
Sydney kembali menyusup ke dalam selimut, selepas sholat subuh. Dia kedinginan. Tidak menyangka sama sekali kalau Tokyo begitu dingin. Tidak sehangat kampung halamannya apalagi Surabaya. Dia bahkan nyaris tayamum saat hendak sholat malam. Saking dinginnya, dia bertahan sekuat tenaga agar tidak wudhu` lagi untuk sholat subuh.
Sydney merasa agak hangat dalam selubung selimutnya. Karena dia berpakaian lengkap, jilbab, baju panjang, rok panjang, celana panjang, kaos kaki, dan masih ditambah mukena. Memakai baju lengkap seperti ini, tiba-tiba mengingatkannya pada Aditya—yang wajahnya sudah tidak diingatnya lagi. Tapi bau parfum dan perlakuan lembutnya, melekat di hati Sydney. Membuatnya dadanya berdesir halus.
“Sydney chan, kamu sudah bangun?”
Sydney mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Pasti itu suara Obasan Akihiko. Dia pengurus rumah Tuan Osaka, rumah yang sekarang ditinggali Sydney. Bibi alias Obasan adalah seorang perempuan gemuk sebaya Mila, yang menjemputnya di bandara. Dia membawa papan nama bertuliskan Sydney Azzura, dan Sydney menghampirinya ragu. Obasan Akihiko langsung memeluknya hangat seolah Sydney adalah anak kandungnya sendiri.
Bermodalkan sepucuk surat dari Mila—yang Sydney yakin hanya untuk membuatnya percaya diri di Negeri Matahari Terbit ini—Obasan Akihiko membawanya ke rumah Tuan Osaka, induk semangnya. Sydney bahkan belum bertemu dengan pemilik rumah sampai pagi ini. Kata Obasan Akihiko, Tuan Osaka sedang ada urusan bisnis di luar Tokyo.
Sydney membuka pintu setelah melepas selimut dan mukenanya. Obasan Akihiko mengenakan jilbab hitam dengan renda di tepinya. Sydney merasa tenang ketika mengetahui Obasan Akihiko ternyata seorang muslimah. Dia yang pertama kali mengucap salam ketika Sydney mendekatinya di bandara.
Obasan tersenyum dan menepuk pipinya lembut ketika dilihatnya Sydney melipat tangan kedinginan.
“Aku membuat coklat panas, kamu pasti suka.”
“Terima kasih, Obasan. Sebentar lagi aku menyusul.”
“Tuan Osaka akan datang hari ini. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.”
Sydney mengangguk. Mila berpesan, bahwa saat di Tokyo, Sydney akan tinggal di rumah induk semangnya, Tuan Osaka. Dia orang yang akan menjamin keamanan Sydney. Sepertinya dia orang yang sangat baik. Buktinya dia punya pengurus rumah tangga yang baik.
Sembari menikmati coklat panas, Sydney duduk di teras memandangi taman mungil dengan kolam ikan di depannya. Obasan sedang ke toko dekat rumah untuk membeli beberapa keperluan pribadi Sydney. Dia tidak mengijinkan Sydney untuk keluar rumah terlebih dulu. Matahari sudah terbit, dan udara mulai hangat.
Sydney masih belum bisa mempercayai dirinya bisa berada di negeri asing, jauh dari rumahnya. Semuanya serba asing, tapi kenapa dia bisa begitu saja naik ke dalam pesawat. Mungkin karena selama ini dia selalu menjumpai wajah-wajah asing. Pergi ke negara lain tidak ada bedanya. Masih terasa hangat pelukan Aditya yang tak ingin melepasnya. Mengingat hal itu, membuat Sydney merasa pipinya memerah. Dia menekan kedua pipinya dengan telapak tangan dan menyebut nama Aditya berkali-kali.
“Aku mencintaimu. Aku akan menyusulmu, “ bisik Adiyta saat itu, dan Sydney hanya mengangguk. Sepertinya, Aditya mengusap air matanya, atau hanya mengusap pipinya. Sydney tak bisa membedakan. Keningnya menyatu dengan kening Aditya, dan hidung mereka beradu. Lelaki itu mengecupnya berkali-kali—di tempat umum—membuatnya sangat malu pada Mila yang hanya memandangi mereka berdua sambil geleng-geleng.
Bahkan Aditya masih menggenggam erat tangannya—tidak mau melepaskan sedetikpun—ketika mereka harus berpisah. Sampai sebelum perpisahan mereka, Aditya dan Sydney sepakat bahwa Mila bukan pembantu biasa. Bisa jadi, dia selama ini jadi mata-mata di rumah majikannya. Bukankah banyak orang seperti itu? Berperan sebagai orang sangat biasa, tapi punya pekerjaan luar biasa.
“Ah, Aditya. Apa aku masih mengingat wajahmu nanti kalau kamu menyusulku?”
Tiba-tiba Sydney teringat sesuatu. Dia bahkan tidak punya ponsel apalagi nomor handphone Aditya. Bagaimana dia bisa memberi kabar pada suaminya itu? Sydney memukuli kepalanya berkali-kali. Alangkah bodohnya dia. Dia hanya menyimpan satu sketsa terakhir wajah Aditya yang digambarnya di bandara.
***
Menjelang siang, Obasan menghidangkan makan siang. Soto ayam! Sydney nyaris terpekik begitu semangkuk soto itu disodorkan ke hadapannya. Obasan tersenyum, membuatnya tampak semakin sipit.
“Obasan bisa memasak masakan Indonesia?” tanya Sydney tak percaya. Dia menyendok kuah dan mencicipinya. Rasa Indonesia asli.
“Kau baru dua hari dari Indonesia. Pasti lidahmu masih asli. Bagaimana rasanya?” tanya Obasan sambil menatap Sydney dengan mata berbinar.
“Enak. Pas. Luar biasa, “ puji Sydney sambil mengacungkan jempolnya berkali-kali.
“Kau berbohong.”
“Tidak. Ini sungguh enak. Seperti soto Surabaya.”
“Kata Tuan Osaka, lebih lengkap bila ada tambahan jeruk nipis.”
Sydney tersenyum. “Tanpa jeruk nipispun, ini sudah luar biasa.”
“Masalahnya, aku kesulitan mendapat jeruk nipis di sini.”
“Benarkah? Sekali-kali aku ikut ke pasar, boleh? Aku yakin ada pasar untuk orang Indonesia di sini.”
“Kageyama chan?”
“Dia anak kuliah juga, dibiayai juga oleh Tuan Osaka. Tinggalnya di sebelah rumah. Nanti sore, sepulang kuliah dia pasti mengantar bahan makanan. Dia anak yang baik, kau pasti menyukainya. Kau sudah punya pacar di Indonesia?”
Sydney nyaris tersedak kuah soto. Dia merasa pipinya kembali memerah.
“Sepertinya belum? Kageyama juga belum punya. Dia berjanji pada Tuan Osaka untuk tidak pacaran dulu sampai dia lulus. Jadi, aku tidak ingin kamu memikatnya, ya. Soalnya kamu cantik.”
Sydney hanya merunduk tersipu. Obasan terkekeh sembari membereskan piring makannya. Wanita itu Bahasa Indonesia-nya sudah sangat lancar dan fasih. Sepertinya dia sudah lama berinteraksi dengan orang-orang Indonesia di Jepang. Sepanjang perjalanan pulang dari bandara, Obasan memang banyak menceritakan tentang anak-anak mahasiswa Indonesia yang dikenalnya akrab. Kadang Tuan Osaka mengundang mereka ke rumah ini, walau sekedar untuk makan-makan. Orang Indonesia ramah dan ringan tangan, kata Obasan. Mereka juga suka berbagi. Meski mahasiswa Indonesia di Tokyo mengandalkan beasiswa untuk menunjang kehidupannya, tapi mereka kerap mengirim makanan ke rumah Tuan Osaka. Kadang sampai tidak termakan, sehingga Obasan membaginya ke tetangga. Membuat Obasan merasa jadi orang Indonesia.
“Obasan, boleh aku bertanya?”
“Silahkan.”
“Tuan Osaka seperti apa orangnya? Sepertinya dia sangat baik. Mahasiswa Indonesia yang di sini, seolah menganggap dia orang tuanya saja.”
Obasan sudah selesai mencuci piring. Dia mengelap tangan di celemeknya, lalu duduk di hadapan Sydney.
“Andai aku belum punya suami, aku pasti sudah memintanya untuk jadi suamiku. Sayang, dia datang ke distrik ini ketika aku sudah tua.”
Obasan terkekeh.
“Pastinya, dia sangat tampan.”
“Cantik atau tampan itu dari sini, Sydney Chan, “ ucap Obasan seraya menepuk-nepuk dadanya, “banyak orang sangat cantik, tapi keji dan kejam. Sebaliknya, banyak orang yang tidak cantik atau tampan, tapi hatinya mulia. Itu yang membuat dia cantik di hadapan semua orang.”
Sydney tersenyum hangat. Dia yakin akan kerasan di rumah ini.
“Assalamualaikum....”. Terdengar suara lelaki mengucap salam.
“Waalaikumsalam...” sahut Sydney dan Obsan serempak.
Obasan membeliak. “Tuan Osaka datang.”
Obasan menggamit lengan Sydney menuju ruang depan. Terdengar suara-suara barang diletakkan.
“Obasan....” panggil suara itu.
Sydney dan Obasan memasuki ruang depan. Dan Sydney mendapati seorang lelaki mengenakan jacket coklat. Sebagian rambutnya memutih dan kulitnya kecoklatan, tidak sepucat Obasan. Dia orang Indonesia!
“Sydney Azzura?” tanyanya dengan suara berat. Matanya tampak berbinar.
Sydney menatapnya. Ada rasa aneh mengaliri dadanya. Lelaki ini, kenapa wajahnya tidak asing baginya? Padahal, ribuan wajah selalu tampak asing di matanya.
“Tuan Osaka?” tanya Sydney, melangkah perlahan mendekati lelaki itu.
Lelaki itu membentangkan tangan dan berucap lirih, “Sydney Azura, anakku.”