MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney : Rahasia Nenek



Dia tahu namaku? Jadi dia mengenalku. Tadi aku sudah memindai cepat kartu-kartu yang kutempel di diariku, tidak ada fotonya.


“Anda ... siapa?” tanyaku hati-hati, sembari menutup diary, harta karun berhargaku. Hilangnya diari, lebih rumit dari mengganti biaya tenda dan butuh ekstra energy untuk membuatnya lagi.


“Kau tidak perlu tahu namaku. Tapi nenekmu mengenalku. Sampaikan salamku padanya. Katakan dari Mila.”


Aku terdiam, sekaligus lega karena perempuan ini tidak beritikad jahat. Dan aku tidak ingin melanjutkan perbincangan ini, atau aku akan terkesan begitu bodoh, tidak tahu apa-apa. Kalau nenek tahu, pasti aku tahu juga siapa wanita ini. Pasti ada kartunya di rumah nenek.


“Sebentar, mbak. Dari mana tahu kalau namaku Sydney?”


Dia tersenyum geli, kesempatan yang bagus bagiku untuk mengingat wajahnya dengan detil. Tapi, tak satu pun yang berhasil kuingat dengan jelas. Lubang hidungnya lebar, mengembang dan mengempis ketika dia tertawa. Ada tahi lalat besar di pangkal hidungnya. Matanya berkantung, sementara alisnya sangat tipis. Tidak ada make up, hanya bedak tipis dan murah. Ada bekas luka di geraham kanannya, membuat garis dengan warna lebih muda dari kulit wajahnya.


“Jadi, ibumu tidak pernah memberitahumu? Oh, iya, dia pasti tidak sempat karena dia  sudah meninggal ....”


Aku mencengkeram lengannya. Dia tahu banyak hal tentang aku dan nenek, aku harus mengujinya, apakah dia benar-benar tahu semuanya, atau mengambil informasi dari orang lain.


“Mila, ya kan? Jadi kau juga tahu tentang Papaku?”


Mila terperajat, lalu membuang muka. Dia menarik tangannya yang kucengkeram.


“Aku turun di sini, “ ucapnya panic, tidak menyangka dengan tindakan mendadakku.


“Kau baru saja naik, tidak mungkin turun di sini. Ini jalan tol, “ ucapku semakin mempererat cengkeramanku. Aku tidak akan melepaskan dia begitu saja. Dia beringsut menjauh, tapi percuma. Matanya menatap ke depan, ke arah kondektur yang mulai mengkarcis penumpang dari barisan bangku depan. Kami di bangku barisan belakang, tepat di sebelah pintu belakang bus. Masih ada waktu.


“Katakan,” bisikku setengah mengancam. Tidak mudah mendapatkan informasi berharga di waktu yang kebetulan seperti ini. Aku yakin, wanita yang mengaku Mila inipun bukan kebetulan duduk di sampingku.


“Papamu ....” ucapnya dengan suara gemetar.


“Ya? Di mana Papaku?”


“Dia di penjara.”


Aku menelan ludah. Jadi, nenek tidak bohong.


“Berapa lama?”


“Seumur hidupnya. Sampai dia mati.”.


Mila menghela nafas panjang begitu lengannya aku lepaskan. Sejurus kemudian, lintasan ingatan membuat memoryku menjadi jelas. Nenek pernah mengatakan itu dengan teriakan keras, ketika dia memukuliku. Dan setelah itu, dia mengatakannya berkali-kali, bahwa Papaku akan membusuk di penjara dan di neraka selama-lamanya.


“Kau tetap anak bandel, rupanya.” desis Mila. Pasti bekas cengkeramanku menyakiti lengannya. Aku tidak peduli. Kini ingatan masa kecilku memborbardirku bertubi-tubi. Aku tidak kuasa mengelak. Deretan pepohonan yang berlari di luar jendela sana, membuatku semakin terengah.


***


“Dasar anak nakal!” teriak nenek, dan sapu ijuk itu pun melayang di kakiku, “kau memang seperti Papamu, brengsek!”


Kesalahanku waktu itu – aku tidak menganggap sebagai kesalahan – Rudi babak belur aku tendang. Lagipula, dia sendiri yang mencari gara-gara. Dia membuat Ninik menangis. Rudi menjambak Ninik karena Ninik tidak mau memberinya permen coklat yang dipegangnya. Daan Rudi melakukannya di depanku! Maka habislah dia kutinju dan kutendang. Ninik begitu senang, bahkan dia menyorakiku untuk tidak berhenti melakukannya. Ah, aku sendiri sudah lupa wajah mereka.


“Papa tidak brengsek! Papa baik!” teriakku membalas, tapi aku bergeming, merasakan kembali pukulan sapu nenek.


Rudi dibawa ke puskesmas, dan itu membuat aku dan Ninik senang. Hidungnya berdarah karena tinjuku dan kakinya lebam. Dan ibu Rudi baru saja datang ke rumah, memaki-maki nenek.


“Papamu hanya bisa menyakiti nenek! Lihat, karena Papamu, ibumu mati dan kita jadi miskiiin!” teriak nenek kembali histeris.


Entah berapa kali sapu itu memukuli kakiku. Aku harus kuat menahannya.


“Nenek bohong!” teriakku, dan aku mulai menangis.


Kata bu guru, Papa adalah orang yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Papa pasti seorang yang baik. Meski aku tidak pernah bertemu Papa, tapi aku lihat Papa teman-temanku orang yang baik. Jadi, seseorang yang dipanggil Papa, dia pasti orang yang baik. Bukan brengsek seperti kata nenek.


“Dengar, Sidney. Sampai kapan pun kau tidak akan bertemu dengan Papamu. Dia akan membusuk di penjara dan di neraka! Dengarkan itu!”


“Mbak? Karcis?”


***


Nenek kelihatan semakin tua. Saat kakiku menjejak halaman, kulihat nenek sedang membereskan meja tempatnya berjualan rujak. Aku mengamatinya sampai dia selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam rumah, lalu dia menyapu teras.


“Assalamu’alaikum....”


Nenek menoleh. Wajahnya terlihat asing, tapi aku tidak mungkin salah. Semua wajah wanita tua pasti seperti dia. Keriput dan rambut memutih menyembul dari balik kerudung sebahunya.


“Wa’alaikumsalam...”


Suaranya pun semakin gemetar.


Aku langsung meraih tangannya. Begitu keriput dan dingin. Lalu kuhujani pipinya dengan ciuman, lalu sebuah pelukan penuh kerinduan. Bau khas minyak GPU menguar lembut. Nenek mendorongku perlahan, menatapku heran.


“Ini aku, nek. Nenek lupa?”


“Nenekmu ada di belakang. Kamu yang lupa, nduk.”


Deg! Jadi, wanita ini bukan nenek? Lalu siapa dia? Sontak aku mundur satu langkah dan memastikan aku tidak masuk rumah yang salah. Rumahku masih seperti dulu, separuh tembok separuh anyaman bambu. Ada dua pilar penyangga di teras, terbuat dari pipa dengan cat hijau yang mulai mengelupas. Ini benar-benar rumahku! Lantainya dari ubin abu-abu. Dan, ada bunga kamboja di pojok teras.


“Nenekmu sakit, “ tanya wanita tua itu, sembari menunjuk ke dalam rumah, “Aku membantu membereskan jualannya.”


Aku menelan ludah. Siapa wanita INI?


“Lalu .. mbah siapa?”


“Aku mbah Marni, kamu lupa ya? Orang kota sekarang.”


Sembari melangkah ke dalam rumah, aku berusaha mengaduk-aduk ingatanku, mencari siapa mbah Marni ini sebenarnya. Dan belum kudapatkan jawaban hingga aku sampai di depan pintu kamar pertama. Tirai kain yang sudah pudar bergambar bunga mawar, kusibak perlahan dan kulihat seseorang berbaring di sana. Bau GPU menguar kuat.


Wanita yang berbaring itu menoleh, mengerjapkan mata sebentar, lalu tersenyum.


“Azzura? Itu kamu?”


Aku langsung menghambur ke pelukannya. Nenek memelukku hangat, dan menciumiku. Ah, aku jadi kehilangan momen kejutan karena telah menciumi wanita tua di depan tadi. Nenek kerap memukuliku ketika aku membuat ulah, tapi dia jauh lebih hangat ketika disergap rindu. Kalau dihitung-hitung, dia lebih banyak memeluk dan menciumiku daripada memukuliku. Semakin besar, aku memang semakin jarang membuat ulah. Karena, aku semakin pikun, kata nenek. Sungguh hukum alam yang aneh, karena nenek semakin tidak pikun.


“Kau pasti mengira Marni nenek ya? Dia mbah-nya Rudi.”


“Nenek sakit apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan nenek.


Nenek menggeleng, dan mengelus-elus lenganku. Ini baru nenekku. Kalau sedang hangat, apa pun dielusnya. Lenganku, kepalaku, bahkan punggungku. Tapi kalau sudah marah, apa pun bisa dipukulinya. Kami pernah kehilangan ayam karena nenek memukulnya sekali langsung tewas.


“Nenek kangen kamu, Zura. Nenek khawatir kamu lupa jalan pulang. Apa kamu masih gampang lupa seperti dulu.”


Aku tersenyum dan menciumi nenek. Tentu saja lupa masih naga tengahku. Bahkan, aku dijuluki Gadis Pikun di tempat kost. Tapi, aku sudah menemukan cara untuk mengatasinya, tanpa seorang pun harus tahu.


“Nek, Nenek dapat salam tadi. Dari seorang perempuan. Namanya Mila.”


Nenek sontak menegang, lalu perlahan duduk, tanpa mau kubantu. Dia mengibaskan tanganku. Wah, gawat, sepertinya aku salah ucap. Tapi kurasa dia tidak akan memukuliku seperti dulu. Dia sedang sakit. Badannya agak panas.


“Jauhi wanita itu, Zura. Dia pengkhianat!”


Aku terdiam. Tapi sebuah tanda tanya besar masih bersemayam di kepalaku. Apakah aku tidak berhak tahu, rahasia besar apa yang disembunyikan nenek. Rahasia Papa sudah terkuak sejak lama, meski aku tak yakin kebenarannya.


Yang jelas, Papa meninggalkan ibu begitu aku dilahirkan.. Dan ibu meninggal ketika aku berumur lima tahun. Itu informasi dari nenek. Wajah ibu masih samar-samar teringat, karena yang ditinggalkan cuma foto hitam putih yang tergantung di ruang tamu, bersanding dengan foto kakek. Dengan kedua foto itu, ruang tamu nenek memang lebih mirip ruang persemayaman. Tinggal ditambahi lilin atau gantungan bunga.


Tapi aku tak pernah peduli pada kedua foto itu. Tepatnya, tak pernah mau menekuri lebih lama untuk mendapat jawaban.