
Hari Minggu, semua penghuni kost libur kuliah. Biasanya tempat kost sepi, karena beberapa ada yang mudik. Ada juga yang berkegiatan lain di kampus. Dan kegiatan paling umum dilakukan adalah mencuci. Kamar mandi dan tempat cucian tidak pernah kosong. Semua orang mengantri sembari berkalung handuk.
Mas Hanif mengumpulkan semua penghuni kost untuk rapat di tempat parkir tepat jam sembilan. Sebelumnya sudah diumumkan di grup WA, jadi semua sudah harus berada di tempat parkir meski masih berkalung handuk, atau tangannya masih penuh busa karena belum selesai mencuci. Rapatnya sambil berdiri atau duduk di motor masing-masing.
Sementara, Reynand masih berada di balkon jemuran. Hanya dia yang tidak pernah antri mencuci baju. Karena selalu ada laundry yang menjemput dan mengantar cuciannya. Semua penghuni kost memaklumi, karena memang Reynand berduit, meski dia selalu berjalan kaki bila berangkat kuliah.
“Rey, Mas Hanif ngajak rapat, “ ucap Hud setelah selesai menjemur.
Rey bergeming, hanya menatap ujung gang dengan dagu menempel di pagar balkon. Sepertinya dia menunggu sesuatu.
“Iya, sebentar,” sahutnya lirih. Sudah sepekan berlalu, dan dia belum mendapati kembali wajah itu. Kerinduan menghimpit dadanya, dan pikirannya menjadi tidak tenang. Balkon adalah tempat favoritnya belakangan ini, duduk sembari memegang buku dan memandang ujung gang. Namun, yang dinanti tak pernah muncul.
“Kau menunggu sesuatu?”
Rey sontak menegak, “Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Kamu tidak ikut rapat?”
Rey mengangkat bahu dan mendesah panjang. Dia harus bertemu dengan wajah itu, atau dia tidak akan bisa mengingat lagi. Hanya wajah itu yang membuatnya bersemangat menunggu matahari terbit setiap hari.
“Ini berkaitan dengan posisimu sekarang, Rey. Kamu pemilik rumah ini. jadi kau harus hadir. Mereka sudah menunggu di tempat parkir.”
Rey menunduk dalam. Pengacara Julius sudah menelponnya mengatakan hal itu. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Pasti sikap penghuni kost ini akan berbeda nantinya. Dia saja sudah merasa aneh dan asing dengan penyakitnya, bagaimana nanti bila semua penghuni kost memanggilnya bapak kost? Terasa aneh di telinganya.
Hud berdiri di depan pintu, berdehem berkali-kali. Rey menoleh kesal. Hud tersenyum. Dia tahu bagaimana cara memaksa Rey keluar dari dunianya. Rey akhirnya meninggalkan balkon, mengikuti langkah Hud turun ke tempat parkit. Ada sekitar 15 orang di tempat parkir, jumlah yang luar biasa bisa mengumpulkan mereka di waktu yang sama. Dari 36 orang anak kost, setiap pertemuan memang tidak pernah memenuhi quorum.
“Ayo, Rey. Sini. “ ujar lelaki berkopiah putih melambai ke arah Reynand.
Hud membisiki Reynand, “Mas Hanif”
Rey mengangguk-angguk, lalu menjajari Mas Hanif.
“Ayo pidato.”
Rey menoleh ke Mas Hanif, dan lelaki berkopiah putih itu tersenyum hangat dan menunduk memberinya ijin. Rey memindai semua wajah asing di hadapannya. Di pagi hari, mereka sulit dikenali dari kostumnya. Biasanya setiap mahasiswa punya kostum khas kalau berangkat kuliah, menjadi penanda bagi Rey bila bertemu mereka di jalan. Tapi di rumah, mereka lebih suka pakai singlet dan sarung.
“Hm ... saya tidak tahu harus ngomong apa...” ucap Rey gugup.
Mas Hanif menepuk pundak Rey, “Oke, jadi langsung saja. Papa Rey baru saja meninggal dunia. “
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” terdengar gumaman serempak.
“Maaf, Rey.. kami baru tahu,”
“Iya, Rey, maaf.”
“Tidak apa-apa, Rey juga tidak bilang sama kita. Hanya Hud yang tahu,” lanjut Mas Hanif, “kami menyampaikan belasungkawa untuk Papa Reynand. Semoga husnul khotimah. Nah, berhubung waktu kita kalau pagi seperti ini sangat pendek, langsung saja saya sampaikan, bahwa Rey adalah pemilik tempat kost ini sekarang. Sebelum meninggal, Papa Rey sudah membeli tempat kost ini. Dan Rey juga baru tahu kalau sekarang dia mewarisi rumah ini.”
Beberapa orang bertepuk tangan. Rey hanya menunduk.
“Barakallah Rey ...”
“Hidup bapak kost kita!”
“Jadi, sebagai tugas pertama kita untuk menyambut bapak kost baru, saya minta tolong, barang-barang Rey dipindahkan ke satu kamar kost di belakang yang masih kosong. Karena Rey sudah pindah dari rumahnya dan menetap di sini.”
“Siaaap!”
Rey menatap teman-temannya yang kembali bertepuk tangan. Rey menatap tumpukan barang di pojok parkir, dan yang memakan tempat adalah pianonya. Dia merasa tidak enak karena teman-temannya menjadi kesulitan saat parkir. Untung saja tempat parkir ini sangat luas, dan beberapa teman juga tidak begitu peduli dengan barang-barang Rey yang memakan tempat.
“Sebentar Mas Hanif, saya boleh ngomong sebentar ya?” tanya Rey sebelum teman-temannya beranjak.
“Ayo silakan, kan sudah disuruh pidato tadi.”
“Assalamualaikum…..” ucap Rey perlahan, berusaha menepis gugupnya. Dia tidak pernah pidato di depan lebih dari dua orang.
“Waalaikumsalam…” sahut semua peserta rapat serempak.
“Sebelumnya saya mohon maaf. Saya memang tidak memberitahu bahwa Papa sudah meninggal. Karena masih banyak masalah di keluarga kami yang belum selesai. Jadi, saya sendiri juga masih bingung bagaimana seharusnya. Jadi, saya memutuskan untuk membawa semua barang ke rumah ini. Saya mohon maaf kalau akhirnya memakan tempat.”
Reynand menjeda pidatonya, tidak mengira dia bisa beruap dengan kalimat sepanjang itu. Dan teman-temannya manggut-manggut.
“Sebelumnya saya tidak tahu bagaimana mengelola tempat kost. Saya cuma tahu rumah ini jadi milik saya saja. Jadi, untuk ketua kost tetap Mas Hanif. Untuk bayar kost tidak usah, gratis saja! Saya sudah merasa senang, kalian semua bersedia menemani saya di sini.”
“Woooo ... mantap!”
“Hidup bapak kost!”
Kembali tepuk tangan membahana, kali ini lebih keras. Rey merasa pundaknya ditepuk-tepuk oleh banyak tangan. Dia menoleh, ternyata banyak yang berdiri di belakangnya, sepertinya menyusul baru keluar dari kamar atau baru selesai mencuci.
“Sebentar, sebentar.. “ sahut Mas Hanif, “karena, kita tahu Papa Rey sudah tiada. Pastinya Rey pun akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya tidak setuju gratis, Rey. Kita di sini memakai air, listrik, internet dan ada petugas kebersihan. Bagaimana kalau untuk biaya itu semua, kita iuran saja. Juga untuk membayar petugas kebersihan. Soalnya kalau serba gratis, biasanya kita kurang merasa memiliki dan bertanggung jawab. Bagaimana?”
“Setujuuuuuuu....”
“Oke, PJ untuk iuran Faris sebagai bendahara.”
“Setujuuuuuu...”
Rey belum sempat membuka mulut lagi, tahu-tahu beberapa orang memeluknya bergantian. Mengucap bela sungkawa, memintanya bersabar dan berterima kasih. Rey sampai merasa matanya memanas dan dia hanya bisa mengerjap-ngerjap, menatap wajah-wajah asing yang begitu hangat padanya.
Dan tumpukan barangnya satu per satu pun diangkat ke lantai 2.
Hud menepuk pundaknya berkali-kali, dan terakhir mengalungkan tangan di lehernya. Rey menyusut air di sudut matanya. Tidak pernah dia merasa begitu diterima seperti ini. Di rumah coklat, dia seperti pangeran yang selalu dituruti keinginannya. Tapi dia tahu, semua pelayan melakukannya agar supaya tidak dipecat oleh Mamanya. Dia tidak menyangka, menggratiskan biaya kost yang spontan muncul dari mulutnya tadi, membuatnya begitu bahagia.
“Terima kasih banyak, Rey. Semoga urusanmu dengan Mamamu segera selesai, dan kamu bisa hidup dengan tenang.”
“Makasih, Hud.”
Hud menganguk. Pastinya Reynand tidak akan rugi dengan menggratiskan tempat kost. Dia tidak pernah kekurangan uang.