MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney : Ulang Tahun Rey



Lelaki ini pasti bernama Hud. Dia


memakai jacket mapala. Aku ingat jacket itu, karena pernah ikut oprec mapala.


Tapi sampai sekarang tidak ada satupun dari mereka yang menghubungiku untuk


ikut kegiatannya. Mungkin aku tidak diterima karena sudah merusak tenda mereka.


Foto profile itu kuamati dengan


seksama, berharap bila aku menemukan wajahnya aku bisa mengenalinya dengan


mudah. Meski itu mustahil. Kupikir jacket mapala dan kulit sawo matangnya sudah


cukup kujadikan pertanda, meski aku tidak yakin. Hm, apa ya? Dan dengan


sentuhan dua jari, aku memperbesar foto itu. Akhirnya kudapati sebuah tahi


lalat di pipi kanannya. Lumayan kelihatan.


Oke, jadi bila ada lelaki berkulit


sawo matang, tahi lalat di pipi kanan dan jacket mapala, maka dia adalah orang


yang bisa menghubungkan aku dengan Reynand Bramantya. Satu-satunya wajah yang


menghangatkan hatiku dan bisa kuingat sampai sekarang. Meski aku tidak punya


nomor hape apalagi foto profilenya.


Undangan pesta ulang tahun yang


dikirim sebuah nomor asing yang mengaku Nuril Hudaya, sudah hampir setengah jam


kuamati. Entah kenapa, segala yang berkaitan dengan Reynand Bramantya aku tak


ingin kehilangan detilnya. Meski, sisi lain diriku berusaha menolaknya. Setiap


kali kami bersentuhan, seperti ada lompatan quantum—istilah yang kubuat


sendiri—yang tak kumengerti. Seolah melemparku ke dunia yang tak kukenal.


Begitu menyenangkan, sekaligus menakutkan. Karena apa yang berkelebatan di


mataku saat lompatan quantum ibarat sebuah kehidupan lain dalam diriku. Aku


merindukannya, sekaligus tak ingin masuk ke dalamnya. Aku tidak tahu, apa


sebutannya. Antara rindu dan takut.


“Rey…” bisikku halus sembari mengelus flyer


undangan pesta ulang tahun itu.


“Zura, jangan lupa besok ke pasar.”


Suara serak nenek dari balik pintu


kamar yant terbuka, terdengar begitu berwibawa. Nenek sudah sepuh, tapi


orang-orang kampung sini segan padanya. Katanya, nenek itu preman. Sejak muda


sampai tua. Dan, itu menurun padaku. Dulu, kalau ada teriakan maling, nenek


yang duluan keluar rumah dan mengejar maling. Jangan sampai maling itu tertangkap


nenek, atau kedua tangan dan kakinya dipatahkan nenek. Nenek selalu jadi


andalan kampung. Kata orang-orang, mungkin karena nenek menjanda sewaktu muda,


hidupnya keras dan penuh perjuangan. Menghidupi ibu seorang diri, dan


bersambung menghidupiku seorang diri ketika ibu meninggal. Maka tidak ada yang


berani menolak apa yang diperintahkannya.


“Zura ingat, nek.”


Ya, tentu saja aku ingat. Sewaktu


meletakkan ransel di meja, dan berucap bahwa aku libur tiga bulan, nenek


langsung bilang, “Kamu gantikan nenek jualan rujak di pasar.”


Di pasar, nenek punya sebuah kios yang


sudah lama tidak dipakai. Melihat kedatanganku, maka aku harus menghidupkan


kios itu kembali. Libur tiga bulan harus menghasilkan uang. Tapi, bagaimana


dengan undangan ini? Pas maghrib pula.


Aku bangkit dengan malas dari kasur


dan melebarkan daun pintu.


“Nek, besok aku harus balik ke


Surabaya.”


“Balik? Kamu gak kerasan lagi di sini?


Baru kemarin datang sudah mau balik.”


“Ada undangan dari temanku. Kan wajib


datang nek. Kalau gak datang nanti dosa. Besoknya aku langsung balik, kok.”


“Bilang saja kamu sudah mudik.”


“Aku juga mau ngambil beberapa barang


yang masih ada di kontrakan. Kemarin itu, aku buru-buru berangkat karena ada


temanku yang mau lamaran.”


Nenek diam, matanya tidak lepas dari


kotak bergelas kaca di depannya. Film india kegemarannya sedang diputar.


“Terserah kamu.”


Aku masuk lagi ke kamar. Yang penting


sudah dapat ijin dari nenek, aku bisa ke Surabaya besok pagi. Kupandangi lagi


flyer undangan dari Reyhan. Tiba-tiba aku kebingunan harus berpakaian apa. Aku


tidak punya baju yang pantas buat menghadiri sebuah pesta, apalagi pesta ulang


tahun.


***


Restoran Pegasus.


gerbang restoran itu begitu mewah. Hanya mobil yang masuk ke dalamnya. Ada juga


beberapa motor, tapi langsung menuju bagian samping restoran. Mobil-mobil


parkir di halaman depan yang sangat luas. Restorannya sendiri tampak megah


dengan lampu-lampu benderang yang berpendar dari dalamnya.


Aku melangkah ragu. Tidak akan ada


yang kukenal di restoran ini, jadi kalaupun aku tidak mendapati seorang


perempuanpun yang diundang, aku bisa melenggang pulang dengan santai. Beberapa


orang berombongan yang baru memarkir motor, berjalan menuju pintu masuk utama


yang dijaga oleh dua orang berpakaian adat.


Sepertinya, rombongan itu adalah mahasiswa


sealmamater denganku. Ada beberapa yang memakai jacket mapala dan jas almamater


yang kukenal. Gawat, setidaknya mereka pernah melihatku di kampus. Dan tidak


kudapati seorang perempuan pun.


Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk.


“Undangannya, mbak?”


Ternyata langkahku sudah berada di


depan orang berpakaian adat itu. Ragu, aku mengeluarkan ponsel, lalu


menunjukkan undangan dari Hud.


“Nama?”


“Sydney Azzura.”


“Sydney Azzura?” tanya orang itu lagi.


Aku mengangguk. Dia lalu mengetik di


ponselnya, diam sejenak sambil menatap ponselnya, lalu mempesilahkan aku


mengikutinya. Beberapa orang di belakangku ternyata juga mengalami perlakuan


yang sama. Diminta menunjukkan undangan lalu ditanyai nama. Rupanya dua pramuria


berpakaian adat itu, hafal semua nama undangan. Namun, semua orang itu tidak


dikawal seperti aku. Mereka diarahkan ke sebelah kanan, ke sebuah pintu besar menuju


ruangan utama yang sekelilingnya dari kaca. Di dalam ruangan itu, kulihat


meja-meja bundar dengan aneka hidangan mewah di atasnya, dan kursi-kursi yang


mengelilingnya sudah penuh.


Sedangkan aku diminta ke arah kiri,


arah yang berlawanan.


Aku dan pramuria itu rupanya berjalan


mengitari ruangan utama itu, menuju pintu kecil di ujung. Sepanjang jalan


mengitari ruangan utama itu, aku bisa melihat dia. Reynand. Dia tampak


bercahaya di tengah banyak orang. Berkali-kali dia tertawa bersama beberapa


orang yang duduk di sekelilingnya. Dia kelihatan bahagia. Wajahnya begitu jelas


setiap detilnya di mataku, menghangatkan dadaku. Inikah yang dinamakan rindu


yang terpupus?


“Rey, aku di sini…” gumamku dalam


hati, menghentikan langkah untuk menatapnya dari balik kaca, menikmati setiap mimik


wajahnya.


Dan, tiba-tiba, Rey menoleh ke arahku.


Menatapku terkejut, membuatnya berhenti tertawa.


“Mbak, lewat sini,” ucap pramuria berpakaian


adat yang memanduku, ketika mengetahui aku berhenti beberapa detik di


belakangnya.


Aku mengangguk, tapi mataku tak bisa


lepas dari Rey. Dadaku menghangat dan aku merasa sangat nyaman dan terlindungi.


Sampai dengan aku mencapai pintu, aku dan Rey masih saling menatap. Membuatku


terpaku di depan pintu.


“Mbak, silahkan duduk di dekat meja


Tuan Reynand. Ayo saya tunjukkan.”


Reynand berdiri dari bangkunya, dengan


sepasang matanya tak lepas dariku. Jadi, kau sudah dua puluh tahun sekarang.


Apa? Dua puluh tahun? Sesuatu yang


baru kusadari ketika tiba-tiba seorang perempuan separuh baya mendorong badanku


dengan kasar, membuatku hampir terjatuh ke atas meja. Untung saja kedua kakiku


masih bisa menopang tubuhku, jadinya hanya tanganku yang bertumpu pada meja.


“Hei, anak kurang ajar!” teriak wanita


itu kasar sembari menuding ke arah Reynand.


Seisi ruangan terkejut, apalagi ketika


wanita itu tiba-tiba membalik meja di hadapan Rey dan tangannya terangkat, siap


melayangkan tamparan ke pipi Rey.


Tentu saja, aku tidak akan


membiarkannya!