
Mulan menuruni tangga, dan mendapati Mila sedang mengelap meja dan kursi ruang tamu. Mila menjadi gugup ketika Mulan mengamatinya, tanpa bicara. Hari masih pagi, matahari baru saja terbit, tapi majikanya sudah bangun. Mulan mengenakan baju tidur putih, rambutnya tampak berantakan. Kaki kanannya diperban, juga telapak tangan kirinya. Wajahnya lebih kacau dari dapur sehabis masak besar.
Dia lebih mirip hantu daripada Nyonya Besar, batin Mila. Entah kenapa, dia merasa gemetar ketika Mulan berjalan agak pincang mendekatinya. Mila berusaha tidak salah bergerak, atau wanita itu akan menggertaknya. Darmaji sebagai kepala pelayan selalu mengingatkan semua pelayan tentang tindak tanduk bila berada di depan Nyonya besar. Yang mana, aturan itu tidak pernah ada saat Tuan Bramantya masih hidup. Tuan Bramantya orang yang sangat ramah dan baik pada semua pembantu. Saat masih ada beliau, di Rumah Coklat para pembantu harus bisa menyesuaikan keadaan. Saat Tuan Bramantya ada atau tidak ada. Dan saat Nyonya Mulan ada atau tidak ada.
“Kamu siapa?” tanya wanita itu sembari menelisik wajah Mila yang berusaha ditundukkan.
Deg.
Mila merasa sekujur tubuhnya menegang. Majikannya benar tidak mengenalinya atau hanya mengetes saja? Atau dia masih dalam pengaruh obat penenang yang diberikan dokter, agar dia tidak mengamuk. Kata Darmaji, baru kali ini majikan mereka mengamuk begitu hebat.
“Mila, Nyonya. Masa Nyonya lupa?” sahut Mila, menghentikan pekerjaannya dan menghadapkan badan ke majikannya sembari menunduk hormat. Aturan di rumah ini seperti itu. Hanya Darmaji yang tidak melakukann hal seperti ini. Menunduk dan memberi hormat. Mila menjaga jarak, cukup tiga meter saja dari majikannya. Kalau-kalau dia mengamuk tiba-tiba, Mila masih punya waktu untuk kabur.
“Oh, ya. Mila... Mila... aku ingat.”
Mila lega. Rupanya Mulan masih belum sadar sepenuhnya setelah bangun tidur. Mulan merebahkan diri di sofa dan meletakkan ponsel di meja. Rupanya dia sudah bosan mengamuk di kamar. Atau emosinya sudah mereda karena sudah dihibur Darmaji. Membayangkan itu Mila melirik majikannya jijik. Seharusnya, dia sudah pergi dari rumah yang penuh amarah dan dosa ini. Tapi, dia dan anaknya masih butuh makan. Jadi, bagaimanapun juga, dia harus bisa bertahan di rumah ini.
“Kamu sudah lama kan di sini? Aku tidak tahu lagi nama-nama pembantu. Semuanya keluar masuk seenaknya, tidak ada yang mau bekerja lebih lama. Hanya kamu dan Darmaji yang masih betah di sini.”
Tentu saja, mana ada yang betah dengan majikan seperti Mulan. Bahkan Tuan Reynand saja sudah pergi dari rumah ini, padahal sebenarnya dia yang lebih berhak atas rumah ini karena dia anak kandung Tuan Bramantya. Pastinya, Tuan Bramantya punya pertimbangan bijaksana, kenapa rumah ini justru diwariskan pada wanita gila ini. Bisa jadi, beliau sudah lama tahu kelakuan istrinya, sehingga anaknya tidak layak lagi tinggal di rumah maksiat ini. Mila tak berani berpikir lebih jauh.
“Sejak kapan kamu kerja di sini?”
Mila agak heran dengan nada bicara majikannya. Terdengar lebih tenang. Mila memasang alarm tanda bahaya pada dirinya. Jangan sampai terjebak dengan pertanyaan dan menjawabnya dengan konyol. Atau dia akan kehilangan pekerjaan.
“Sejak Tuan Reynand masih bayi, seingat saya.”
“Jangan sebut nama anak haram itu.” Suaranya mulai meninggi.
Mila menunduk, tangannya tiba-tiba dingin.
“Maaf, Nyonya.”
“Jadi, kamu pasti tidak tahu siapa yang melahirkan anak haram itu?”
Mila menunduk dalam, merasakan begitu jelas dadanya bergolak. Seraut wajah yang sudah lama dilupakannya terlintas, namun segera ditepisnya.
“Saya pernah bertemu, tapi tidak ingat lagi.”
“Di mana?”
Mila merasa ini sebuah interogasi. Dan dia sungguh khawatir bila berbohong, Mulan akan mengetahuinya. Dia tidak pandai berakting seperti Darmaji. Berperan sebagai kepala pelayan, juga sekaligus Tuan Besar. Kalau dipikir-pikir, sepertinya Darmaji penguasa rumah ini. Dia yang tahu segalanya tentang rumah ini, menikmati rumah ini seperti rumahnya sendiri. Rumah beserta isi dan penghuninya. Mila bergidik.
“Kamu kenapa?”
Mila terperangah. Rupanya Mulan melihatnya saat berdigik. Tubuhnya pasti bergetar baru saja.
“Saya ingat pernah bertemu dia sebelum kerja di sini. Pak Darmaji yang menyuruhnya untuk mencari pembantu.”
Mulan tersenyum sinis.
“Permisi, saya mau melanjutkan membersihkan dapur, Nyonya.”
Perlahan Mila beringsut menuju dapur. Dan bernafas lega ketika Mulan tidak berteriak memanggilnya.
Ponsel di meja berdering, Mulan dengan malas mengangkatnya. Suara Darmaji di seberang sana, terdengar panik.
“Kamu di mana?”
***
Darmaji bangkit dari kursi begitu pintu terbuka dan Mulan masuk ruangan dengan elegan, dikawal seorang polisi. Mulan berkaca mata hitam dan mengenakan gaun tipis berleher rendah, berwarna biru langit. Bau lembut parfum mahal tiba-tiba mendominasi ruangan. Darmaji mengernyit melihat dandanan majikannya. Seperti hendak ke arisan atau pesta Dewan Direksi, ajang pamer baju dan tas mahal para istri Dewan Direksi. Semua mata di ruangan tak melepas pandangan darinya. Sejak dulu, wanita itu selalu tahu bagaimana menarik perhatian lelaki, di manapun.
Dan Darmaji bersorak dalam hati, bahwa dia bisa terlepas dari dugaan pembunuhan Ibrahim, hanya dengan Mulan hadir di kantor polisi ini. Wanita itu bisa menyelesaikan segalanya, yang Darmaji tidak tahu bagaimana caranya. Yang jelas bukan dengan memukuli semua polisi di sini.
Mulan dipersilahkan duduk di depan Darmaji. Darmaji menatapnya tak berkedip. Mulan membuka kaca mata hitamnya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Dar? Aku sampai harus naik taksi untuk menjemputmu,” ucap Mulan, menunjukkan kekesalannya.
“Maafkan saya, Nyonya. Saya hendak menjemput Pak Ucok, tapi bapak-bapak di sini malah meminta saya datang ke sini, sejak dari pintu gerbang rumah.”
“Hm, jadi mereka menjemputmu ke rumah?”
Darmaji mengangguk. Para polisi memang menjemputnya ke Rumah coklat, ketika Mulan baru selesai diobati oleh dokter keluarga karena luka-luka terkena pecahan kaca. Darmaji sedang mengantar dokter keluarga itu ke mobilnya, ketika dua orang polisi menjemputnya. Agar tidak menimbulkan keresahan pada para pembantu, Darmaji meminta polisi agar dia diperbolehkan membawa mobil. Dia yakin, Mulan pasti akan menjemputnya ke kantor polisi, bila mobilnya tidak ada di rumah. Wanita itu, antara membutuhkan dirinya atau tidak. Darmaji harus memastikan hal itu.
“Aku mau bertemu Kepala Polisi,” ucap Mulan bernada perintah, “Darmaji itu sopirku, tanpa dia aku tidak bisa kemana-mana. Jadi, aku mau menyelesaikan ini semua secepatnya.”
Seorang polisi bangkit dan Mulan mengikutinya keluar ruangan. Pintu ditutup. Darmaji menarik nafas lega. Mulan akan segera mengeluarkannya dari kantor polisi ini. Membebaskannya dari segala tuduhan.
“Kamu jangan gembira dulu, “ ucap penyidik di hadapannnya.
“Sebentar lagi, majikan saya pasti akan mengeluarkan saya dari sini.”
“Tidak semudah itu. Meski istri Ibrahim tidak mengajukan tuntutan, tapi kamu tidak punya alibi sama sekali.”
Darmaji mengedik bahu. Dia merasa di atas angin. Apa yang dilakukannya pada Ibrahim adalah untuk menyelamatkan Mulan.
***
Pintu kantor kepala polisi sudah terkunci rapat. Mulan sendiri yang menguncinya. Mulan mendekati jendela dan menarik tali tirai, hingga tirai menutup rapat.
“Apa sopirku sudah menjadi tersangka?” tanya Mulan sembari duduk di meja dan menyilangkan kakinya, “Zam?”
Zamy, Kepala Polisi bangkit dari kursinya dan mendekati Mulan. Wanita menatapnya tajam, begitu mendominasi bahkan mengintimidasi. Zamy tahu apa yang diinginkan wanita.
“Bahkan istrinya tidak mau menuntut, “ sahut Zamy, mendekati Mulan. Mulan langsung menarik kerah Zamy dan mencengkeramnya. Zamy tidak menolak, bahkan mendekatkan tubuhnya hingga bau parfum Mulan begitu nyata di hidungnya.
“Kalau begitu, apa yang kau inginkan? Bagaimanapun juga, sopirku adalah bodyguardku. Meski semua orang menganggap dia anjingku. Lepaskan dia.”
“Itu mudah. Tapi ada yang lebih sulit.”
“Apa itu? Aku biasa membayar dengan harga yang pantas untuk sebuah informasi.”
Mulan meraba kancing baju Zamy satu demi satu.
“Penyelidikan pembunuhan pemilik Eagle Maskapai, mulai mengarah pada Mulan Bramantya.”
“Kau bisa menghentikan itu?”
Zamy tak sanggup berucap lagi. Mulan sudah menguasainya.