
Pintu polos hijau tua itu terbuka lebar. Seraut wajah asing muncul dan tersenyum. Reynand menundukkan muka. Lelaki itu memahami tingkah Reynand.
“Masuklah Reynand Milan Bramantya,” ucap lelaki itu ramah.
Cukup bagi Reynand mendengar password itu. Pak Ucok Hadi, psikiaternya. Hanya dia yang bisa menyebut nama tengahnya. Itu karena password yang diberikan Reynand padanya.
“Sudah lama kau tidak ke sini, kukira kau sudah sembuh. Duduklah.” ucapnya ramah sembari mempersilakan Reynand duduk di sofa.
Reynand memindai ruangan. Ruangan bercat putih dengan rak buku besar di dinding. Sebuah meja kerja dan satu set sofa hijau lumut tanpa meja. Ruangan ini tidak berubah. Reynand yakin dia berada di ruangan yang memang diinginkannya, meski wajah pak Ucok Hadi masih berusaha dijejalkannya di memorynya. Sudah lama sekali dia tidak memasuki ruangan ini. Ucok Hadi adalah orang yang direkomendasi mendiang Papanya untuk mengatasi masalah ingatannya. Terkadang kalau sudah terbentur masalah, Reynand menyesali beberapa sesi yang dia tinggalkan.
Reynand duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. Sebuah helaan nafas panjang dirasakannya mengembun di udara. Ruangan ini begitu dingin.
“Sudah mengingatku?” tanya Pak Ucok mengambil tempat duduk berhadapan dengan Reynand. Lelaki ini akan demikian sabar menghadapainya, menantinya mengumpulkan memorynya. Sesi-sesi awal terapi, bahkan Reynand hanya diam tak berbicara sepatah katapun. Sebagai therapist, Pak Ucok selalu memberikan ruang waktu yang panjang bagi Reynand.
Reynand mengangguk.
“Aku mengalami banyak kejadian enam bulan ini.”
“Aku ikut berduka atas Papamu.”
“Terima kasih.”
“Apa itu berpengaruh pada perkembanganmu? Kau mulai lupa wajah Papamu?”
Reynand menggeleng. Bila tidak ada foto Papa di dompetnya, dan sebuah pigura di meja belajarnya, dia pasti sudah menganggp asing Papanya.
“Rilekskan dirimu, kau bisa mulai bercerita kalau sudah siap. Aku sabar menunggu.”
Reynand menegakkan punggungnya, “Aku tidak tahu, apakah kematian Papa berpengaruh. Tapi aku mengalami satu kejadian yang menyebabkan aku mengingat sebuah wajah, dan itu tidak pernah hilang.”
“Benarkah? Siapa?”
“Aku tidak tahu siapa dia. Yang jelas, kejadian saat aku bertemu dengan dia, begitu menegangkan. Apa mungkin karena kejadian menegangkan itu, sehingga aku bisa mengingat wajahnya sampai sekarang.”
“Kapan kejadiannya?”
“Tiga hari yang lalu. Sampai sekarang aku masih ingat.”
Pak ucok menangkupkan kedua tangannya, sedang memikirkan sesuatu. Dipindainya raut wajah Reynand yang tampak kebingungan, tapi menyiratkan sebuah kepastian. Anak itu meyakini satu ingatan, seraut wajah.
“Bagaimana dengan wajah Hud?”
“Kalau seharian tidak bertemu, wajahnya kembali asing.”
“Wajah yang lain?”
“Sama. Kecuali wanita ini.”
“Jadi, dia wanita? Apa kau jatuh cinta padanya?”
Reynand mengeleng, “Aku tidak tahu.”
“Cari dia.”
“Bagaimana?”
“Cari dia. Bukankah kamu mengingat wajahnya. Bisa jadi dia jalan untuk menyembuhkan penyakitmu. Cari dia.”
Reynand tercenung. Tiga hari ini, dia melintasi rumah tempat perempuan berjilbab itu pertama kali keluar. Di situ tempat kost perempuan dan semuanya berjilbab. Selama tiga hari, dia bolos kuliah hanya untuk duduk di balkon, setiap dua jam sekali, menanti pemilik wajah itu kembali melintas di bawah balkonnya.
Tapi wajah itu tidak ditemukannya kembali.
“Entahlah. Aku ingat saja. Kadang kalau aku bercermin, aku seolah melihat dia tersenyum padaku. “
Pak Ucok diam dan sejurus kemudian kembali berkata, “Cari dia, dekati dia, kau harus mengenalnya. Lebih mengenalnya daripada dirimu sendiri.”
Reynand mendesah panjang, menyandarkan kepala di sandaran sofa. Dia mulai putus asa, dan Pak Ucok harus segera memutus rasa itu muncul. Kalau tidak, Reynand akan kembali tenggelam dalam keterasingan sekelilingnya, dan yang lebih parah lagi adalah tidak lagi menghadiri sesi terapi yang dijadwalkan. Pak Ucok melirik kamera yang dipasang di sebuah tripod, dan melihat lampunya berkedip. Sesi ini sedang terekam.
“Kau tidak mencoba melukisnya? Seperti wajah gadis kecil yang kau ceritakan itu?”
Reynand sontak menegak, “Menurut Pak Ucok, apa dia orang yang sama?”
Reynand merasa dadanya berdegup. Bila dia bisa mengingat wajah gadis itu begitu jelas, bisa jadi dua wajah itu adalah orang yang sama.
“Kamu harus menemukan gadis itu untuk menjawab semua pertanyaanmu. Dekati dia.”
***
Reynand memaksakan diri untuk kuliah di hari keempat. Itu berarti meninggalkan balkonnya, dan kehilangan kesempatan untuk mencari wajah itu. Tapi, bisa jadi, wajah itu ada di sepanjang jalan menuju kampus.
Sejak mengingat wajah itu, Reynand sedikit melupakan masalah Mamanya. Ada rasa nyaman dan bahagia setiap wajah itu melintas di benaknya. Membuatnya mengulum senyum karena dadanya menghangat
“It worth to try, “ gumam Reynand dalam hati, bertekad sendiri.
Kuliahnya selesai menjelang jam dua belas. Reynand menunda janjinya dengan Hud untuk mendaftar menjadi anggota Mapala. Perubahan ekstreem pada dirinya pasti akan membuatnya sakit. Mungkin dia harus belajar bela diri lebih dulu. Seperti gadis itu.
Maka langkah Reynand menuju kantin. Di sana dia pernah melihat pengumuman kelas taekwondo dibuka. Mungkin masih ada tempat buatnya di sana. Awalnya dia tak pernah peduli masalah kegiatan fisik seperti ini, tapi kini dia harus peduli. Dia dia mewajibkan dirinya untuk peduli. Gadis itu, pasti bisa bela diri. Melihat gerakannya, itu bukan gerakan refleks. Tapi terencana dan terlatih. Untuk mengenalnya, Reynand harus mengenal bela diri juga. Siapa tahu menjadi jalan baginya bertemu.
Pengumuman itu ditempel di salah satu pilar di tengah kantin. Kantin ini mengalami perluasan, tapi pilar induk masih dibiarkan. Biasanya, banyak selebaran dipasang di sana. Dan benar saja, pengumuman taekwondo itu masih melekat di sana.
Reynand berdiri tegak, memegang pilar itu dengan tangannya, seolah tak ingin pilar itu berpindah dan dia akan kehilangan informasi. Jadi, latihan taekwondo sepekan dua kali. Reynand mengangguk-angguk, dia yakin bisa di hari itu. Maka dia pun mengeluarkan ponselnya, mencatat nomer kontak yang akan dihubunginya. Tidak, dia harus menelponnya sekarang juga.
Reynand mendial nomor yang tertera. Saat itu, matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di matanya. Benar-benar tidak asing, karena di sekitar kantin semua wajah adalah asing baginya. Tapi satu wajah itu, begitu lekat di matanya.
Gadis berjilbab biru langit, berjaket biru tua dan menyandang ransel. Di tangannya ada sepiring makanan. Reynand meyakinkan dirinya bahwa dia gadis penakluk pencopet itu. Reynand menatapnya tak berkedip, mengamatinya membawa makanannya melintas di antara para mahasiswa yang semuanya sedang duduk di kursi menikmati makanannya. Gadis itu dengan lincah bergerak di antara meja, dan mengangkat piringnya setinggi dada.
Saat posisi Reynand menghadap gadis itu tegak lurus, tiba-tiba gadis itu seolah merasa ada yang memandangnya. Dia menoleh, dan langkahnya terhenti. Dia membeku sebagaimana Reynand pun membeku. Mereka berdua, saling menelisik wajah, tanpa berusaha menggali memory. Membiarkan sekeliling menjadi bisu, seolah hanya mereka berdua di kantin.
“Halo ? Haloooooo .....” suara di seberang telepon Reynand menyentak Reynand.
“Ya ... ya .. halo. Saya .... saya hubungi lagi nanti. “
Reynand memutus teleponnya, dan dia sudah kehilangan wajah tadi. Dengan kesal, dia lalu mencari seraut wajah tadi. Dia tak ingin kehilangan wajah itu. Wajah itu seperti bintang terang di kelamnya malam. Seperti wajah populer di kalangan figuran. Seperti slide berwarna di antara hitam putih wajah-wajah asing di sekelilingnya.
Ternyata dia bergabung bersama komunitasnya. Para wanita berjilbab. Dia memunggungi Reynand. Reynand perlahan melangkah mendekat. Ada magnet yang menariknya untuk mendekati gadis itu. Sebuah warna yang semakin menjelas. Dan gadis itu menoleh, memaku Reynand di tempatnya. Membuat suasana ramai begitu sunyi dan Reynand merasa nyaman berada dalam jangkauan tatapan gadis itu.
Reynand tiba-tiba merasa begitu rindu pada gadis itu.
“Rey! Ke mana saja kamu!”
Suara Hud. Dan dia langsung membalikkan badan Reynand, lalu menunjuk badge di jaketnya. Badge mapala. Hud telah mengoyak kebekuannya tanpa ampun.
“Kami menunggumu!” seru Hud riang, lalu menarik tangan Reynand.
Reynand berusaha bertahan, tapi Hud lebih kuat. Mau tidak mau dia harus mengikuti langkah Hud. Berkali-kali dia menoleh ke belakang, dan mendapati wajah itu menatap kepergiannya.