
Hud merasa dia perlu mensupport Rey. Anak manis itu sedang galau. Kalau sedih karena kehilangan Papa-nya, tampaknya mudah dilupakannya. Entah bagaimana hubungan mereka di masa lalu, sehingga Rey begitu mudah move on dari masa berkabungnya. Tapi, jadwal pemeriksaan polisi dalam waktu dekat, membuat Hud khawatir. Dia tidak yakin, Rey bisa melaluinya dengan baik.
Apalagi Rey sering melamun di balkon. Seolah dia menunggu hantu Papanya berkunjung dan memberikan semua jawaban.
“Rey, kau perlu bantuanku?” tanya Hud.
Mereka berdua duduk di kantin fakultas yang tidak seberapa ramai. Seingat Hud, Rey tak pernah makan di kantin kampus. Atau, bisa dikatakan Hud tak pernah melihatnya. Bisa jadi menu makanan mahasiswa tak cocok di perutnya, jika dibandingkan dengan hidangan makan malamnya waktu di Rumah Coklat. Bahkan Hud masih mengingat rasa manis salad di rumah Rey.
“Ya, Hud. Aku kesulitan dengan mobilku. Tempat parkir tidak ada, sedangkan pak Dar berkali-kali menghubungiku. Khawatir Mama membakar mobilku.”
Hud nyaris terbahak, tapi berusaha ditahannya. Semudah itu membakar mobil saking bencinya. Jadi, mobil itu yang membuatnya tampak galau? Baru kali ini Hud melihat ada orang galau karena punya mobil. Padahal, bila melihat mobil berseliweran di kampus, milik mahasiswa dengan orang tua borju, kadang timbul rasa iri juga. Tidak kepanasan apalagi kehujanan. Dan yang membuatnya heran, Rey sama sekali tidak memakai mobilnya. Entah anak itu tidak punya SIM atau dia memang tidak bisa mengendarinya. Yang jelas, dia memang tidak suka memamerkan kekayaannya di kampus. Dia selalu berjalan kaki ke mana saja.
“Kau bisa menjualnya, “ ucap Hud perlahan, khawatir menyinggung Rey. Dia tahu Rey tidak kekurangan uang. Maskapai 100% miliknya. Rey bahkan bisa menggratiskan mahasiswa sekampus untuk naik pesawatnya. Jadi, apalah artinya mobil?
“Tapi, itu warisan Papa. Papa yang pertama kali mengajariku naik mobil, dengan mobil itu. Aku tidak mau menjualnya.”
“Atau kamu sewakan saja di rental mobil. Aku punya beberapa kenalan rental mobil. Tapi, mobilmu terlalu keren untuk di-rental-kan. Atau kalau kamu mau, ngojol aja.”
Rey menatap Hud tanpa ekspresi, membuat Hud tiba-tiba merasa bersalah dengan idenya. Terasa begitu konyol.
“Ee… itu hanya saran.”
“Mungkin saranmu bagus juga. Aku mau daftar jadi driver ojol saja. Lumayan, buat kegiatan di waktu kosong.”
Hud menelan ludah, tidak menyangka kalau saran konyolnya malah diterima Rey. Tapi, tampang seperti Rey jelas tidak cocok jadi ojol. Tampangnya tampang artis, bukan tampang nyari duit.
“Jangan Rey, aku yakin Papamu tidak akan setuju.”
Rey mendesah panjang.
“Kenapa tidak kamu pakai kuliah saja?”
Reynand menggeleng.
“Jangan-jangan kamu tidak tahu rutenya kalau lewat jalan besar. Kamu kan selalu lewat jalan tikus kalau berangkat kuliah. Gitu mau jadi ojol.”
“Aku hanya … tidak suka, Hud. Lagipula aku sudah bosan naik mobil sejak kecil.”
Sialan, maki Hud dalam hati. Percuma saja dari tadi memberi saran ini dan itu. Ternyata alasannya hanya bosan. Hening beberapa saat di antara mereka.
“Kapan pemeriksaan polisinya?”
“Pengacara Julius nanti mengabari. Aku tidak tahu harus bagaimana nanti. Kamu bisa menemani aku, Hud?”
Hud menepuk bahu Rey, “Tentu saja, Rey. Jangan khawatir. Kalau perlu mendatangkan anak mapala, aku siap.”
Mereka berdua terbahak. Hud lega melihat Rey bisa tertawa. Lelaki itu hanya bermenung saja semenjak kejadia surat wasiat itu.
Hud melirik jam dinding di tembok.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Rey melihat tingkah Hud. Anak itu selalu tepat waktu bila berjanji. Sore ini, Hud berjanji membawa Rey menemui pelatih taekwondo. Sepertinya Rey bisa mendaftar meski belum waktunya open recruitment. Hud sudah menjelaskan semuanya perihal Rey pada pelatih taekwondo.
“Pelatihnya tidak bisa, Rey. Anaknya sakit, jadi dia harus mengantarnya ke dokter. Sepertinya besok atau lusa.” Hud kembali menatap jam dinding. Dia tampak agak gelisah.
“Ya. Janjian di sini. Sebentar lagi asar, apa aku tinggal ya?”
Seorang perempuan berkerudung dan berjaket berjalan menuju mereka berdua. Sejurus kemudian dia sudah berdiri di seberang meja.
“Assalamualaikum. Apa benar dengan Kak Huda?” tanyanya ragu.
Hud sontak berdiri begitu mengetahui siapa yang datang, dan sepertinya dia orang yang ditunggu-tunggunya. Namun Hud heran, kenapa perempuan itu tidak mengenalinya. Bukankah mereka beberapa kali bertemu. Tapi bisa jadi, dia memang tidak menghafal dengan jelas wajahnya. Karena setiap kali bertemu, dia hanya menatap sekilas, kemudian menunduk dalam. Seperti perempuan berhijab lainnya di kampus ini.
“Waalaikumsalam, benar. Sydney Azzura?”
Perempuan yang dipanggil Sydney Assura itu membawa sesuatu. Sebuah kain yang bertali dalam pelukannya. Dia menegak begitu dipanggil namanya. Tapi Hud tidak mendapatkan sepasang matanya menatap ke arahnya, seperti harapan hatinya begitu dia menatap raut manis berkerudung hijau tua itu. Perempuan itu memandang ke arah lain, sembari menyerahkan kain bertali itu ke arah Hud.
“Terima kasih tendanya, “ ucapnya datar, tanpa melihat ke arah Hud.
Hud menerima tenda itu dengan sedikit gugup, tepat saat adzan berkumandang, terdengar lebih keras dari biasanya. Hud lalu menoleh ke arah Reynand. Tapi sejurus kemudian dia tertegun. Rey berdiri tegak, lurus berhadapan dengan perempuan di depan mereka.
Keduanya saling menatap tak berkedip.
Mereka bertiga berdiri mengelilingi meja. Dan yang membuat Hud sedikit kesal adalah, Rey dan Sydney sejak tadi saling menatap. Meski sesekali mereka membuang muka, tapi Hud bisa menangkap betapa Rey sangat penasaran dengan wanita manis berjilbab di hadapan mereka. Hud saja tak pernah menatap seorang perempuan begitu lama, seperti Rey.
Dan tentu saja itu membuat suasana menjadi sangat canggung.
“Ee…. Rey, ini Sydney.”
Hud, mencoba memecah suasana. Dua orang itu tergeragap, menyadari bahwa ada Hud di antara mereka.
“Oh…” ucap Rey pendek, lalu mengembangkan senyum.
Sialan kamu Rey, batin Hud. Senyum Rey kali ini benar-benar disetting begitu menawan. Hud mengalihkan pandangan ke Sydney. Dan wanita manis itu juga tersenyum kea rah Rey, sembari mengangguk sopan. Sejak awak bertemu Sydney, anggukan sopan Sydney adalah anggukan termanis yang kerap mengusik hatinya.
“Saya Reynand. Reynand Bramantya.”
“Saya Sydney Azzura.”
Reynand tertawa canggung, teringat akte kelahirannya.
“Sydney? Anda lahir di Australia?”
Sydney tersenyum manis, membuat Hud tak bisa mengendalikan desiran halus di dadanya. Dan Sydney mengangguk lagi. Hud mengalihkan pandangan ke arah Rey. Dia selalu tidak tahan bila melihat wanita manis ini mengangguk. Entah kenapa, padahal cuma anggukan, tapi selalu membuat dadanya tak karuan. Jadi lebih baik dia mengalihkan pandangan. Dan yang didapatinya adalah wajah tampan Rey yang sedang menatap Sydney tak berkedip.
“Rey, kita harus menemui pelatih taekwondo sekarang. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.”
Hud menggamit lengan Rey dan menariknya pergi, sebelum Sydney sempat menjawab salam. Rey mengikuti langkah Hud yang meninggalkan kantin bergegas.
“Bukannya anak pelatih itu sakit, Hud?”
Hud tidak menjawab. Dadanya serasa hendak meledak.