MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney : Ta'aruf



Karin memasak hari ini. Tumben. Biasanya aku yang sibuk di dapur,


memasak untuk sepuluh orang yang tinggal satu kontrakan denganku. Sebenarnya


bukan karena aku pinter masak, tapi karena aku yang lebih sempat daripada sembilan


orang lainnya. Dan, mau tidak mau, semua orang harus tidak keberatan dengan


menu masakanku. Menu tukang bekuk pencopet, kata mereka. Yah, semacam nasi


mawut, alias semua campur lauk dan sayur. Masih untung tidak aku campur dengan


nasinya sekalian kan.


Dan kalau Karin turun ke dapur, itu artinya masakan hari ini akan lebih


istimewa. Empat sehat lima sempurna.


“Kamu ulang tahun, Rin?”


Aku baru keluar dari kamar mandi, dan bau sedap merasuk sampai ke


lambung. Menimbulkan pemberontakan di sana. Padahal baru sejam yang lalu


sarapan. Karin tersenyum, tidak menjawab. Tangannya sibuk membolak balik nugget


yang sedang digoreng. Seingatku, dia sudah hampir dua jam di dapur. Ini hari


Minggu, jadi semua orang libur. Tapi antrian mencuci tetap jalan.


“Perlu kubantu?”


“Tidak usah,” tukas Karin sembari melambaikan tangan kirinya, menyuruhku


menyingkir dari dapur.


Aku berencana siap-siap mengepak pakaian. Nanti siang pulang.  Libur panjang tiga bulan, lumayan hemat biaya


kalau pulang kampung. Bisa bantu nenek jualan rujak. Kata nenek, kalau aku yang


jualan rujak, banyak yang beli. Karena, ngulek rujaknya ekspress, gak pakai


lama. Tunggu aku, ya nek.


Pertama yang kubereskan adalah gulungan lukisan dari Reynand. Aku


membentangnya. Lukisan ini menimbulkan rasa hangat di dadaku setiap kali aku


melihatnya. Aku yakin, ini lukisanku. Reynand pernah melihatku, lalu dia tidak


bisa melupakanku. Makanya dia melukisku. Dan, dia menyimpannya bertahun-tahun.


Itu sangat mengharukan, bukan? Jadi, aku harus mempigura lukisan ini, dan


menggantungnya di kamarku. Aku akan membawanya ke nenek lebih dulu, untuk


memastikan apakah benar dulu wajahku seperti di lukisan itu. Ingatan nenek


seperti Dual Core, lebih tinggi dari Pentium untuk urusan mengingat wajah. Karena


yang direkamnya adalah sejarah. Bukan rekaman masa kini.


Nenek masih ingat bajuku waktu TK, berikut bagaimana baju itu dulu


dibuat kemudian berakhir di dalam lemari dan tidak kupakai lagi. Kata nenek,


kakek dulu seorang penjahit. Aku percaya, karena mesin jahit tua milik kakek


masih ada di rumah nenek. Sejak kakek meninggal saat aku berusia enam tahun,


mesin itu tidak ada lagi yang memakai. Jadi, kenangan tentang kakek, melekat


pada baju-baju buatan kakek yang tersimpan di lemari.


Aku ingat saat hendak berangkat kuliah, nenek memberiku beberapa baju.


Katanya, dulu kakek yang membuatkan baju itu untukku. Pesan kakek, berikan baju


itu bila sudah cukup ukurannya padaku. Dan, kakek mempersiapkan banyak baju


untukku, dengan ukuran yang semakin besar. Seolah kakek tak hendak meninggalkan


untuk melihatku hingga dewasa.


Setiap orang punya cara tersendiri untuk merawat kenangan.


Ah, Rey. Tiba-tiba kerinduan ini membuncah. Tapi, entah kenapa, ada


bisikan dalam dadaku untuk menjauhi lelaki tampan itu. Meski di setiap sujud


panjangku, aku selalu berdoa yang terbaik untukku dan untukknya, tapi selalu


ada bisikan penolakan itu. Jauhi dia.


Tapi bukan Sydney Azzura kalau dalam kebimbangan hanya berpangku tangan.


Semakin mendesak dalam dada, justru semakin kucari ke manapun jawabannya untuk


meredakan. Aku tidak suka menjadi galau apalagi sampai tidak bisa tidur. Bisikan


“jauhi dia” yang membuat aku akhirnya mencari berita tentang dia, browsing sana


sini, dan menemukan sebuah rumah layaknya istana yang tidak lagi ditinggalinya.


Kalau dia tidak berdiam di sana, lalu tinggal di mana dia? Dari tampilannya,


dia tidak mungkin tinggal di tempat kost murah seperti mahasiswa beasiswa


semacam aku. Seharusnya aku bisa bertanya pada Hud, tapi aku takut dia menjadi


curiga


Reynand Bramantya, anak seorang pemilik maskapai penerbangan. Dan pemilik


maskapai itu baru saja meninggal dengan dugaan dibunuh, meski pihak maskapai


berusaha menutupinya. Aku hanya heran, berita yang beredar di internet sama


sekali tidak menampilkan Reynand atau Mamanya yang judes itu. Jadi, mungkin


saja itu hoaks.


“Syd? Kamu mau ke mana?”


Karin berdiri di pintu, pipinya berhias tepung.


“Pulang. Kan mau libur. Tapi, tenang saja, aku tidak akan pulang sebelum


masakanmu matang. Aku pasti memakannya. Tenang, Rin.”


Karin masuk kamar dan menutup pintu.


“Tidak, kamu tidak boleh pulang?”


Aku mendelik, “Hei, nenek sudah tahu kalau aku mau libur panjang. Dia sudah


pesan lapak di pasar, dan membuka cabang rujak di sana. Dia sudah menugasiku


selama tiga bulan. Aku …”


“Kamu boleh pulang besok!”


Karin mendekatkan wajahnya, hingga berjarak satu kepalan tangan saja.


Aku mundur selangkah, mau apa dia?


“Kamu harus menemaniku sore ini, “ ucap Karin bernada perintah.


“Ke mana?”


“Di rumah ini.”


“Ee… apa semua orang mudik?”


“Tidak. Tinggal 3 orang saja.”


“Kamu takut sendirian?”. Karin memang agak penakut.


“Tidaaaak!”


“Terus?”


Aku tidak mengerti apa maunya.


“Sore ini aku mau ta’aruf. Kau paham maksudku, kan?”


Aku menatap Karin, mencoba mencerna kata-katanya. Dia memang pernah


menyampaikan kalau mau ta’aruf. Tapi kan tidak harus ngajak-ngajak seperti ini.


“Lho, kan kamu yang ta’aruf? Kok aku ikut? Nanti kalau keliru sama aku


gimana?”


Karin menjitak kepalaku. Au, sakit. Aku mengelus rambutku sambil manyun.


“Aku gak mungkin sendirian di rumah, tahu. Yang lain ada acara. Kamu mau


pulang, itu bisa ditunda, kan.”


Aku terdiam. Rasanya aku tidak pantas hadir di sebuah acara ta’aruf. Aku


sendiri bersama Rey, sudah berapa kali bersentuhan. Dan aku menyukainya. Nah,


kan… mana pantas aku ikut acara begituan.


Aku menggeleng, “Aku gak pantes ikut, Rin.”


“Kamu hanya perlu duduk saja, menemani aku. Dan aku perlu ada yang


membantu mengeluarkan hidangan.”


“Nah, kalau itu aku bisa. Sekalian sama cuci piringnya gak papa.”


“Tidak, kamu harus hadir, duduk di sebelahku. Dan hidangan itu keluar


kalau acaranya sudah selesai.”


Karin mencengkeram tanganku. Sebagian tepung berpindah ke tanganku.


***


Tiga orang lelaki dan satu perempuan yang tampaknya sedang hamil tua.


Semuanya asing, aku tidak mengenalnya. Jadi, aku tidak tahu, Karin mau ta’aruf


dengan yang mana. Yang satu tampak lebih dewasa berpakaian baju koko biru


langit, sepertinya dia orang yang menjodohkan. Dan benar saja, dia dari tadi


duduk di sebelah perempuan yang sedang hamil itu. Karin super duper ramah


banget sama mbak itu.


Pasti calon Karin salah satu dari yang dua. Tidak mungkin keduanya, kan.


Yang satu berkulit bersih, berpakaian baju koko putih dan dari tadi menunduk


terus. Yang satunya berkulit gelap, memakai jacket hijau tua, dan tampak lebih


percaya diri. Jadi, yang mana calon si Karin? Yang percaya diri karena mau ta’aruf


atau yang menunduk terus?


Aku masuk ke dalam, mengambil minuman yang sudah disiapkan Karin. Karin


menyusulku kemudian.


“Syd, kamu jangan membuatku malu, ya.”


“Aku tidak akan menumpahkan teh-nya, Rin. Tenang saja.”


“Maksudku si jacket hijau itu.”


“Kenapa?”


Karin sudah ke ruang tamu lagi. Jadi calon Karin si jacket hijau. Hm,


siapa ya dia? Berhubung aku harus bersikap baik-baik dan tidak membuat Karin


malu, jadi sebaiknya aku diam saja selama acara berlangsung.


Alhamdulillah acaranya lancar. Di liburan panjang nanti, Karin akan


memberitahu ke orang tuanya, demikian juga calonnya—yang aku belum tahu juga yang


mana sampai acara berakhir. Setelah itu, apabila orang tua kedua belah pihak


sepakat, maka selanjutnya aka nada  ta’aruf


versi orang tua. Yang jelas, Karin berterima kasih padaku berkali-kali selepas


para tamu pulang—karena tidak membuat kacau.


“Rin… maaf ya, aku boleh bertanya?”


“Silakan, Syd.”


“Yang namanya Hanif itu yang mana?”


Karin terbahak, “Ampuun, Syd. Ternyata kamu gak memahmi alur pertemuan


tadi ya? Yang mengangguk berkali-kali itu.”


“Yang baju putih apa jacket hijau?”


“Yang baju putih. Yang jacket hijau itu masa kamu tidak ingat? Kupikir


kalian sering ketemu.”


Aku mengernyit. Siapa? Tentu saja aku tidak mengenalnya, karena wajahnya


saja aku sudah lupa.


“Dia Hud.”


Glek! Hud. Lelaki yang mengetahui Rey pernah memegang tanganku, bahkan


memelukku dari belakang, meski untuk melerai perkelahian.