My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 47



\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*


Setelah lama aku memikirkannya dengan matang - matang, akhirnya aku memutuskan untuk membuat desain - desain baru yang lebih indah dan menarik, setelah semua selesai aku akan membuat pertunjukkan yang spektakuler yang mampu mengguncang dunia perfashionan.


Tapi, di satu sisi aku juga bingung harus memulainya dari mana dan waktuku juga hanya sedikit, mereka semua memberikanku waktu hanya 1 bulan tidak lebih dan tidak kurang.


Aku hanya mampu berdo'a semoga semuanya lancar dan perusahaanku dapat bangkit lagi seperti semula. Aku juga harus berusaha keras, mungkin dalam waktu 1 bulan ini aku takkan bisa bermain dan bersenang - senang dengan kedua belahan jiwaku.


\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*


Sesuai informasi dari William kemarin yang mengatakan Alexi sudah kembali ke New York, dan hari ini aku dan William juga kembali ke New York. Meskipun urusanku di Jakarta belum selesai tapi aku tetap kepada keputusanku untuk kembali dan berusaha membuat Alexi memaafkanku dan mau menerimaku kembali.


Bandara Internasional John F. Kennedy


Saat ini aku sudah berada di Bandara Internasional John F. Kennedy yang berada di New York, Amerika Serikat.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan dari Bandara Internasional Soekarno - Hatta, Aku segera menaiki mobil yang telah di siapkan dan segera pulang untuk istirahat karena tubuhku benar - benar capek untuk saat ini.


Aku ingin segera sampai di Mansion dan tidur di ranjang king size ku yang nyaman dan empuk sambil mengenang kenanganku bersama Alexi dulu.


...


Akhirnya yang ku tunggu - tunggu telah tiba, saat ini aku sudah berada di kamarku tepatnya di atas ranjang king size ku yang empuk dan nyaman ini.


Aku berencana besok saja mencari keberadaan istriku karena hari ini aku lelah setelah menempuh perjalanan yang panjang saat di pesawat tadi.


.


.


.


.


.


.


Pagi ini sangat cerah, dan aku juga sudah sangat bersemangat untuk mengetahui keberadaan istriku Alexi.


Akupun segera turun ke bawah dan di situ sudah ada William, akupun berkata " Will, tell some detectives to look for my wife Alexi " ( Will, suruh beberapa detektif untuk mencari keberadaan istriku Alexi ) Perintahku dan langsung di angguki oleh William. Kemudian aku pun duduk di meja makan dan memakan sarapan yang sudah di buat oleh asisten rumah tanggaku.


...


Saat ini aku sudah berada di perusahaanku, seperti biasa berkutat dengan laptop dan berkas - berkas yang menumpuk di meja kerjaku dan semua itu ku lakukan setiap hari tanpa henti.


Aku berfikir, saat ada Alexi di sisiku aku tak segila ini dengan semua pekerjaanku, aku pasti meluangkan waktuku untuknya meskipun aku benar - benar sangat sibuk dan aku tak memperdulikan itu asal ia bahagia aku pun turut merasakan kebahagiannya. Tapi saat dia meninggalkanku, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri dan menjadi diriku yang gila akan kerja.


Ahh, rasanya sesak sekali saat aku memikirkan di mana keberadaan istri cantikku itu, aku merindukannya sampai - sampai aku ingin mati saja dari pada merasakan sesak ini.


Semua ingatan tentang Alexi berputar di otakku seperti kaset rusak, dari pertama kita bertemu dan setelah itu takdir menyatukan kita dengan adanya pernikahan. Apalagi saat awal - awal kita berdua menikah, dia istri yang sangat baik selalu menyiapkan segala keperluanku dan aku yang tak pernah menghargainya sama sekali tetapi dia selalu sabar.


Rasa bersalah itu muncul lagi ke permukaan, aku yang selalu memperlakukannya dengan sangat buruk. Membuat dia mengeluarkan air mata dari mata indahnya dan sekarang dia sudah capek dan memutuskan meninggalkanku.


Aku pun bangkit dari kursi kebesaranku dan melenggang pergi untuk menenangkan pikiranku.


Sebelum itu aku memberhentikan langkahku di depan meja sekretarisku Jeny dan berkata.


"Jeny, clear all my schedules today " " ( Jeny, kosongkan semua jadwal saya hari ini ) Ucapku dingin dan segera melenggang pergi meninggalkan meja kerja sekretatisku tanpa menunggu jawaban dari Jeny.


...


Entah kemana tujuanku saat ini yang pasti aku bingung dan tak ada tujuan sama sekali, apa aku harus pulang ke mansion atau ke mansion Mommy, hahh mungkin itu bukan rencana yang baik. Untuk apa aku kesana, aku pasti akan mati bosan jika berada disana.


Setelah 40 menit hanya berkeliling - keliling akhirnya aku melihat sebuah taman dan aku pun memutuskan untuk pergi kesana saja dari pada aku bingung dan hanya keliling - keliling tidak jelas.


Aku turun dari mobil sport hitam kesayanganku dan berjalan perlahan sambil menghirup udara segar di taman ini, taman ini sangat indah dan sejuk karena banyak pepohonan yang rindang sehingga tidak terasa panas meskipun cuacanya sedang terik.


Aku pun duduk di salah satu bangku di bawah pohon, aku memejamkan mata menikmati sejuknya udara di sini dan tiba - tiba aku merasa ada suara anak kecil perempuan yang memanggilku paman sambil menyentuh tanganku.


" Paman " Panggilnya, aku pun membuka mataku dan melihat ada dua anak kecil yang berumur sekitar 4 - 5 tahun dan yang membuat aneh anak yang laki - laki itu mirip sekali denganku saat aku masih kecil.


Aku bingung, dan aku hanya diam saja sampai anak kecil perempuan itu bertanya padaku. " Paman, apa paman idak apa - apa " Tanyanya dengan cadel dan membuatku gemes. Aku pun tersenyum dan menjawab. " Paman tidak apa - apa sayang " Jawabku dengan senyum yang senantiasa bertengger di bibirku.


" Tapi enapa paman tidul di sini " Tanyanya lagi.


" Paman tidak tidur sayang, tadi paman hanya memejamkan mata " Setelah mengatakan hal tersebut aku diam tak bergeming dan terus memperhatikan anak laki - laki itu yang sangat mirip denganku. Dari tatapannya dan auranya aku yakin sangatlah mirip denganku.


Aku berfikir apakah mungkin dia anakku ? tapi di sisi lain aku ragu, pasalnya aku tak pernah berhubungan dengan perempuan lain selain Alexi, ya Alexi aku baru ingat, tapi apakah mungkin ini anakku dengan Alexi.


Lama aku memperhatikannya tapi dia hanya acuh tak acuh, dan mengalihkan pandangannya dariku. Entah mengapa hatiku serasa tercubit dan sesak saat dia mengalihkan tatapannya dariku dan tak ingin menatapku.


Sampai sebuah suara mengintrupsiku dari menatap anak laki - laki itu.


" Paman enapa selalu menatap kakak isha ? " Tanyanya dengan bingung dan bergantian menatap ku dan anak laki - laki itu.


" Eh, gak apa - apa " Aku pun menjawab dengan terkejut kemudian mengelus puncak kepalanya.


" Oh ya, paman belum mengetahui nama kalian, siapa nama kalian " Tanyaku dengan masih mengelus puncak kepalanya dan tersenyum.


" Aku Isha paman dan ini kakak isha namanya Al " Aku pun hanya tersenyum setelah itu terdengar suara wanita dari belakang.


" Tuan muda dan nona muda dari mana saja, saya dari tadi mencari nona muda dan tuan muda ? " Suara itu pun mengintrupsiku dan kedua anak ini, kita pun menoleh kemudian Isha berlari dan memeluk kaki wanita itu yang ku yakini adalah pengasuhnya.


" Mbak Enza " Isha pun berlari dan memeluk kaki wanita itu yang dia panggil mbak Enza.


Setelah itu mereka berpamitan kepadaku dan pergi meninggalkanku sendirian lagi. Aku berfikir mungkin bagus jika mereka berdua adalah anakku dengan Alexi.


Tapi hatiku masih sesak jika mengingat anak laki - laki itu tak mau menatapku. Entah ini perasaan apa yang pasti aku ingin dia mau menatapku walau sedetik saja.


maaf ya readers aku lama banget up nya, aku benar - benar sibuk akhir - akhir ini 🙇‍♂️🙇‍♂️.


dan terima kasih yang sudah sabar dan setia menunggu kelanjutan dari novel ku ini.


see you 😚😚