
Aditya mengangkat kunci kamar ke hadapannya sembari memicingkan mata. Tepat lurus di hadapannya, Sydney duduk di atas ranjangnya, menyandar ke tembok. Dia sedang membaca buku tebal, untuk persiapan tes awal beasiswanya. Dan dia masih memakai pakaian lengkap. Jilbab panjang, baju panjang, rok panjang, dan celana panjang di dalam roknya. Juga kaos kaki panjang.
Untuk sebuah malam pertama, ini terlihat begitu konyol. Dua bed berseberangan dan masih berpakaian lengkap. Aditya juga merasa konyol melihat dirinya yang jadi mengikuti Sydney. Sejak sore tadi, masih berpakaian lengkap, bahkan masih memakai jacket.
“Kau tahu nomer berapa kamar kita?” tanya Aditya memecah keheningan.
Sejak siang, Sydney tidak lepas dari buku tebal dan pensil di tangannya. Membiarkan Aditya menganggur, bolak balik ke luar kamar. Akhirnya Aditya memutuskan untuk ke kedutaan mencari informasi, meski hal itu sudah dilakukannya empat tahun yang lalu saat membuat paspor pertama kali. Siapa tahu aturan sudah berubah, hiburnya dalam hati. Dan dia baru masuk kamar menjelang maghrib, membawa satu kresek makanan ringan dan minuman.
Sydney mengangkat matanya, menatap Aditya sejenak, lalu mengedik bahu.
“Kau yang pegang kuncinya.”
“212. Sebaiknya kau mengingatnya baik-baik, atau kau catat di buku. Aku tidak ingin kau salah masuk kamar orang lain dan mengira suami orang adalah suamimu.”
Sydney menundukkan matanya kembali ke buku, “Aku tidak akan lupa.”
“Kau bahkan sudah lupa wajahku, kan?”
Sydney mendongak. Dia memang sudah lupa wajah Aditya. Dan hal itu yang membuatnya bingung sejak tadi. Bila di negeri sendiri, dia masih merasa tenang-tenang saja. Bagaimana bila di negeri orang dia tidak bisa mengenali wajah Aditya.
“Asal kau selalu memakai gelangmu.”
“Jadi kau menikahi gelangku?”
Sydney mendesah panjang, melempar bukunya ke pojok ranjang. Jujur saja, dia tidak bisa berpikir jernih dengan adanya Aditya di hadapannya. Yang tak henti-henti memindainya.
“Aku capek, mau tidur.”
“Tidurlah.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa kalau ada kamu di sini.”
Aditya terkekeh.
“Kau mau pindah ke ranjangku?” godanya.
Sydney menatap tajam Aditya, berpura-pura marah atas ucapannya barusan. Padahal dia berusaha menepis debaran di dadanya yang tak kunjung berhenti. Mereka tidak boleh melakukan apa-apa, meski tidur satu kamar. Sydney tidak bisa menjamin Aditya tidak akan menaklukkannya. Senyumnya saja sudah membuat Sydney tidak bisa memejamkan mata.
“Tidak muat,” sergah Sydney sembari memeluk kakinya.
Aditya tertawa melihat tingkah Sydney. Dia tahu, gadis itu sangat gugup. Pipinya memerah. Tapi dia berusaha mengalihkannya.
“Aku akan mematikan AC, sepertinya kau kedinginan.”
“Tidak usah, aku sudah cukup hangat.”
“Tentu saja. Kau berangkat tidur seperti mau naik gunung. Kamu apa tidak gerah dengan baju berlapis seperti itu? Bukankah kau boleh melepas kerudungmu di depanku?”
Sydney mendelik. Matanya membulat, dan Aditya baru saja menemukan bahwa bila Sydney melakukan hal itu, dia tampak begitu menggemaskan. Aditya menjadi panas dingin. Perempuan di depannya itu halal baginya, dan dia mencintainya. Tapi, janjinya pada Nenek harus dia tepati. Atau dia akan kehilangan Sydney yang sudah lama dicintainya, dan diidamkan menjadi miliknya. Hari ini, malam ini, di kamar ini, semua impiannya terwujud. Seperti bim salabim saja.
“Aku minta kesepakatan.”
“Boleh. Apa itu?”
“Selama kita berdua, aku memakai pakaian lengkap seperti ini. Kau juga.”
Aditya menelan ludah. Sydney benar-benar memasang benteng kokoh. Merpati cantik di depannya, tidak bisa ditangkap dengan mudah. Meski dia tampak jinak dan mudah disentuh. Terus terang, Aditya tidak pernah punya pengalaman dengan perempuan. Selama di Malaysia, hatinya hanya tertambat pada Sydney. Bila dia pulang kampung, dia menikmati gadis itu selalu tidak mengingatnya. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, setiap kali bertemu. Dan itu semakin menguatkan perasaan Aditya pada Sydney.
Bila Sydney minta kesepakatan seperti itu, lalu apa yang bisa didapatnya dari istri sahnya itu? Aditya memutar otak sejenak.
“Asalkan aku setuju.”
“Kenapa permintaanku harus kau setujui? Kau tadi tidak minta persetujuanku?”
Sydney melengos. “Aku yakin kau akan minta yang aneh-aneh.”
“Tidak. Kita berdua sudah suami istri, meski kita tidak punya buku nikah. Tidak ada yang aneh di antara kita. Apapun itu menjadi halal bagi kita.”
“Oke, apa itu.”
“Hmm... aku ingin setiap malam, sebelum tidur, kau diam 1 menit.”
Sydney kembali mendelik, membuat Aditya semakin gemas.
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu. Diam selama 1 menit. Tidak boleh protes, tidak boleh boleh bergerak, tidak boleh melakukan apa-apa, hanya terpejam selama 1 menit.
“Aku tidak percaya kalau hanya itu,” ucap Sydney, merubah posisi duduknya, bersila.
“Ah, ya. Satu lagi. 1 menit itu, kau sambil bersila seperti itu.”
Sydney mengernyit, tidak mengerti.
“Aku sudah sepakat kamu memakai pakaian lengkap selama bersamaku. Sekarang, karena kita mau tidur, aku minta kesepakatanku. 1 menit, kamu bersila, diam, dan memejamkan mata.”
Sydney mengangguk. Dia lalu memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, dia merasakan sebuah sentuhan lembut di bibirnya. Sebuah ciuman! Sydney merasa sekujur tubuhnya menegang, jantungnya seolah hendak melesak keluar. Reflek tangannya mendorong tubuh Aditya yang begitu dekat dengannya. Tapi lelaki itu bertahan, menumpu kedua tangannya di sebelah kanan dan kiri Sydney, seolah mengingatkan Sydney tentang kesepakatan 1 menitnya. Sydney menyerah. Sydney merasakan aliran listrik voltase rendah menjalar di sekujur tubuhnya, membuat dunianya tiba-tiba berhenti dan begitu sunyi. Hanya ada dia dan Aditya.
Perlahan Sydney membuka mata ketika Aditya melepaskan bibirnya. Nafas keduanya tidak teratur, hanya mata yang saling bertaut. Menasbihkan kalimat yang masing-masing tidak bisa mereka terjemahkan. Begitu rumit, tapi indah.
“Kau membuka mata, “ bisik Aditya, menatap Sydney yang hanya berjarak lima centi meter.
“Karena kau lebih dari satu menit,” bisik Sydney, dengan nafas terengah. Dia berusaha mengatur emosinya yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.
“Belum satu menit, baru 30 detik.”
“Tidak, sudah satu menit,” bisik Sydney sembari mendorong dada Aditya menjauh.
Aditya mengangkat sesuatu dari tangan kanannya. Sebuah stop watch! Sydney mendelik. Jadi, Aditya sudah ...
Aditya melanjutkan 30 detik kesepakatannya tanpa menunggu persetujuan Sydney. Kali ini dia sambil menekan kedua tangan Sydney ke atas ranjang, agar Sydney tidak mendorongnya. Sydney menyerah. Dia mengikuti irama Aditya, hingga Aditya mendorongnya sampai bersandar di tembok. Dunianya seketika kembali terhenti. Seluruh rasa dan emosi hanya terpusat di bibirnya. Sydney hanya tahu, dia telah ditaklukkan oleh suaminya.
Ketika Aditya tiba-tiba melepaskan bibirnya, dia langsung berdiri dan mematikan stopwatch yang tergeletak di ranjang Sydney. Nafasnya terengah dan dia menatap Sydney penuh cinta.
“Kau menyalahi kesepakatan,” ucap Aditya lembut.
“Ak .. aku tidak menyalahi...” ucap Sydney gugup. Seingatnya dia hanya duduk bersila, malah Aditya yang mendorongnya hingga menyandar di tembok. Dia juga memejamkan mata, sesuai kesepakatan.
“Kau tadi tidak diam. Kau membalas ciumanku, kan?” goda Aditya.
Sydney merasa wajahnya memanas karena malu. Tidak dipungkirinya, dia begitu menikmati ciuman suaminya, hingga lupa pada kesepakatan bahwa dia harus diam dan memejamkan mata. Sydney meraih stopwatch di ranjangnya, hendak melemparkannya pada Aditya. Namun matanya membeliak melihat jarum yang tertera.
“Kau juga menyalahi kesepakatan. Ini tiga menit.”
Sydney melempar stopwatch itu ke ranjang Aditya. Aditya mengejar stopwatch-nya dan berhasil menangkapnya ketika benda itu mendarat di atas bantal. Sydney bergegas merebahkan diri, menghadap tembok dan menarik selimutnya. Dia tidak yakin bisa terpejam malam ini. Karena untuk menenangkan ritme jantungnya, pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi dia yakin Aditya memindai punggungnya saat ini.