
Hud baru saja menaiki motornya ketika
melihat gestur tinggi, ceking, putih, berambut lurus, berponi menutupi mata,
dan tentu saja wajahnya di atas rata-rata. Lelaki itu berjalan berkelit di
antara mahasiswa, membuat dia seperti artis sedang shooting. Dia menyandang
ransel, dengan memegang sebuah gulungan di tangan kirinya. Sepertinya dia
hendak pulang juga.
“Rey!” teriak Hud sembari melambaikan
tangan.
Yang dipanggil menoleh dan tersenyum.
Hud yakin Rey segera mengenalinya, dari teriakannya dan dari jacket mapala yang
selalu dipakainya kuliah, dan terutama motor bebek Astrea lawas miliknya.
“Hud..?” tanya Rey yang sejurus
kemudian sudah di depannya, dengan nafas terengah.
“Mau pulang?”
“Iya. Boleh bonceng.”
“Gak boleh.”
Rey menyurut. Baru kali ini Hud
menolaknya.
“Tentu saja boleh, Rey. Kita sekamar
tahu, itu pun kalau kamu masih ingat.”
Rey tergelak, lalu menepuk bahu Hud.
Perlahan dia naik ke boncengan Hud. Dan motor bebek Astrea Hud, melaju
meninggalkan suara yang membuat telinga gatal.
Hud sengaja melajukan motornya
perlahan, menyusuri jalan kampus menuju pintu gerbang depan. Di kanan kiri
jalan, pohon hijau rindang membuat suasana sejuk dan teduh. Banyak mahasiswa
berjalan di trotoar. Beberapa mahasiswa yang lewat, menyapa dan memanggil nama
Hud. Hud lumayan populer di kalangan mahasiswa. Dan Rey lebih banyak dikenal
oleh mahasiswi. Sering Hud mendapati bila berjalan bersisian dengan Rey,
perhatian mahasiswi selalu tertuju pada makhluk dengan fisik sempurna di
sebelahnya. Semakin lupa ingatan Rey, semakin membuatnya cool. Tentu saja itu
membuat para mahasiswi gemas. Tapi, sepanjang pengetahuan Hud, belum ada yang
mengejar-ngejar Rey. Karena di sini kampus, bukan SMA. Kalau SMA, pasti Rey
sudah habis diserbu cewek-cewek matre, diperebutkan murid dan guru jomblo.
“Hud, besok aku ulang tahun,” ucap
Reyhan di dekat telinga Hud. Suara motor Hud membuat Rey harus mengeraskan
suaranya, atau lebih mudah berbicara di dekat telinga Hud. Hud tidak pernah
memakai helm bila ke kampus. Karena tempat kost mereka ada di belakang kampus,
melewati jalan tembus perkampungan. Tidak akan ada polisi yang mencegat.
“Oh, ya? Selamat kalau gitu. Kamu mau
dikasih kado?”
“Aku mau mengundang teman satu kost
makan-makan.”
“Dengan senang hati, Rey.”
“Sama beberapa teman dari Despro.
Bagaimana menurutmu?”
“Saranku nih. Besok kan pas hari
Kamis. Acara makan-makannya saat berbuka saja. Mereka pasti luar biasa senang.
Kamu dapat pahala puasa teman satu kost, tanpa harus berpuasa.”
“Begitu, ya Rey?”
“Perlu kau tahu, Hud. Banyak teman
mahasiswa yang selalu mengandalkan makan gratis semacam ini. Kalau bertepatan
dengan hari Senin atau Kamis, ada sebuah gerai yang memberikan satu paket ayam
goreng gratis bagi yang berpuasa. Langgananku itu.”
Hud terkekeh, membuat Rey berpikir.
Alangkah sederhananya pemikiran Hud soal ulang tahunnya. Padahal selama ini,
saat masih ada Papa, pesta ulang tahunnya selalu digelar meriah, menyaingi
pesta pernikahan. Semua pegawai maskapai diundang. Ada hiburan music dari grup
music terkenal di tanah air. Belum lagi kado mewah dari beberapa relasi Papa.
Rey menepuk bahu Hud. Pastinya,
mahasiswa seperti Hud dan teman-temannya satu kost akan sangat senang apabila
sudah makan-makan, mereka membawa pulang makanan. Saat berbuka puasa itu boleh
juga. Rey memang tidak pernah berpuasa Senin-Kamis. Yang dia tahu selama ini
hanya puasa di bulan Ramadhan.
“Oke, Hud. Besok pas berbuka saja ya?
Tapi tempat acaranya agak jauh di pinggir kota. Kira-kira mereka semua datang
ya? Di restoran Mamaku. Gimana?”
Hud menghetikan motornya mendadak. Rey
ini nekad apa memancing masalah?
“Serius kamu, Rey? Kalau Mama gilamu
itu mengusir kita semua?”
“Dari dulu aku selalu merayakan ulang
tahun di sana, Hud. Pesan Papa seperti itu. Mama kalau ulang tahun di situ,
Papa juga. Restoran itu adalah restoran milik Mama sejak sebelum menikah dengan
Papa. Katanya, di sana dulu mereka pertama kali bertemu. Makanya kemudian,
setiap perayaan apapun harus diselenggarakan di sana.”
“Itu sebelum pembagian warisan,
Reeeyyy….Kenapa tidak di restoranmu saja? Kalau tidak salah, Bluestar?”
“Restoran Bluestar memang diwariskan padaku,
tapi aku masih belum mendapat hak mengelolanya. Pengacara Julius masih mengurus
administrasi perijinan dan lain-lain. Setelah semua beres, baru aku masuk.”
“Yang maskapai, kamu kok bisa langsung
menggaet aku jadi pegawai?”
sejak dua bulan lalu. Sejak Papa menerima surat ancaman. Tidak ada yang tahu
selain Merlin.”
“Kau harus memikirkan baik-baik untuk
kondisi sekarang, Rey. Terus terang, aku ngeri kalau harus bertemu dengan
Mamamu lagi.
Rey terdiam di boncengan belakang. Hud
melajukan motornya lagi. Mereka berdua tidak berbicara lagi hingga sampai di
depan tempat kost. Hud sibuk dengan pikirannya, tentang ulang tahunnya sendiri
yang sudah bertahun-tahun terlewatkan. Tidak pernah ada tradisi itu dalam
keluarganya. Bahkan mungkin bapak dan emaknya lupa tanggal lahirnya. Tapi Hud
ingat tanggal lahirnya.
“Terus di mana tempat selain di
restoran Mama?” tanya Rey tampak kebingungan, Hud yakin, Rey tak pernah
menyiapkan ulang tahunnya sendiri. Tahu-tahu dia hadir saja sebagai bintang di
pestanya.
“Aku tahu tempat ayam goreng yang
enak. Tempatnya tidak mewah seperti restoran, sih. Tapi buat mahasiswa itu
sudah luar biasa.”
“Tapi … ini bukan masalah mahasiswanya,
Hud. Yang mengatur acara ulang tahunku itu, Merlin. Kau tahu, lelaki tua di
maskapai?”
Hud menelan ludah. Saat ke maskapai
itu, adalah saat paling konyol dalam hidupnya. Meski dia menunjukkan pada Rey
bahwa dia berusaha professional. Meski dia tidak tahu bagaimana standar
professional sebagai seorang bodyguard, selain badan kekar.
“Jadi?”
“Ya, kita berperan seperti di
maskapai. Kau jadi bodyguard. Biar Merlin tidak curiga.” Rey mengucapkan
kalimat itu begitu enteng. Sementara Hud merasa wajahnya seperti kepiting
rebus. Dia merasa tidak sanggup kalau harus menjadi bodyguard lagi. Tapi dia
tidak punya alasan logis untuk menolak.
“Kamu gila, Rey. Gimana kalau ada
temanmu yang mengenaliku? Teman-teman kost kita, apalagi Mas Hanif. Mau ditaruh
di mana mukamu, Rey.”
“Aku belikan jas dan kaca mata hitam
yang paling bagus, jadi kamu akan sulit dikenali.”
Hud geleng-geleng.
“Kamu bilang mau membantu, Hud.”
Hud menuntun sepeda motornya ke dalam
garasi. Rey mengikutinya seperti anak ayam yang takut kehilangan induk.
“Hud?”
“Aku pikirkan kalau itu, Rey. Kita
berdua tidak ingin kelihatan konyol kan? Aku yakin semua undangan akan
menertawakan kita berdua.”
“Tentu saja tidak. Merlin hanya ingin
mengenal beberapa temanku. Kita bisa buat acaranya santai. Kau tahu, kalau dia
tangan kanan Papa. Aku harus menjaga hubungan baik dengannya, agar dia mau
mengajariku semua hal tentang maskapai. Merlin juga sedang membangun hubungan
baik denganku, tentunya agar dia tidak kupecat karena tidak bisa menaikkan
harga saham. Tapi ada hal luar biasa yang sudah dilakukan Merlin, setelah kita
dari maskapai. Mama datang ke sana. Dan Merlin mengusirnya.”
“Apa?” Hud menatap Rey tak percaya.
“Itu istilahku, Hud. Tapi, dengan
Merlin hanya menemuinya di resepsionis, itu adalah pengusiran bagi Mama.”
“Sebentar…. Ada yang tidak kupahami di
sini. Kau, sebagai bos telah mengusir Mamamu—melalui anak buahmu. Itu yang aku
pahami, meski bisa jadi Merlin bertindak atas kemauannya sendiri. Tapi kau
bosnya. Tindakan Merlin adalah tindakanmu juga. Menjadi bos itu, memang antara
enak dan tidak enak. Meski, di posisimu kayaknya banyak enaknya. Dan, kau
sekarang mau berulang tahun di restoran Mamamu? Bukankah sudah jelas dia akan
mengusirmu sebagaimana kau mengusir Mamamu lewat Merlin?”
Rey menggeleng, “Mama tidak akan
mengusirku. Aku mengundangnya.”
Hud menatap Rey yang juga sedang menatapnya
dengan pandangan polos tanpa dosa. Hud menggaruk rambutnya yang tidak gatal,
tidak habis pikir dengan pola pikir Rey yang menurutnya tidak hanya terbalik.
Tapi jumpalitan.
“Jadi …? Aku tidak mengerti.”
“Merlin yang mengadakan pesta, Hud.
Kau tidak perlu khawatir.”
Hud menghembus nafas melalui mulutnya.
“Sebaiknya begitu.”
“Oh, iya. Satu lagi. Kau bilang tadi,
aku minta kado apa?”
“Ah ya, kado. Aku akan memberimu kado.
Tapi jangan minta yang mahal-mahal. Kau tahu kan, kantong mahasiswa.”
Hud terkekeh. Reynand menaruh kedua
tangannya di pundah Hud, menatap Hud sembari tersenyum.
“Tentu saja tidak mahal. Aku minta …
kau hadirkan Sydney di acara ulang tahunku. Kau bisa kan?”
Hud menelan ludah. Kenapa harus Sydney?