
\*\*\*ALEXI FERRERS POV\*\*\*
Setelah kejadian di mall kemarin aku jadi tak fokus mengerjakan berkas - berkasku dan mengawasi kinerja bawahanku untuk acara pertunjukkan busana dari perusahaanku.
Apalagi setelah kejadian kemarin Darren bersih keras untuk mengantar kami pulang ke rumah dan dia sampai menyewa bodyguard dan supir untuk menjaga kedua buah hati kita.
Aku sudah berusaha menolak keras perintahnya, tapi Darren tetaplah Darren yang tak ingin ada penolakan dalam perintahnya. Apalah dayaku jika Darren sudah memutuskan sesuatu aku pun pasti tak kuasa untuk menolaknya.
Terpaksa aku menuruti kemauannya meskipun aku tidak ingin, apalagi saat melihat wajah Aldrich yang lebih masam dari biasanya. Sifat Aldrich sama dengan Darren, dia dingin dan wajah selalu datar.
Flashback On.
Setelah kejadian peluk memeluk di mall, Darren bersih keras mengantarku dan kedua buah hati kami pulang ke rumah dengan menggunakan mobilnya dan dia sendiri yang menyetir mobilnya tanpa bantuan William atau siapapun dan untu Enza baby sitter
Di dalam mobil hanya terdapat celotehan Maisha yang selalu di tanggapi kekehan kecil oleh Darren, sedangkan aku dan Aldrich hanya menatap ke arah luar jendela.
Wajah Darren tampak berbinar memdengarkan celotehan Maisha yang tak ada hentinya, tapi entah mengapa wajah Darren menjadi lesu dan sendu saat matanya mengarah ke arah Aldrich melalui kaca spion tengah.
Lama Darren memperhatikan Aldrich dari kaca spion tengah, kemudian teralihkan oleh Maisha yang kembali mengoceh membuat Darren terkekeh lagi.
Aku tau Aldrich seperti itu karena kesalahanku, aku yang sudah memisahkan mereka karena egoku. Aku tak mendengarkan penjelasan Darren tentang semua yang terjadi sebenarnya, dan aku sadar bahwa itu semua salahku, aku yang menjadikan seperti itu.
Aku juga tahu Aldrich sangat merindukan Daddynya dan sangat menyayangi Daddynya, tapi Aldrich hanya tak bisa mengekpresikannya karena sifatnya yang seperti Darren kaku dan dingin itu membuatnya bingung harus melakukan apa.
Dia dari dulu memang seperti itu persis seperti Darren dan hanya akan hangat jika dia sudah bersama dengan keluarganya.
Memikirkan semua itu air mataku menetes membasahi pipiku, tiba - tiba sebuah tangan menyantuh tangan kananku, aku menoleh ke arah Darren ia bertanya melalui tatapan matanya seolah berkata. " Kenapa " Darren mengerutkan dahinya sambil menatap ku insten. Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum paksa ke arahnya, Darren pun mengalihkan tatapannya ke arah depan mungkin ia tak ingin memaksaku bicara jika aku tak ingin.
...
Akhirnya mobil yang kita tumpangi sampai juga di gerbang rumahku.
Tin.. Tin..
Penjaga gerbang berlari membukakan gerbang, mobil yang kita tumpangi masuk dan berhenti di depan halaman rumahku yang luas, rumah bertingkat dua dengan warna cat serba putih dan tiang - tiang besar di teras rumah.
Kita semua keluar dari mobil dan masuk ke rumah begitu juga Darren, Ia langsung duduk di ruang tamu sedangkan aku sudah membuatkannya minuman.
Setelah selesai aku pun membawakan minuman itu ke ruang tamu dan meletakkannya di depan Darren. Darren tersenyum ke arahku dan langsung meminum minumannya sampai tersisa setengah.
Setelah itu ia menaruh gelas minumannya di meja lagi dan berkata. " Alexi, tinggallah denganku di mansion kita lagi " Pintanya, aku hanya diam dan tak tahu harus menjawab apa.
Setelah beberapa menit aku hanya diam saja akhirnya Darren pun berkata lagi. " Ya sudah jika kamu masih tidak mau untuk tinggal bersama denganku lagi aku mau menyewa bodyguard dan supir pribadi untuk mu dan anak - anak, aku tidak mau terjadi hal - hal yang tidak di inginkan padamu dan mereka "
" Aku tidak mau, aku bisa menjaga diriku sendiri tapi untuk anak - anak terserah padamu kau kan Daddynya jadi kau juga berhak terhadap mereka "
" Baiklah " Pasrah Darren sambil menghembuskan nafas pasrah.
Flashback End.
Saat ini aku sedang berada di ruanganku di perusahaan, aku mengingat kejadian kemarin saat pulang dari Mall.
Hatiku menghangat saat memikirkan bahwa Darren sangatlah peduli dengan kedua buah hati kami, tapi entahlah aku masih tak ingin kembali bersamanya.
Saat aku melihat wajahnya aku selalu teringat kenangan 5 tahun yang lalu, saat dirinya berciuman dengan Khatelyna di ruangannya.
Emm.. ngomong - ngmong soal Khatelyna, aku tak lagi mendengar kabarnya mulai dari awal aku kembali ke New York saat aku di Jakarta pun aku tak pernah mengikuti berita - berita mengenai kejadian yang ada di New York.
Entahlah, aku tak perduli. Tapi aku juga sangat penasaran apakah mungkin Khatelyna dengan Darren sudah bersama tapi kenapa Darren memperlakukan ku dengan anak - anakku dengan baik.
Semua pertanyaan berputar di otakku tiba - tiba pintu ruanganku di buka, aku tersentak dan mendongakkan wajahku kemudian aku tersenyum melihat siapa yang masuk ke dalam ruanganku.
Maisha dan Aldrich bersama dengan baby sitternya yap merekalah yang masuk ke ruanganku.
" Mommy, Isha angen Daddy " Ucapnya dengan senyuman lebar yang tak pernah pudar dari bibir mungilnya.
Sedangkan Aldrich seperti biasanya dia hanya diam dan cuek tapi aku tahu bahwa dia sama dengan Maisha dia juga sangat merindukan Daddynya tapi Aldrich tak pernah mengatakannya secara gamblang.
Saat dia perjalanan Maisha sangat antusias karena sebentar lagi dia akan bertemu Daddynya, dia berbicara banyak tanpa henti dengan tersenyum lebar aku yang melihatnya pun hanya terkekeh dan sesekali menanggapinya begitu juga dengan Enza baby sitter si kembar yang juga ikut menimpali celotehan Maisha.
Sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai di depan perusahaan Darren akhirnya kita berempat sampai dan memasuki perusahaan Darren.
Semua orang memandang kita berempat penasaran, karena kita juga tak pernah masuk ke sini aku juga hanya sekali masuk ke perusahaan ini untuk mengantar makan siang untuk Darren itu pun lima tahun yang lalu.
Kita berjalan ke meja resepsionis. " How can I help you, ma'am ? " ( Ada yang bisa saya bantu nyonya ? ) Tanya resepsionis tersebut sambil tersenyum ramah ke arahku.
" Ah yes, I want to meet with Darren Matthews " ( Ah ya, saya mau bertemu dengan Darren Matthews )
" Have you made an appointment ? " ( Apakah anda sudah membuat janji ? ) Tanyanya lagi.
" Not yet, but please say that Alexi wants to see him " ( Belum, tapi tolong sampaikan bahwa Alexi ingin menemuinya )
" Alright madam, please wait in that seat over there " ( Baik nyonya, silahkan tunggu di kursi sebelah sana ) Pinta resepsionis yang ku ketahui dari name tag nya bernama Cyntiya itu menunjuk kursi tempat untuk menunggu.
30 menit aku menunggu tapi aku masih duduk di tempat tunggu ini dan ku lihat anak - anakku juga sudah mulai kelelahan.
" Mommy, Isha au ipis " Pinta Isha.
" Al uga "
" Baiklah kalian ke kamar mandi dengan mbak Enza ya Mommy akan menanyakan kapan kita bisa bertemu Daddy " Aku pun berjalan ke meja resepsionis dan kedua buah hatiku berserta baby sitternya menuju ke kamar mandi.
" When can I meet with Darren ? " ( Kapan saya bisa bertemu dengan Darren ? ) Tanyaku menahan amarah yang sebentar lagi akan memuncak, aku tidak tega melihat kedua buah hatiku kelelahan seperti itu.
" Sorry, Mrs. Darren is in a meeting " ( Maaf Nyonya tuan Darren sedang rapat ) Ucap resepsionis itu menyesal.
Tiba - tiba seseorang memanggil namaku. " Alexi " Aku menoleh dan mendapati Darren berjalan ke arahku dengan sedikit berlari kecil.
Darren sampai di depanku. " Kamu lama banget sih aku sudah 30 menit loh menunggu di sini " Marahku saat Darren baru saja sampai di depanku.
" Anak - anak juga sudah kelelahan dari tadi nunggu kamu, kasian mereka jika hanya aku tidak masalah tapi ini anak - anak juga nunggu kamu dari tadi "
" Iya maaf sayang aku gak tau kamu datang, tadi aku sedang rapat dan baru saja selesai. Aku juga langsung lari ke sini saat sekretarisku memberitahu bahwa kamu menunggu di bawah " Darren mengecup puncak kepalaku, aku hanya diam karena aku masih merasa kesal.
" Daddy " Tiba - tiba dari arah belakang terdengar teriakan Maisha, aku dan Darren menoleh dan mendapati Maisha berlari ke arah ku dan Darren sedangkan Aldrich hanya berjalan biasa bersama dengan Enza.
Darren menghampiri Maisha dan menggendongnya dengan satu tangan kemudian menghampiri Aldrich yang berada di belakang Maisha, ia juga menggendong Aldrich dengan tangan satunya.
" Daddy Isha angen cama Daddy " Ucap Maisha sambil mencium pipi Darren, Darren hanya terkekeh.
"Daddy juga kangen dengan Maisha begitu juga dengan Al " Jawab Darren sambil mencium pipi Maisha kemudian pipi Aldrich.
" Maaf ya Daddy tidak tahu bahwa kalian ke sini " Ucap Darren menyesal.
" Ya Daddy " Jawab Maisha sedangkan Aldrich ia hanya diam saja.
" Baiklah sekarang kita makan siang oke, Daddy sudah laper pasti kalian berdua juga laper kan ? "
Maisha hanya menganggukkan kepalanya begitu juga dengan Aldrich. Aku hanya tersenyum melihat interaksi mereka bertiga.
" Baiklah sekarang ayo kita pergi makan "
Darren menoleh ke arahku yang berada di belakangnya dan berkata. " Mommy ayo kita pergi makan "
" Baiklah, Aldrich gendong Mommy saja ya kasian Daddy jika harus gendong kalian berdua " Ucapku menghampiri mereka dan meminta Aldrich dari gendongan Darren.
Kami berlima pun berjalan menuju ke mobil tapi sebelum itu Darren berbalik dan berkata kepada resepsionis. " Cyntiya, if they come here again, you are invited directly to my room, they are my wife and children " ( Cyntiya jika mereka ke sini lagi kamu persilahkan langsung ke ruanganku, mereka istri dan anak - anakku ) Perintah Darren.
" Yes sir " ( Baik tuan ) Jawab Cyntiya.
Kami berlima pun berangkat ke tempat makan untuk makan siang bersama.