
\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*
Tubuhku lelah begitu juga dengan pikiranku, tapi apa dayaku aku harus segera menyelesaikannya sebelum tenggat waktu yang sudah di berikan.
Aku harus kuat, karena semua ini adalah hasil dari kerja kerasku selama ini dan aku takkan membiarkannya hancur begitu saja.
Seperti hari - hari yang lalu, aku sangat sibuk mulai dari mengawasi kinerja para bawahanku dan mengawasi semua persiapan yang lainnya karena aku takkan tenang jika bukan aku sendiri yang mengawasi dan aku ingin pertunjukkan busanaku kali ini sukses dan tak ada kendala apapun.
Saat ini aku berada di bagian divisi Production yang bertugas mengontrol bagian mengolah bahan baku mentah hingga jadi. Aku sedang mengawasi kinerja mereka dan mengecek apakah bahan yang akan di pakai sudah nyaman dan aman untuk pemakainya.
Aku sedang berkeliling di bagian divisi Production tiba - tiba Marry memberitahukanku sesuatu yang mampu mempercepat detak jantungku.
" Miss, Matthews Company will invest in our project this time Miss, Matthews Company will invest in our project this time " ( Nona, perusahaan Matthews Company akan berinvestasi dalam proyek kita kali ini ) Mataku membola kemudian aku segera menoleh ke belakang yang kebetulan Marry datang dari belakangku setelah mengangkat telfon.
" W-what " ( A-apa ) Cicitku gugup aku masih sangat terkejut dengan berita menggamparkan ini, otakku
" Not " ( Tidak ) Tolakku mentah - mentah dan menggelengkan kepala keras.
" But, our Lady must think ahead. If the Matthews Company invests with the project this time I guarantee 80 percent of the project will succeed " ( Tapi, Nona kita harus berpikir ke depannya. Jika perusahaan Matthews Company berinvestasi dengan proyek kali ini saya jamin 80 persen proyek ini akan berhasil ) Jelas Marry tapi aku tetap kekeh dengan keputusanku. Biarkanlah aku berjuang sendiri meskipun kecil kemungkinan aku akan berhasil dari pada aku berurusan dengan Darren.
" Still not Marry, you know, I don't want to deal with Darren anymore after everything that's happened " ( Tetap tidak Marry, kamu kan tau sendiri saya tidak mau berurusan dengan Darren lagi setelah semua yang terjadi ) Aku tetap kekeh mempertahankan keputusanku, bagaimana pun aku takkan mau bisa - bisa dengan cara ini dia akan memanfaatkan keadaan dan lagi - lagi akan melukaiku lagi.
" Miss, you must be able to set aside personal issues with business. Don't make it one - your business will be destroyed, think about the future of Ferrers Group and all employees who trust their future in your company. " ( Nona, anda harus bisa mengesampingkan masalah pribadi dengan bisnis jangan anda jadikan satu bisa - bisa bisnis anda akan hancur, pikirkan masa depan Ferrers Group dan semua karyawan yang mempercayakan masa depannya di perusahaan anda Nona. ) Marry pun sama denganku, dia masih tetap kekeh untukku menerima kerja sama dengan Matthews Company yang tak lain adalah perusahaan Darren.
" Let me think first Marry " ( Biarkan aku berpikir dulu Marry ) Aku mencoba melakukan negosiasi dan berharap Marry tak mendesakku untuk menerima kerja sama ini.
" Cannot be delayed anymore, from the Matthews Company only gives us time until lunchtime later and if you agree then at lunchtime later we will discuss cooperation in the Restaurant " ( Tidak bisa di tunda lagi Nona, dari pihak Matthews Company hanya memberikan kita waktu sampai jam makan siang nanti dan jika anda setuju maka saat jam makan siang nanti kita akan membahas kerja samanya di Restaurant ) Jelasnya lagi, aku berpikir keras apakah aku harus menerima kerja sama ini ataukah tidak. Jika aku menerimanya banyak kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi di benakku dna jika aku tidak menerimanya bagaimana nasib para karyawan yang mempercayakan masa depannya di perusahaan.
Kepalaku berdenyut, aku memejamkan mata dan setelah itu menjawab dengan segala keyakinanku yang masih ada. " OK " ( Baiklah ) Hanya itu yang dapat ku katakan, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawabnya.
\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*
Seperti yang di katakan Marry tadi pagi, saat ini Alexi dan Marry sudah berada di Rubirosa Restorante, Restauran Italia yang berada di New York, Amerika yang menyajikan masakan Italia Selatan.
Saat ini Alexi sedang membahas proyek yang akan perusahaan dan perusahaan Darren kerjakan ke depannya, ia mencoba fokus ke proyek yang sedang di bahas saat ini tapi degup jantung Alexi tak bisa di ajak kompromi sama sekali. Dari tadi degup jantungnya berdetak sangat cepat seperti habis lari maraton dan itu semua karena Darren, karena acara peluk - pelukkan yang Darren lakukan tadi dan saat ini, dari tadi Darren hanya menatap Alexi insten tanpa mengalihkan tatapannya dari Alexi barang sedetikpun.
Dua jam berlalu, akhirnya rapatpun selesai, Alexi pun menyelesaikan penjelasannya. " Bagaimana Tuan Matthews, apakah anda setuju dengan proposal ini " Tanyanya mengakhiri rapat kali ini
" Ah, i-iya saya setuju " Darren terkejut, dari tadi dia tak memperhatikan seluruh penjelasan Alexi dan hanya menatap insten wajah yang selama ini ia rindukan.
" Baiklah kalau begitu semoga kerja sama kita dapat berjalan dengan lancar dan takkan ada kerja sama lagi untuk lain waktu " Sindir Alexi dengan senyum manis yang bertengger di bibir indahnya.
Darren yang mendengar sindiran Alexi pun hanya terkekeh geli dan berkata. " Bukan kerja sama melainkan hidup bersama, bagaimana Nyonya Matthews ? " Goda Darren menaikkan sebelah alisnya sambil terkekeh apalagi melihat ekspresi Alexi yang menurutnya sangat lucu.
Jangan di tanya bagaimana ekspresi Alexi saat ini, matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar. Alexi hendak melayangkan protesannya sambil mengacungkan jari telunjukkan ke arah wajah Darren lalu berkata. " Kamu.. " Ucap Alexi terpotong akibat ulah Darren yang tiba - tiba menarik tangannya dan mengecup punggung tangan Alexi. Lagi - lagi mata Alexi membola akibat perlakuan Darren, segera ia menarik tangannya yang di genggam Darren meskipun agak sulit karena Darren menggenggamnya erat, setelah beberapa detik Alexi akhirnya berhasil menarik tangannya dari genggaman Darren.
Darren tak merasa bersalah sedikitpun, ia hanya terkekeh dan mencium telapak tangannya yang tadi menggenggam tangan Alexi, Darren bisa mencium bau Alexi dari tangannya yang menggenggam Alexi tadi.
Dan jangan tanyakan Alexi seberapa geramnya dia, amarahnya sudah memuncak dan sampai ubun - ubun mungkin sebentar lagi akan meledak jika dia tidak ingat bahwa ini tempat umum.
Mungkin Alexi sudah melayangkan telapak tangannya ke pipi Darren agar dia tak bisa macam - macam lagi dengan dirinya tapi itu semua hanya khayalan dan takkan jadi nyata.
Kemudian tanpa berkata sepatah katapun Alexi segera membawa Marry keluar dari Restaurant ini, ia masih bisa mendengar ucapan Darren dari arah belakangnya. " Bye sayang " Darren mengucapkannya dengan menaikkan satu oktafnya agar Alexi dapat mendengar ucapannya.
Setelah pertemuan itu Darren tak henti - hentinya tersenyum, apalagi saat membayangkan wajah kesal istrinya tersebut.
Ahh, aku sudah sangat merindukannya lagi