My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 51



\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*


Sudah dua minggu ini Alexi selalu di sibuk dengan segala macam kegiatan persiapan pertunjukkan busananya, setelah perusahaannya dan perusahaan Darren menjalin kerja sama setiap hari Darren selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke perusahaan Alexi atau sekedar mengajaknya makan bersama.


Seperti saat ini, Alexi sedang berada di ruangannya tiba - tiba pintu ruangannya di ketuk dan muncullah Marry dengan seorang laki - laki di belakangnya yanh tak lain dan tak bukan adalah Darren.


" Miss Mr. Darren wants to meet ... " ( Nona Tuan Darren ingin bertemu.. ) Sebelum Marry menyelesaikan ucapannya Darren sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruangannya.


Darren menatap Alexi dengan senyum lebarnya yang selalu dia tunjukkan akhir - akhir ini kepada Alexi saat dirinya mengunjungi Alexi di


perusahaannya. Dan seperti hari - hari biasanya Alexi selalu menunjukkan wajah kesalnya bila Darren sudah berada di depannya.


Marry pun segera pamit keluar dari ruangan bossnya tersebut memberikan waktu berdua untuk mereka menyelesaikan masalahnya yang tak kunjung selesai.


Di dalam ruanganpun hanya tersisa mereka berdua, Alexi pun menyeruakan protesannya kepada Darren. " Kamu mau apa sih sebenarnya, kenapa setiap hari kamu harus ke sini " Protes Alexi kesal dengan mencebikkan bibirnya.


" Aku mau ketemu kamulah sayang, aku kan kangen " Ucap Darren manja dan masih setia tersenyum ke arah Alexi yang sudah sangat dongkol. Awalnya Alexi tak menghiraukan Darren tapi lama - kelamaan Darren datang setiap hari ke perusahaannya dan itu sukses membuat Alexi naik pitam.


Untung saja para karyawan yang ada di perusahaannya tak mencurigai mereka, karena mereka juga sudah tau bahwa perusahan Alexi dengan perusahaan Darren bekerja sama.


Tapi jika Darren terus menerus ke perusahaannya setiap hari pasti lama - kelamaan mereka semua akan mencurigai mereka mempunyai hubungan spesial, meskipun mereka tidak bisa menampik bahwasannya mereka memang mempunyai hubungan.


Alexi yang sudah sangat kesal setelah mendengar nada manja Darren pun lebih memilih tak menghiraukannya dan kembali berkutat dengan berkas - berkas yang ada di hadapannya.


Tapi Darren tetaplah Darren, dia sangat keras kepala. Meskipun Alexi tak menghiraukannya Darren tetap berada di ruangannya dengan senyum manisnya sambil menatap Alexi yang menyibukkan dirinya dengan berkas - berkas yang di hadapannya.


Sekarang Darren duduk di sofa yang berada di ruangan Alexi, memperhatikan Alexi yang sibuk dengan berkas yang ada di depannya meskipun begitu Darren tak mempermasalahkannya dan tetap duduk di sofa menunggu Alexi menyelesaikan pekerjaannya.


\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*


Dia terus menetapku, senyumnya pun tak luntur dari bibirnya dia terus tersenyum dan tersenyum layaknya orang gila.


Sebenarnya aku agak risih dengan tatapannya itu, aku tak bisa jika tak memperhatikan gerak - geriknya dari tadi tetapi aku berusaha menyibukkan diriku dengan berkas - berkas yang ada di hadapanku tapi tetap saja aku tak bisa. Ingin rasanya aku meneriaki wajah bodohnya itu yang dari tadi hanya tersenyum.


Aku yang sudah sangat gerampun akhirnya tak bisa lagi menahan dan ku luapkan seketika. " Gak usah natap gua seperti, pake acara senyum - senyum segala lagi, jijik gua lihatnya " Nada suaraku naik beberapa oktaf, dapat ku lihat dia berjingkat kaget karena bentakkanku kemudian dia lagi menampilkan senyum menyebalkannya lagi.


" Mendingan lo pergi dari sini, gua muak ngelihat muka lo itu " Darren tetaplah Darren yang keras kepala, dia lagi - lagi hanya menampilkan senyum menyebalkannya.


\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*


Aku berjingkat kaget dengan teriakkan istri cantikku itu, tapi aku tetap tersenyum meskipun dia membentakku lagi.


Setelah Alexi mengatakan hal tersebut wajahku berubah sedikit murung tentunya Alexi tak menyadari hal itu karena hanya sebentar, setelah itu aku merubah wajahku kembali senyum ke arah Alexi setelah itu aku mengatakan. " Aku akan pergi sebelum itu kamu harus makan malam romantis denganku nanti malam, bagaimana apa kamu setuju ? " Aku masih tetap tersenyum, ku lihat Alexi membelakkan matanya. Aku tau dia pasti terkejut dan tidak menyangka bahwa aku akan berbicara seperti itu.


" Tidak " Tolaknya mentah - mentah, dia bahkan tanpa pikir panjang langsung menolakku.


" Ya sudah aku takkan pergi dan akan terus mengganggumu setiap harinya " Ucapku tersenyum lebar, apalagi setelah melihat ekspresinya yang sangat lucu. Wajah kesalnya selalu bisa membuatku tertawa.


Setelah aku mengatakan kalimat itu, Alexi bungkam dan menatapku semakin benci.


*Sial.


Apa sekarang aku malah membuatnya lebih membenciku*.


Aku menatap Alexi takut - takut, aku takut dia tiba - tiba menjauh begitu saja dariku. Aku tak ingin berada jauh darinya lagi, cukup lima tahun ini dan itu membuatku sangat frustasi.


Aku bagai mayat hidup jika tak ada dia di sisiku, jiwaku hilang bersamaan dengan Alexi yang menghilang. Namanya sudah tertanam terlalu dalam di hatiku dan jika tanaman itu menghilang hatiku serasa hampa dan tak ada gunanya lagi untukku hidup.


Lebih baik aku mati dari pada harus kehilangannya lagi, jika aku kehilangannya lagi mungkin aku benar - benar akan mati.


\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*


Setelah pengtengkaran kecil antara Alexi dan Darren di ruangan Alexi tadi, Darren yang tak ingin membuat Alexi bertambah membancinya pun meninggalkan Alexi.


Saat ini dia berada di sebuah taman yang rindang yang pernah Darren kunjungi waktu itu, di Jalan Anggrek tempat ia bertemu dengan Maisha dan Aldrich yang tak lain adalah anak kandungnya.


Darren memang tidak tahu mengenai hal itu Alexi juga tak berniat memberitahu Darren masalah ini. Ia takut Darren tak menerima anak mereka, karena setahu Alexi Darren saat itu memilih Khatelyna kekasihnya dari pada istrinya sendiri. Jadi dia akhirnya memutuskan untuk tak memberitahukan Darren sampai kapan pun, biarkan dia tahu sendiri.


Darren duduk termenung di bangku yang terdapat di bawah pohon besar, udara mengalun indah membelai kulitnya yang tak tertutupi setelan jas mahalnya. Ia memejamkan mata meresapi semua rasa sejuk yang menenangkan pikirannya.


Tiba - tiba tepukan kecil ia rasakan di pahanya, Darren membuka matanya perlahan dan mendapati dua anak kecil yang ia temui saat itu.


Maisha tersenyum menatap Darren begitu juga dengan Darren yang membalas senyuman Maisha tetapi saat netra Darren menangkap sosok di belakang Maisha senyum Darren luntur begitu saja.


Di belakang Maisha berdirilah Aldrich dengan wajah datarnya dan lagi - lagi memalingkan wajahnya menatap ke arah lain, ia seperti enggan sekali menatap ke arah Darren.


Hati Darren mencelos mendapat perlakuan seperti itu lagi dari Aldrich, moodnya bertambah buruk. Awalnya ia ke sini berencana untuk memperbaiki moodnya, tapi sesampainya di sini bukannya memperbaiki moodnya malah lebih merusak moodnya.


Darren menatap sendu Aldrich tetapi Aldrich tetap tak memperdulikannya sama sekali dan lebih memilih mengalihkan pandangannya seperti sedari awal.


Kenapa hatiku sesakit ini saat melihatnya tak ingin menatapku dan memilih mengalihkan pandangannya, ini sudah kedua kalinya terjadi dan hatiku semakin sakit saat yang kedua kalinya ini.