
Hari menjelang asar ketika Aditya sampai di halaman Homestay. Mila menahannya cukup lama di Rumah Coklat. Aditya baru tahu kalau ada rumah kediaman dinamai. Mungkin karena nuansa rumah itu serba coklat. Mila menyampaikan banyak informasi padanya. Untuk kapasitasnya sebagai seorang pembantu, tentu saja hal itu sangat mengherankan. Dia hanya tukang masak, bukan mata-mata. Tapi, bisa mendapatkan informasi lebih detil. Di sarang musuh pula. Dan Aditya tidak pernah sangsi dengan apapun yang keluar dari lisan Mila. Mila tidak pernah berbohong padanya. Dia hanya menyimpan kebenaran untuk disampaikan pada waktunya.
Mila bercerita, bahwa majikannya mengamuk karena premannya tidak berhasil mencelakai Sydney. Nenek yang saat itu sedang menyapu halaman, jelas sekali mendengar wanita itu memukuli premannya. Dia lebih preman dari premannya sendiri. Untunglah Nenek bukan Sydney, meski karakter mereka sama. Kalau tidak, Nyonya besar itu pasti sudah remuk di tangan Sydney.
“Pada dasarnya dia wanita yang lemah, tidak punya kekuatan. Makanya dia menggunakan kemarahan untuk menutupinya.”
Aditya memaknai itu bukan bagi kakaknya. Kakaknya tidak punya kekuatan, karena dia hanya pembantu. Tapi dia tidak menggunakan kemarahan untuk menutupinya. Dia menggunakan strategi, yang bahkan Aditya tidak menyangka kakaknya bisa terpikir sampai ke sana. Seingatnya, kakaknya tidak terlalu pintar. Saat sekolah sudah seperti itu. Selepas SMA, dia dikawinkan oleh orang tua mereka dengan seorang sopir. Dan suaminya meninggal karena kecelakaan. Maka, dengan menjual tenaga dia menghidupi anak-anaknya. Dari mana dia mendapatkan kecerdasan berstrategi?
“Aku berjanji mempertemukan Sydney dengan ayahnya. Ayah yang meninggalkannya sejak dia masih bayi merah.”
Aditya hanya menduga, bisa jadi ayah Sydney yang mengatur semuanya. Sebagai penebus kesalahan di masa lalu, mungkin. Sayang, Mila tidak memberitahu kebenarannya saat ini. Cukup Aditya, dia mendapatkan Sydney, wanita yang sudah dicintainya sejak SMA. Dan tugasnya hanya memastikan Sydney selalu dalam perlindungannya.
Tiba-tiba, Aditya menangkap gestur Sydney dari arah kantor Imigrasi. Bagaimana mungkin gadisnya itu kelayapan dalam kondisi seperti ini. Dia akan mudah dikenali, sedangkan dia sendiri kesulitan mengenali orang. Aditya berpura-pura tidak melihat, menyandarkan diri pada sebuah mobil yang sedang diparkir di halaman Homestay. Sydney tidak mengenalinya, melewatinya begitu saja. Dia langsung menuju resepsionis dan mengambil kunci. Aditya mengikutinya perlahan. Timbul niat isengnya mengerjai Sydney, sekaligus memberi pelajaran pada gadis itu. Bahwa seharusnya dia tidak keluar kamar tanpa suaminya.
Aditya melepas gelangnya, dan memasukkan ke saku celana.
Sydney menaiki tangga menuju lantai dua dan berhenti di tengah tangga, sejenak. Aditya menghentikan langkah, menduga Sydney menyadari kalau sedang dikuntit. Tapi rupanya dia membetulkan rok-nya yang terinjak oleh kakinya sendiri, lalu kembali menaiki tangga. Aditya mengikutinya perlahan, melangkah tanpa suara di belakang Sydney. Kamar mereka tepat berada di ujung selasar, dengan pintu menghadap jalan. Jadi Sydney tidak menyadari kalau dia dikuntit Aditya.
Ketika Sydney berhenti di depan kamar 212 dan memasukkan anak kunci ke lubang handel pintu, Aditya langsung menyergapnya dari belakang. Lengannya yang kokoh langsung memeluk leher Sydney. Tapi Aditya melupakan satu hal. Niatnya mengerjai Sydney membuat dia lupa bahwa istrinya adalah ahli bela diri. Tidak sampai dua detik, tangan Sydney berbalik memelintir tangan Aditya, entah bagaimana dia bisa melakukannya dengan cepat dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Aditya berusaha tidak mengaduh. Sydney pasti mengenali suaranya.
Sydney sudah memelintir kedua tangannya di punggung, dan dia menempelkan sepatunya di pantat Aditya, siap menendang. Aditya menundukkan badan, dan dan dengan sekali hentakan dia berhasil menarik Sydney ke hadapannya, lalu dikuncinya gadis itu di pintu. Sydney berusaha meronta, tapi kaki Aditya kokoh mengunci kedua kaki Sydney. Aditya mendesak tubuh Sydney, hingga badannya menekan tubuh Sydney. Dan wajahya semakin dekat dengan gadis itu.
Sydney membeliak, meronta tanpa suara. Tapi Aditya semakin kuat menekan tubuhnya. Kini hidung mereka sudah bersentuhan dan sepasang mata bertaut tajam. Beberapa detik, dan hal itu membuat Aditya tergoda untuk mendekatkan bibirnya. Dia memiringkan kepalanya dan menurunkan hidungnya, hingga bisa merasakan nafas menderu istrinya.
“Kau mau kesepakatan 1 menit? Belum saatnya.”
Tahu-tahu Sydney mendorongnya sekuat tenaga, dan Aditya terdorong mundur sampai tiga langkah. Darimana gadis itu mendapatkan kekuatan untuk mendorongnya? Ah, ya. Aditya tadi sempat mengendur karena ingin mengusap bibir Sydney dengan bibirnya.
Aditya berdiri tegak, dan mendekati Sydney perlahan.
“Jangan main-main. Aku bisa melemparmu ke bawah, “ ancam Sydney sambil menyandar ke daun pintu.
Aditya tertawa, dia tahu Sydney tidak akan melakukannya, Meski semula dia mengira yang menyerangnya adalah orang asing. Dia benar-benar punya self defence luar biasa dengan kelemahan daya ingatnya terhadap wajah.
“Dari maka kau tahu kalau aku? Padahal aku menyembunyikan gelangku.”
Aditya mengeluarkan gelang dari saku celana dan memainkannya di depan wajah Sydney. Sydney mendorong Aditya menjauh, tapi lelaki itu malah menggenggam tangannya, membuat debaran halus itu muncul kembali. Malah semakin kuat dan membuatnya gemetar.
“Kau bisa mengingatku?” desak Aditya sembari mengulum senyum. Seolah dia tahu, Sydney tidak akan tahan melihat senyumnya.
“Kau sudah menyentuhku, bagaimana aku bisa lupa...” jerit Sydney dalam hati, berusaha mengusir kegugupannya karena jaraknya dengan Aditya semakin dekat saja. Kalau sudah begini, dia bahkan tidak sanggup melancarkan pukulan model apapun. Lelaki itu seolah melumpuhkannya dengan pandangan mata.
“Sydney Azzura?” Aditya mencari-cari kontak mata dengan Sydney karena Sydney berusaha membuang muka.
“Parfummu. Aku ingat baunya. Juga bajumu. Kau pikir aku sepikun itu sampai lupa baju yang kau pakai hari ini?” tukas Sydney.
Aditya hendak mengejar Sydney lagi, tapi tahu-tahu Sydney meraih handle pintu dan pintu kamar mereka terbuka. Gadis itu terburu-buru masuk dan langsung ke kamar mandi.
Aditya tersenyum-senyum geli melihat tingkah Sydney. Jadi, gadis itu sudah menghafal bau parfumnya? Padahal baru sekali mereka begitu dekat, semalam.
Tiba-tiba, Aditya teringat tumpukan sketsa Rey dan keceplosan teman Sydney di kontrakan. Apa benar Sydney menyukai pria lain? Tapi, melihat gelagatnya ketika bersama dirinya, gadis itu nyata sekali berusaha menenangkan diri, meredakan kegugupannya. Atau karena selama ini tidak ada lelaki yang menyentuhnya? Aditya bertekad akan membuat Sydney melupakan, siapapun itu di masa lalunya. Sydney adalah miliknya.
***
“Aku sudah mengurus paspor tadi. Katanya hari Kamis jadi.”
Sydney mengawali pembicaraan menjelang tidur. Mereka baru saja makan malam di ruang makan Homestay. Di bawah ramai sekali, ada rombongan siswa hendak rekreasi dan transit satu malam di Homestay.
“Lain kali jangan pernah pergi sendiri. Bagaimana kalau kamu diserang orang gila seperti di depan pintu tadi? Membekapmu dari belakang.”
Sydney mendengus. Lalu mulai tenggelam di buku tebalnya, sembari memainkan pensil di tangannya.
“Zura... aku minta sesuatu boleh?”
Sydney memasang wajah waspada. Apa akan ada kesepakatan lagi? Lelaki di hadapannya ternyata banyak maunya dan selalu mencuri kesempatan.
“Tidak aneh, kok. Hanya... lukislah wajahku.”
Sydney mengernyit. Melukis wajah? Dari mana Aditya tahu kalau dia bisa melukis wajah. Jangan-jangan ...
“Semua barangku apa sudah di tempat Nenek?” tanya Sydney menyelidik.
“Sudah semua.”
“Kau yakin?”
“Mana aku tahu? Temanmu yang memasukkan semuanya ke tas.” Aditya tahu kalau yang dimaksud Sydney adalah map plasti berisi sketsa Rey.
“Tidak ada yang ketinggalan?”
“Kata mereka tidak ada. Kau seperti orang diusir, tahu tidak?”
Sydney diam, kembali memainkan pensilnya. “Kenapa kau minta kulukis? Aku tidak bisa melukis.”
“Nenek bilang kamu bisa menggambar wajah orang pakai pencil. Sejak kecil, ya kan? Apa kamu pernah menggambar wajahku? Bukankah aku dulu sering ...”
“Ini tidak gratis. Menggambar wajah itu sulit, tahu. Dan kau memotong waktu belajarku. Aku harus tes mulai besok. Kalau aku tidak lulus, aku tidak berangkat ke Malaysia, kan?”
“Lulus atau tidak lulus, kau tetap berangkat bersamaku. Kau istriku.”
Sydney mendelik kesal. Aditya semakin senang menggoda Sydney. Dia tidak akan memberi kesempatan Sydney untuk mengingat Rey. Menggambar wajah Rey sebanyak itu, pastinya lelaki itu begitu dekat dengan Sydney. Kesempatan terbaik ada pada Aditya, dan dia harus memanfaatkan sebaik-baiknya.
Sydney mengeluarkan selembar kertas HVS dari laci meja. Dan sebuah papan dada. Lalu dia menatap Aditya yang tampak begitu gembira, seperti anak kecil diberikan mainan. Dia duduk bersila di ranjangnya.
“Kau mau dilukis seperti stupa, atau wajah saja?” tanya Sydney geli melihat posisi Aditya.
Sydney menggeser duduknya, memberi ruang pada Aditya di ranjangnya. Dia tidak lagi secanggung malam pertama kemarin. Apalagi, aroma parfum Aditya yang menguat ketika dia mendekat, entah mengapa membuatnya lebih rileks. Mereka duduk berhadapan.
“Aku akan mengupahmu untuk sebuah gambarku. Tiap aku minta gambar, aku lipatgandakan upahmu.”
“Oh ya? Berapa?” ucap Sydney tanpa menatap Aditya. Berhadapan seperti ini, membuatnya berusaha keras agar degup jantungnya tidak kedengaran Aditya.
“Dua menit kesepakatan. Dan berlipat setiap aku digambar lagi.”
Sydney mendelik. “Itu bukan bayaran. Itu ...”
Sydney tak bisa bicara ketika Aditya tiba-tiba melakukan kesepakatan satu menitnya. Dan, dia tidak bisa menolak untuk tidak mengikuti iramannya.
“Oke, itu tadi DP-nya,” ucap Aditya, kembali ke posisi duduknya. Nafasnya terengah. Tentu saja karena dia tidak melakukan DP, tapi membayar lunas dua menit.
Sydney merasa sudah kehilangan tenaga, karena menahan nafas cukup lama. Lelaki di hadapannya kerap mencuri kesempatan. Sydney tidak yakin dia bisa bertahan. Dia harus mencari cara agar tidak selalu dibuat tak berkutik oleh Aditya.
“Ak... aku tidak setuju,” ucap Sydney, suaranya gemetar.
“Aku tidak enak kalau tidak membayarmu. Melukis itu tidak mudah, kan? Kau harus selalu mengingat wajahku. Sedangkan, kita harus berhemat sampai dengan beasiswa nanti cair. Jadi, jangan menghambur-hamburkan uang. Kalau bisa dibayar dengan selain uang...”
“Aku yang melakukan kesepakatan satu menit!” seru Sydney, memotong kalimat Aditya. Dia khawatir kalimat Aditya bila diteruskan akan menjadi kalimat yang lebih menjebak lagi.
Aditya mendelik senang. Dia tahu, Sydney keceplosan.
“Dengan senang hati. Tidak seperti kamu, aku tidak akan menyalahi kesepakatan. Aku akan diam saja.”
Sydney memaki dirinya dalam hati. Dia sudah kalah langkah.