
Hud tak banyak berbicara sejak kemarin. Reynand juga. Mereka berdua lebih banyak diam, lebih tepatnya saling mendiamkan. Kamar mereka, lagi-lagi seperti kuburan. Dua orang berdiam, berlalu-lalang di dalamnya, tanpa berkata-kata. Seperti dua orang yang memang sengaja tak bertegur sapa, karena ngambek.
“Hei, nitip makan gak? Aku sama Faris mau nyari nasi goreng, laper.”
Pintu tiba-tiba terbuka dan satu raut wajah muncul. Mas Hanif. Dan lelaki itu mendapati Rey yang sedang tepekur di meja belajar, dan Hud yang asyik dengan bukunya, telungkup di ranjang.
“Woi...... diet apa ngirit?”
Rey mengangkat tangannya, tanpa menoleh. Punggungnya menegak sebentar, lalu membungkuk lagi. Mas Hanif manggut-manggut melihat reaksi Rey. Anak itu, bos di rumah ini. Meski lagaknya masih seperti anak kuliah lainnya, tak ada bedanya. Hud meliriknya sekilas, lalu menoleh ke Mas Hanif.
“Aku nitip buat sahur nanti malam, Mas.”
“Besok? Sabtu Hud. Kamu puasa apa?”
Hud terdiam. Bahkan dia sudah mengira besok adalah Senin. Saking lamanya dia berdiam di kamar. Hud mendesah panjang, bangkit dari ranjang, lalu menghampiri pintu.
“Gak jadi nitip, nanti aku keluar.”
“Ini sudah jam 10. Sebentar lagi pintu digembok.”
“Gampang.”
Mas Hanif mengedik bahu, melongok ke punggung Rey sekejap, lalu berlalu. Hud menutup pintu, menyandarkan punggung di sana. Menatap punggung Rey yang masih membungkuk di depan meja belajarnya. Sejak tadi, dia asyik dengan gambarnya. Hud tiba-tiba merasa bersalah. Sejak kemarin dia tidak bertanya pada Rey tentang gadis itu. Apa yang membuatnya merasa begitu berat bertanya, seharusnya tidak pantas bermain di hatinya. Entah kenapa, dadanya selalu berdenyut nyeri bila mengingat Rey dan Sydney. Padahal dia sama sekali tidak punya hak atas semua itu.
Sydney bukan miliknya. Meski dia lebih dulu tahu dan mengenal Sydney daripada Rey. Hud mendesah panjang. Seharusnya dia tidak tersiksa dengan semua ini. Oke, dia menjadi malas melihat Sydney, gadis yang dia hormati selama ini, ternyata begitu mudah disentuh oleh Rey. Alangkah bodohnya dia telah tertipu selama ini. Tidak semua gadis berjilbab seperti yang dia bayangkan. Hanya dengan sosok Rey—yang tampangnya bak artis korea—Sydne sudah takluk, tak berdaya.
So, tidak ada yanga salah sebenarnya dengan Rey.
Lalu kenapa Hud mendiamkannya sejak kemarin? Bisa jadi, lelaki itu sangat membutuhkan pertolongannya. Seperti sebelumnya. Meski dia mampu menaklukkan hati banyak gadis, sebenarnya dia lemah. Penolakan keluarga begitu menghantam dirinya.
Sydney bisa jadi sebuah pelarian, Hud menghibur dirinya.
“Rey.... kamu tidak makan?”
“Kenyang, “ sahut Rey lirih. Hud agak terkejut mendengar jawaban spontan Rey. Lelaki itu, seolah menunggunya berbicara.
“Bagaimana pertemuanmu dengan Sydney?”
Rey menegak, lalu perlahan memutar badan. Dan dia mendapati Hud masih bersandar di belakang pintu. Tatapan lelaki itu seolah menghakiminya. Laiknya hakim yang tak mau tahu alasan apapun yang dihantarkan terdakwa padanya. Dia, seperti bukah Hud yang dia kenal sebelumnya. Hud yang ini, tampak memendam marah di dadanya.
“Tidak jadi.”
Hud mengangkat punggungnya dari daun pintu. Reaksi yang membuat Rey mengernyit halus. Hud, memberi perhatian pada masalahnya. Bukan tidak peduli seperti sangkaannya. Dan, sepertinya Hud menangkap reaksi terkejut Rey barusan. Dia menyamarkannya dengan berjalan menuju ranjangnya, berbaring dan bertingkah seolah tak peduli. Tapi Rey tahu, Hud sangat ingin tahu pertemuannya dengan Sydney.
“Bukannya kau sudah menemuinya kemarin?” tanya Hud sembari meraih buku tebalnya, membuka halaman demi halaman, berusaha mengalihkan perhatian. Entah perhatian Rey, atau perhatiannya sendiri.
Rey mengawasi tingkah Hud, dan Hud bisa merasakan sepasang mata Rey kini berbalik merajai suasana. Gara-gara ekspresi terkejutnya barusan, yang sebenarnya berusaha dia samarkan sehalus mungkin. Betapa, dia sedikit senang Rey menjawab tidak jadi menemui Sydney—meski Hud tahu itu tidak benar.
“Kau melihatku menemuinya?” tanya Rey, dengan nada menyelidik.
Hud menghentikan kegiatannya, membolak-balik halaman.
“Ya, aku melihatmu. Kau mencegah Sydney memukuli mahasiswi itu kan?” ucapnya tanpa menoleh ke arah Rey.
Sepasang mata Rey meredup perlahan, setelah analisanya berakhir dengan pemikirannya. Hud mengikutinya begitu dekat, begitu detil memperhatikan dia. Dan setelah itu, berpura-pura tidak peduli pada masalahnya. Apa yang ada dalam pikiran teman sekamarnya itu? Bahwa Rey adalah mahasiswa aneh yang selama ini selalu merepotkannya? Bahwa Rey adalah orang yang sangat ingin dia berlepas diri dari segala masalah yang menghimpitnya. Bahwa Rey, sedang mengejar-ngejar Sydney?
“Apa itu benar, Rey?” tanya Hud, menoleh ke arah Rey yang kembali membalikkan badan, kembali membungkuk di atas meja belajarnya.
“Tidak, “ sahut Rey
Tiba-tiba Rey ingin mengetahui bagaimana reaksi Hud bila dia berbohong. Hal yang selama ini tidak dilakukannya. Anggap saja, meski analisanya membenarkan Hud berada di sana dan mengetahui semuanya, tapi Rey tidak mengetahui hal itu. Bukankah sah-sah saja bila dia berbohong.
“Oh ya?”
Hud terpancing. Rey tersenyum
“Jadi, setelah rasa penasaranmu selama ini pada Sydney, kamu kemudian berlalu begitu saja? Setelah bertemu dengannya?”
“Aku ragu.”
“Ragu? Apa yang ...”
Hud tak jadi meneruskan perkatannya. Rey bangkit dari meja belajarnya, mematikan lampu dan sejurus kemudian tengkurap di ranjangnya. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang sudah mulai membaik ini.
“Setelah aku memegang tangannya, aku menjadi ragu.”
Hud menelan ludah. Jadi yang dilihatnya benar. Rey menggandeng tangan Sydney, dan membawanya entah kemana. Pemandangan yang membuat Hud tiba-tiba merasa begitu tertohok. Tidak tahu apakah dia harus kecewa, marah atau patah hati?
Hud melirik jam di dinding. Dan telinganya menangkap suara pagar digeser dan digembok. Tiba-tiba dia merasa lapar.
“Dia menolakku, Hud.”
“Menolak? Apa kau memintanya jadi pacarmu?” tanya Hud spotan, karena tiba-tiba ada rasa gembira menelusup hatinya. Tapi, sedetik kemudian dia menyesali kalimatnya.
“Maaf, Rey. Aku tidak bermaksud…”
“Tidak apa-apa Hud. Aku maklum bila kamu menganggapku demikian. Aku memang berusaha mendekati Sydney, karena dia adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakitku.”
Hud mulai memberikan perhatian. Penyakit Rey, prosopognasia. Dia tidak bisa mengingat sebuah wajah. Makanya, dia selalu mengidentifikasi seseorang berdasarkan apa yang biasa dia kenakan. Sebagai teman sekamar, Hud sedikit banyak tahu tentang Rey dan keluarganya. Juga tentang terapi yang sudah lama dijalaninya, sejak masih SMP. Tanpa diminta, Hud sudah menjadi kakak sekaligus bodyguard Rey.
“Maksudmu?”
“Dari semua wajah, hanya wajah Sydney yang bisa kuingat. Wajahnya tidak pernah menjadi asing. Selalu ada di pelupuk mataku, sebagaimana suara selalu berdenging di telingaku. Karena itu, aku harus mencari tahu jawabannya.”
“Dan dia menolakmu.”
“Dia menyuruhku untuk tidak lagi mendekatinya. Padahal, dia satu-satunya harapanku untuk bisa sembuh.”
Hud terdiam. Kini dia tidak tahu lagi bagaimana harus mengatur perasaannya. Rey membutuhkan gadis itu.