My Beautiful President'S Wife

My Beautiful President'S Wife
Episode 73



\*\*\*AUTHOR POV\*\*\*


Di sebuah pemakam seorang pria berbadan kekar memandangi makam baru yang bertuliskan nama seseorang yang pernah singgah di hatinya dengan pandangan yang sulit di artikan.


Darren yap pria itu adalah Darren, ia memakai baju hitam - hitam seperti kebanyakan orang yang lain saat ngelayat, ia juga memakai kacamata hitam yang bertengger indah di hidung mancungnya.


' Aku gak menyangka kamu akan pergi secepat ini, meski bagaimana pun aku akan tetap mendo'akan yang terbaik untukmu ' Ucap Darren dalam hati.


Setelah semuanya selesai satu persatu semua orang meninggalkan tempat pemakaman, Darren masih setia berdiri di sisi kiri makam tersebut, ia terus memandangi makam baru itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


Semuanya sepi tinggal dirinya saja, kemudian ia berbalik hendak meninggalkan tempat pemakaman, batu beberapa langkah ia menolehkan kepalanya kemudian berkata. " Selamat tinggal, semoga kamu tenang " Darren melanjutkan langkahnya, sesampainya di depan mobilnya ia bergegas memasuki mobilnya dan melajukannya ke suatu tempat.


Tak membutuhkan waktu lama Darren akhirnya sampai di depan Rumah Sakit, ia segera menuju ke ruangan yang ia tuju, sesampainya di depan ruangan itu ia segera memasukinya dan di sambut dengan teriakan kedua buah hatinya.


" Daddy " Teriak Aldrich dan Maisha kompak sampai - sampai mengusik tidur seorang perempuan yang tengah terlelap di atas ranjang Rumah Sakit.


" Darren, you're back, dear " ( Darren, kamu sudah kembali, Dear ) Terdengar suara seorang wanita patu baya, Tiara yap dia adalah Mommy Darren. Ia berkata lembut dengan menatap Darren lembut.


" Yes Mom " ( Iya Mom ) Darren menghampiri Mommynya dan mencium pipi Mommynya yang sedang duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut.


" Darren " Ucap serak suara wanita, karena ia baru bangun dari tidurnya.


Darren segera menghampiri ke ranjang yang terdapat seorang wanita, sepanjang ia berjalan menuju ke ranjang senyumannya tak pernah luntur dari bibirnya, sesampainya di pinggir ranjang ia segera mencium puncak kepala wanita itu.


" Bagaimana pemakaman Khatelyna, apa lancar ? " Tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Alexi.


\*\*\*DARREN MATTHEWS POV\*\*\*


" Bagaimana pemakaman Khatelyna, apa lancar ? " Tanya Alexi, seketika wajahku menunjukkan ketidaksukaan atas pertanyaannya itu. Padahal wanita itu hampir saja membunuh dirinya tapi dia masih saja baik, aku sendiri malah bersyukur jika Khatelyna tiada, aku tahu aku jahat tapi aku tetap saja bersyukur dia sudah tiada.


" Kamu kenapa tanya dia lagi, jangan tanya - tanya tentang dia aku gak suka, kalau saja tadi pagi kamu gak maksa - maksa aku ikut ke pemakaman aku gak akan sudi meskipun aku akan melihatnya untuk yang terkahir kali " Aku memasang ekpresi tidak suka atas pertanyaan Alexi barusan.


Flashback Off.


Mentari pagi membuat tidurku terganggu, saat aku membuka mataku yang pertama ku lihat adalah Alexi yang tengah terlelap.


Aku dan Alexi memang satu ranjang, meskipun di Rumah Sakit tapi aku memesan ranjang yang luas untuk Alexi dan ada ranjang satu lagi yang ada di ruangan ini, ya siapa tahu kedua buah hati kami ingin menginap juga di sini. Meskipun ada satu ranjang lagi tapi aku tetap saja tak mau tidur di ranjang itu, aku maunya tidur dengan istriku Alexi.


Aku terus memandangi wajahnya yang terlelap, sangat cantik. Membuatku terkagum - kagum. Perlahan mata indah dengan bola mata hitam pekat itu terbuka membuatku lebih melebarkan senyumku. Alexi membalas senyumku, senyum yang sangat indah tak ada yang menandinginya.


" Hari ini kamu harus ke pemakaman, hari ini kan hari pemakaman Khatelyna " Ucap Alexi serak tandanya baru bangun dari tidur indahnya.


Aku melototkan mataku, aku benar - benar tak sudi jika harus menghadiri pemakaman wanita ular itu, ya meskipun dia masalaluku tapi tetap saja aku tak mau.


" Aku gak mau " Ucapku cepat.


" Kamu harus Darren, meski bagaimana pun dia tetap teman dan juga masalalu kamu "


" Sayang, aku gak mau " Ucapku manja, aku merengek ke arah istriku sambil menggerak - gerakkan badanku.


" Harus Darren, ya setidaknya kamu menghormatinya, kamu anterin dia ke tempat peristirahatan terakhirnya " Ucap Alexi lembut, ia mengelus puncak kepalaku sambil tersenyum, aku yang tak punya pilihan lain pun akhirnya menganggukkan kepalaku.


Flashback End.


Setelah itu akhirnya aku benar - benar datang ke pemakaman ya walau sedikit tak ikhlas, kalau boleh memilih aku lebih ingin di Rumah Sakit menemani istriku tapi apalah dayaku jika sudah berhadapan dengan wanita yang aku cintai ini, aku tak bisa berkutik sedikit pun.


" Lancar sayang " Jawabku malas - malasan.


Ahh, aku belum menceritakan bagaimana istriku ini bisa selamat dari kecelakaan maut itu dan kenapa Khatelyna yang jadi korbannya.


Flashback Off.


Saat itu aku dari perusahaan, aku mengendarai mobilku dengan kecepatan di atas rata - rata, aku ingin cepat - cepat sampai di perusahaan istriku dan mengajaknya makan siang bersama seperti yang lalu - lalu.


Saat aku sampai, penjaga pintu masuk memberitahuku bahwa istriku keluar dengan sekretarisnya dan sepertinya ia akan makan siang bersama di Restorant sebrang.


Akhirnya aku pun menyusulnya, dan ku lihat ia akan menyebrang jalan dengan sekretarisnya berada di sampingnya, setelah itu sekretarisnya menjauh dari istriku sambil mengarahkan handphonenya ke telinga sepertinya ia mendapat telfon.


Seperti mendapat kesempatan untuk berdua saja, aku pun memutuskan untuk menghampirinya. Senyuman tak pernah lepas dari bibirku sepanjang aku berjalan ke arah Alexi.


Semakin aku dekat, ternyata lampunya sudah berganti hijau, aku terus memandangnya lekat tapi ada yang aneh kenapa ia tiba - tiba berhenti dan saat ku lihat sebuah mobil sedan abu - abu mengarah ke arahnya dengan kecepatan di atas rata - rata.


" Alexi " Aku berteriak, kemudian aku lari sekencang - kencangnya, saat mobil itu semakin mendekat aku segera menarik Alexi sampai kita berdua jatuh di aspal jalan, Alexi di atasku dan aku di bawahnya, aku menatap lekat wajah istriku yang masih memejamkan mata.


BRAKKK.


Suara dentumannya sangat keras, membuat semua orang menoleh begitu pun denganku, Alexi seketika membuka matanya dan berkata.


" Darren " Lirih Alexi, aku tersenyum dan masih memeluk pinggangnya erat.


" Kamu gak apa - apa sayang " Aku segera membantunya berdiri.


Saat kita berdua sudah berdiri tiba - tiba Alexi tak sadarkan diri, aku segera menangkapnya. Seorang wanita menghampiri kami yang ku yakini adalah sekretaris istriku.


" Call an ambulance quickly " ( Cepat telfon ambulance ) Ucapku panik, setelah ia sudah menelfon ambulan tak lama kemudian ambulan datang dan membawa Alexi.


" Sayang bangun dong jangan buat aku takut " Ucapku saat mobil ambulance menuju ke Rumah Sakit.


Setibanya di Rumah Sakit Alexi segera di bawa ke ruangan dan di periksa oleh dokter, tak lama dokter pun keluar dari ruangan tempat Alexi, aku segera melayangkan berbagai pertanyaan.


" Doctor how is my wife doing, is she okay, is there nothing serious? " ( Dokter bagaimana keadaan istri saya, apa dia baik - baik saja, apa tidak ada yang serius ? )


" Take it easy Sir, your wife is fine - she was just shocked by the accident " ( Tenang saja Tuan, istri anda baik - baik saja dia hanya syok akibat kecelakaan itu ) Seketika aku menghembuskan nafasku lega mendengar penjelasan dokter.


" Thank you doctor " ( Terimakasih dokter )


" You're welcome, sir, if you'll excuse me " ( Sama - sama, Tuan, kalau begitu saya permisi ) Aku hanya menganggukkan kepalaku. Alexi segera di pindahkan ke ruangannya, tak lama kemudian dua orang polisi mendatangiku.


" Good afternoon Mr. Darren " ( Selamat siang Tuan Darren ) Aku hanya menganggukkan kepalaku.


" Emm like this Mr. Darren, we both came here just to confirm the accident that happened to your wife, someone who drove his car named Khatelyna Tosny " ( Emm begini Tuan Darren, kami berdua ke sini hanya untuk mengonfimasi tentang kecelakaan yang menimpa istri anda, seseorang yang mengendari mobilnya bernama Khatelyna Tosny ) Aku terkejut, mataku melotot.


" Khatelyna " Ucapku terbengong.


" Yes, Mr. Darren, he died on the spot " ( Iya, benar Tuan Darren, dia meninggal di tempat ) Setelah mendengar kalimat terakhirnya aku lebih - lebih terkejut.


Flashback End.


Setelah semua itu, entahlah aku harus marah ataukah senang, marah karena ia sudah merencanakan untuk menabrak Alexi ataukah senang karena akhirnya ia mati juga.