
\*\*\* ALEXI FERRERS POV \*\*\*
Saat ini aku sedang berdiri di depan jendela besar kamar ku yang berhadapan langsung ke pemandangan kota New York, Amerika ini. setelah tadi makan malam dengan Edgar di restoran. Entah mengapa dari aku pulang ke mansion Darren aku selalu memikirkan semua kata - kata Edgar saat di restoran.
Pikiran ku kacau saat aku memikirkan hati Darren akan hancur saat mengetahui bahwa Khatelyna berselingkuh dengan pria lain. Aku tau bila Darren kejam pada ku tapi semua itu tak memungkiri untuk ku peduli pada nya.
" bagaimana jika Darren mengetahui semua ini ? " gumam ku pelan tapi masih bisa terdengar.
" tahu apa " tiba - tiba terdengar suara dari belakang ku dan aku kenal betul suara siapa itu. Aku berbalik dan menatap Darren yang menatap ku dengan tanda tanya dan penuh curiga kepada ku.
" ti - tidak tidak ada " jawab ku terbata - bata karena aku tak mau Darren tau apa yang ku lihat tadi saat aku makan malam dengan Edgar.
" kamu jangan bohong aku tadi dengar kok kamu bilang apa, kamu juga sebut - sebut nama ku sambil bilang bagaimana kalau aku tau semua ini. Alexi bilang aja kamu gak pandai bohong " geram Darren karena aku tak mau mengatakan yang sebenarnya kepada nya.
" Alexi " panggil Darren lagi. Terlihat dengan jelas bahwa Darren berusaha menetralkan emosinya agar tak meledak.
" Benaran tidak ada kok mungkin kamu salah dengar aku tadi bilang bilang itu orang lain " jawab ku berusaha meyakinkan Darren.
" Huft " Darren membuang nafas kasar dengan kepala nya menunduk agar aku tak melihat wajah nya yang sudah memerah padam menahan amarah nya.
" terserah kamu kalau gak mau jujur aku akan nunggu kamu jujur sama aku " ucap Darren lagi.
Setelah Darren mengucap kan kalimat itu kami berdua pun terdiam cukup lama. Aku merasa sangat canggung dan aku pun akhirnya memulai pembicaraan untuk mengusir kecanggungan di antara kami berdua.
" kamu tumben pulang masih sore gini " ucap ku mengusir kecanggungan di antara kita berdua.
" Alexi, ini udah jam 22.15 malem bukan sore lagi " ucap Darren menatap malas ke arah ku.
" eh, maksud ku bukan seperti itu. Kan biasa nya kamu pulangnya di atas jam 12 malem tapi sekarang kan masih jam 10 " jelas ku menjelaskan kalimat ku.
" ya ya aku cuma bercanda aja kok kenapa kamu serius gitu "
" eh " kaget ku karena Darren gak biasa nya bersikap seperti itu kepada ku.
Tiba - tiba Darren mendekap tubuh ku erat. Dan berkata. " biarkan aku memeluk mu seperti ini sebentar saja " ucap Darren dalam dekapan ku.
" apa kamu punya masalah ? jika kamu ada masalah bilang saja pada ku kalau aku bisa pasti aku bantu kamu "
Tiba - tiba Darren berkata. " maaf " ucap nya di sela - sela pelukan kami.
" untuk apa " tanya ku bingung perkataan Darren.
" semua " ulang ku mengulang perkataan Darren.
" iya terutama kemarin malam dan pagi tadi " ucap Darren menyesali perbuatan nya.
" kenapa kamu minta maaf kamu gak salah kok dan itu juga kewajiban ku sebagai istri kamu " aku mengusap puncak kepala Darren lembut untuk menenangkan nya. Dan terlihat dengan jelas bahwa Darren terkejut dengan sikap ku seperti itu kepada nya.
" eh maaf maaf aku gak sengaja " ucap ku terkejut sambil aku menarik tangan ku dari puncak kepala Darren.
Bukan nya Darren marah kepada ku malahan dia tersenyum dan mendekap tubuh ku lagi ke tubuh nya sampai tidak ada jarak yang memisahakan kita berdua dan aku rasa dekapan itu sangat erat dari sebelum nya.
" kamu kenapa sih kok malah peluk - peluk gini kayak anak kecil tau gak " tanya ku di sela - sela pelukan kami. Bukannya Darren menjawab pertanyaan yang ku lontarkan malah dia semakin erat mendekap tubuh ku. Tanpa Darren ketahui aku senyum - senyum sendiri melihat tingkah nya yang seperti ini memang aku merasa tingkah nya kali ini lucu tapi aku tersenyum karena aku senang Darren mau bermanja dengan ku seperti ini.
" kita tidur yuk " ucap Darren tanpa melepas dekapan nya.
" berarti sekarang lepasin sekarang dan kamu kembali ke kamar mu untuk tidur " ucap ku menjawab ajakan Darren.
" maksud ku bukan seperti itu kita tidur bersama satu ranjang. Ranjang kamu juga besar kok jadi kita berdua pasti muat tidur di situ " ucap Darren cemberut.
Sebenarnya aku tau apa yang di maksud Darren mengajak ku tidur seperti itu hanya saja aku ingin sekali - kali mengerjai nya Karena aku ingin melihat wajah nya yang cemberut menurut ku dia dua kali lipat lebih imut saat dia seperti itu.
" pffftt " tawa ku pecah saat melihat wajah nya yang cemberut dan itu imut sekali.
" kamu kok ketawa sih pasti kamu ngeledekin aku kan jujur gak " ucap Darren dan kali ini wajahnya sudah merah padam karena amarahnya.
" ya ya gak lagi deh .. yaudah ayo kita tidur " aku pun menarik tangan Darren menuju ke ranjang.
" jadi aku boleh tidur di sini " ucap Darren kegirangan.
" boleh dong kenapa gak boleh toh yang punya rumah kan kamu . Kamu bebas mau tidur di mana saja " Darren tersenyum cerah dan berbaring di ranjang.
" sini " ucap nya menepuk ranjang di sebelahnya. Aku pun ikut berbaring di sebelah nya. Kemudian Darren menarik tangan ku untuk di jadikan bantal kepalanya. Ia mendekap ku erat dan menyembunyikan wajahnya di dada ku. Tangan ku yang lain pun mengelus rambut Darren.
" aku berasa punya bayi besar jika seperti ini " ucap ku terkekeh geli dengan sikap kita berdua.
Kami berdua pun terdiam dan terbang ke alam mimpi masing - masing. Sebelum aku tertidur aku pun bergumam dalam hati.
" mungkin malam ini aku gak akan insomnia lagi dan mimpi dengan indah " gumam ku dalam hati dan tersenyum. Akhirnya aku pun terbang ke alam mimpi indah ku dalam dekapan Darren.