MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Akte Kelahiran



Pengacara Julius tak hendak menekan Reynand. Dia pun tak hendak mengetahui Reynand mengalami masalah seserius apa sehingga harus mengunjugi seorang psikiater. Bisa jadi, anak manis itu menjadi depresi karena Mama tirinya yang gila harta. Yang dia tahu, dia sudah menjalankan tugasnya sebagai pengacara keluarga. Namun, karena kasus kematian kliennya masih menjadi misteri, mau tidak mau dia masih harus berhubungan dengan keluarga ini.


“Aku sudah di depan,” ucap Pengacara Julius di handphone-nya seraya menurunkan kaca mobil dan membaca papan nama di samping mobilnya, memastikan dia tidak salah alamat.


Tidak berapa lama, Rey keluar dari pintu kaca. Dia tampak lebih segar, seperti oragng baru bangun tidur setelah berhari-hari begadang. Agak ragu dia menatap mobil Pengacara Julius dan beranjak mendekat ketika Pengacara Julius melambaikan tangan dari kaca jendela yang terbuka dan memanggil namanya.


“Kalau boleh tahu, ikut terapi apa?” tanya Pengacara Julius ketika mereka sudah meluncur di jalan yang mulai padat. Jam pulang kerja, jangan berharap menemukan jalanan lengang.


Rey diam, merasa tak harus menjawab. Tapi, bila tak dijawabnya, dia khawatir Pengacara Julius justru akan menyelidikinya.


“Aku tidak mau gila karena punya Mama gila. Anda paham maksud saya kan?”


Pengacara Julius terbahak. Di hadapannya, Reynand Bramantya, sang pewaris tunggal EAGLE AIR tidak nampak seperti seorang anak yang ketiban durian runtuh. Dia sama sekali tidak tertarik pada maskapai yang nyata-nyata dikehendaki oleh Mamanya. Seharusnya, Mamanya yang menjalani terapi, bagaimana cara supaya tidak gila harta.


“Kalau Mama mau, serahkan saja maskapai itu untuk Mama, “ ucap Reynand perlahan.


Pengacara Julius menggeleng, “Tidak seperti itu, Tuan Reynand. Meski Mama anda menghendakinya.”


“Jangan panggil aku Tuan. Aku tidak suka panggilan itu. Hanya karena aku berada di rumah, semua orang harus memanggilku Tuan. Sekarang, aku tidak lagi berada di rumah itu. Panggil aku Reynand. Seperti teman-temanku memanggil.”


Pengacara Julius mengangguk.


“Surat wasiat kedua, tidak menyatakan hal itu, Reynand, “ ucap Pengacara Julius, “Maskapai itu milik anda. Terserah anda mau menjualnya atau tidak. Tapi, tidak pada Nyonya Bramantya. Maskapai itu tidak boleh menjadi miliknya, sampai kapanpun, dengan cara apapun.”


Reynand mengedik bahu, “Whatever. “


“Saya mendapat tugas dari almarhumm untuk mempertemukan anda dengan Dewan Direksi. Menegaskan bahwa anda layak untuk memimpin maskapai. Anda siap?”


Reynand menggeleng, “Aku ada ujian. Aku sangat sibuk.”


Jawaban penolakan khas mahasiswa.


“Baik, kalau begitu anda bisa membantu yang lain, tentang penyelidikan kasus kematian almarhum.”


Lima belas menit kemudian, mereka berdua sudah memasuki halaman kantor Pengacara Julius. Reynand mengikuti langkah Pengacara Julius naik ke lantai dua menuju ruangannya. Bagaimanapun juga, kali ini hanya lelaki itu yang bisa dia percaya. Perasaannya mengatakan demikian. Pengacara adalah orang yang bekerja professional, Rey yakin dia tidak akan dimanipulasi, seperti halnya Mama memanipulasi dirinya.


Reynand mendekati jendela besar dengan view kota Surabaya layaknya kubus-kubus warna warni berserakan. Langit mulai meredup, dan cahaya lampu jalanan mulai menerangi Surabaya.


“Kemarin, pihak kepolisian mendatangi Dewan Direksi. Beberapa bukti membuat mereka semakin yakin bahwa Tuan Reynand dibunuh. Untuk kepentingan penyelidikan, mulai besok setiap Dewan Direksi akan menjalani pemeriksaan. Setelah itu Nyonya Bramantya dan anda, Reynand.”


Reynand mendesah, memasukkan kedua tangannya di saku celana dan menempelkan mukanya ke jendela. Embun terbentuk di kaca karena desahan nafasnya. Entahlah, dia tidak begitu bersemangat mengetahui bagaimana Papanya meninggal. Papa sudah meninggal, itu sudah cukup baginya merasa kehilangan segalanya. Bahkan terusir dari rumah tempat dia dibesarkan.


Yang masih jelas diingatnya adalah Papanya mengirim pesan padanya sebelum penerbangan. Pesan itu masih dia simpan. Kalaupun polisi ingin memeriksanya, pesan itu pun akan diberikannya. Tidak lagi menjadi rahasia antara dia dan Papa. Bisa jadi, itu menjadi jalan untuk menemukan ibunya.


“Rey, Papa mencintaimu. Sampai kapanpun, kau tahu itu. Pesan Papa sekali lagi, cari ibumu. Dari ibumu, kau bisa menemukan jawaban atas semuanya. Dan Papa bisa tenang. Ingat Rey, bahwa harta bukan jaminan kau akan bahagia. Cinta yang bisa melakukannya.”


“Rey? Kita harus membicarakan masalah ini. Sebelum polisi memeriksa keluarga Bramantya, sebagai pengacara keluarga, aku berkewajiban mengetahui lebih dulu dari polisi masalah kematian Ariel Bramantya. Kuharap anda bisa bekerja sama.”


Reynand membalikkan badan, menatap Pengacara Julius yang kembali asing di matanya. Tapi dia yakin, sejak tadi mereka hanya berdua, tidak ada orang lain masuk atau keluar. Dan, kostum lelaki di hadapannya masih sama. Juga suara keringnya.


“Bagaimana polisi bisa yakin Papa dibunuh?”


“Surat ancaman itu. Ada sidik jari di surat itu. Dan sidik jari itu milik salah satu Dewan Direksi.”


Rey menelan ludah. Orang dalam. Siapa yang tega melakukan itu semua pada Papa?


“Polisi masih merahasiakannya. Sementara ini mereka hanya memberitahu aku. Dan kamu orang kedua yang tahu.”


“Mama sudah tahu?”


Pengacara Julius menggeleng, “Anda tahu, kalau berbicara dengan Nyonya Mulan Bramantya harus di waktu yang tepat.”


Rey mengangguk. Kabarnya, Pengacara Julius pun diusir dari Rumah Coklat setelah Rey dan Hud pulang. Darmaji yang memberitahunya. Mama menolak isi surat wasiat itu, meski dia tidak punya kekuatan hukum.


“Apa anda tahu kalau aku anak haram?”


Pengacara Julius menyandarkan punggung di kursinya. Memindai Rey beberapa saat, lalu tersenyum lebar.


“Anda anak sah tuan Ariel Bramantya, Reynand Milan Bramantya.”


“Dan Mama tahu hal itu?”


“Mama anda tahu segalanya. Dia penguasa rumah anda. Tapi, secara hukum, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya, saya kasihan pada Nyonya Mulan. Dia cantik, cerdas dan wanita luar biasa. Hanya saja, Tuhan tidak memberikan keturunan padanya, yang membuat hidupnya menjadi tidak punya masa depan. Karena keluarga Ariel Bramantya hanya akan mewariskan Eagle Air pada darahnya sendiri.”


“Ceritakan semuanya. Anda pengacara Papa, pasti tahu banyak.”


“Saya tidak tahu banyak, Reynand. Yang saya tahu, Papa anda orang yang sangat hati-hati dalam bertindak. Selalu dipikirkan dampak baik dan buruknya. Termasuk pernikahannya dengan ibu anda. Dia mengurusnya secara hukum dan legal. Anda memegang surat nikahnya kan?”


Reynand mengangguk.


“Saya memegang akte kelahiran anda. Asli.”


Reynand membeliak, “Akte kelahiran? Aku tidak pernah melihatnya.”


“Karena memang tidak pernah disimpan di rumah anda. Akte itu disimpan di sini, sebagaimana surat nikah itu.”


“Aku mau melihatnya.”


Pengacara Julius bangkit dari kursinya, menuju lemari. Reynand mengikuti gerak-geriknya tanpa berkedip. Jantungnya mendetak-detak tak karuan. Dan ketika selembar kertas dengan tepi biru berjudul akta kelahiran itu diletakkan di depannya, Reynand menahan nafas.


“Aku lahir di Milan?”


Pengacara Julius mengangguk.


“Jadi, ibuku orang Milan? Orang Italia?”


Pengacara Julius menggeleng, “Kamu bisa melihat nama ibumu di situ. Dia orang Indonesia.”


“Di mana dia sekarang?”


“Aku tidak bisa memberi jawaban. Karena aku tidak tahu, Rey. Hanya Papamu yang tahu dia ada di mana.”


Reynand memegang akta kelahirannya dengan gemetar. Matanya tertuju pada nama ibu kandungnya : Aisyah.