My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 35



\*\*\* ALEXI FERRERS POV \*\*\*


Sebenarnya aku kaget mendengar teriakan Jennifer dan saat aku menoleh ternyata ada mobil honda jazz berwarna putih sedang mengarah kearah ku dengan kecepatan maksimal seakan - akan mobil itu memang sengaja ingin menabrakku.


Belum sempat aku menghindar tapi mobil itu hampir mendekat ke arahku. Akhirnya yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menutup mataku rapat - rapat sambil merapal segala do'a jika memang ini ajalku. Aku bahkan tak lupa mengucapkan selamat tinggal dan mendo'akan Darren agar dia selalu bahagia kapanpun dan dimanapun dirinya.


Setelah itu aku tidak merasakan apa - apa pada tubuhku. Sakit sedikit pun tidak, dan aku berfikir apa aku langsung meninggal sehingga aku tak merasakan apapun pada tubuhku.


Sampai sebuah suara mengintrupsiku dan aku kenal betul suara siapa itu. Itu adalah suara Jennifer sahabatku. Lagi - lagi aku berfikir apa Jennifer juga meninggal seperti ku. Perlahan - lahan tapi pasti aku buka mataku dan aku terkejut, bahwasannya Darren saat ini berada di bawahku dan aku di atasnya. Kemudian aku bangkit dan membantu Darren bangkit.


Aku melihat luka di telapak tangan Darren dengan darah yang senantiasa menetes. Hatiku serasa teriris melihatnya terluka seperti itu apalagi dia terluka juga gara - gara menolongku.


" Darren, kita ke rumah sakit ya sekarang luka kamu harus segera di obati kalau tidak nanti inveksi " ucapku panik dan khawatir melihat tangan Darren yang dari tadi mengeluarkan darah segarnya.


Darren hanya membalas dengan senyuman dan kemudian bangkit dengan aku yang membantunya. Aku pun membawa Darren ke mobil dan berlalu ke rumah sakit.


.


.


.


.


15 menit kemudian aku dan Darren pun sampai di rumah sakit dan segera memanggil dokter untuk menangani luka Darren.


" doctor, help me " ( dokter, tolong saya ) a teriakku memanggil dokter agar segera menangani luka di telapak tangan Darren.


Tak lama dokter pun tiba dan membawa Darren untuk segera di obati agar tak inveksi. Aku menanti dokter yang mengobati luka Darren dengan perasaan cemas dan bersalah karena semua itu terjadi juga karena kecerobohanku.


Saat aku menanti dokter yang menangani Darren keluar, aku kelupaan sesuatu tapi aku juga gak ingat apa yang aku lupakan itu. Aku berpikir apakah yang aku lupakan, setelah aku ingat - ingat ternyata aku melupakan Jennifer.


" bodoh, mengapa aku bisa melupakan dia. Ini semua gara - gara Darren terluka aku jadi melupakan Jennifer. Aku harus menelfon dia bisa - bisa nanti dia marah karena aku tadi langsung meninggalkannya begitu saja " ucapku dengan merutuki kebodohanku sendiri yang melupakan sahabat baikku.


Aku pun menelfon Jennifer, tapi sampai sambungan ke - dua dia tak kunjung mengangkat telfon dariku. Saat aku akan mematikan sambungan telfonnya ternyata Jennifer sudah mengangkat terlfon dariku.


" Halo, Alexi " sahut Jennifer dari sebrang telfon setelah dia mengangkat terlfon dariku.


" Halo, Jennifer .. Maaf, tadi gua ninggalin lo karena gua panik banget ngeliat telapak tangan Darren terluka seperti itu. Bagaimanapun semua itu salah gua karena kecerobohan gua Darren jadi seperti itu. Sekali lagi maafin gua ya Jennifer jangan marah sama gua " ucap ku panjang lebar kepada Jennifer karena aku sangat menyesal meninggalkan Jennifer begitu saja.


" makasih ya Jen lo emang sahabat gua yang paling pengertian "


" yaya dong Jennifer gitu lo " ucapnya membanggakan dirinya sendiri. Aku hanya terkekeh geli mendengar Jennifer yang membangga - banggakan dirinya sendiri seperti itu.


" yaya emang lo yang paling the best deh gak ada duanya, puas lo " ucapku terkekeh geli mendengar ucapanku sendiri. Dan ku dengar Jennifer juga sama dia terkekeh mendengar ucapanku yang ku lontarkan kepadanya.


" yaudah gua mau liat Darren dulu, bye " setelah aku mengucapkan kata itu aku pun memutuskan sambungan telfonnya.


Aku berbalik hendak ke ruangan Darren di tangani karena tadi saat aku akan menelfon Jennifer, aku pergi dari depan ruangan Darren di tangani. Aku terkejut mendapati Darren berada di belakangku dengan tatapan matanya yang tajam seakan dia marah.


" Darren " ucapku kaget mendapati Darren di belakangku. Dan aku juga takut melihat tatapan matanya yang tajam seakan menyiratkan kemarahan.


Darren tak menyahut sedikit pun panggilanku, dia tetap saja menatapku dengan tajam tanpa mengarahkan tatapannya ke arah lain. Aku benar - benar takut saat melihat tatapannya yang seperti itu, akhirnya aku pun memberanikan diri bertanya kepadanya.


" kamu kenapa menatapku seperti itu " tanyaku takut tanpa melihat sorot matanya yang tajam. Darren tak bergeming dan tetap menatapku tajam seolah - olah aku memang membuat kesalahan besar.


" Darren " panggilku sekali lagi dengan memberanikan diri menatap sorot matanya yang tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.


Tanpa menjawab apapun Darren menarik pergelangan tanganku kuat, aku meringis kesakitan karena tarikan kencang Darren.


\*\*\* DARREN MATTHEWS POV \*\*\*


Setelah Alexi mendapati bahwa aku yang berada di bawahnya. Dia terlihat sangat panik dan juga khawatir, apalagi setelah dia melihat telapak tanganku yang selalu mengeluarkan darah segar. Dia bertambah panik, kemudian dia membantuku bangkit dan segera mengajakku ke rumah sakit.


" Darren, kita ke rumah sakit ya sekarang luka kamu harus segera di obati kalau tidak nanti inveksi " ucap Alexi panik dan segera membawaku ke rumah sakit agar lukaku segera di tangani.


15 menit perjalananku menuju ke rumah sakit dengan Alexi yang mengemudikan mobilnya dan aku yang menjadi penumpang di samping Alexi. Karena aku yang tak bisa menyetir dengan keadaan telapak tanganku yang penuh darah.


" doctor, help me " ( dokter, tolong saya ) teriak Alexi. Kemudian dokter pun membawaku untuk di tangani.


Cukup lama aku berada di ruangan itu dengan dokter yang menangani telapak tanganku. Setelah selesai aku keluar dan tak mendapati Alexi di manapun. Aku pun memutuskan untuk mencari Alexi, saat aku melihat Alexi senyumku pun mengembang. Aku mengahampiri Alexi dengan sedikit berlari tetapi langkahku berhenti saat aku mendengar percakapan Alexi di terlfon yang aku yakini adalah sahabatnya Jennifer.


" Halo, Jennifer .. Maaf, tadi gua ninggalin lo karena gua panik banget ngeliat telapak tangan Darren terluka seperti itu. Bagaimanapun semua itu salah gua karena kecerobohan gua Darren jadi seperti itu. Sekali lagi maafin gua ya Jennifer jangan marah sama gua " ucap Alexi seketika membuat ku geram, Karena aku tak mau Alexi menyalahkan dirinya sendiri dan semua itu kemauanku untuk menolongnya.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers.. berupa like, comment dan bila perlu jadikan favorit .. see you 😚😚