
\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*
Di sebuah mobil sedan hitam, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang duduk di kursi bagian belakang dengan perasaan yang bahagia.
Di sebelahnya terdapat dua anak kecil berumur 4 tahun laki - laki dan perempuan, mereka adalah Tiara Mommy Darren bersama Aldrich dan Maisha.
Setelah mendapat kabar bahwa Darren sudah sadar dari komanya, Dengan perasaan gembira mereka bertiga segera pergi ke Rumah Sakit tempat Darren di rawat.
Mobil yang mereka tumpangi melesat dengan kecepatan rata - rata meskipun mereka ingin cepet sampai di rumah sakit tapi tetap harus memperhatikan keselamatan apalagi di dalam mobil juga ada anak - anak.
Mobil sedan hitam yang mereka tumpangi pun sampai di depan rumah sakit, mereka bertiga segera turun dari mobil tapi sebelum itu Tiara berbicara kepada sopir yang mengantar mereka.
" I'll wait in the parking lot and we'll come back! " ( bapak tunggu di parkiran nanti kita balik lagi ! ) Perintah Tiara Mommy Darren sebelum turun dari mobil.
" Yes, madam " ( Baik, Nyonya ) Mereka bertiga - Tiara, Aldrich dan Maisha turun dari mobil dan segera berlalu untuk ke ruangan Darren di rawat.
Kamar VVIP no 10 pun berada di hadapan mereka, segera saja mereka membuka pintu dan dapat terlihat Alexi dan Darren yang sedang berbicara dengan serius mereka berdua langsung menoleh ke arah kami bertiga dan tersenyum menatap kita bertiga.
\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*
Setelah Alexi menyelesaikan telfonnya dia segara duduk di kursi sebelah ranjangku setelah ia duduk dengan nyaman aku segera menyuarakan apa yang sedang aku pikirkan dari tadi.
" Sayang, kamu maukan kembali lagi bersamaku dengan anak - anak juga ? " Alexi hanya tersenyum menatap ke arahku.
" Aku mohon sayang, aku gak bisa hidup tanpa kamu dan anak - anak " Ucapku lagi sambil memasang wajah memelas menatap ke arah Alexi. Aku berharap ia mau karena aku aku benar - benar gak mau jauh - jauh dari mereka.
" Iya " Alexi mengusap puncak kepalaku lembut, walau pun jawaban Alexi singkat tapi dalam seketika membuat hatiku berbunga - bunga.
" Kamu gak mau dengerin cerita yang sesungguhnya dari kejadian lima tahun lalu sayang, jika kamu ingin mendengarkannya aku bakal cerita sama kamu, aku gak mau kamu ada rasa ragu lagi sama aku ? " Alexi hanya mengangguk sambil teesenyum menatap ke arahku.
Flashback On.
Saat itu aku masih larut di dalam lamunanku karena sikap anehku pada Alexi, tiba - tiba pintu ruanganku di buka secara paksa. Aku yang tadinya sedang melamun pun terlonjak kaget dengan kedatangan tamu tak di undangku.
" Sorry, my lord can't help it " ( maaf, tuan saya tidak bisa menahannya ) ucap sekretaris ku merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya tak berani menatapku.
" Never mind, let it go " ( tidak apa, biarkan saja ) ucapku menenangkannya.
Sekretrisku pun keluar dari ruanganku setelah ku persilahkan dirinya keluar. Aku pun menatap sengit orang yang ada di depanku yang tak lain adalah Khatelyna. Orang yang sudah membunuh papa dan hampir saja membunuh istriku.
" What business do you have here ? " ( Ada urusan apa kau kesini ? ) tanya ku dingin dengan menatap tajam Khatelyna yang berdiri di hadapan dengan muka sok polosnya yang sangat - sangat ku benci, karena gara - gara muka itulah aku kehilangan orang yang ku sayang bahkan muka itu juga yang hampir membunuh orang yang ku sayang lagi.
" Honey, why are you like that, I miss you, you want to meet you. How come you don't miss me ? " ( Sayang kok kamu gitu sih, aku kan kangen sama kamu ingin ketemu kamu. masa kamu gak kangen sama aku ? ) ucapnya dengan nada centil yang terdengar menjijikkan di telingaku bahkan telinganku seperti ingin tuli jika mendengar nadanya tersebut.
Khatelyna pun berjalan ke arahku dengan melenggak - lenggokkan badannya sensual tapi itu menurutku dulu, dulu jika aku melihatnya seperti itu pasti aku akan langsung menerkamnya seperti singa yang siap menerkam mangsanya tapi untuk sekarang aku berasa ingin muntah.
" Do you want to lose it ? " ( Apakah kau ingin kehilangannya ? ) ucapnya membisikkan di telingaku dengan nada sensualnya.
" Are you threatening me now ? " ( Apa sekarang kau sedang mengancamku ? ) ucapku sarkatis dengan menatapnya tajam dengan mata elangku.
" maybe .. " ( mungkin .. ) Khatelyna tersenyum misterius dan alarm waspadaku pun berbunyi menandakan bahaya.
tiba - tiba Khtelyna berada di hadapanku dan duduk di pangkuan ku, tangannya pun tak tinggal diam dia membelai wajah ku lalu turun ke dadaku membuat bentuk bulat - bulat di dada kiriku.
Setelah itu dia mencium bibirku dengan paksa, aku yang dalam mode terkejut pun hanya diam tak membalas ataupun menolak ciumannya.
Flashback End.
" Begitulah ceritanya, sampai saat aku mendengar suaramu dan mendorongnya secara tiba - tiba " Ucapku mengakhiri cerita kejadian yang membuat orang yang paling ku cintai pergi meninggalkanku.
" Aku mencarimu tapi aku sudah kehilangan jejakmu, jadi aku memutuskan mencarimu ke Mansion tapi ternyata kau sudah pergi meninggalkanku dan aku seketika akan gila saat itu "
" Maaf " Ucap Alexi sambil menundukkan wajahnya, aku pun mendongakkan wajahnya agar menatap ke aram mataku.
" Gak perlu minta maaf sayang, saat itu aku yang salah jadi kamu gak perlu merasa bersalah seperti itu " Aku tersenyum ke arahnya, seperti penyakit yang menular Alexi tertular senyumanku. Akhirnya aku melihat senyuman itu, aku bahagia benar - benar bahagia.
" Apalagi dulu aku terlalu menyakitimu, aku bodoh bangetkan ? "
" Tapi aku bersyukur takdir mempertemukan kita, aku bersyukur memilikiku dan anak - anak "
" Terima kasih sayang, kamu sudah memberi aku kesempatan untuk bisa bersama kamu dan anak - anak "
" Iya " Alexi tersenyum, aku mengelus pipinya dengan lembut dan ku lihat ia memejamkan matanya merasakan elusanku aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu.
Alexi membuka matanya dan berkata. " Oh ya jika kamu gak bersama Khatelyna, jadi sekarang bagaimana keadaannya ? " Tanya Alexi, aku terdiam sebentar saat aku ingin menjawab pertanyaannya tiba - tiba pintu ruanganku terbuka menampilkan sosok Mommy, Aldrich dan Maisha.
Aku dan Alexi menoleh dan tersenyum ke arah mereka, di balas dengan senyuman juga oleh Mommy.
Ku lihat kedua anakku, aku sangat merindukan mereka berdua sangat - sangat merindukan mereka.
Mommy berjalan ke arahku dan memelukku, kemudian melepaskannya dan menatap ke arah wajahku.
Kemudian aku beralih menatap ke belakang Mommy yang terdapat Aldrich dan Maisha.
" Kalian gak mau peluk Daddy ? " Akhirnya mereka berdua menaiki ranjangku dengan di bantu Alexi dan Mommy dan memelukku erat.
Aku bersyukur mereka berdua mau menerimaku, apalagi tadi ku lihat wajah Aldrich gak sejutek dan sedingin saat aku baru menemuinya dia juga mau menatap ke arahku dan tak menatap ke arah lain.
Di sela - sela pelukan kita bertiga aku tersenyum sambil mengusap punggung mereka berdua naik turum dengan lembut.