
\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*
Setelah kemarin menghabiskam waktuku bersama dengan kedua buah hatiku, akhirnya saat ini aku mulai menyibukkan diriku dengan perkerjaan perusahaan dan untuk persiapan pertunjukkan busana perusahaan sudah mencapai 60 persen.
Aku bisa bernafas lega karena sejauh ini semua persiapannya masih aman terkendali, aku hanya berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada masalah sedikitpun.
Dan seperti hari - hari biasanya, Darren menemuiku di perusahaan dan menggangguku membuat konsentrasiku buyar. Entah harus dengan cara apalagi aku bisa mengusirnya dan membuatnya tidak kembali lagi ke perusahaan jika tak ada hal yang penting.
Aku sudah menyerah, semakin aku mengusirnya semakin gencar pula dia mendatangiku jadi ku putuskan untuk membiarkannya melakukan hal apapun sesuka hatinya. Aku sudah tak peduli dan tak akan pernah peduli.
Seperti saat ini, saat diriku sedang fokus berkutat dengan semua berkas - berkas penting perusahanku, tiba - tiba terdengar ketukan pintu dari luar ruanganku.
Tok Tok Tok..
Aku pun mempersilahkannya masuk tanpa menoleh ke asal suara dan senantiasa fokus ke berkas - berkas yang ada di hadapanku.
Setelah itu terdengar pintu di buka dan tak lama kemudian pintunya kembali di tutup tapi aku tak menghiraukannya dan masih fokus dengan berkas - berkasnya agar aku cepat selesai dan bisa pulang karena aku sudah berjanji akan menemani buah hatikuu jalan - jalan di mall dan bermain.
Cukup lama aku menanti seseorang di depanku untuk mulai pembicaraan tapi anehnya setelah beberapa menit tak ada suara apapun dan seseorang yang berada di depanku juga hanya berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Akhirnya aku pun mendongakkan wajahku melihat siapa yang berada di depanku ini, saat aku mendongakkan wajahku mataku otomatis melotot pasalnya yang ada di hadapanku saat ini adalah Darren. Dia sedang berdiri di hadapanku, memandangiku dengan tersenyum, mungkin saja dia sudah tidak waras.
Lagi - lagi dia ke sini, apakah perusahaan dia begitu lenggang sampai setiap harinya dia ke sini ?, tentu saja kata - kata itu hanya ku ucapkan di hatiku, lidahku serasa kelu jika harus mengucapkannya secara gamblang.
Tanpa memperdulikannya, aku pun kembali fokus ke berkas - berkas di atas meja kerjaku, karena aku ingin segera menemani kedua buah hatiku jalan - jalan ke mall dan bermain.
Aku ingin menebus semua waktu yang sudah kita lewati dua minggu ini di New York, karena kesibukanku akhirnya kedua buah hatiku tidak mendapat perhatianku dan hanya di jaga oleh baby sitternya.
Yap, aku memang memperjakan baby sitter untuk mereka karena karena di sini aku tidak ada keluarga lagi, hubunganku dengan paman dan bibi juga tak terlalu baik apalagi mereka juga tak tahu bahwa aku sudah menikah, Om ku juga saat ini sedang sakit dan berada di rumah sakit.
Sepulang dari perusahaan pasti aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Om, dan akhir - akhir ini keadaannya sudah mulai membaik dan kata dokter juga mungkin Om ku akan segera sadar.
Aku lega mendengarnya dan aku berharap semua itu cepat terjadi. Akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega.
Sekitar dua jam aku berkutat dengan berkas - berkas ku, dan dua jam pula Darren berada di dalam ruanganku tak melakukan apapun dan hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya, mungkin dia ada pekerjaan dan mengapa pula ia tak kembali saja ke perusahaan dari pada di sini hanya membuatku geram dan rasanya ingin sekali ku pukul wajahnya itu.
Memang awalnya Darren hanya berdiri di depan meja kerjaku, sampai setengah jam kemudian akhirnya dia duduk di sofa yang ada di ruanganku, mungkin dia capek hanya berdiri apalagi diriku yang tak memperdulikan keberadaannya.
Akhirnya berkas yang ku kerjakan bisa selesai meskipun hanya setengahnya. Aku pun mendongak dan berbicara pada Darren. " Gak bosen, kenapa gak balik aja ? sebentar lagi aku juga mau pulang " Ucapku setelah hanya keheningan di ruanganku, Darren pun mendongakkan wajahnya kemudian menatapku. Entah mengapa aku selalu gugup jika di tatap Darren seperti itu.
" Aku anter kamu pulang ya ! " Darren mematikan handphonenya dan menyimpannya di saku jasnya.
" Gak usah aku bisa sendiri, aku juga bawa mobil " Tolakku, ku lihat wajah Darren kemudian murung.
*kenapa aku jadi kasihan lihat wajahnya seperti itu ?
Apa aku sudah keterlaluan* ?
apalagi aku belum pernah mendengarkan penjelasan apapun dari dia, bisa jadikan Khatelyna yang menjebak dia. Tapi aku terlalu takut untuk mendengarkan penjelasannya, aku takut semua yang ku lihat adalah kebenarannya.
Aku hanya menatap wajah Darren lekat, tanpa ku sadari Darren sudah berjalan ke arahku dan sekarang ia sudah berada di depanku memandangku lekat.
Tiba - tiba tubuhku menegang tatkala tangan Darren mengusap puncak kepalaku, aku pun mendongakkan wajahku, ku lihat dia di depanku menatapku dengan senyuman yang mampu mendebarkan jatungku hingga tiga kali lipat.
Akhirnya Darren pun berkata. " Ya sudah aku pulang dulu " Kemudian Darren mencium keningku lama, tubuhku lagi - lagi menegang kemudian aku memejamkan mataku meresapi kehangatan Darren melalui ciuman yang dia berikan di keningku.
\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*
Sesuai rencana Alexi tadi, ia akan mengajak buah hatinya jalan - jalan ke mall.
Saat ini mereka sudah berasa di mall begitu juga dengan baby sitter kedua buah hatinya, mereka sedang bermain di Timezone.
Alexi hanya mengikuti kedua buah hatinya yang sedang asik memainkan segala permainan yang mereka inginkan bersama dengan baby sitternya. Ia bahagia melihat tawa yang dari tadi menghiasi wajah kedua buah hatinya tersebut.
Setelah puas bermain, Alexi mengajak kedua buah hatinya berbelanja. Mereka berkeliling berbelanja baju, sepatu dan perlengkapan lainnya, Alexi juga membelikan baby sitter kedua buah hatinya baju, sepatu dan tas, meskipun awalnya dia menolak tapi Alexi meyakinkannya untuk menerima pemberiannya.
Saat sedang asik berbelanja, Tiba - tiba Maisha dan Aldrich ingin buang air kecil dan mereka pun ke kamar mandi dengan di antar oleh Mbak Enza baby sitter kedua buah hatinya dan Alexi harus membayar belanjaan mereka.
Setelah selesai membayar belanjaan mereka, Alexi duduk di bangku yang tersedia di depan toko tempat mereka berbelanja sembari menunggu kedua buah hati serta baby sitternya balik dari kamar mandi.
" Alexi " Tiba - tiba Alexi mendengar namanya di panggil, dan Alexi tahu betul itu suara siapa, ia masih sangat hafal suara itu, suara seseorang yang sangat ia cintai siapa lagi kalau bukan Darren.
Alexi menoleh ke samping kanannya dan mendapati Darren berdiri di situ dengan William yang berada di sampingnya. Alexi masih tertegun dan tak membalas panggilan Darren, bibirnya masih terkatup rapat karena keterkejutannya.
Tiba - tiba dari arah belakang Darren, Alexi mendengar kedua buah hatinya memanggilnya. Ia tiba - tiba merasa takut, ia takut Darren mengetahui bahwa ada anak di antara mereka dan Darren tak menerima mereka.
Maisha dan Aldrich pun menghampiri Alexi dan memeluk Alexi, kemudian berkata. " Mommy Isha lapel " Ucap dengan cadel, Maisha tersenyum dan masih memeluk tubuh Alexi, Alexi tetap tak bergeming, ia melamun dan tak tahu apa yang akan ia lakukan.
Maisha pun kambali berseru. " Mom, Isha lapel " Alexi tersadar kemudian ia mengusap puncak kepala Maisha sayang sambil tersenyum.
" Iya sayang, sekarang kita makan dulu lalu pulang ya " Alexi masih setia mengusap puncak kepala Maisha dan tersenyum.
" Alexi, mereka.. " Darren menggantungkan kalimatnya, Alexi yang mendengar suara Darren kembali menegang, kegiatan mengusap puncak kepala Maisha pun berhenti.
" Eh Om yang di taman itu kan " Seru Maisha.
*Aku bingung, apakah mereka pernah bertemu ?
Di taman, kapan mereka bertemu di taman dan taman mana pula* ?
Darren tersenyum, dan ia pun berkata. " Alexi, jelasin siapa mereka ? apa mereka anak kita ? " Tanya Darren tidak sabaran.
Alexi berpikir, apakah mungkin ini waktunya Darren untuk mengetahui semuanya ? Bagaimana jika dia tak mau menerimanya ?
Jika Darren tak mau menerima mereka berdua, aku juga masih bisa membesarkan mereka tanpa adanya Darren. Toh lima tahun ini aku juga membesarkan mereka sendiri tanpa adanya figur seorang suami.
Aku pun mendongakkan wajahku dan berkata. " Iya, mereka berdua anak kita " Akhirnya kata itu pun meluncur juga dari bibir Alexi.
Setelah mengatakan hal tersebur Darren hanya diam saja, dia tak mengeluarkan suara apapun. kemudian tiba - tiba dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan kedua buah hati kami.
Darren langsung memeluk erat mereka berdua sambil bergumam. " Sayang ini Daddy " Hati Alexi menghangat mendengar penuturan Darren, tanpa terasa air matanya tumpah.
Kemudian Darren merentangkan tangannya meminta Alexi juga masuk ke dalam pelukan mereka bertiga, tanpa berkomentar apapun Alexi segera berhambur ke pelukan Darren ia menangis di dalam pelukan Darren bersama kedua buah hati mereka.