
“Siapa mereka, Dit?” tanya Mila ketika Aditya memasuki mobil yang mereka sewa.
Mobil melaju pelan menuju jalan besar, dengan semua penumpang membisu. Pertanyaan Mila adalah kalimat pertama yang terucap sejak semua penumpang menaiki mobil. Kebekuan, atau lebih tepatnya ketegangan belum juga terurai, meski mereka sudah mulai meninggalkan desa.
“Pendatang, mungkin tamu seseorang di kampung.”
“Kau yakin itu bukan preman suruhan itu?”
“Bukan.”
Aditya yang duduk di sebelah sopir menoleh ke belakang, tempat tiga orang perempuan duduk penuh ketegangan. Sydney diapit oleh Mila dan Nenek. Sebelum mereka keluar dari kota ini, sepertinya mereka belum merasa aman. Pandangan matanya bertemu dengan Sydney. Gadis itu sama sekali tidak tersenyum. Dia malah kelihatan pucat.
Tiga jam perjalanan, sampailah mobil yang mereka kendarai di sebuah rumah besar. Sydney memeluk Neneknya erat ketika mobil mereka berhenti di depan pagar rumah itu. Rumah Coklat. Ini adalah rumah wanita gila itu, Sydney mengingatnya sangat jelas. Kenapa Mila justru membawa mereka ke rumah ini? Bukankah mereka mengungsi dari kampung untuk melindungi diri dari kekejian wanita gila itu? Kenapa sekarang malah ke rumahnya?
“Nek ... ini rumah wanita gila itu, Nek,” bisik Sydney pada Neneknya, khawatir Mila mendengarnya, “Mila mengkhianati kita, Nek.”
Nenek malah tersenyum sembari memeluk leher Sydney.
“Tempat yang paling aman, adalah di sarang musuh, Zura,” ucap Mila lembut, “Nenekmu akan aman di rumah ini. Wanita itu tidak mengenali Nenek. Selama kamu tidak memasuki pagar rumah ini, kamu dan Nenek aman. Oia, aku lupa belum memberitahu kamu. Aku sudah lama bekerja di rumah ini, sejak kamu belum lahir. Jadi, percayalah padaku. Aku tahu siapa wanita gila yang berusaha menghancurkanmu.”
“Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu menyerahkan nenek pada wanita itu. Tidak!” seru Sydney panik, sembari memeluk neneknya erat-erat.
“Zura!”
Sydney terkejut mendengar teriakan neneknya. Dia melepaskan pelukan pada Neneknya perlahan-lahan—dengan pandangan tak percaya. Lalu dia memeluk dirinya sendiri. Aditya hanya bisa memandang dari bangku sebelah sopir. Ingin dia merengkuh Sydney yang sedang panik dan kebingungan. Tapi hal itu tidak bisa dilakukannya sekarang. Tidak di hadapan Nenek dan Mila.
“Kita sudah membicarakan hal ini. Kau bersama Aditya, aku bersama Mila. Nenek berjanji, kita akan segera berkumpul lagi. Asalkan, kau patuhi perintah Nenek.”
Sydney mulai menangis. Makin lama makin keras, membuat Mila panik.
“Juma, kau selesaikan urusanmu dengan Zura. Aku turunkan barangmu dari bagasi.”
Mila keluar dari mobil dan menutup pintu.
“Zura, Nenek mohon. Patuhilah Nenek. Kau harus bersama Aditya. Dia suamimu sekarang.”
Aditya menelan ludah mendengar kalimat terakhir Nenek. Pernikahan sirri selepas subuh tadi, masih seperti mimpi. Dia menikahi Sydney, semudah itu? Secepat itu? Padahal dia masih ingin menggoda gadis itu, membuatnya merindukannya, kemudian suatu hari Sydney akan mengangguk malu ketika dia melamarnya.
Sekarang, semua itu menjadi halal baginya—begitu tiba-tiba. Meski di akhir acara tadi, Nenek mengancamnya dengan sebuah bisikan tajam—sambil mencengkeram kerah lehernya—sebelum ada surat nikah yang sah dari KUA, Sydney tidak boleh hamil! Tentu saja itu hanya bisa dipenuhi setelah Sydney lulus kuliah. Syarat mengikuti beasiswa ini adalah tidak menikah selama kuliah, atau beasiswanya akan batal.
“Aku takut wanita itu akan melukai Nenek,” ucap Sydney masih terisak.
“Kau tahu sendiri kan bagaimana Nenekmu ini menangkap maling? Perempuan seperti itu tidak ada artinya. Dan Nenek harus di rumah ini, dalam rangka untuk menangkap maling kelas teri seperti dia.”
“Tapi, kata nenek dia pejabat yang bisa berbuat apa saja.”
“Mila sudah mengatur semuanya. Sebagaimana dia mengatur semuanya selama ini. Aku rasa, harusnya dia yang jadi Nyonya besar.”
Aditya mengernyit, berusaha memahami kalimat Nenek. Apa yang telah diatur Mila selama ini? Rahasia perseteruan masa lalu itu? Adakah semua berhubungan dengan semua ini? Seolah, semuanya saling berkaitan, atau takdir yang memang sedang berjalan menuju ujungnya?
Nenek membisikkan sesuatu di telinga Sydney. Sydney berhenti menangis seketika.
“Benarkah? Tapi aku tidak punya fotonya.”
Nenek mencium kening Sydney, lalu mereka berpelukan erat.
***
Homestay Asmaradana.
Sydney menyurutkan langkah ketika membaca papan nama penginapan itu. Dia membalikkan badan, tidak mengira kalau Aditya akan membawanya ke penginapan. Tapi, mobil sewaan mereka sudah pulang, tidak mungkin dipanggilnya. Sopirnya menurunkan mereka berdua di pintu depan homestay. Katanya, ini adalah homestay terdekat dengan kedutaan.
“Kau mau ke mana, Zura?” tanya Aditya yang menyadari Sydney tidak mengikutinya menuju resepsionis.
Sydney hanya berdiri mematung, membelakangi Aditya.
“Kita harus punya tempat menginap. Besok baru bisa mengurus paspor,” ucap Aditya sembari menatap ransel Sydney yang menutup separuh punggungnya. Itu adalah semua harta Sydney, yang berhasil dibawa sebelum kebakaran.
Sydney masih belum membalikkan badan. Aditya mendekati dan berdiri di belakang Sydney.
“Aku tahu, ini semua di luar perkiraan kita. Kita pesan dua kamar. Karena kalau satu kamar, kita belum punya surat nikah.” Aditya berusaha berucap hati-hati, karena dia tahu apa yang ada di pikiran gadis di depannya. Dia belum siap dengan semua ini.
Sydney bingung dengan dirinya sendiri. Tahu-tahu dia sudah punya suami. Tahu-tahu lelaki yang membuat dadanya selalu berdesir, menjadi orang yang halal baginya. Meski bila dia membalikkan badan, wajah Aditya akan kembali menjadi wajah asing yang tidak dikenalnya. Hanya gelang putih kehijauan dan warna suara, yang menjadi penanda. Bila nanti Aditya tidak memakai gelang itu, dan tidak bersuara, Sydney jelas tidak mengenalinya.
Tiba-tiba terlintas wajah Rey yang masih kuat di ingatannya. Sydney ragu, apakah lelaki itu masih dirindukannya? Sementara Aditya selalu membuatnya gugup dan berdebar tak karuan? Sydney berkali-kali berusaha menegaskan dalam hatinya, bahwa Rey adalah mara bahaya dalam hidupnya. Mamanya telah menyebabkan dia kehilangan segalanya. Tapi, Sydney tidak bisa. Dia tidak bisa menjadikan Rey ancaman baginya. Baginya Rey adalah seraut wajah yang hangat dan membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Karena hanya wajah Rey yang diingatnya dari semua wajah di muka bumi.
Tiba-tiba sebuah tangan hangat menggenggam jemarinya. Sydney melihat pergelangan tangannya, gelang putih kehijauan. Begitu melihat gelang itu, aliran listrik voltase rendah terasa mengaliri tubuhnya. Lututnya tiba-tiba gemetar, membuatnya terhuyung. Aditya perlahan merengkuhnya, dan Sydney heran kenapa dia menurut saja, bahkan meletakkan kepalanya di dada Aditya.
“Maafkan aku, Zura,” bisik Aditya.
Sydney mendengar jantung lelaki itu bertalu-talu. Sepertinya, dia habis berlari ribuan kilometer. Tapi Sydney menikmatinya, merasakan sebuah perlindungan yang hangat dan nyaman.
Tiba-tiba Aditya menarik tangannya, lalu menggandengnya menuju resepsionis. Sydney merasa wajahnya panas, dan dia yakin pasti memerah.
“Mbak, ada kamar?” tanya Aditya, tanpa basa basi.
Mbak resepsionis itu mengecek komputernya.
“Tinggal satu, pak. Tapi dua bed, gimana?” tanya mbak itu sembari menatap Aditya dan Sydney bergantian.
Aditya menoleh ke arah Sydney dan mendapati wajah Sydney yang masih memerah. Aditya tersenyum-senyum. Sepertinya, ketegangan Sydney mulai melumer dengan pelukanya tadi.
“Dua bed? Gimana?”
Sydney tidak menjawab, malah mengalihkan pandangan ke taman dengan kolam ikan di sebelah ruang resepsionis.
“Saya ambil, mbak.”
Mbak resepsionis itu mengangguk. Tidak sampai lima menit, tanpa syarat harus menunjukkan KTP, seorang bellboy sudah menjadi penunjuk jalan mereka berdua menuju kamar. Dan Aditya tidak melepaskan tangan Sydney sedetikpun, hingga mereka sampai di depan pintu. Bellboy itu menyerahkan kunci pada Aditya, setelah membukakan pintu kamar.
“Silahkan masuk, istriku.”
Mereka berdua saling bertaut pandang. Kemarin, tidak ada peristiwa seperti ini hadir dalam mimpi mereka berdua.