok ke belakang ternyata Darren tak mengejarku sama sekali. dan saat ini aku sadar bahwa aku bukan siapa - siapa walaupun aku istri sahnya tapi tetap aku tak berarti sama sekali di matanya.
" aku harus bagaimana tuhan " ucap ku dalam hati dengan tangisan piluku.
" aku lelah, aku ingin menyerah " ucap ku lagi, aku pun berjongkok dan menutupi wajah ku yang menyedihkan.
" Darren selamat tinggal, aku menyerah " ucap ku lirih dengan air mata yang setia menetes tiada hentinya dari mata ku, setelah itu aku bangun dan pergi meninggalkan jalanan yang menjadi saksi bisu ku bahwa aku sudah menyerah.
maaf ya readers aku lama banget up nya, aku benar - benar sibuk akhir - akhir ini 🙇♂️🙇♂️.
dan terima kasih yang sudah sabar dan setia menunggu kelanjutan dari novel ku ini.
see you 😚😚