
Sudah setengah jam Rey berjalan meninggalkan kantor Maskapai. Dia tidak hendak memesan ojol atau mencegat taksi. Dia ingin membiarkan pikirannya hanya tertuju pada Sydney. Menganalisa hasil laporan Pengacara Julius. Juga berusaha mengingat gambar Aditya. Semua teka-teki ini berusaha digabungnya menjadi satu, tapi dia tak kunjung menemukan satu rangkaian utuh.
Bisa jadi, di Rumah Coklat, tempat Mama dan Darmaji bersemayam, semua informasi itu tersedia. Mama sanggup melakukan apa saja. Sangat mungkin baginya untuk melacak keberadaan Sydney. Meski dia harus mengorbankan banyak harta untuk itu. Baginya, ranting liar yang mengganggu jalannya harus ditebang pohonnya, bahkan kalau bisa dicabut sampai ke akarnya. Baru dia merasa puas.
Rey terpikir untuk menyusup ke Rumah Coklat. Mungkin para pembantu mengetahui sedikit saja informasi. Rey tahu, sejak kecil para pembantu suka menguping pembicaraan Mama dengan Papa. Jadi mereka bisa mengantisipasi bila Mama hendak murka, kadang tahu-tahu ada pembantu yang berhenti tanpa pamit alias kabur. Pasti di Rumah Coklat ada sedikit informasi tentang Sydney. Terutama dari Darmaji.
Darmaji mengingatkannya tentang Mama yang akan mencabut pohon beranting liar. Memang lelaki itu sulit dia percaya saat ini. Tapi Rey yakin, Darmaji masih memegang janjinya pada Almarhum Papa, pun seberapa bejat dia sekarang. Bahwa dia harus melindungi Rey. Darmaji banyak berhutang budi pada Almarhum Papa Rey. Sebagai lelaki, seharusnya dia mengingat itu, sampai kapanpun.
“Syd... di mana kamu?” sergah Rey sembari menatap langit Surabaya yang cerah.
Rey berjalan di sepanjang trotoar. Lalu lintas yang ramai, terasa begitu sunyi baginya. Karena pikirannya hanya menampilkan wajah Sydney yang masuk ke kobaran api. Meski dia tidak lagi bermimpi buruk, tapi ingatan akan mimpi itu masih mengganggunya. Rey sudah memperbanyak doa, seperti saran Hud. Tapi, semakin dia berdoa untuk bertemu Sydney, semakin gelisah yang dirasa.
Rey tidak tahu dia sudah sampai di daerah mana, dia hanya ingin menyusuri jalan. Nanti kalau sudah lelah, dia akan menelpon Hud untuk minta dijemput dengan motor. Wanita di basement Maskapai tadi sudah membuatnya kesal. Hingga harus meninggalkan mobilnya untuk dibawa ke bengkel oleh satpam. Rey bersyukur dia pasti akan lupa pada wajah wanita itu besok pagi.
Dia anak Direksi? Anak siapa? Besok Rey akan menyerahkan semua urusan wanita itu pada Merlin. Dia mengancam akan menuntut Maskapai. Rey tidak peduli. Dia meninggalkan wanita itu begitu saja, dan membuatnya menendangi mobilnya yang rusak dengan kesal. Biar satpam yang mengurusnya. Dia sudah cukup sibuk dengan urusan Sydney.
Ah!
Rey terkejut. Tiba-tiba ada orang yang berlari menyalipnya, dan dia merebut koper yang dipegangnnya.
“Eh ... COPETTT!” teriak Rey.
Orang itu berlari sepanjang trotoar, tidak mengindahkan Rey. Rey menghentak kaki dengan kesal, dan mau tak mau dia mengejar copet itu sembari meneriakkan kata-kata COPET. Para pejalan kaki, bukannya menolong, malah memberi copet itu jalan. Lebih tepatnya, tidak mau berurusan dengan cara berjalan di pinggir trotoar. Rey semakin kesal, apalagi copet itu tidak mengurangi kecepatan. Rey mempercepat larinya. Mereka berkejaran di sepanjang trotoar.
Rey tak ingin melepaskan pandangannya dari copet itu. Dia berharap, orang itu kelelahan dan menyerah. Tapi mana mungkin ada kriminal seperti itu. Dan tepat di perempatan, dia menabrak seorang perempuan hingga oleng. Copet itu terjatuh, dan kopernya terlempar di tepi aspal. Melihat kejadian itu, Rey kembali berteriak dan mempercepat larinya. Dia yakin bisa menangkap copet itu. Isi koper itu adalah laporan keuangan dari Merlin dan Rey tidak ingin kehilangan kopernya begitu saja.
“Copet, berhenti!” teriak Rey.
Copet itu meraih koper Rey dan kembali berlari. Perempuan yang disenggolnya tadi, tahu-tahu mengejar copet itu. Rey sedikit terkejut, tapi dia bersyukur akhirnya ada yang membantu. Mereka bertiga berlari sepanjang trotoar. Tepat di depan sebuah area ruko yang masih dibangun, copet itu berbelok. Mungkin dia hendak mencari jalan tembus. Biasanya area ruko yang sedang dibangun, masih terbuka celah-celah menuju lahan lain. Tapi malang baginya, dia kepleset saat berbelok ke kiri. Dan perempuan yang mengejar di depan Rey, tahu-tahu melompat dan menendang pinggangnya. Copet itu tersungkur.
Koper Rey terlempar ke area ruko yang sepi. Perempuan itu berjalan gagah mendekati copet yang berusaha berdiri. Dan sebuah tendangan mendarat di perut si copet. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Copet itu mengerang, lalu berusaha bangkit. Tapi perempuan itu sudah memilin kedua tangannya ke belakang, memelintirnya hingga dia berteriak kesakitan.
Rey tiba di area ruko, melihat copet itu berteriak dan seorang perempuan berjilbab sedang memelintir tangannya.
“Sydney?” Rey memanggil tak percaya. Dadanya serasa hendak meledak. Bukan lagi karena paru-parunya bekerja keras memompa udara, tapi karena seraut wajah yang dirindukannya itu tiba-tiba ada di hadapannya.
Perempuan itu menoleh. Dan dia membeliak kaget melihat Rey. Kesempatan itu digunakan oleh copet itu menjegal Sydney. Tapi Sydney sudah membaca gerakannya dan sebuah tendangan kembali mendarat di punggung copet itu, membuatnya kembali tersungkur. Sydney menginjak lehernya, dan memastikan copet itu terkunci oleh injakannya. Baru dia menegakkan badan dan menatap Rey yang berjalan tergesa ke arahnya.
“Syd... kamu ... kamu...”
Belum sempat Rey mengucapkan kalimat sempurna, Sydney meraih tangannya dan menariknya berlari masuk ke area ruko. Rey menahan langkah, mengambil kopernya. Dilihatnya copet itu bangkit dan berlari menjauh dan menghilang di perempatan.
Sydney menarik Rey bersembunyi di antara dua tembok ruko. Mereka berjalan menyusuri lorong tembok sempit dan sampai di tanah kosong di area belakang ruko. Di seberang sana ada deretan perumahan.
“Kita mau ke mana?” tanya Rey.
“Mereka punya komplotan. Ayo lari ke seberang sana.”
Sesampai di salah satu pojok rumah, Sydney menoleh ke belakang dan menarik nafas lega. Mereka tidak ada yang mengikuti. Lalu Sydney tidak lagi berlari, tapi berjalan perlahan menuju sebuah pohon dengan ayunan di bawahnya. Rey menarik tangan Sydney, membuat gadis itu membalikkan badan.
Rey langsung memeluk Sydney erat, membenamkan wajahnya di bagian belakang jilbab gadis itu, penuh kerinduan. Sydney menegang, tubuhnya menjadi kaku. Beberapa detik, dan Rey menyadari bahwa dia telah bertindak ceroboh. Memeluk seorang gadis tanpa meminta ijinnya terlebih dulu.
“Maaf...” bisik Rey sembari melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah.
Sydney terdiam. Pandangan mereka saling bertaut. Dan rasa aman dan nyaman meliputi keduanya, membuat senyum kemudian terbentuk di wajah masing-masing.
“Kau ke mana saja?” tanya Rey berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba begitu kaku.
“Aku tidak ke mana-mana...” ucap Sydney lirih.
“Rumahmu...”
Sydney mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Rey meraih tangannya, tapi Sydney perlahan menariknya. Rey memamahi, tidak mudah lagi bagi Sydney menerima dirinya. Karena dia, hidupnya dalam bahaya.
“Aku akan melindungimu, Syd. Aku akan sediakan pengawal buat kamu.”
“Kau tidak perlu repot, Rey. Aku bisa menjaga diri. Kau bisa lihat, kan?”
Rey dan Sydney saling melempar senyum. Rey merasakan kembali suasana bersama Sydney. Aman, nyaman, hangat dan damai.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.
Sydney mengangguk-angguk. Bahkan berkali-kalai. Entah kenapa, dadanya terasa sempit tiba-tiba. Dia merindukan lelaki di hadapannya ini. Namun ada lelaki lain yang tidak akan suka melihat mereka berdiri berdekatan seperti ini. Sydney tidak tahu harus berkata apa.
“Kau menangis...”
Rey menghulurkan tangan hendak menghapus lelehan air di pipi Sydney. Tapi Sydney mundur selangkah, dan mengusap pipi dengan ujung jilbabnya.
“Maafkan aku, Rey. Akhir-akhir ini, situasinya tidak begitu bagus. Tapi aku baik-baik saja.”
Sydney mengembangkan senyum. Tapi Rey tahu, kali ini senyum itu dipaksakan. Apalagi air matanya menderas tak berhenti. Rey merasa dadanya sakit melihat Sydney yang tak henti-henti menyeka air mata dengan ujung jilbabnya.
“Sydney... aku...”
Rey mendekat, perlahan mengulurkan tangannya. Dia ingin merengkuh Sydney dalam dekapannya, menghilangkan semua kesedihannya. Tapi Sydney mengangkat tangannya, meminta Rey menahan langkahnya. Rey melihat sebuah gelang putih kehijauan di pergelangan tangan Sydney. Seingatnya, gadis itu tidak pernah memakai perhiasan apapun di tangannya. Dan gelang itu terlihat mewah di pergelangan tangannya. Itu gelang mahal.
“Rey, mereka datang. Mereka orang yang sama dengan yang menyerangku. Tato mereka sama.”
Rey mengikuti arah pandangan Sydney. Dari arah ruko, tampak tiga orang berlari menuju mereka. Sydney menyuruh Rey berlari lebih dulu, menyusuri jalan perumahan menuju jalan besar. Sementara Sydney berusaha mengalihkan perhatian komplotan itu.
“Jangan khawatirkan aku. Sesampai di jalan, naiklah angkot.”
Rey berlari menuju jalan besar. Dan dia kehilangan Sydney.