
\*\*\* DARREN MATTHEWS POV \*\*\*
Sudah 1 minggu dari kejadian tak mengenakkan itu terjadi, saat ini aku sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala dan saat ini pula aku sedang berada di perusahaan ku.
Saat aku sedang mengerjakan semua berkas - berkas yang harus segera ku selesaikan, tiba - tiba aku ingin sekali mengajak istri tercinta ku Alexi makan siang bersama - sama. akhirnya akupun menelfon Alexi.
Tak lama setelah panggilan ku tersambung Alexi langsung mengangkat panggilan dari ku.
" Halo, Darren ada apa ? " sahut dan tanya Alexi dari seberang sana saat panggilanku tersambung dengannya.
" Apa kita bisa makan bersama nanti siang ? aku ingin makan bersama dengan mu " pintaku manja. Aku tak tau kenapa aku bisa berbicara dengan nada manja seperti itu kepada Alexi tapi aku tak ambil pusing mungkin aku hanya ingin bermanja - manja saja dengan istri tercintaku.
Setelah kalimat bernada manja itu ku lontarkan begitu saja dari mulutku kemudian hanya hening yang bisa ku tangkap di indra pendengaranku, tak ada sahutan apapun dari Alexi dalam beberapa menit, aku yang mulai geram pun memanggil Alexi.
" Lexi " panggilku di seberang telfon agak meninggikan suaraku karena dari tadi aku menunggu tapi Alexi hanya diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
" Ah, ya " jawab Alexi terkejut dengan teriakanku di seberang telfon.
" Kamu kok diam aja sih, kamu gak mau makan siang bareng sama aku bilang aja gak usah gitu " setelah mengucapkan kalimat itu aku langsung memutuskan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban apapun yang akan keluar dari mulut Alexi.
Aku tak tau dan aku juga sendiri bingung kenapa aku bisa bersikap seperti itu kepada Alexi, entahlah tapi tiba - tiba ada dorongan dari dalam diriku agar aku bersikap seperti itu.
Saat aku masih larut di dalam lamunanku tiba - tiba pintu ruanganku di buka secara paksa. Aku yang tadinya sedang melamun pun terlonjak kaget dengan kedatangan tamu tak di undangku.
" Sorry, my lord can't help it " ( maaf, tuan saya tidak bisa menahannya ) ucap sekretaris ku merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya tak berani menatapku.
" Never mind, let it go " ( tidak apa, biarkan saja ) ucapku menenangkannya.
Sekretrisku pun keluar dari ruanganku setelah ku persilahkan dirinya keluar. Aku pun menatap sengit orang yang ada di depanku yang tak lain adalah Khatelyna. Orang yang sudah membunuh papa dan hampir saja membunuh istriku.
" What business do you have here ? " ( Ada urusan apa kau kesini ? ) tanya ku dingin dengan menatap tajam Khatelyna yang berdiri di hadapan dengan muka sok polosnya yang sangat - sangat ku benci, karena gara - gara muka itulah aku kehilangan orang yang ku sayang bahkan muka itu juga yang hampir membunuh orang yang ku sayang lagi.
" Honey, why are you like that, I miss you, you want to meet you. How come you don't miss me ? " ( Sayang kok kamu gitu sih, aku kan kangen sama kamu ingin ketemu kamu. masa kamu gak kangen sama aku ? ) ucapnya dengan nada centil yang terdengar menjijikkan di telingaku bahkan telinganku seperti ingin tuli jika mendengar nadanya tersebut.
Khatelyna pun berjalan ke arahku dengan melenggak - lenggokkan badannya sensual tapi itu menurutku dulu, dulu jika aku melihatnya seperti itu pasti aku akan langsung menerkamnya seperti singa yang siap menerkam mangsanya tapi untuk sekarang aku berasa ingin muntah.
" Do you want to lose it ? " ( Apakah kau ingin kehilangannya ? ) ucapnya membisikkan di telingaku dengan nada sensualnya.
" Are you threatening me now ? " ( Apa sekarang kau sedang mengancamku ? ) ucapku sarkatis dengan menatapnya tajam dengan mata elangku.
" maybe .. " ( mungkin .. ) Khatelyna tersenyum misterius dan alarm waspadaku pun berbunyi menandakan bahaya.
tiba - tiba Khtelyna berada di hadapanku dan duduk di pangkuan ku, tangannya pun tak tinggal diam dia membelai wajah ku lalu turun ke dadaku membuat bentuk bulat - bulat di dada kiriku.
Setelah itu dia mencium bibirku dengan paksa, aku yang dalam mode terkejut pun hanya diam tak membalas ataupun menolak ciumannya. tiba - tiba terdengar suara yang sangat familir yang akhir - akhir ini selalu menemani hidupku.
" Darren " meskipun panggilan tersebut lirih tapi masih bisa terjangkau oleh indra pendengaranku.
Aku yang dalam mode terkejut pun segera melepaskan tautan diantara diriku dengan Khatelyna. Ku lihat Alexi berdiri di ambang pintu dengan cairan bening mengalir melewati pipinya.
Cukup lama dirinya hanya termenung dan hanya melihatku dengan air mata yang setia mengalir di pipinya. Aku yang masih dengan terkejutan ku pasalnya Alexi tiba - tiba berdiri di hadapanku dengan menyaksikan hal yang tak mengenakkan ini.
Alexi pun berbalik dan dapatku lihat di sudut matanya air mata yang terus saja mengalir membasahi pipi mulusnya, dan aku sangat benci kenyataan itu bahwa akulah pembuat istri cantikku itu menangis dan bersedih0
Aku pun tersadar dari terkejutanku, ku dorong Khatelyna menjauh dan saat ku hendak mengejar Alexi Khatelyna buru - buru menarik tanganku aku yang geram pun akhirnya membentaknya.
" What else do you want? Are you not yet after doing all this ? " ( Apa lagi sih maumu ? apa kau belum hah setelah melakukan semua ini ? ) ucapku geram dengan membentak Khatelyna dan menghempaskan tangannya yang menahan tanganku.
" I just want you Honey " ( Aku hanya mau kau sayang ) ucap Khatelyna dengan nada centilnya yang di buat - buat.
" And I won't let anyone have you, including that street woman. " ( Dan aku takkan biarkan siapapun memilikimu termasuk wanita jalan itu ) sambungnya lalu berusaha menciumku lagi dengan paksa. Aku yang mulai bertambah geram dengan Khatelyna akhirnya mendorongnya sampai ia terduduk di lantai. Aku tak memperdulikan semua teriakan Khatelyna karena yang hanya aku pedulikan sekarang ini hanyalah Alexi, setelah itu aku buru - buru berlari keluar untuk mengejar Alexi dan berharap Alexi tak berpikiran macam - macam tentangku dan Khatelyna.
Tapi sebelum itu aku berbalik menatap Khatelyna tajam dan berkata. " Do you not remember the words I said at that time, remember if you are different you will know what I will do " ( Apa kau tak ingat kata - kata yang ku katakan waktu itu, ingat jika kau macam - macam kau akan tau apa yang akan ku lakukan ) ucapku tajam lalu berbalik meninggalkan Khatelyna.
Tapi sayang Alexi sudah tak tertangkap indra penglihatanku sama sekali. Aku yang putus asa pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke mansionku, siapa tau Alexi berada di sana sekarang ini.
Maaf ya readers aku lama upnya dan maaf sekali jika untuk part ini tak sesuai dengan ekspetasi kalian. aku akan usahakan untuk cepat upnya tapi aku gak janji ya readers tapi aku pasti usahakan.
Terima kasih untuk para readers yang selalu menantikan novelku ini. Dan terima kasih sebanyak - banyaknya untuk para readers yang selalu mendukung novelku, karena itu juga lebih mendorong aku untuk tetap melanjutkan novel ini dan tak berhenti di tengah jalan. see you 😚😚