My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 68



\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*


Seluruh New York gempar dengan pengumuman dari Presdir perusahaan Ferrers Group tadi malam, seluruh media berlomba - lomba ingin mengetahui kelengkapan berita menggemparkan tersebut.


Tapi sayang dari pihak Darren maupun Alexi tak ada yang mengutarakan suaranya, keduanya bungkam bahkan orang - orang yang bersangkutan pun semuanya bungkam.


Di Saat semua orang berlomba - lomba mendapatkan informasi lain halnya dengan keluarga kecil Darren, setelah pengakuan mengejutkan tadi malam keluarga kecil Darren malah menikmati hari mereka dengan berkumpul di Mansion tanpa pergi kemanapun.


Mereka berdua sudah menduga pasti hal ini akan terjadi jadi mereka berpikir untuk di rumah saja dari pada di interogasi oleh semua pemburu berita tersebut.


Seorang laki - laki tampan berbadan tegap tengah bergelung di bawah selimut dengan nyamannya, dia adalah Darren padahal matahari sudah menampakan wujudnya tapi Darren masih setia bergelung di bawah selimut tebalnya.


Alexi memasuki kamar dan terkejut melihat suaminya yang masih setia terpejam itu.


" Ish dia ini padahal tadi sudah di bangunin dan katanya akan bangun tapi setelah aku tinggal dia malah tidur lagi, dasar kebo memang " Omel Alexi menatap Darren yang masih bergelung dengan selimutnya, sedangkan Alexi sudah bersungut - sungut melihatnya.


Alexi berkacak pinggang dan berjalan mengahampiri ranjang tempat suaminya masih terpejam dan berkata. " Dasar masa kalah sama anak - anak, mereka aja sudah mandi dan wangi lah dia masih bau iler " Alexi terus mengomel tanpa henti, wajahnya sudah memerah padam menahan kesal. Ia terus menatap Darrem tajam, meskipun Alexi tahu Darren takkan tahu.


" Darren bangun gak " Alexi berteriak tepat di telinga Darren, Darren yang mendengarnya terlonjak kaget dan segera mendudukkan badannya dan mengusap telinganya yang berdengung akibat teriakan maut dari sang istri tercinta.


" Sayang, kendang telinga aku bisa - bisa jebol lo kalau kamu teriak gitu " Ucap Darren dengan masih setia mengusap telinganya yang berdengung.


" Biaran aja, biar sekalian kamu jadi tuli " Ujar Alexi masih setia menatap Darren dengan tajam dan berkacak pinggan.


" Sayang, kamu kok tega banget sih sama suami sendiri " Ucap Darren manja, Alexi yang mendengarnya serasa jadi ingin muntah.


Tiba - tiba terdengar suara cekikikan dari arah pintu, Alexi dan Darren menengok ke arah pintu dan melihat Aldrich dan Maisha sedang menertawakan kelakukan orang tuanya.


Aldrich, dia sudah tak sedingin dulu kepada Darren. Dia sudah lebih hangat tapi hanya saat di depan keluarganya tidak dengan di depan orang lain. Saat di depan orang lain ia akan berubah menjadi Aldrich yang sedingin es.


" Ohh kalian menertawakan Daddy ya " Darren mengangguk - anggukan kepala, kemudian ia bangkit dari ranjang king sizenya dan berlari mengejar kedua buah hatinya.


Alexi mengikuti mereka sampai di ruang keluarga, di ruangan itu terdapat sofa untuk bersantai beserta mejanya dan televisi untuk mereka menonton bersama.


Saat di ruang keluarga Darren berhasil menangkap kedua buah hatinya dan menggelitikinya, Aldrich dan Maisha terlihat berusaha menghentikan gelitikan Daddynya.


Alexi yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kemudian ia menuju ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya yang tadi tertunda akibat Darren yang susah di bangunkan.


" Daddy ampun Daddy, Isah nyelah " Ucap Maisha berusaha memohon ke Daddynya agar menghentikan gelitikan di perutnya.


" Al juga Dad ampun " Aldrich juga memohon untuk menghentikan gelitikannya, Darren yang melihat kedua buah hatinya sudah kecapean akhirnya menghentikan gelitikannya dan duduk di sofa tempat kedua anaknya berbaring.


Sofa di ruang keluarga Mansion Darren memang besar jadi wajar jika muat untuk Aldrich dan Maisha bahkan untuk Darren dan Alexi pun masih muat.


" Yes Daddy " Ucap Aldrich dan Maisha serempak, Darren segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


" Darren pakaianmu sudah aku siapkan di ranjang, aku mandilah setelah itu turun ke bawah untuk sarapan " Teriak Alexi saat ia melihat Darren yang akan ke atas.


" Iya sayang, makasih " Balas teriak Darren, kemudian ia segera menuju ke lantai atas untuk mandi dan kemudian berganti baju.


\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*


Tenggorokanku agak sakit karena berteriak tadi, salahkanlah Darren itu yang membuatku harus berteriak.


Saat ini aku masih berkutat di dapur di bantu dengan para pelayan yang lainnya, pagi ini aku hanya memasak makanan Indonesia yaitu ayam kecap manis kesukaan Darren dan kedua buah hati kami, aku juga membuat sop, perkedel kentang kesukaanku, tahu dan tak lupa tempe goreng sebagai pelengkap sarapan keluarga kecil kami.


Darren, Aldrich dan Maisha tiga - tiganya suka sekali dengan ayam kecap manis, kadang aku berfikir kenapa tak ada yang mereka sukai yang sama denganku ?


Rasanya aku sedikit iri karena tak ada kesamaan antara diriku dan kedua buah hati kami, tapi tak apalah toh mereka tetap anak - anakku. Terdengar lucu sih tapi entahlah kenapa aku bisa iri dengan hal seperti itu, bahkan memikirkannya saja aku sampai terkikik sendiri.


Tiba - tiba sebuah lengan kokoh bertenggar manis di perutku, lengan itu membelitku dengan erat menyebabkanku susah bergerak dan aku tahu betul siapakah pelakunya, pastilah Darren suamiku.


Bau maskulin menyeruak ke indra penciumanku, dan aku sangat hafal bau Darren. Bau yang membuatku sangat nyaman apalagi lengan kokohnya itu membuatku ingin selalu bersandar di dada bidangnya.


" Sayang " Ucap Darren berbisik di telingaku, aku segera tersadar dari pikiranku, aku sedikit merinding dengan bisikannya itu.


" Ihh Darren lepas, malu di lihatin " Aku berusaha melepas rengkuhannya, meskipun sebenarnya aku ingin selalu seperti ini tapi aku masih punya malu, di depan para pelayan dia seenaknya saja memelukku dari belakang.


" Malu sama siapa sayang, di sini gak ada siapa.- siapa ? "Aku memperhatikan sekitarku dan ternyata semua pelayan yang membantuku sudah tidak ada di tempat, mereka semua sudah pergi.


" Kamu kan yang nyuruh mereka pergi ? " Ucapku geram, bisa - bisanya dia membubarkan seluruh pelayan yang membantuku.


" Iya sayang, aku mau berduaan sama kamu " Dengan santainya Darren berbicara seperti itu, aku bertambah geram karena Darren mengucapkannya tanpa beban sekalipun.


" Terus ini bagaimana Darren, pokoknya kamu yang lanjutin ? " Aku menunjuk seluruh masakan yang di hadapanku, memang hampir selesai tapi semuanya belum di pindahkan ke meja makan.


" Iya Iya aku bantuin, tapi cium dulu " Saat - saat pertama aku tersenyum karena Darren mau membantuku tapi saat kalimat terakhirnya meluncur dari mulutnya aku langsung mencubit perutnya sampai ia mengaduh kesakitan.


" Ihh sayang kok aku di cubit sih " Ucap Darren manja, ia melepas rengkuhannya di perutku dan mengelus bekas cubitan mautku.


" Bisa - bisanya kamu cari kesempatan, orang kamu yang salah kenapa kamu jadi manfaatin suasana ini " Aku berkacak pinggang dan menatapnya tajam, Darren terlihat meringis.


" Iya iya sayang aku bantuin kok " Darren mengambil masakan yang sudah matang dan membawanya ke meja makan, aku hanya terkekeh melihatnya seperti itu.


Seluruh masakanku selesai dan kita berempat pun sarapan bersama dan dengan di selingi canda dan tawa.