
Lelaki ini pasti bernama Hud. Dia
memakai jacket mapala. Aku ingat jacket itu, karena pernah ikut oprec mapala.
Tapi sampai sekarang tidak ada satupun dari mereka yang menghubungiku untuk
ikut kegiatannya. Mungkin aku tidak diterima karena sudah merusak tenda mereka.
Foto profile itu kuamati dengan
seksama, berharap bila aku menemukan wajahnya aku bisa mengenalinya dengan
mudah. Meski itu mustahil. Kupikir jacket mapala dan kulit sawo matangnya sudah
cukup kujadikan pertanda, meski aku tidak yakin. Hm, apa ya? Dan dengan
sentuhan dua jari, aku memperbesar foto itu. Akhirnya kudapati sebuah tahi
lalat di pipi kanannya. Lumayan kelihatan.
Oke, jadi bila ada lelaki berkulit
sawo matang, tahi lalat di pipi kanan dan jacket mapala, maka dia adalah orang
yang bisa menghubungkan aku dengan Reynand Bramantya. Satu-satunya wajah yang
menghangatkan hatiku dan bisa kuingat sampai sekarang. Meski aku tidak punya
nomor hape apalagi foto profilenya.
Undangan pesta ulang tahun yang
dikirim sebuah nomor asing yang mengaku Nuril Hudaya, sudah hampir setengah jam
kuamati. Entah kenapa, segala yang berkaitan dengan Reynand Bramantya aku tak
ingin kehilangan detilnya. Meski, sisi lain diriku berusaha menolaknya. Setiap
kali kami bersentuhan, seperti ada lompatan quantum—istilah yang kubuat
sendiri—yang tak kumengerti. Seolah melemparku ke dunia yang tak kukenal.
Begitu menyenangkan, sekaligus menakutkan. Karena apa yang berkelebatan di
mataku saat lompatan quantum ibarat sebuah kehidupan lain dalam diriku. Aku
merindukannya, sekaligus tak ingin masuk ke dalamnya. Aku tidak tahu, apa
sebutannya. Antara rindu dan takut.
“Rey…” bisikku halus sembari mengelus flyer
undangan pesta ulang tahun itu.
“Zura, jangan lupa besok ke pasar.”
Suara serak nenek dari balik pintu
kamar yant terbuka, terdengar begitu berwibawa. Nenek sudah sepuh, tapi
orang-orang kampung sini segan padanya. Katanya, nenek itu preman. Sejak muda
sampai tua. Dan, itu menurun padaku. Dulu, kalau ada teriakan maling, nenek
yang duluan keluar rumah dan mengejar maling. Jangan sampai maling itu tertangkap
nenek, atau kedua tangan dan kakinya dipatahkan nenek. Nenek selalu jadi
andalan kampung. Kata orang-orang, mungkin karena nenek menjanda sewaktu muda,
hidupnya keras dan penuh perjuangan. Menghidupi ibu seorang diri, dan
bersambung menghidupiku seorang diri ketika ibu meninggal. Maka tidak ada yang
berani menolak apa yang diperintahkannya.
“Zura ingat, nek.”
Ya, tentu saja aku ingat. Sewaktu
meletakkan ransel di meja, dan berucap bahwa aku libur tiga bulan, nenek
langsung bilang, “Kamu gantikan nenek jualan rujak di pasar.”
Di pasar, nenek punya sebuah kios yang
sudah lama tidak dipakai. Melihat kedatanganku, maka aku harus menghidupkan
kios itu kembali. Libur tiga bulan harus menghasilkan uang. Tapi, bagaimana
dengan undangan ini? Pas maghrib pula.
Aku bangkit dengan malas dari kasur
dan melebarkan daun pintu.
“Nek, besok aku harus balik ke
Surabaya.”
“Balik? Kamu gak kerasan lagi di sini?
Baru kemarin datang sudah mau balik.”
“Ada undangan dari temanku. Kan wajib
datang nek. Kalau gak datang nanti dosa. Besoknya aku langsung balik, kok.”
“Bilang saja kamu sudah mudik.”
“Aku juga mau ngambil beberapa barang
yang masih ada di kontrakan. Kemarin itu, aku buru-buru berangkat karena ada
temanku yang mau lamaran.”
Nenek diam, matanya tidak lepas dari
kotak bergelas kaca di depannya. Film india kegemarannya sedang diputar.
“Terserah kamu.”
Aku masuk lagi ke kamar. Yang penting
sudah dapat ijin dari nenek, aku bisa ke Surabaya besok pagi. Kupandangi lagi
flyer undangan dari Reyhan. Tiba-tiba aku kebingunan harus berpakaian apa. Aku
tidak punya baju yang pantas buat menghadiri sebuah pesta, apalagi pesta ulang
tahun.
***
Restoran Pegasus.
gerbang restoran itu begitu mewah. Hanya mobil yang masuk ke dalamnya. Ada juga
beberapa motor, tapi langsung menuju bagian samping restoran. Mobil-mobil
parkir di halaman depan yang sangat luas. Restorannya sendiri tampak megah
dengan lampu-lampu benderang yang berpendar dari dalamnya.
Aku melangkah ragu. Tidak akan ada
yang kukenal di restoran ini, jadi kalaupun aku tidak mendapati seorang
perempuanpun yang diundang, aku bisa melenggang pulang dengan santai. Beberapa
orang berombongan yang baru memarkir motor, berjalan menuju pintu masuk utama
yang dijaga oleh dua orang berpakaian adat.
Sepertinya, rombongan itu adalah mahasiswa
sealmamater denganku. Ada beberapa yang memakai jacket mapala dan jas almamater
yang kukenal. Gawat, setidaknya mereka pernah melihatku di kampus. Dan tidak
kudapati seorang perempuan pun.
Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk.
“Undangannya, mbak?”
Ternyata langkahku sudah berada di
depan orang berpakaian adat itu. Ragu, aku mengeluarkan ponsel, lalu
menunjukkan undangan dari Hud.
“Nama?”
“Sydney Azzura.”
“Sydney Azzura?” tanya orang itu lagi.
Aku mengangguk. Dia lalu mengetik di
ponselnya, diam sejenak sambil menatap ponselnya, lalu mempesilahkan aku
mengikutinya. Beberapa orang di belakangku ternyata juga mengalami perlakuan
yang sama. Diminta menunjukkan undangan lalu ditanyai nama. Rupanya dua pramuria
berpakaian adat itu, hafal semua nama undangan. Namun, semua orang itu tidak
dikawal seperti aku. Mereka diarahkan ke sebelah kanan, ke sebuah pintu besar menuju
ruangan utama yang sekelilingnya dari kaca. Di dalam ruangan itu, kulihat
meja-meja bundar dengan aneka hidangan mewah di atasnya, dan kursi-kursi yang
mengelilingnya sudah penuh.
Sedangkan aku diminta ke arah kiri,
arah yang berlawanan.
Aku dan pramuria itu rupanya berjalan
mengitari ruangan utama itu, menuju pintu kecil di ujung. Sepanjang jalan
mengitari ruangan utama itu, aku bisa melihat dia. Reynand. Dia tampak
bercahaya di tengah banyak orang. Berkali-kali dia tertawa bersama beberapa
orang yang duduk di sekelilingnya. Dia kelihatan bahagia. Wajahnya begitu jelas
setiap detilnya di mataku, menghangatkan dadaku. Inikah yang dinamakan rindu
yang terpupus?
“Rey, aku di sini…” gumamku dalam
hati, menghentikan langkah untuk menatapnya dari balik kaca, menikmati setiap mimik
wajahnya.
Dan, tiba-tiba, Rey menoleh ke arahku.
Menatapku terkejut, membuatnya berhenti tertawa.
“Mbak, lewat sini,” ucap pramuria berpakaian
adat yang memanduku, ketika mengetahui aku berhenti beberapa detik di
belakangnya.
Aku mengangguk, tapi mataku tak bisa
lepas dari Rey. Dadaku menghangat dan aku merasa sangat nyaman dan terlindungi.
Sampai dengan aku mencapai pintu, aku dan Rey masih saling menatap. Membuatku
terpaku di depan pintu.
“Mbak, silahkan duduk di dekat meja
Tuan Reynand. Ayo saya tunjukkan.”
Reynand berdiri dari bangkunya, dengan
sepasang matanya tak lepas dariku. Jadi, kau sudah dua puluh tahun sekarang.
Apa? Dua puluh tahun? Sesuatu yang
baru kusadari ketika tiba-tiba seorang perempuan separuh baya mendorong badanku
dengan kasar, membuatku hampir terjatuh ke atas meja. Untung saja kedua kakiku
masih bisa menopang tubuhku, jadinya hanya tanganku yang bertumpu pada meja.
“Hei, anak kurang ajar!” teriak wanita
itu kasar sembari menuding ke arah Reynand.
Seisi ruangan terkejut, apalagi ketika
wanita itu tiba-tiba membalik meja di hadapan Rey dan tangannya terangkat, siap
melayangkan tamparan ke pipi Rey.
Tentu saja, aku tidak akan
membiarkannya!