
Pasar masih sepi
ketika Sydney membongkar keranjang yang dibawakan Nenek. Isinya cobek, lontong,
tauge dan kangkung yang sudah direbus, serta bumbu untuk membuat rujak. Sydney
sudah terbiasa membantu Nenek berjualan sejak SD sampai SMA. Kalau sedang libur
sekolah, maka Nenek berjualan rujak di depan rumah, karena Sydney yang
berjualan di pasar.
Berdasarkan hasil
survey pendapatan yang dilakukan oleh Sydney sendiri, bahwa kalau dia yang
berjualan rujak, maka pendapatan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Itulah
sebabnya Nenek selalu memberdayakan tenaganya, kapanpun ada waktu libur. Dan
Sydney, mau tidak mau harus melakukannya. Dia dibesarkan dengan hasil penjualan
rujak. Nenek sudah berjualan rujak sejak sebelum menikah, hingga punya anak dan
cucu.
“Zura, kamu libur
ya?” tanya Mbok Min, penjual tempe di sebelahnya.
“Iya, Mbok. Tiga
bulan.”
“Nenekmu libur? Apa
sakit?”
Sydney menggeleng.
Tangannya cekatan menata cobek dan wadah-wadah berisi lontong, sayur dan bumbu.
Menyiapkan kertas bungkus dan karet. Juga kantung plastik. Kemudian, setelah
semua siap, dia pun duduk dan membuka ponselnya.
“Nenek jualan di
rumah, mbok.”
Mbok Min
mengangguk. Sebentar lagi pasar mulai ramai, mereka sudah harus melayani
pembeli.
Sydney membuka
whatsapp dan mendapati banyak pesan yang belum dibukanya sejak kemarin. Dia
bersyukur, ponselnya tidak terjatuh saat dia dipukuli, dan balik memukuli dua
orang yang menyeretnya keluar dari Restoran Pegasus. Sydney hanya bisa nyengir
menahan nyeri di kaki, lengan dan punggungnya. Tadi Nenek berpesan untuk
membeli beberapa rempah-rempah di kios bumbu milik Mbak Yanti. Pasti Nenek akan
membuat jamu untuk mengobati memar di badan Sydney.
Sydney sudah mual
duluan membayangkan jamu buatan Nenek, padahal jamunya belum dibuat—masih dalam
rencana. Sydney sudah bisa merasakan di ujung lidahnya, rasanya pasti pahit
sekali. Sydney pernah dipaksa minum sama Nenek ketika sepeda pancal yang
dinaikinya masuk sungai. Badannya penuh memar, karena sebelum tercebur ke
sungai, dia terguling-guling di lereng jalan tepi sungai. Dan jamu yang dibuat
Nenek memang manjur menyembuhkan luka memarnya dalam tiga hari. Meski setiap
dia minum, Nenek mengancam akan membuatkan lebih banyak bila dia
memuntahkannya.
Sydney mengernyit
ketika mendapatkan satu nama di chat paling bawah. Nomor itu dia namai Hud Hud.
Sydney tidak ingin, Hud Hud mengetahui kalau dia membaca pesannya. Maka sebelum
dia membuka pesan itu, dia mengatur setelan whatsappnya supaya tidak bercentang
biru.
Assalamualaikum,
Ukhti. Bagaimana kabarnya? Apakah baik-baik saja?
Sydney menelan
ludah. Dia sudah bisa menduga, si Hud Hud dan Reynand pasti mengkhawatirkannya.
Tapi, dia tidak mau membuat mereka dalam kesulitan, gara-gara reaksinya yang
berlebihan.
Sydney meraba
lengannya yang memar. Untung saja lengan kiri, sehingga Sydney masih bisa
menguler rujak dengan tangan kakan. Dua lelaki itu pasti bodyguard wanita gila
itu. Dan, Sydney yakin, mereka sedang mencarinya kini, karena telah gagal
menunaikan tugas. Yaitu meringkus Sydney yang telah mengacaukan acaranya. Acara
menempeleng Reynand.
Perempuan itu
sepertinya belum puas bila bukan dia sendiri yang melumpuhkan Sydney.
“Zura?”
Sydney menengadah,
dan mendapati seorang pemuda berambut keriting sedang menatapnya Siapa lelaki
ini? Semoga bukan teman kuliahnya. Seingatnya, tidak ada teman satu almamater
dengannya di kampung ini. Pasti, dia teman SMA atau SMP. Atau bahkan anak
tetangga teman mainnya dulu.
“Rujak, Mas? Berapa
bungkus?”
“Eh ... aku tidak
mau beli rujak sebenarnya. Tadi beli ayam, terus lihat kamu.”
“Jadi beli rujak
apa tidak?” tanya Sydney sembari menunduk, berusaha keras menggali ingatannya.
Lelaki ini pasti sangat mengenalnya. Lelaki tinggi, keriting dan ... Sydney
mengangkat wajahnya untuk mendapati wajah lelaki itu. Lelaki itu tersenyum
padanya. Senyumnya sungguh menawan. Dan dia ... tampan.
Sydney yakin
pipinya pasti memerah. Entah kenapa, senyum lelaki itu membuatnya salah
tingkah.
“Aku beli deh. Dua
bungkus. Buat aku dan ibu.”
Sydney mengangguk.
Dia memilih untuk tidak membuka percakapan, atau lelaki itu akan membuatnya semakin
salah tingkah. Dia duduk di bangku panjang di sebelah meja tempat Sydney
membuat rujak.
“Kamu kuliah di
Surabaya, kan?”
“Iya.”
“Sekarang libur,
ya?”
“Iya.”
Sydney
menyelesaikan pesanan rujak lelaki tampan itu, tidak sampai lima menit. Lelaki
itu mengulurkan lembaran lima puluh ribuan.
“Tidak ada
kembalinya, uang kecil saja.”
“Ambil buat kamu.”
“Ah, tidak.
Pagi-pagi dilarang berhutang, pesan Nenek.”
“Ini bukan hutang.”
Lelaki itu
menyelipkan lembaran biru itu di sela-sela wadah sayuran. Dia kembali tersenyum
sembari menatap Sydney, lalu mengangkat kantung plastik rujaknya.
“Kau tidak bisa
mengingatku, kan?”
Sydney diam. Lelaki
ini pasti tahu banyak tentang dirinya.
“Kusarankan kau
ikut terapi di Surabaya. Aku tahu beberapa. Mau kuberi nomor telponnya?”
Sydney tidak
bereaksi. Entah kenapa, tiba-tiba alarm tanda bahaya berdering di kepalanya.
Lelaki ini tahu banyak tentang dirinya.
“Siapa namamu?”
tanya Sydney, berusaha tanpa ekspresi. Meski, dia tidak tahan melihat lelaki
itu tersenyum-senyum. Sepertinya lelaki itu menyadari pesona senyumnya. Tapi
Sydney bersumpah, senyum itu tidak akan membuat lututnya gemetaran. Reynand
dan nyaman, seolah dalam perlindungan. Dengan Reynand, Sydney seolah bayi dalam
dekapan.
“Aditya. Kamu pasti
tidak ingat, kan?”
Sydney menjejalkan
nama itu dalam ingatannya. Aditya, pasti nama itu ada di buku hariannya. Dia
pernah mendengarnya, bahkan pernah menuliskannya. Cuma dia harus memastikan
sendiri dengan melihat buku hariannya.
Aditya tersenyum
melihat Sydney tampak kebingungan. Dia kemudian mencondongkah badannya, hingga
wajahnya mendekati wajah Sydney. Sydney mundur satu langkah, dan tangannya
mengepal, alarm tanda bahayanya berdering. Meskipun bewajah menawan, lelaki di
hadapannya bisa jadi membahayakan.
“Kau pasti juga
lupa, kalau aku pernah berjanji untuk menikahimu, kalau kita sudah besar, kan?”
Sydney terperangah.
Menikah? Dengan lelaki ini? Siapa dia?
Belum sempat Sydney
mendapatkan jawaban, lelaki itu sudah beberapa langkah meninggalkannya.
“Hei... k...
kamu....”
Namun Aditya sudah
berlalu, menghilang di antara kerumunan orang pasar.
***
Sydney membongkar
tumpukan buku hariannya. Dia yakin, pernah menulis nama Aditya. Mungkin di masa
kecilnya, mungkin juga di masa remajanya. Dia tidak ingat. Tapi, dia harus
menemukan nama itu. Lelaki dengan senyum menawan dan berwajah tampan. Wajah
yang tidak setiap hari bisa diingatnya.
“Katamu libur tiga
bulan? Kok masih belajar?”
Sydney tidak
menggubris ucapan neneknya. Buku hariannya, semuanya bertanggal. Dan ada sketsa
wajah di dalamnya, untuk orang-orang yang wajib diingatnya. Lelaki itu berjanji
menikahinya ketika sudah besar, artinya dia ada di masa kecil Sydney.
Melihat Sydney
tampak sibuk, Nenek menghidupkan televisi dan memutar film India yang
dinantinya.
Sampai menjelang
asar, Sydney tak menemukan nama itu. Semua buku harian sudah dibukanya. Pasti
ada yang terlewat. Mungkin nama lelaki itu bukan Aditya. Mungkin nama kecil,
yang lebih dikenal. Orang kampung di sini, lebih mengenal nama kecil daripada
nama asli.
“Nek ...”
“Hm...” sahut Nenek
tanpa menoleh.
“Apa di sini ada
anak bernama Aditya? Seumuran aku lebih tua. Orangnya keriting dan ... cakep.”
Sydney menelan
ludah ketika mengucapkan kata terakhir.
“Cakep?”
“E... iya. Cakep.”
“Dia beli rujak?”
“Nenek kok tahu?”
“Dari mana lagi
kamu dapat orang cakep selain habis jualan rujak? Dari dulu, kalau kamu yang
jualan, yang beli orang cakep semua.”
Sydney merasa
pipinya memanas. Sepertinya memang begitu. Waktu dia SMA, banyak lelaki
menggodanya saat beli rujak, tapi tak ada yang berani sampai menyentuhnya.
Sydney pernah mematahkan jari seorang lelaki berumur separuh abad, gara-gara
mencolek pinggangnya saat beli rujak. Tapi, kemudian, tak juga lelaki kapok
membeli rujaknya. Malah semakin ramai.
“Ini penting, Nek.
Sepertinya dia tahu kalau aku pikun.”
Nenek mendesah
panjang, “Memang kenapa kalau kamu pikun? Kan enak malah, tidak ingat apa-apa.
Tidak seperti Nenek. Semuanya masih Nenek ingat, jadi Nenek sering sakit kepala
memikirkannya.”
Sydney berjalan
mendekati Nenek, lalu duduk di sebelahnya.
“Dia bilang, kalau
dia pernah berjanji menikahiku ketika besar.”
Nenek terdiam.
Sydney curiga, Nenek pasti mengingat sesuatu. Nenek pernah bilang, dia harus
mengingat banyak hal karena Sydney pelupa. Makanya sejak itu, Sydney
mengandalkan buku hariannya. Tapi, kenapa nama itu tidak ada di dalam buku
hariannya?
“Jadi, dia beli
rujak?”
Sydney semakin
yakin bahwa Nenek sudah mengetahui siapa lelaki yang dimaksud. Mata Nenek
menatap televisi, tapi pikirannya tidak di sana.
“Anak itu baru
pulang.”
“Pulang dari mana,
Nek?”
“Dari Malaysia.
Katanya dia sekolah di sana dapat beasiswa seperti kamu. Orang kampung sejak
seminggu kemarin membicarakan dia. Di kampung sini, hanya dia yang sekolah
sampai ke Malaysia. Kalau seperti Nukin dan Maysaroh, mereka jadi TKI.”
“Siapa dia, Nek?”
“Anung.”
“Anung? Bukan Aditya?”
“Kamu menjulukinya
Anung. Aditya Nugraha.”
Anung!
Sydney melompat
kembali ke tumpukan buku hariannya. Dia ingat jelas nama itu. Anung, lelaki
yang menolongnya dari sungai, ketika dia tercebur bersama sepedanya.
Seingatnya, waktu itu Anung bukan lelaki setampan di pasar tadi. Apakah karena
waktu itu, Sydney masih berusia sepuluh tahun, tidak mengerti apa itu tampan
atau jelek. Lagipula, Sydney tidak bisa mengingat wajahnya.
“Kalau dia benar
mau menikahimu, dia harus melangkahi mayatku.”
Sydney tertegun.
Kenapa? Pasti ada sesuatu pada Anung. Dan jawabannya ada di buku hariannya.
Sydney membuka kembali buku hariannya, mencoba mengingat tahun saat dia
tercebur di sungai. Seorang anak remaja menolongnya ketika itu, karena Sydney
nyaris tenggelem. Anak remaja itu menuntunnya pulang, sementara Sydney menangis
sepanjang jalan. Menangis karena trauma ketakutan. Dan anak itu mendekapnya,
menghiburnya. Tapi, masa iya dia berjanji menikahinya saat itu? Kalau memang
iya, Sydney pasti sudah menemukannya di buku hariannya.
“Dia adiknya Mila,
Zura. Camkan itu. Mila itu pengkhianat. Kamu tidak akan menemukan buku harianmu
yang itu. Nenek sudah membuangnya.”