My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 55



\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*


Setelah aku mengetahui segalanya bahwa Maisha dan Aldrich adalah anakku, aku memperketat penjagaan untuk mereka aku tak mau mereka sampai kenapa - napa.


Aku juga merasa sedih dan menyesal, aku membayangkan saat - saat masa awal kehamilan Alexi, pasti dia sangat menderita, harus mengalami morning sicknes dan ngidam apalagi tak ada suami yang mendampingi di sisinya.


Aku juga tak bisa mengetahui berkembangan anak - anakku saat masih berada di kandungan, saat mereka lahir, waktu awal mereka bisa bicara dan berjalan dan masih banyak lagi.


Tapi ya sudahlah yang lalu biarlah berlalu meskipun penyesalan tak pernah sirna dalam hatiku.


Tapi aku juga bersyukur akhir - Akhir ini hubunganku dengan Alexi dan kedua buah hati kami juga sedikit membaik meskipun Aldrich masih tetap cuek dan dingin kepadaku tapi aku masih bersyukur setidaknya dia masih menerima kehadiranku.


Saat ini sudah satu bulan tenggat waktu yang di berikan para pemegang saham di perusahaan Alexi jadi malam ini adalah acara pertunjukan busana itu berlangsung. Acara itu berlangsung di Skylight Clarkson Square dan Industria.


Saat ini aku berada di perusahaanku, aku berniat untuk pergi ke perusahaan Ferrers Group dan mengajak Alexi serta anak - anak ke acara malam ini bersama - sama dan aku juga ingin memperkenalkan mereka sebagai istri dan anakku.


Aku bergegas keluar dari ruanganku turun ke lantai dasar menggunakan lift, senyuman selalu tersungging di bibirku selama aku berjalan mulai dari ruanganku sampai tempat mobilku berada.


aku tahu pasti semua karyawan menatap bingung sekaligus aneh ke arahku, bingung pasalnya aku tak pernah menampakkan senyumanku saat aku baru memimpin di perusahaan ini dan aneh karena aku terus saja tersenyum tanpa sebab yang jelas.


Mungkin mereka ada yang mengira bahwa aku gila, tapi aku tak peduli yang penting hari ini aku sangat - sangat bahagia karena sebentar lagi seluruh dunia akan mengetahui bahwa Alexi adalah istriku dan juga aku sudah memiliki anak dengannya.


Membayangkannya saja sudah membuat bunga - bunga di hatiku merekah sempurna, apa lagi jika semua itu benar - benar terjadi aku pasti menjadi pria yang sangat bahagia dan beruntung di dunia ini.


Rasanya aku sudah tak sabar ingin mengutarakan niatku ini kepada Alexi, saat ini aku sudah berada di dalam mobil, duduk di kursi belakang dengan tidak sabaran dan juga gelisah. William yang menjadi supirku, ku lihat dia sesekali menengok ke belakang melalui kaca spion tengah.


Entah kenapa aku juga merasa sangat gelisah, di satu sisi aku bahagia dan di sisi lain aku merasa sangat gelisah entah karena apa aku pun juga tak tahu.


" Will can you be faster ? " ( Will bisakah kau lebih cepat lagi ? ) Ucapku gelisah terbukti dengan aku yang selalu menggerak - gerakkan tubuhku mencari kenyamanan dalam dudukku.


William yang menyadari kegelisanhanku pun menanyakan alasan dari kegelisahanku ini. " Sir, why do you look so agitated like that " ( Tuan, kenapa anda terlihat sangat gelisah seperti itu ) Tanyanya dengan dahi berkerut karena sedari tadi melihatku yang terlihat sangat tak nyaman.


" Emm like this Will .. " ( Emm begini Will.. ) Aku menjeda kalimat yang akan ku ucapkan, menghela nafas berusaha menenangkan pikiran dan hatiku kemudian berucap. " I want to invite my wife to tonight's event together " ( Aku ingin mengajak istriku ke acara malam ini bersama ) Akhirnya aku berhasil mengucapkan keinginanku, aku menghela nafasku lega setidaknya aku sudah mengeluarkan beban berat yang ada di hatiku seenggaknya aku sedikit plong saat kata - kata itu berhasil lolos dengan lancar dari mulutku.


Ku lihat kening William berkerut lebih dalam. " Will you agree with this proposal, sir? " ( Apakah Nyonya akan setuju dengan usulan ini tuan ? )


" Emm I don't know, so I want to discuss with him right now so can you be faster Will I can't wait to tell him about this " ( Emm aku tidak tahu, maka dari itu aku ingin mendiskusikan dengannya saat ini jadi bisakah kau lebih cepat Will aku sudah tidak sabar ingin memberitahukannya tentang ini ) William hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia mempercepat laju mobilnya membelah padatnya jalanan Kota New York.


...


15 menit perjalananku akhirnya aku sampai di depan kantor Ferrers Group yang tak lain adalah kantor istriku Alexi.


Aku semakin tak sabar untuk menemui Alexi di yang ku yakini dia pasti berada di ruangannya, aku bergegas masuk ke Lobby perusahaan dan berjalan cepat ke lift yang akan mengantarku sampai ke ruangan tempat Alexi.


Aku memasuki lift dan menekan angka 40 tempat ruangan Alexi berada, hatiku berdebar, keringat mulai jatuh di pelipisku.


Lift berhenti di lantai 40, pintu lift terbuka aku segera berlari kecil agar segera sampai di depan ruangan Alexi. Kulihat meja sekretarisnya kosong mungkin dia sedang ada urusan dan aku juga tak peduli yang aku pedulikan saat ini adalah aku menyampaikan keinginanku.


Ku ketuk pintu ruangannya, mungkin biasanya aku langsung masuk tapi kali ini tidak. Bisa - bisa Alexi langsung menolakku bahkan sebelum aku mengatakan niatku.


Dan aku tak inginkan itu, jadi sebisa mungkin aku takkan membuatnya marah atau pun kesal denganku. Aku akan mencoba bersikap ramah kepadanya agar ia mau menerima niatku.


" Masuk " Suara merdunya membuatku tertegun untuk sesaat, segera ku buka pintu ruangannya dan berjalan masuk dan berhenti di depannya.


Alexi mendongakkan wajahnya, ia terkejut dan matanya hampir keluar, aku hanya tersenyum manis ke arahnya tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah membuatnya terkejut seperti itu.


" Darren " Panggil Alexi lirih dan masih bisa ku dengar.


" Iya, ini aku " Aku masih mempertahankan senyumanku dahi Alexi berkerut melihatku yang hanya tersenyum menatapnya.


" Ada apa ? " Tanyanya.


" Em begini.. " Aku lagi - lagi menggantungkan kalimatku seperti yang ku lakukan kepada William.


Dahi Alexi berkerut lebih dalam melihatku menggantungkan kalimatku, mungkin dia heran melihat gelagatku yang gugup dan juga gelisah.


" Ada apa Darren, Katakan ! " Ucapnya tidak sabaran.


Aku menghela nafasku mencoba untuk menenangkan hatiku yang dari tadi sudah sangat gugup dan juga geliasah.


" Bisakah kita pergi bersama ke acara nanti malam ? "


" Emm begini Darren.. " Alexi menghela nafas, dan kalimatnya selanjutnya membuatku kecewa seketika, tak ada raut bahagia lagi di dalam ekspresi wajahku saat ini yang ada hanya kekecewaan.


" Bukannya aku tidak mau tapi aku benar - benar tidak bisa " Ucap Alexi menyesal.


" Tapi kenapa ? "


" Aku harus memastikan semuanya lancar dan aman terkendali, karena ini satu - satunya cara membangkitkan perusahaanku yang saat ini terpuruk "


" Oke " Aku berbalik hendak pergi dari hadapan Alexi, tapi suara Alexi mengintrupsi langkahku yang hendak mencapai pintu.


" Tunggu " Cegahnya.


Aku berbalik menunggu kalimat yang selanjutnya keluar dari bibir mungil Alexi. " Emm, jika kamu ingin membawa anak - anak silahkan aku akan menemuimu dan anak - anak jika acaranya sudah selesai " Ucap Alexi sedikit ragu tapi hal tersebut sedikit berhasil merubah moodku yang sempat hancur akibat penolakan yang Alexi lakukan.


" Baiklah " Aku tersenyum, setidaknya aku masih bisa dengan anak - anak, Alexi menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arahku.


Aku segara keluar dari ruangan Alexi untuk mengajak anak - anak berbelanja terlebih dahulu, meskipun ini tak seperti keinginanku tapi setidaknya Alexi masih mengizinkanku bersama dengan anak - anak.