
Semenjak pagi, hujan turun berkali-kali. Berhenti sejenak, turun lagi. Banyak anak kost terpaksa menembus hujan, karena bagi mereka sekarang musim ujian, bukan musim hujan. Termasuk Hud. Rey mengamatinya menembus hujan yang tidak seberapa deras dengan motornya. Para Mahasiswa memang jarang memakai jas hujan bila ke kampus. Ribet kata mereka. Jika hujan menderas, mending memilih bolos kuliah.
Rey mengamati mereka satu per satu dari balkon. Kamar tempat dia dan Hud tinggal memang terletak di lantai dua bagian depan. Jadi, bertepatan dengan balkon tingkat dua. Dari jendela balkon ini, Rey bisa menatap keluar jendela, ke ujung kanan dan kiri gang, juga memindai atap-atap tetangga. Di balkon ini, Rey merasa aman, namun bisa mengawasi semunya. Serasa berada di Squad Room, tempat dia bisa mengendalikan dunia.
Namun, kali ini dia tidak merasa seperti demikian. Gegara satu gesture.
Darmaji berada di kamarnya sekarang. Dan itu sangat mengganggunya. Tidak sempat terpikir oleh Reynand sebelumnya, bahwa kepala pembantu di rumahnya itu akan naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya, tepat saat Hud hendak keluar sepuluh menit yang lalu. Saat Hud membuka pintu, lelaki itu sudah berada di depan pintu. Tidak ada pilihan selain membiarkannya masuk dan duduk di ranjang Hud. Kalau dia bisa menduga hal itu akan terjadi, pasti dia akan berpesan pada anak-anak di lantai bawah. Tentang siapa saja yang tidak boleh masuk ke dalam rumah ini. Nama dan fotonya akan Reynand pasang di sana. Tidak peduli bagaimana kesan atau pendapat Mas Hanif—sang bapak kost—yang tetap dipercaya Reynand.
“Tuan tidak kuliah?”
Reynand mendengar ucapan Darmaji begitu jelas, tapi dia memunggungi lelaki itu. Pandangannya menyapu atap-atap rumah yang membasah, menguar aroma termbikar basah. Rey menyukai bau ini. Dari dulu dia selalu menyukai hujan, meski Mama membencinya. Dia sering mencuri kesempatan bila hujan deras, berlarian di halaman. Meski setelah itu Mama memurkainya.
“Hujan,” sahut Rey pendek. Padahal, dia menyukai berhujan-hujan.
Pada Darmaji, dia sedikit menaruh hormat. Begitulah mendiang Papa memintanya. Darmaji banyak berjasa pada keluarga mereka. Dia sudah bersama ayah semenjak ayah menikah dengan Mama. Dia yang piawai mengatur seluruh rumah tangga rumah coklat mereka. Hingga sewaktu SD, Rey mengira Darmaji-lah sang Kepala Keluarga. Karena di sekolah diajarkan tentang kepala keluarga yang bertanggung jawab urusan keluarga. Darmaji tahu semua hal tentang keluarga Bramantya. Bahkan mungkin juga rahasia Papa yang dibawa sampai ke alam kuburnya. Tapi, semua sudah tidak sama lagi bagi Rey. Sebelum pertengkarannya dengan Mama, Darmaji masih orang yang sangat dipercayanya. Sekarang, tidak lagi. Tapi Rey tidak ingin Darmaji mengetahuinya. Dia ingin Darmaji tetap percaya bahwa Rey hanya percaya padanya.
“Pengacara Julius berusaha menghubungi Tuan berkali-kali.”
“Aku sibuk.”
“Apa karena model di majalah kampus?”
Rey mengernyit. Model di majalah kampus? Dia baru tahu kalau kampusnya punya majalah. Dari mana Darmaji tahu soal majalah kampus, Rey tak mau ambil pusing. Bisa jadi, Darmaji juga lebih hafal jadwal kuliahnya daripada Rey sendiri. Rey yakin, Darmaji menyebar mata-mata untuk selalu mengawasinya, atas perintah Mama. Bagaimanapun juga, Rey yakin wanita itu tak akan melepaskannya begitu saja, meski dia sudah mengusir Rey dari rumah coklat.
“Ada perkembangan kasus Papa?”
Darmaji bangkit dari ranjang Hud, mendekati Rey yang tak kunjung membalikkan badan. Apa anak itu tidak menghendaki kehadirannya? Memang, dia tidak memberi kabar lebih dulu, dan itu percuma saja. Rey tidak akan menggubrisnya. Meski anak itu sanggup membeli satu toko ponsel, Darmaji yakin tak satupun ponsel yang dimiliki anak itu sekarang. Tuan Muda-nya sedang ingin menepi dari kehidupan borjunya. Dan dia kelihatan menikmati.
“Sudah mengerucut ke Dewan Direksi, Tuan.”
“Oh, ya? Let me guess, Ibrahim masuk?”
“Benar. Bagaimana Tuan Muda bisa tahu?”
Rey tersenyum sinis, “Dia orang terdekat Mama.”
Darmaji mengernyit, kenapa dia bisa tidak tahu hal itu? Setahunya, orang terdekat Nyonya besar adalah dirinya. Di maskapai, Nyonya tidak punya pendukung. Ada beberapa orang, tapi Darmaji sangat tahu siapa mereka. Dia yang mengatur jadwal bila mereka ingin mengadakan pertemuan dengan Nyonya besar.
Rey membalikkan badan, “Kau terkejut, Darmaji?”
Darmaji terdiam.
Darmaji terhenyak. Itu tidak mungkin. Darmaji selalu memastikan bahwa Nyonya besarnya selalu dalam pengawasan dan pelayanannya. Nyonya besar selalu puas dengan apa yang dia kerjakan untuknya. Hanya Darmaji yang tahu apa selera dan bagaimana nafsu Nyonya besar, lebih detil dari Tuan besar. Dan hanya Darmaji yang bisa memenuhi dan memuaskan Nyonya besar. Tidak ada yang lain yang bisa melakukannya sesempurna Darmaji, begitu Nyonya besar selalu mengucapkannya. Kalau tidak, Darmaji pasti sudah lama didepak.
“Kau tidak percaya? Sesekali, lihatlah ponsel Mama. Banyak foto mereka di luar negeri.”
“Nyonya besar sangat tahu bagaimana harus bertindak, Tuan. Beliau wanita yang sangat cerdas. Saya menghormati keinginan beliau untuk mengembangkan maskapai ke depan. Dan Tuan Ibrahim adalah orang kepercayaan Tuan besar yang tahu seluk beluk maskapai. Saya …”
“Bahkan saat Papa meninggal, aku mengira Mama akan menikah dengan Ibrahim,” tukas Rey cepat, memutus kalimat Darmaji dengan ekspresi datar, sembari melirik reaksi Darmaji.
Darmaji membeliak, tapi kemudian menunduk dalam. Rey yakin dada lelaki tegap itu bergemuruh.
“Mungkin sebagian orang di maskapai punya pandangan demikian. Tapi, Mama Tuan Muda sangat mencintai Tuan besar. Beliau…..”
“Aku percaya padamu, Darmaji. Kau sangat mengenal Mama, lebih dari siapapun, “ tukas Rey, “bahkan Papa sendiri mengatakan dia mulai tidak mengenal Mama saat aku SMP. Mama mulai aneh dan asing bagi Papa. Aku yakin, kamu tahu kenapa Mama bisa begitu?”
Darmaji menggeleng, tapi keringat mulai membasahi keningnya. Dia tahu, kenapa itu bisa terjadi, dan bagaimana awal mula itu terjadi. Wanita berjuluk Nyonya besar itu benar-benar gila. Semakin tua semakin rakus. Darmaji meraba lengannya. Masih dirasakannya memar di bagian sana. Juga perih di punggungnya. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan Nyonya besar. Jiwa, raga dan hidupnya sudah diserahkannya pada wanita itu.
“Aku yakin, Ibrahim salah satu dalang di balik pembunuhan Papa. Dia tahu semua hal tentang maskapai. Tahu jadwal penerbangan. Tahu siapa saja yang menyewa pesawat. Tahu jadwal Papa. Tahu semua pegawai. Bisa memerintah pegawai apa saja, kapan saja. Dia sangat mudah mengatur semua itu. Dan Mama ….”
“Tuan Muda, tolong jangan berpikiran buruk tentang Nyonya besar.”
Hening di antara keduanya. Hujan mereda. Suara di lantai bawah menggema ke atas, beberapa motor mulai keluar dari rumah kost. Rey membalikkan badan lagi, sudah berhasil merekam gesture, respon dan raut wajah Darmaji. Sepertinya, lelaki itu mulai termakan umpannya.
“Nyonya besar selama ini sudah berusaha menjadi ibu yang baik bagi Tuan muda. Tidak mudah bagi seorang wanita membesarkan anak dari madunya. Demi Tuan besar dan tuan muda, dia bertahan melakukan itu semua. Seyogyanya, Tuan Muda masih menaruh hormat pada beliau, yang telah membesarkan Tuan Muda.”
“Siapa pembantu itu, Darmaji? Pembantu, yang kata Mama adalah ibuku.”
“Saya tidak bisa mengatakannya, Tuan.”
Rey mendengus, “Lalu, untuk apa Papa memberiku surat nikah itu, menyuruhku mencari ibuku, jika satu jawaban saja sudah bisa aku dapatkan darimu.”
“Beliau meninggal ketika melahirkan Tuan muda.”
Rey terhenyak. Tiba-tiba dia merasa dadanya begitu kosong. Meninggal? Jadi, wajah buram di buku nikah itu, wajah yang begitu dinantinya untuk bisa disentuhnya, sudah tiada.