MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Rencana Ulang Tahun



Hud baru saja menaiki motornya ketika


melihat gestur tinggi, ceking, putih, berambut lurus, berponi menutupi mata,


dan tentu saja wajahnya di atas rata-rata. Lelaki itu berjalan berkelit di


antara mahasiswa, membuat dia seperti artis sedang shooting. Dia menyandang


ransel, dengan memegang sebuah gulungan di tangan kirinya. Sepertinya dia


hendak pulang juga.


“Rey!” teriak Hud sembari melambaikan


tangan.


Yang dipanggil menoleh dan tersenyum.


Hud yakin Rey segera mengenalinya, dari teriakannya dan dari jacket mapala yang


selalu dipakainya kuliah, dan terutama motor bebek Astrea lawas miliknya.


“Hud..?” tanya Rey yang sejurus


kemudian sudah di depannya, dengan nafas terengah.


“Mau pulang?”


“Iya. Boleh bonceng.”


“Gak boleh.”


Rey menyurut. Baru kali ini Hud


menolaknya.


“Tentu saja boleh, Rey. Kita sekamar


tahu, itu pun kalau kamu masih ingat.”


Rey tergelak, lalu menepuk bahu Hud.


Perlahan dia naik ke boncengan Hud. Dan motor bebek Astrea Hud, melaju


meninggalkan suara yang membuat telinga gatal.


Hud sengaja melajukan motornya


perlahan, menyusuri jalan kampus menuju pintu gerbang depan. Di kanan kiri


jalan, pohon hijau rindang membuat suasana sejuk dan teduh. Banyak mahasiswa


berjalan di trotoar. Beberapa mahasiswa yang lewat, menyapa dan memanggil nama


Hud. Hud lumayan populer di kalangan mahasiswa. Dan Rey lebih banyak dikenal


oleh mahasiswi. Sering Hud mendapati bila berjalan bersisian dengan Rey,


perhatian mahasiswi selalu tertuju pada makhluk dengan fisik sempurna di


sebelahnya. Semakin lupa ingatan Rey, semakin membuatnya cool. Tentu saja itu


membuat para mahasiswi gemas. Tapi, sepanjang pengetahuan Hud, belum ada yang


mengejar-ngejar Rey. Karena di sini kampus, bukan SMA. Kalau SMA, pasti Rey


sudah habis diserbu cewek-cewek matre, diperebutkan murid dan guru jomblo.


“Hud, besok aku ulang tahun,” ucap


Reyhan di dekat telinga Hud. Suara motor Hud membuat Rey harus mengeraskan


suaranya, atau lebih mudah berbicara di dekat telinga Hud. Hud tidak pernah


memakai helm bila ke kampus. Karena tempat kost mereka ada di belakang kampus,


melewati jalan tembus perkampungan. Tidak akan ada polisi yang mencegat.


“Oh, ya? Selamat kalau gitu. Kamu mau


dikasih kado?”


“Aku mau mengundang teman satu kost


makan-makan.”


“Dengan senang hati, Rey.”


“Sama beberapa teman dari Despro.


Bagaimana menurutmu?”


“Saranku nih. Besok kan pas hari


Kamis. Acara makan-makannya saat berbuka saja. Mereka pasti luar biasa senang.


Kamu dapat pahala puasa teman satu kost, tanpa harus berpuasa.”


“Begitu, ya Rey?”


“Perlu kau tahu, Hud. Banyak teman


mahasiswa yang selalu mengandalkan makan gratis semacam ini. Kalau bertepatan


dengan hari Senin atau Kamis, ada sebuah gerai yang memberikan satu paket ayam


goreng gratis bagi yang berpuasa. Langgananku itu.”


Hud terkekeh, membuat Rey berpikir.


Alangkah sederhananya pemikiran Hud soal ulang tahunnya. Padahal selama ini,


saat masih ada Papa, pesta ulang tahunnya selalu digelar meriah, menyaingi


pesta pernikahan. Semua pegawai maskapai diundang. Ada hiburan music dari grup


music terkenal di tanah air. Belum lagi kado mewah dari beberapa relasi Papa.


Rey menepuk bahu Hud. Pastinya,


mahasiswa seperti Hud dan teman-temannya satu kost akan sangat senang apabila


sudah makan-makan, mereka membawa pulang makanan. Saat berbuka puasa itu boleh


juga. Rey memang tidak pernah berpuasa Senin-Kamis. Yang dia tahu selama ini


hanya puasa di bulan Ramadhan.


“Oke, Hud. Besok pas berbuka saja ya?


Tapi tempat acaranya agak jauh di pinggir kota. Kira-kira mereka semua datang


ya? Di restoran Mamaku. Gimana?”


Hud menghetikan motornya mendadak. Rey


ini nekad apa memancing masalah?


“Serius kamu, Rey? Kalau Mama gilamu


itu mengusir kita semua?”


“Dari dulu aku selalu merayakan ulang


tahun di sana, Hud. Pesan Papa seperti itu. Mama kalau ulang tahun di situ,


Papa juga. Restoran itu adalah restoran milik Mama sejak sebelum menikah dengan


Papa. Katanya, di sana dulu mereka pertama kali bertemu. Makanya kemudian,


setiap perayaan apapun harus diselenggarakan di sana.”


“Itu sebelum pembagian warisan,


Reeeyyy….Kenapa tidak di restoranmu saja? Kalau tidak salah, Bluestar?”


“Restoran Bluestar memang diwariskan padaku,


tapi aku masih belum mendapat hak mengelolanya. Pengacara Julius masih mengurus


administrasi perijinan dan lain-lain. Setelah semua beres, baru aku masuk.”


“Yang maskapai, kamu kok bisa langsung


menggaet aku jadi pegawai?”


sejak dua bulan lalu. Sejak Papa menerima surat ancaman. Tidak ada yang tahu


selain Merlin.”


“Kau harus memikirkan baik-baik untuk


kondisi sekarang, Rey. Terus terang, aku ngeri kalau harus bertemu dengan


Mamamu lagi.


Rey terdiam di boncengan belakang. Hud


melajukan motornya lagi. Mereka berdua tidak berbicara lagi hingga sampai di


depan tempat kost. Hud sibuk dengan pikirannya, tentang ulang tahunnya sendiri


yang sudah bertahun-tahun terlewatkan. Tidak pernah ada tradisi itu dalam


keluarganya. Bahkan mungkin bapak dan emaknya lupa tanggal lahirnya. Tapi Hud


ingat tanggal lahirnya.


“Terus di mana tempat selain di


restoran Mama?” tanya Rey tampak kebingungan, Hud yakin, Rey tak pernah


menyiapkan ulang tahunnya sendiri. Tahu-tahu dia hadir saja sebagai bintang di


pestanya.


“Aku tahu tempat ayam goreng yang


enak. Tempatnya tidak mewah seperti restoran, sih. Tapi buat mahasiswa itu


sudah luar biasa.”


“Tapi … ini bukan masalah mahasiswanya,


Hud. Yang mengatur acara ulang tahunku itu, Merlin. Kau tahu, lelaki tua di


maskapai?”


Hud menelan ludah. Saat ke maskapai


itu, adalah saat paling konyol dalam hidupnya. Meski dia menunjukkan pada Rey


bahwa dia berusaha professional. Meski dia tidak tahu bagaimana standar


professional sebagai seorang bodyguard, selain badan kekar.


“Jadi?”


“Ya, kita berperan seperti di


maskapai. Kau jadi bodyguard. Biar Merlin tidak curiga.” Rey mengucapkan


kalimat itu begitu enteng. Sementara Hud merasa wajahnya seperti kepiting


rebus. Dia merasa tidak sanggup kalau harus menjadi bodyguard lagi. Tapi dia


tidak punya alasan logis untuk menolak.


“Kamu gila, Rey. Gimana kalau ada


temanmu yang mengenaliku? Teman-teman kost kita, apalagi Mas Hanif. Mau ditaruh


di mana mukamu, Rey.”


“Aku belikan jas dan kaca mata hitam


yang paling bagus, jadi kamu akan sulit dikenali.”


Hud geleng-geleng.


“Kamu bilang mau membantu, Hud.”


Hud menuntun sepeda motornya ke dalam


garasi. Rey mengikutinya seperti anak ayam yang takut kehilangan induk.


“Hud?”


“Aku pikirkan kalau itu, Rey. Kita


berdua tidak ingin kelihatan konyol kan? Aku yakin semua undangan akan


menertawakan kita berdua.”


“Tentu saja tidak. Merlin hanya ingin


mengenal beberapa temanku. Kita bisa buat acaranya santai. Kau tahu, kalau dia


tangan kanan Papa. Aku harus menjaga hubungan baik dengannya, agar dia mau


mengajariku semua hal tentang maskapai. Merlin juga sedang membangun hubungan


baik denganku, tentunya agar dia tidak kupecat karena tidak bisa menaikkan


harga saham. Tapi ada hal luar biasa yang sudah dilakukan Merlin, setelah kita


dari maskapai. Mama datang ke sana. Dan Merlin mengusirnya.”


“Apa?” Hud menatap Rey tak percaya.


“Itu istilahku, Hud. Tapi, dengan


Merlin hanya menemuinya di resepsionis, itu adalah pengusiran bagi Mama.”


“Sebentar…. Ada yang tidak kupahami di


sini. Kau, sebagai bos telah mengusir Mamamu—melalui anak buahmu. Itu yang aku


pahami, meski bisa jadi Merlin bertindak atas kemauannya sendiri. Tapi kau


bosnya. Tindakan Merlin adalah tindakanmu juga. Menjadi bos itu, memang antara


enak dan tidak enak. Meski, di posisimu kayaknya banyak enaknya. Dan, kau


sekarang mau berulang tahun di restoran Mamamu? Bukankah sudah jelas dia akan


mengusirmu sebagaimana kau mengusir Mamamu lewat Merlin?”


Rey menggeleng, “Mama tidak akan


mengusirku. Aku mengundangnya.”


Hud menatap Rey yang juga sedang menatapnya


dengan pandangan polos tanpa dosa. Hud menggaruk rambutnya yang tidak gatal,


tidak habis pikir dengan pola pikir Rey yang menurutnya tidak hanya terbalik.


Tapi jumpalitan.


“Jadi …? Aku tidak mengerti.”


“Merlin yang mengadakan pesta, Hud.


Kau tidak perlu khawatir.”


Hud menghembus nafas melalui mulutnya.


“Sebaiknya begitu.”


“Oh, iya. Satu lagi. Kau bilang tadi,


aku minta kado apa?”


“Ah ya, kado. Aku akan memberimu kado.


Tapi jangan minta yang mahal-mahal. Kau tahu kan, kantong mahasiswa.”


Hud terkekeh. Reynand menaruh kedua


tangannya di pundah Hud, menatap Hud sembari tersenyum.


“Tentu saja tidak mahal. Aku minta …


kau hadirkan Sydney di acara ulang tahunku. Kau bisa kan?”


Hud menelan ludah. Kenapa harus Sydney?