
Manusia memang sungguh aneh. Dia kadang mau dan mampu mengeluarkan banyak uang untuk hal-hal yang kurang berguna, sedangkan begitu pelit untuk berkorban pada sesuatu yang menjadi hajat orang banyak. Hanya karena untuk memuaskan rasa penasaran. Bagi pengacara Julius, mendapati manusia aneh seperti itu, bukan lagi hal yang aneh. Orang-orang berduit yang menjadi kliennya, semuanya aneh.
Termasuk lelaki muda di hadapannya. Penyelidikan kasus ayahnya, tidak begitu menarik lagi baginya. Yang lebih menarik adalah penyelidikan tentang seorang perempuan, yang tidak ada kaitannya dengan kasus besar yang sedang mereka hadapi. Matanya berbinar-binar begitu Julius menyebut sebuah nama.
“Jadi, bagaimana hasilnya?” tanya Reynand tidak sabar.
Pengacara Julius mengeluarkan sebuah buku. Di situ banyak tulisan tangan. Rupanya, dia orang yang suka mencatat di buku. Reynand mengernyit kening, melihat Pengacara Julius membuka contekan dan memakai kaca mata baca. Tidak seperti perkembangan kasus ayahnya yang dia menyampaikannya di luar kepala.
“Jangan tertawakan aku, Reynand. Karena ini kasus di luar bidangku, aku harus membuat catatan. Kasus seperti ini dalam lima belas menit akan hilang dari kepalaku. Tapi kalau kasus-kasus hukum, aku tidak memerlukan buku catatan. Semuanya ada di dalam sini,” ujar Pengacara Julius sembari mengetuk-ngetuk keningnya.
Reynand manggut-manggut.
“Jadi, informanku sudah berhasil mengumpulkan beberapa hal tentang perempuan bernama Sydney Azzura ini. Terlepas ini masalah cinta atau bukan, yang jelas. Pertama, dia tidak punya lelaki atau teman dekat yang bisa disebut pacar atau kekasih.”
“Aku sudah tahu itu.”
Pengacara Julius melihat Reynand dari balik kaca matanya yang melorot sampai ke ujung hidung.
“Kau tidak perlu berkomentar sudah tahu atau belum. Aku hanya menyampaikan hasil penyelidikan informanku. Bila kau merasa perlu, tulis saja apa yang aku katakanan. Atau kau punya ingatan yang luar biasa terhadap apa yang dikatakan orang padamu. Karena, setahuku kau payah menngingat wajah.”
Reynand terkekeh, “Maafkan aku, teruskan membaca saja. Aku akan mengingat semua yang kau sampaikan. Aku tidak perlu mencatatnya. Semua ada di sini.”
Pengacara Julius tersenyum menatap Reynan mengetuk-ngetuk keningnya. Mereka memang punya bidang berbeda yang diminati. Jadi, ingatan itu akan melekat pada hal-hal yang diminati.Tidak peduli seberapa banyak dan seberapa berat.
Pengacara Julius melanjutkan membaca buku catatannya.
“Dia kuliah karena beasiswa siswa miskin, karena dia memang sangat miskin. Yatim piatu yang hanya hidup dengan neneknya. Ibunya meninggal ketika melahirkan. Nah, bapaknya ini tidak jelas. Bisa jadi status yatim piatunya karena bapaknya juga tidak jelas.”
“Sebentar, boleh aku menyela?”
“Silakan.”
“Aku tidak mengharapkan jawaban tidak jelas. Aku membayar untuk mendapat informasi, jadi bukankah aku akan mendapat nama?”
Pengacara Julius mengangguk, “Ini baru penyelidikan bagian kulitnya saja. Untuk penyelidikan lebih dalam, kita perlu lebih banyak waktu.”
Reynand mendesah. Dia memang belum membayar Pengacara Julius untuk hasil penyelidikannya ini. Karena memang belum tuntas. Dia akan membayarnya bila sudah mendapatkan hasil yang dia inginkan.
“Aku akan membayar pantas, Pengacara Julius. Lakukan semua penyelidikan tentang dia, apapun itu. Masa lalu, masa kini atau masa depan. Aku cuma ingin tahu satu hal. Sepertinya, aku dan dia terkoneksi oleh sesuatu, yang aku tidak tahu apa itu. Sesuatu yang di luar nalar atau logikaku. Aku tidak tahu apakah ini ilmiah, atau ghaib. Dan aku tidak bisa menanyakan hal ini padanya, kau tahu apa maksudku. Dia orang asing bagiku, jadi tidak mudah aku mendapatkan jawaban.”
“Tunggu dulu, terkoneksi apa maksudmu?”
“Aku beberapa kali tanpa sengaja menyentuh tangannya. Saat itu terjadi, seperti ada aliran listrik bervoltase rendah mengalir, dan itu melecut kilasan-kilasan memory di kepalaku.”
Pengacara Julius tersenyum, “Kamu jatuh cinta padanya?”
“Aku tidak tahu. Karena memory yang muncul di kepalaku, bukan memoryku.”
Pengacara Julius tertegun.
“Itu memory dia. Wajah-wajah yang dilihat oleh matanya. Masa-masa kecil yang aku tidak mengingatnya.”
“Bagaimana kau tahu itu memory dia?”
“Karena ada aku di memory itu. Dan, meski itu bukan memoryku, entah kenapa aku merasa begitu familiar, meski wajah orang-orang yang ada dalam memoryku itu wajah-wajah asing yang tidak kukenal. Itulah kenapa, aku yakin bahwa ada koneksi penting antara aku dan dia.”
Pengacara Julius berdiri. Ini baru menarik.
“Bisa jadi, ini jatuh cinta versi lain. Apa kamu pernah jatuh cinta sebelumnya. Maksudku, pada perempuan.”
Reynand menggeleng.
Reynand melirik Pengacara Julius, “Aku bukan gay.”
“Maaf. Soalnya, sejak awal aku tahu kamu ….”
“Itu kesalahan di masa lalu. Mama yang selalu mendandaniku seperti perempuan. Mungkin dia ingin anak perempuan.”
“Aku tahu kau bukan anak Mama-mu yang gila itu.”
Hening. Tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gang kecil. Reynand bersiap turun.
“Aku heran, bagaimana kau bisa betah tinggal di daerah seperti ini. Bila kau mau, sopirku bisa membantu mencarikan rumah yang lebih layak. Mobilmu pun bisa kau taruh di sana. Kau tidak perlu berjalan kaki lagi ke kampus.”
“Kau tahu, kadang ada beberapa hal yang tidak bisa dinikmati orang kaya. Bahkan bila mereka punya banyak uang, mereka tidak akan bisa membelinya. Dan itu semua kudapatkan di tempat kostku. Meski keadaan sekarang menjadi berbeda setelah aku memiliki rumah itu. Tapi bersama mereka, aku merasa menjadi manusia yang manusiawi.”
“Whatever,” sahut Pengacara Julius, “hubungi aku bila kau dalam kesulitan. Aku mendapat informasi kurang menyenangkan. Bahwa kematian ayahmu bisa jadi merembet membahayakan kamu dan Mamamu. Modus awal yang terendus, ini tentang maskapai yang kau warisi. Satu orang sudah tewas, meski karena serangan jantung, tapi dia adalah orang terdekat Mamamu.”
Reynand mengurungkan niat membuka pintu mobil.
“Siapa?”
“Ibrahim. Kami bahkan belum sempat menyelidiki secara intens soal dugaanmu dia berselingkuh dengan mamamu. Kasusnya keburu ditangani polisi lokal, dan itu cukup menyulitkan dan memakan waktu. Belum lagi, istrinya yang tidak mau diinterogasi lebih dalam, karena penyebab kematiannya akan menjadi aib bila dipublikasikan.”
“Bukannya karena serangan jantung?”
“Saat menonton video porno. Dan banyak keeping CD di kopernya. Semuanya film porno. Saat menonton itu, dia terkena serangan jantung. Kematian yang nikmat sebenarnya.”
Reynand terdiam. Lelaki bernama Ibrahim. Reynan hanya menghafal namanya. Kalaupun polisi menginterogasinya terkait kematiannya, Reynand tidak akan bisa mengingat wajahnya. Dia hanya hafal, lelaki itu memakai parfum yang baunya sama dengan Mamanya. Beberapa kali dia pernah melihat seorang lelaki keluar dari kamar Mama dengan tergesa, tapi Rey tidak yakin bila itu Ibrahim. Bisa jadi Darmaji, Rey tidak terlalu peduli. Rey bisa mengenali hanya bila dia melewati Rey dan Rey mengenali baunya. Reynand tidak yakin ibunya sedih. Bagi wanita itu, siapapun lelaki yang berada di sekitarnya, hanyalah boneka untuk memenuhi ambisinya.
“Lalu, bagaimana kelanjutannya dengan kasus Papa? Ibrahim sudah mati, bisa jadi dia menyimpan banyak informasi. Dia orang lama di maskapai. Sejak aku baru kecil, dia sudah di sana.”
“Sedang dilakukan penyelidikan. Bisa jadi akan ada tersangka baru, di luar orang maskapai. Orang terdekat di keluargamu.”
Reynang mengernyit, “Siapa?”
“Sopir Mamamu. Darmaji.”
Reynand menelan ludah, “Kok bisa?”
“Ibrahim terkena serangan jantung saat Darmaji mengantarnya ke bandara.”
“Ah, Darmaji tahu apa soal Maskapai. Dia hanya sopir, “ bela Reynand. Mana mungkin satu-satunya orang yang dia percaya di rumah coklat adalah orang segila itu. Dia hanya sopir yang hanya bisa menyopir. Tapi, Reynand juga tidak yakin. Darmaji sangat dekat dengan Mamanya. Bahkan terlalu dekat. Para pembantu di rumah coklat kerap berbisik di belakang, membicarakan tentang Darmaji dan Mama. Semula Reynand tidak ambil peduli. Tapi, bila kasus ini semakin berkembang, bukan tidak mungkin, Darmaji juga terlibat.
“Sopir adalah orang yang tahu segalanya tentang majikannya, Rey.”
“Jadi, apa dia juga tersangka?”
“Belum.”
“Apa yang bisa kubantu?”
Pengacara Julius menepuk bahu Reynand, “Untuk saat ini belum ada. Jaga dirimu baik-baik. Apa kau perlu bodyguard atau semacamnya?”
“Tidak perlu. Terima kasih.”
Reynand membuka pintu dan turun dari mobil tanpa menoleh.