
\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*
Alexi melepas pelukan antara dirinya dengan Omnya, Ia menangis haru serta bahagia karena setelah satu bulan akhirnya Om tercintanya sadar juga dari komanya.
Akhirnya yang ia harapkan terjadi juga, mulai dari perusahaannya yang sudah stabil bahkan parusahaannya saat ini sudah sangat meningkat pesat dan sekarang Omnya sudah sadar dari komanya betapa besar kebahagiaannya yang ia rasakan saat ini.
Setelah melepas pelukannya dengan Omnya Alexi duduk di kursi samping ranjang Omnya, ia banyak menceritakan kejadian yang ia alami selama lima tahun ini, ia juga menceritakan tentang Maisha dan Aldrich.
Dulu dia tidak sempat menghubungi Omnya ini, bukannya apa tapi Alexi merasa takut untuk menghubungi Omnya karena saa dirinya pergi Alexi tak menghubungi Omnya sekalipun.
Alexi sibuk menceritakan semuanya sampai - sampai ia tak sadar bahwa hari sudah larut, ia pun menyudahi ceritanya dan pamit pulang.
" Uncle already late Alexi must go home sorry for Alexi's children in the mansion and Uncle must rest " ( Om sudah malam Alexi harus pulang kasihan anak - anak Alexi di mansion dan Om harus istirahat ) Pamit Alexi di angguki Omnya sambil tersenyum lembut menatap ke arah Alexi.
Alexi berlalu meninggalkan ruangan Omnya dan segera pulang ke mansion Darren untuk menjemput anak - anaknya, setelah pulang dari acara tadi malam mereka memang menginap di mansion Darren dan tadi pagi ia juga langsung berangkat ke perusahaan dari mansion Darren.
...
26 Menit perjalan Alexi dari rumah sakit ke Mansion Darren dan akhirnya mobil Alexi memasuki pelataran mansion Darren yang megah.
Ia memasuki mansion Darren dan mendapati kedua buah hatinya serta Darren berada di ruang kelurga, mereka sedang menonton kartun. Alexi segera duduk di samping Aldrich yang sibuk menonton kartunnya, mereka bertiga tersentak kaget karena tiba - tiba Alexi duduk bersam mereka.
" sayang kamu kapan pulangnya kok kita gak tahu ? "
Tanpa menjawab pertanyaan Darren Alexi malah berbicara kepada kedua buah hatinya. " Sayang kita pulang ke mansion yuk " Ajak Alexi membuat mata Darren melotot.
" Gak bisa, kenapa gak menginap di sini aja sih sayang ? " Ucap Darren memelas, Alexi lagi - lagi menghiraukan ucapan dan segara menggendong kedua buah hatinya tapi tangannya di cekal oleh Darren.
" Sayang " Ucap Darren memelas lagi.
" Please, kamu sama anak - anak di sini saja ya " Ucap Darren lagi, Darren masih tetat kekeh untuk membuat Alexi tetap berada di Mansionnya begitu juga dengan Alexi yang masih tetap kekeh dengan keputusannya yaitu keluar dari Mansion Darren bersama anak - anak.
" Isha sama bang Al ke mobil Mommy dulu ya, Mommy mau bicara sama Daddy dulu ! " Perintah Alexi dan di jawab anggukan oleh Maisha dan Aldrich, mereka berdua segera berlari ke mobil Mommynya yang berada di halaman mansion Daddynya.
Sedangkan Alexi dan Darren masih dalam keheningan sampai Darren membuka suaranya lagi. " Sayang aku mohon kamu sama anak - anak di sini aja ya " Ucap Darren memohon, ia tak ingin di tinggal lagi apalagi saat ini mereka berdua sudah memiliki Maisha dan Aldrich.
" Aku gak mau pisah sama kamu dan anak - anak sayang, aku gak bisa hidup tanpa kalian " Darren sudah bingung apalagi yang akan ia katakan kepada Alexi supaya istrinya itu tak pergi lagi.
Kata - kata Darren memang terdengar alay tapi itulah yang Darren rasakan saat ini.
" Aku gak bisa " Tolah Alexi tegas.
" Aku akan tetap membawa anak - anak pergi dari sini " Ucapnya lagi dan berlalu pergi dari hadapan Darren tapi langkah Alexi terhenti karena cekalan tangan Darren di tangannya.
" Sayang please " Ucap Darren memelas, ia tak tahu lagi bagaimana harus membujuk Alexi supaya tidak pergi dari mansionnya apalagi membawa anak - anaknya.
" Maaf " Ucap Alexi lirih, ia segera pergi dari hadapan Darren. Darren sudah pasrah, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan tanpa mereka bertiga.
" Kenapa ? " Alexi menghentikan langkahnya hanya sebentar saja tanpa menoleh sedikit pun dan tanpa menjawab apapun Alexi berlalu pergi dari mansion Darren, menyusul Aldrich dan Maisha di mobil setelah itu berlalu pergi menuju ke mansion miliknya.
\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*
Alexi pergi dariku membawa anak - anak, bodohnya aku yang tak bisa menahan mereka. Semua ini salahku, pasti ini karena kesalapahaman itu. Kesalahpahaman lima tahun lalu saat Alexi mendapati dirinya berciuman dengan Khatelyna.
Bahkan aku belum menjelaskannya pada Alexi, dan itu salahku kenapa aku tak pernah mau menjelaskannya pada Alexi.
Sebenarnya aku takut ia takkan mempercayai segala ucapanku, dan itu pasti terasa lebih sakit saat orang yang kita cintai tak mempercayai ucapan atau penjelasan kita.
Apakah aku tak pantas bahagia ?
" Tak bisakah aku bersama - sama lagi dengan istriku "
Aku tahu dulu aku sudah sangat membuatnya kecewa, aku sadar itu dan saat ini aku sangat menyesal. Aku ingin mereka kembali padaku, aku tahu aku egois dan semua orang pasti pernah egois sepertiku.
" Sayang kembali, aku gak mau kehilangan kamu lagi sayang " Lirihku, air mataku tumpah deras aku tak bisa membendung lagi, aku menangis sejadi - jadinya, baru pertama kali ini aku menangis dan itu karena Alexi istri tercintaku.
Aku menaiki tangga menuju ke kamar mengambil jaket dan setelah itu menyambar kunci mobil dan melenggang pergi menggunakan mobil sportku.
Aku mengendarai mobilku membelah jalanan kota New York yang lenggang karena sudah larut malam, aku mengendarai mobilku dengan kecepatan di atas rata - rata.
Aku sudah tak memikirkan konsekuensinya yang penting aku segera sampai di club malam dan menenangkan pikiranku. Aku akan minum sampai aku sangat - sangat mabuk jika perlu sampai aku tiada sekalipun.
Aku takkan berhenti, jika seperti itu bisa jadikan nanti Alexi khawatir padaku dan mau merawatku, aku sangat menginginkannya seperti itu. Membayangkannya saja membuatku bahagia apalagi benar - benar terjadi.
" Alexi, kenapa ? " Aku bermonolog sendiri, air mataku tetap setia meluncur di pipiku dengan deras tanpa henti.
" Tak bisakah kamu kembali sayang, aku hanya ingin dirimu sayang tak ada yang lain lagi " Aku masih terus bermonolog dan menangis.
" Tuhan tidak bisakah kau kembalikan dia padaku, aku tak bisa hidup tanpanya tuhan " Tangisku semakin menjadi.
Aku menambah laju mobilku, aku terus saja meneteskan air mataku tanpa henti, menangisi nasibku yang tak pernah memihak padaku, seakan - akan takdir berlari menjauh dariku, menjauh sampai aku tak bisa menggapainya.
Dan...
BRAKKKK...
Semua gelap, aku tak tahu apa - apa lagi semua badanku aku hanya meraskan badanku remuk apalagi bagian kakiku terasa sangat sakit seakan - akan mau patah.