
Dasar pikun!
Karin adalah orang yang paling kesal bila pikunku kambuh. Karena dia harus selalu berada di sampingku, menjadi penunjuk jalan bagi memoryku yang membuta.
“Apa foto-foto itu tidak bisa lagi membantu?” sergah Karin.
“Mungkin sebaiknya aku tidak ikut klub apapun, deh,” keluhku menyesali diriku sendiri.
Banyak anggota klub taekwondo yang aku tidak ingat lagi wajahnya, meski pekan kemarin sudah ketemu. Aku orang yang sombong, kata pelatihku. Karena tak pernah merespon bila disapa di jalan. Tentu saja karena aku tidak ingat lagi siapa mereka.
“Baiknya kau pelajari ilmu tentang aura. Kalau bisa, kau bisa melihat aura tiap orang. Dari situ kayaknya kamu bisa mengingat semua orang, Syd.”
“Entahlah, Rin. Sepertinya aura itu bisa berubah-ubah tergantung emosi. Sidik jari lebih akurat.”
Karin manyun. Tentu saja Karin kesal setengah mati. Dia mempercayakan padaku untuk menyerahkan proposal ke dosen di jurusannya, yang kebetulan gedungnya aku lewati saat berangkat latihan taekwondo. Karin bilang, dosennya itu berkumis lebat dan selalu memakai parfum yang iklannya membuat bidadari turun dari langit. Selalu pakai jaket kulit. Dan kuserahkanlah proposal itu pada seorang lelaki berkumis dan berparfum menyengat—nyaris membuatku muntah—tanpa kutanya namanya. Menurutku sangat tidak sopan menanyakan nama seorang dosen, kan.
Dan proposl Karin gagal karena tidak diterima dosennya pas deadline.
“Lain kali jangan titip aku lagi, Rin. Kau juga telat bilang kalau dosenmu ternyata cukur kumis kemarin.”
Karin mengacak-acak rambutnya. Menyesal seumur hidup karena percaya pada orang pikun seperti aku, padahal dosen itu adalah dosen pembimbingku sendiri. Fotonya tidak ada dalam deretan koleksi fotoku, karena bagiku dia hanya kutemui tiap semester saja.
“Setidaknya kau kan tahu nama, Sydney pikuuun....”
“Sudahlah, Rin. Apa aku minta proposalnya ke satpam itu?”
“Kamu yakin dia satpam? Kamu yakin juga bisa menemukan dia lagi?”
Aku mengedik bahu, “Baunya aku ingat.”
“Memangnya kamu Raja Hutan? Yang mengidentifikasi daerah kekuasaan dengan bau....”
“Maafkan aku ya, Rin. Hari ini aku cari dia.”
“Kamu mau mengendus semua orang di kampus?”
“Sepertinya begitu.”
Karin diam. Aku tahu, sebenarnya proposal itu tidak begitu penting baginya. Dia sendiri menyampaikan bahwa dia tidak ingin dijadikan panitia. Tapi teman-teman sejurusannya memaksa. Lebih tepatnya, memaksa Karin untuk mengajukan proposal ke jurusan. Karena Karin anak kesayangan dosen, IP-nya selalu 4 tiap semester.
Bersanding denganku, membuat Karin tidak lagi perfect. Dia yang tak pernah lewat jadwal, kali ini harus bertekuk lutut karena mengandalkanku.
“Syd....” tahu-tahu Karin menoleh dan tersenyum, lebih tepatnya menyeringai, “kau tidak lupa kan kalau nanti sore saatnya setoran hafalan! Hanya kamu satu-satunya yanga masih terjebak di An-Naba.”
Deg!
“Nanti sore, Rin?” tanyaku memastikan. Aku benar-benar lupa.
“Benarrrrr sekali, “ ucap Karin dengan nada suara membesar, “kau tahu kan hukumannya bila pekan ini belum juga tuntas An Naba, sedangkan semua anggota sudah mau ke Al-Mulk.”
Sesuatu melintas di ingatanku, dan aku segera menyambar Al-qur’an dan memasukkan ke dalam tas. Buku harian juga. Seorang perempuan bernama Saskia ingin menemuiku di kantin saat sarapan. Dan dia berpesan, jangan sampai Karin mengetahuinya. Sepertinya ini penting.
***
Aku mencoba bertahan beberapa menit lagi. Tapi sepertinya tidak bisa. Tepatnya tidak sanggup. Tanganku sudah kukepalkan sejak tadi, di bawah meja. Dadaku serasa diaduk-aduk, tak karuan.
Sementara Saskia tak henti-hentinya menyusut air mata dan ingus. Satu bungkus tissue sudah tandas.
“Aku... aku mencintainya, Syd, kau tahu itu kan...”
Aku mengeram. Cinta? Bah! Itu nafsu, *****. Dan sekarang kamu baru mengakui cinta setelah ada buah cinta di rahimmu? Itu buah nafsu. Bodoh!
Saskia mendongak. Pelupuk matanya bengkak, pertanda dia sudah menangis semalaman dan bersambung pagi ini di hadapanku. Aku tak mengenalinya bila dia tak menyebut namanya ketika tiba-tiba duduk di hadapanku, menguapkan selera sarapanku karena dandanannya yang kacau.
“Kita satu kota dan satu SMA, Syd. Kau adik kelasku. Bila hanya itu yang bisa kau ingat tentang diriku. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu membelaku? Bukankah aku dulu yang mencarikanmu tempat kost. Kau sudah lupa?”
“Ya, aku lupa, “ sahutku pendek. Jujur itu melegakan, daripada pura-pura ingat tapi membuat tidak nyaman.
Saskia Meladina. Kata nenek dia kerabat jauh, yang nenek tak mau mengakuinya lagi sebagai saudara. Keluarganya kacau, moralnya buruk, jadi nenek berpesan sebaiknya aku menjauh dari dia. Ada masalah di masa lalu yang kata nenek sebaiknya dilupakan. Masalah tanah yang tidak akan dibawa mati, tapi akan menimbun tubuh kita ketika mati. Beruntunglah aku karena aku lebih pikun dari nenek. Masa lalu yang sangat ingin aku tahu hanya masa lalu ayah dan ibu.
Namun, Saskia yang membantuku mencarikan tempat kost di kota besar ini, saat pertama kali aku menjejakkan kaki di kampus, terlihat ***** dan tak punya pengalaman. Kehabisan kamar asrama, dan tak tahu harus ke mana. Tidak ada saudara apalagi sahabat. Mahasiswi bidik misi dari keluarga miskin dengan taekwondo satu-satunya prestasi. Rejekiku bisa menapak kampus negeri terbaik di negara ini. Dan Saskia yang mengantarku bertemu dengan Karin yang sedang mencari satu orang lagi untuk menggenapi jumlah anggota kontrakan.
Aku sangat menghargai jasanya, dan dia minta balas budi sekarang. Maafkan aku nek, sepertinya aku harus melanggar laranganmu. Masalah Saskia saat ini aku prioritaskan daripada masalah tanah keluarga.
“Siapa namanya?”
“Rendra. Kau pasti mengenalnya, Syd. Dia ada di klub taekwondo.”
“Rendra Adi Prasetya?” tanyaku nyaris berteriak.
“Benar.”
Ini baru gawat. Dia pelatihku.
***
Pintu masih terbuka, dan beberapa pasang sepatu dan sandal masih ada di teras. Berarti saat setoran hafalan belum berakhir. Untunglah. Terlambat 2 jam, dan belum mengkhatamkan menghafal An-Naba. Hukumannya bisa dobel.
“Assalamualaikum,” ucapku sembari langsung mengambil tempat duduk. Menyebabkan beberapa yang sudah hadir lebih dulu, menggeser posisi duduknya.
“Waalaikumsalam. “ Jawaban serempak. Hangat, dan semua mata memandang ke arahku. Wajah-wajah asing yang sebentar lagi akan aku kenali bila mereka bersuara. Payahnya kalau sudah terlambat begini, aku tidak lagi bisa mengenali mana Bunda Sri. Mereka semua terlihat sama dalam balutan kerudung jilbab.
“Sydney? Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang wanita di dekat pintu masuk ke ruang dalam.
“Tidak apa-apa. Hanya ....”
Lelah. Batinku. Badanku terasa pegal semua. Sepertinya betis kananku memar.
“Kamu ngejar copet lagi?”
Suara Bunda Sri. Dia terdengar begitu khawatir. Aku merunduk dalam dan sontak terkejut ketika mendapati noda merah sebesar piring tak beraturan menghiasi kerudung putihku. Dengan cepat aku menangkupkan jaket yang sejak tadi tidak kupasang resletingnya. Tapi tangan seseorang lebih cepat menahan tanganku. Dia membuka jaketku lebar-lebar-lebar.
“Astaghfirullah, ini bukan sirup, kan? Kamu ....”
Terdengar gumaman meremang di ruangan, dari mulut keenam orang di dalamnya. Kecuali aku, tentu saja. Bunda Sri-aku yakin dia-segera bangkit masuk ke ruangan dalam. Sejurus kemudian membawa kerudung.
“Ganti kerudungmu, ini pakai saja.”
Aku menerimanya dengan ragu. Sementara ingatanku berusaha menggali, dari mana aku mendapat noda merah ini. Kenapa ada di bagian dadaku, tanpa aku menyadarinya. Seingatku, aku sudah sangat berhati-hati tidak mengotori kerudung putihku. Aku memang tidak suka warna putih karena mudah terlihat bila bernoda. Tapi hari ini, aku terpaksa memakainya karena hanya warna itu yang sudah diseterika.
“Minum dulu, kau pasti habis menghajar copet lagi, ya kan?”
Itu Karin dengan suara tipisnya. Dia ada di sebelahku, mengulurkan gelas air mineral.
Aku memaksakan tersenyum. Karin memindai wajahku, dan dia menghapus sesuatu di keningku. Dia menunjukkan ujung telunjuknya yang memerah.
“Lalu, apa ini? Kau habis berkelahi?”