
“Kak, katakan padaku, ada apa sebenarnya?”
“Tentang apa?”
“Tentang aku harus melindungi Azura. Kau tahu, aku pasti akan melakukannya tanpa kau suruh.”
“Baguslah.”
“Aku tidak akan melakukannya lagi bila kau tidak menceritakan ada apa sebenarnya.”
“Kau tidak perlu tahu. Cukup jaga saja dia.”
“Aku berhak tahu! Karena bila aku tidak ada di sampingnya dan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku yakin, tidak hanya aku. Tapi Neneknya juga akan mencarimu sampai ke ujung dunia.”
“...”
“KAK!”
“Oke, katakan apa yang sudah terjadi di sana.”
“Seseorang berencana membunuhnya.”
“Astaghfirullah.”
Hening.
“Dia juga dikeluarkan dari kampus, tanpa alasan. Dia dikeroyok tiga orang. Terus lapaknya di pasar ada yang merusak. Aku tidak yakin, rumahnya tidak akan didatangi juga. Siapa mereka?”
Hening.
“KAK!”
“Bawa dia pergi dari situ, Dit. Kau harus menjaganya dengan taruhan nyawamu, bila kau memang mencintainya.”
“Kau pikir mudah melakukan itu? Bagaimana dengan neneknya?”
“Aku akan pulang. Aku harus menyelesaikan urusan masa lalu dengannya. Untuk menyelamatkan Azzura.”
Aditya mendesah panjang, lalu mematikan ponselnya. Selanjutnya adalah menelpon temannya di Malaysia. Dia harus membawa Sydey, seperti perintah Mila. Meski kakaknya itu seorang pembantu, pastinya dia mengetahui sesuatu yang lebih besar. Kalau tidak, dia tidak akan menyuruhnya mempertaruhkan nyawa demi Sydney.
***
Sydney baru saja melayani pembeli yang membeli rujak di teras rumahnya, ketika seorang perempuan memasuki halaman. Perempuan itu menatapnya, kasihan. Di belakangnya berdiri seorang lelaki. Dia mengacungkan pergelangan tangannya. Aditya.
“Assalamualaikum, Nenekmu ada?”
“Waalaikumsalam. Ada.”
Perempuan itu langsung masuk ke dalam merah tanpa permisi. Sydney terkejut. Tidak ada tamu yang langsung nyelonong begitu saja di rumah ini. Semua tamu, selalu menghormati nenek. Tapi Aditya memberi isyarat supaya Sydney membiarkan perempuan itu masuk.
“Dia, kakakku. Dia akan menyelesaikan urusan masa lalu mereka. Biarkan saja.”
Sydney mengangguk. Jadi, dia Mila si pengkhianat. Wanita yang pernah menyapanya di bus. Wajahnya sedikit mirip dengan Aditya. Aditya menghulurkan sehelai kertas.
“Sebaiknya kamu mulai menyiapkan berkas ini, Zura. Temanku di Malaysia sangat berharap kamu bisa mengikuti beasiswa itu, karena ada satu orang yang mundur. Ini serius. Kebetulan, pengajuan beasiswa S2-ku diterima. Kita bisa berangkat bersama.”
Sydney menatap Aditya. Sepasang mata itu penuh kesungguhan. Tidak, sepasang mata itu... penuh cinta.
“KELUARRR!”
Sydney dan Aditya nyaris terlonjak. Nenek histeris mengusir Mila. Sydney dan Aditya saling berpandangan. Pastinya, masa lalu itu begitu kelam, dan membuat Nenek begitu murka, hanya dengan melihat Mila.
“Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi, Juma,” seru Mila tidak kalah keras, “kau tetap keras kepala atau nyawa cucumu taruhannya.”
Aditya memberi kode pada Sydney untuk meninggalkan rumah. Sydney mengangguk, menurut pada Aditya. Masalah orang tua tidak perlu ikut campur.
Nenek duduk di kursi ruang tengah, dengan nafas memburu. Matanya berkilat penuh amarah. Di tangannya tergenggam sapu, siap digebukkan ke tubuh Mila. Mila berdiri tiga meter di depannya. Dia harus menuntaskan masa lalu ini, atau satu nyawa berharga akan melayang sia-sia. Dan, Aditya tidak akan memaafkannya bila itu terjadi.
“Dia, perempuan yang kejam. Aku tidak meminta maafmu. Aku hanya menunaikan janjiku.”
Nenek membuang muka sembari mendengus. Dia tidak mau menerima penjelasan dari Mila. Tapi Mila harus melakukannya.
“Kejadian masa lalu itu, bukan kesalahanku. Aku hanya melakukan perintah. Dan itu untuk menyelamatkan nyawa Azzura. Sekarang, dia berhadapan dengan wanita gila yang sanggup berbuat apa saja, bahkan membunuhnya. Aku sangat tahu wanita itu. Bahkan, aku khawatir dia akan membunuhku suatu hari. Kau tidak tahu, bagaimana mengerikannya bila dia murka.”
“Kau bohong.”
Nenek mendelik. Cucunya tak pernah bercerita.
“Bahkan, dia sudah dikeluarkan dari kampus. Itu ulah wanita gila itu. Sydney sudah mengusiknya, dan wanita itu, aku pastikan akan membalaskan dendam dengan lebih keji.”
Nenek mendekati Mila, “Bagaimana cucuku bisa berhubungan dengan iblis itu?”
“Cucumu ... sepertinya dia menyukai anak wanita itu. Dan cucumu membelanya ketika wanita itu akan memukul anaknya. Dia sudah melempar macan dengan batu.”
Mila masih ingat video itu. Anak tiri majikannya dan Sydney, pasti punya hubungan istimewa. Kalau tidak, tidak mungkin gadis itu bisa hadir di pesta ulang tahun Rey. Untuk hadir di sana, harus ada undangan yang diperiksa di pintu masuk. Dan, Sydney adalah satu-satunya undangan perempuan.
“Zura menyukai siapa?” tanya Nenek membulatkan matanya menatap Mila.
“Dia menyukai anak tiri wanita gila itu.”
Nenek menarik nafas, berat. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri.
“Saranku, sembunyikan cucumu. Mereka sudah merusak lapakmu, bukan tidak mungkin sebentar lagi rumah ini. Kalian semua harus mengungsi.”
“Ini rumahku.”
“Ini bukan rumah Azzura.”
Nenek menatap tajam Mila.
“Ini bukan rumah Azzura. Dia punya rumah yang lebih layak untuk dihuni, dan itu adalah masa depannya,” ucap Mila melunak.
“Apa yang kau jaminkan sekarang?” tanya Nenek.
“Pertemuan dengan ayahnya.”
“Dia sudah mati!” teriak Nenek.
“Tidak, Juma. Dia tidak mati. Aku tahu dia ada di mana.”
“Di penjara.”
“Ya, dia memenjara dirinya. Untuk menebus dosa masa lalunya. Padamu, pada Aisyah, dan pada Azura”
Mendengar nama Aisyah disebut, Nenek tiba-tiba merasa lemas. Ingatan tentang putri semata wayangnya yang meregang nyawa malam itu. Dan Mila yang tiba-tiba muncul ketika suara tangis bayi melengking membelah malam. Mila ditetapkannya menjadi pengkhianat malam itu, untuk selamanya. Dan sekarang, dia harus mempercayai pengkhianat ini? Yang sudah menyebabkan cucunya menderita dalam kemiskinan.
“Dia harus bertemu aku dulu sebelum Azura, “ tegas Nenek.
“Kupikir kau tidak mau bertemu dengannya lagi.”
“Memang tidak. Aku akan memenggalnya sebelum bertemu Azura. Toh, bagiku dia sudah lama mati.”
Mila mendesah panjang. Ketegangan menurun, Mila bisa merasakan kalau Nenek sudah mulai mempercayainya.
“Sekarang yang harus kita pastikan adalah keselamatan Sydney, dan kamu, Juma.”
Mila duduk perlahan, tapi matanya tetap awas memindai Nenek. Dia tidak ingin, wanita tua itu tiba-tiba menghajarnya kalau dia salah bicara. Dia harus kembali ke Surabaya sore nanti, karena hanya mendapat ijin satu hari. Jadi, jangan sampai dia datang terlambat apalagi dengan luka-luka badan.
“Apa rencanamu?”
“Aku menyuruh Aditya membawa Sydney ke Malaysia. Atas usaha adikku, Sydney akan mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Aditya akan melindungi Sydney dengan taruhan nyawanya. Aku sendiri yang bertanggung jawab atas dua orang itu. Anggap saja ini adalah penebusan dosaku di masa lalu, jika kau anggap semua itu tidak termaafkan.”
“Kau pikir aku percaya begitu saja pada adikmu? Aku tidak akan melepaskan cucuku pergi ke Malaysia dengan orang yang bukan muhrim. Aku tahu Sydney bisa menjaga diri, tapi aku tidak menjamin adikmu. Dia bisa babak belur kalau sampai menyentuh Sydney.”
“Itu tidak akan terjadi, bila mereka berdua menikah.”
Nenek menegang. Dia menghampiri Mila, lalu menunjuk muka Mila dengan sapu. Ijuk sapu itu nyaris menyentuh muka Mila.
“Kau mau mengulangi dosamu?” teriak Nenek, kembali naik darah. Mila berusaha tenang di kursinya. Dia yakin, Nenek tidak akan memukulinya dengan sapu. Wanita itu mulai percaya padanya.
“Kau tidak punya pilihan, Juma. Kalian tidak punya siapa-siapa untuk melindungi kalian. Dan yang perlu kau ketahui adalah.... Aditya mencintai Azura, sejak cucumu itu masih SMP.”
Sapu itu jatuh ke lantai. Mila bisa melihat sepasang mata Nenek membasah dan bibirnya gemetar. Perempuan itu meninggalkan Mila, dan duduk di ruang tamu. Menatap dua orang anak muda yang sedang berdiri di luar pagar rumah, sesekali mereka berdua tertawa bersama.