
Karin memasak hari ini. Tumben. Biasanya aku yang sibuk di dapur,
memasak untuk sepuluh orang yang tinggal satu kontrakan denganku. Sebenarnya
bukan karena aku pinter masak, tapi karena aku yang lebih sempat daripada sembilan
orang lainnya. Dan, mau tidak mau, semua orang harus tidak keberatan dengan
menu masakanku. Menu tukang bekuk pencopet, kata mereka. Yah, semacam nasi
mawut, alias semua campur lauk dan sayur. Masih untung tidak aku campur dengan
nasinya sekalian kan.
Dan kalau Karin turun ke dapur, itu artinya masakan hari ini akan lebih
istimewa. Empat sehat lima sempurna.
“Kamu ulang tahun, Rin?”
Aku baru keluar dari kamar mandi, dan bau sedap merasuk sampai ke
lambung. Menimbulkan pemberontakan di sana. Padahal baru sejam yang lalu
sarapan. Karin tersenyum, tidak menjawab. Tangannya sibuk membolak balik nugget
yang sedang digoreng. Seingatku, dia sudah hampir dua jam di dapur. Ini hari
Minggu, jadi semua orang libur. Tapi antrian mencuci tetap jalan.
“Perlu kubantu?”
“Tidak usah,” tukas Karin sembari melambaikan tangan kirinya, menyuruhku
menyingkir dari dapur.
Aku berencana siap-siap mengepak pakaian. Nanti siang pulang. Libur panjang tiga bulan, lumayan hemat biaya
kalau pulang kampung. Bisa bantu nenek jualan rujak. Kata nenek, kalau aku yang
jualan rujak, banyak yang beli. Karena, ngulek rujaknya ekspress, gak pakai
lama. Tunggu aku, ya nek.
Pertama yang kubereskan adalah gulungan lukisan dari Reynand. Aku
membentangnya. Lukisan ini menimbulkan rasa hangat di dadaku setiap kali aku
melihatnya. Aku yakin, ini lukisanku. Reynand pernah melihatku, lalu dia tidak
bisa melupakanku. Makanya dia melukisku. Dan, dia menyimpannya bertahun-tahun.
Itu sangat mengharukan, bukan? Jadi, aku harus mempigura lukisan ini, dan
menggantungnya di kamarku. Aku akan membawanya ke nenek lebih dulu, untuk
memastikan apakah benar dulu wajahku seperti di lukisan itu. Ingatan nenek
seperti Dual Core, lebih tinggi dari Pentium untuk urusan mengingat wajah. Karena
yang direkamnya adalah sejarah. Bukan rekaman masa kini.
Nenek masih ingat bajuku waktu TK, berikut bagaimana baju itu dulu
dibuat kemudian berakhir di dalam lemari dan tidak kupakai lagi. Kata nenek,
kakek dulu seorang penjahit. Aku percaya, karena mesin jahit tua milik kakek
masih ada di rumah nenek. Sejak kakek meninggal saat aku berusia enam tahun,
mesin itu tidak ada lagi yang memakai. Jadi, kenangan tentang kakek, melekat
pada baju-baju buatan kakek yang tersimpan di lemari.
Aku ingat saat hendak berangkat kuliah, nenek memberiku beberapa baju.
Katanya, dulu kakek yang membuatkan baju itu untukku. Pesan kakek, berikan baju
itu bila sudah cukup ukurannya padaku. Dan, kakek mempersiapkan banyak baju
untukku, dengan ukuran yang semakin besar. Seolah kakek tak hendak meninggalkan
untuk melihatku hingga dewasa.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk merawat kenangan.
Ah, Rey. Tiba-tiba kerinduan ini membuncah. Tapi, entah kenapa, ada
bisikan dalam dadaku untuk menjauhi lelaki tampan itu. Meski di setiap sujud
panjangku, aku selalu berdoa yang terbaik untukku dan untukknya, tapi selalu
ada bisikan penolakan itu. Jauhi dia.
Tapi bukan Sydney Azzura kalau dalam kebimbangan hanya berpangku tangan.
Semakin mendesak dalam dada, justru semakin kucari ke manapun jawabannya untuk
meredakan. Aku tidak suka menjadi galau apalagi sampai tidak bisa tidur. Bisikan
“jauhi dia” yang membuat aku akhirnya mencari berita tentang dia, browsing sana
sini, dan menemukan sebuah rumah layaknya istana yang tidak lagi ditinggalinya.
Kalau dia tidak berdiam di sana, lalu tinggal di mana dia? Dari tampilannya,
dia tidak mungkin tinggal di tempat kost murah seperti mahasiswa beasiswa
semacam aku. Seharusnya aku bisa bertanya pada Hud, tapi aku takut dia menjadi
curiga
Reynand Bramantya, anak seorang pemilik maskapai penerbangan. Dan pemilik
maskapai itu baru saja meninggal dengan dugaan dibunuh, meski pihak maskapai
berusaha menutupinya. Aku hanya heran, berita yang beredar di internet sama
sekali tidak menampilkan Reynand atau Mamanya yang judes itu. Jadi, mungkin
saja itu hoaks.
“Syd? Kamu mau ke mana?”
Karin berdiri di pintu, pipinya berhias tepung.
“Pulang. Kan mau libur. Tapi, tenang saja, aku tidak akan pulang sebelum
masakanmu matang. Aku pasti memakannya. Tenang, Rin.”
Karin masuk kamar dan menutup pintu.
“Tidak, kamu tidak boleh pulang?”
Aku mendelik, “Hei, nenek sudah tahu kalau aku mau libur panjang. Dia sudah
pesan lapak di pasar, dan membuka cabang rujak di sana. Dia sudah menugasiku
selama tiga bulan. Aku …”
“Kamu boleh pulang besok!”
Karin mendekatkan wajahnya, hingga berjarak satu kepalan tangan saja.
Aku mundur selangkah, mau apa dia?
“Kamu harus menemaniku sore ini, “ ucap Karin bernada perintah.
“Ke mana?”
“Di rumah ini.”
“Ee… apa semua orang mudik?”
“Tidak. Tinggal 3 orang saja.”
“Kamu takut sendirian?”. Karin memang agak penakut.
“Tidaaaak!”
“Terus?”
Aku tidak mengerti apa maunya.
“Sore ini aku mau ta’aruf. Kau paham maksudku, kan?”
Aku menatap Karin, mencoba mencerna kata-katanya. Dia memang pernah
menyampaikan kalau mau ta’aruf. Tapi kan tidak harus ngajak-ngajak seperti ini.
“Lho, kan kamu yang ta’aruf? Kok aku ikut? Nanti kalau keliru sama aku
gimana?”
Karin menjitak kepalaku. Au, sakit. Aku mengelus rambutku sambil manyun.
“Aku gak mungkin sendirian di rumah, tahu. Yang lain ada acara. Kamu mau
pulang, itu bisa ditunda, kan.”
Aku terdiam. Rasanya aku tidak pantas hadir di sebuah acara ta’aruf. Aku
sendiri bersama Rey, sudah berapa kali bersentuhan. Dan aku menyukainya. Nah,
kan… mana pantas aku ikut acara begituan.
Aku menggeleng, “Aku gak pantes ikut, Rin.”
“Kamu hanya perlu duduk saja, menemani aku. Dan aku perlu ada yang
membantu mengeluarkan hidangan.”
“Nah, kalau itu aku bisa. Sekalian sama cuci piringnya gak papa.”
“Tidak, kamu harus hadir, duduk di sebelahku. Dan hidangan itu keluar
kalau acaranya sudah selesai.”
Karin mencengkeram tanganku. Sebagian tepung berpindah ke tanganku.
***
Tiga orang lelaki dan satu perempuan yang tampaknya sedang hamil tua.
Semuanya asing, aku tidak mengenalnya. Jadi, aku tidak tahu, Karin mau ta’aruf
dengan yang mana. Yang satu tampak lebih dewasa berpakaian baju koko biru
langit, sepertinya dia orang yang menjodohkan. Dan benar saja, dia dari tadi
duduk di sebelah perempuan yang sedang hamil itu. Karin super duper ramah
banget sama mbak itu.
Pasti calon Karin salah satu dari yang dua. Tidak mungkin keduanya, kan.
Yang satu berkulit bersih, berpakaian baju koko putih dan dari tadi menunduk
terus. Yang satunya berkulit gelap, memakai jacket hijau tua, dan tampak lebih
percaya diri. Jadi, yang mana calon si Karin? Yang percaya diri karena mau ta’aruf
atau yang menunduk terus?
Aku masuk ke dalam, mengambil minuman yang sudah disiapkan Karin. Karin
menyusulku kemudian.
“Syd, kamu jangan membuatku malu, ya.”
“Aku tidak akan menumpahkan teh-nya, Rin. Tenang saja.”
“Maksudku si jacket hijau itu.”
“Kenapa?”
Karin sudah ke ruang tamu lagi. Jadi calon Karin si jacket hijau. Hm,
siapa ya dia? Berhubung aku harus bersikap baik-baik dan tidak membuat Karin
malu, jadi sebaiknya aku diam saja selama acara berlangsung.
Alhamdulillah acaranya lancar. Di liburan panjang nanti, Karin akan
memberitahu ke orang tuanya, demikian juga calonnya—yang aku belum tahu juga yang
mana sampai acara berakhir. Setelah itu, apabila orang tua kedua belah pihak
sepakat, maka selanjutnya aka nada ta’aruf
versi orang tua. Yang jelas, Karin berterima kasih padaku berkali-kali selepas
para tamu pulang—karena tidak membuat kacau.
“Rin… maaf ya, aku boleh bertanya?”
“Silakan, Syd.”
“Yang namanya Hanif itu yang mana?”
Karin terbahak, “Ampuun, Syd. Ternyata kamu gak memahmi alur pertemuan
tadi ya? Yang mengangguk berkali-kali itu.”
“Yang baju putih apa jacket hijau?”
“Yang baju putih. Yang jacket hijau itu masa kamu tidak ingat? Kupikir
kalian sering ketemu.”
Aku mengernyit. Siapa? Tentu saja aku tidak mengenalnya, karena wajahnya
saja aku sudah lupa.
“Dia Hud.”
Glek! Hud. Lelaki yang mengetahui Rey pernah memegang tanganku, bahkan
memelukku dari belakang, meski untuk melerai perkelahian.