MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney`s Light



Sudah sebulan Sydney berada di Tokyo. Dia sudah mengenal beberapa tempat, dan menghafal rutenya di luar kepala. Kageyama selalu berada di dekatnya. Ayahnya memang memberi tugas pada Kageyama untuk selalu mendampingi Sydney di luar jam kuliahnya. Mengajarinya menulis dan berbicara bahasa Jepang. Dan menjadi pengawal Sydney ke manapun Sydney ingin pergi.


“Jangan pergi di manapun tanpa aku, “ pesan Kageyama sebelum dia berangkat kuliah. Setiap pagi, dia selalu menyempatkan mampir menengok Sydney. Kadang bila dia mendapati Sydney sedang mengaji di teras rumahnya, ditungguinya sampai selesai. Walau hanya untuk menyampaikan satu atau dua kalimat bahasa Indonesia yang dipelajarinya semalam.


Sydney hanya tersenyum geli. Pemuda itu berusaha keras belajar Bahasa Indonesia pada Obasan. Juga pada Tuan Osaka. Karena, komunikasi Bahasa Inggris antara Sydney dan Kageyama sangat payah. Kadang, bila sudah tidak menemukan kosakata, mereka mengandalkan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Dan ujung-ujungnya, mereka berdua tertawa karena tidak saling mengerti bahasa tubuh.


“Kamu lucu,” ucap Sydney sambil melempar senyum. Kageyama benar-benar menghiburnya.


“What, funny?”


Sydney mengangguk sembari tersenyum. Kageyama tertawa senang. Dia sangat suka bila melihat Sydney mengangguk. Dia terlihat begitu menggemaskan. Ada yang berdesir di dadanya bila melihat Sydney mengangguk, dan dia menyukainya. Kageyama suka wajah orang Indonesia. Matanya lebar, tidak sipit. Dan kulit wajahnya kelihatan alami, tidak pucat seperti orang Jepang. Dan Sydney adalah wajah orang Indonesia sempurna di mata Kageyama.


Kalau saja tidak ada jadwal kuliah, dia pasti akan berlama-lama bersama gadis itu. Menikmati setiap letupan hangat di dadanya. Sebelumnya, dia tidak pernah merasakan perasaan ini pada siapapun. Bahkan pada gadis Jepang tercantik yang pernah ditemuinya. Semakin menguatkan tekadnya untuk bisa berBahasa Indonesia.


“Aku sudah menghafal semua huruf hiragana dan katakana. What next?” tanya Sydney.


“Hm, aku punya buku. Kau baca bukuku.”


“Dengan huruf Jepang?”


Kageyama mengangguk. Sydney manyun. Bahkan ayahnya tidak seketat ini mengajarinya Bahasa Jepang. Setiap malam, ayahnya selalu menanyakan bagaimana perkembangan belajar Bahasa Jepang bersama Kageyama. Kadang-kadang dia memberikan sedikit test.


Tuan Osaka sering ke luar kota. Tapi kata Obusaan, sejak ada Sydney di rumah, Tuan Osaka lebih banyak mengurus bisnisnya dari rumah. Alasannya pada Obusaan adalah, dia sudah tua. Tidak ada lagi yang akan dia kejar melebihi apapun, karena dia sudah bersama Sydney.


“Dua bulan, Sydney sudah harus bisa bicara Jepang.” Kageyama mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Sydney mengangguk-angguk. Dia harus berusaha keras. Atau dia tidak bisa kuliah hanya karena terkendala bahasa.


“Nanti sore kita jalan-jalan.”


Sydney menggosok-gosok telapak tangannya. Matanya berbinar. Sudah saatnya dia refreshing setelah berkutat dengan huruf-huruf Jepang. Sekalian mencoba bahasa Jepang acak adutnya ke beberapa orang di jalan.


“Ke mana?”


“Nanti kamu tahu.”


Sydney menganggu-angguk senang. Tapi kemudian, dia teringat sesuatu. Ada yang harus diantisipasinya. Jalan-jalan pekan kemarin, dia kehilangan Kageyama. Sebenarnya tidak masalah bagi Sydney karena dia hafal rute kembali ke rumah. Tapi Kageyama yang panik luar biasa. Belum juga sampai di rumah, Kageyama menarik tangannya karena dia sudah berlari mengejar Sydney dari kejauhan. Dan akibatnya, Kageyama nyaris ditendangnya, karena Sydney tidak mengenali wajahnya. Kageyama sampai memanggil namanya berkali-kali, meyakinkan Sydney bahwa dia mengenalinya. Waktu itu Sydney beralasan bahwa wajah orang-orang Jepang mirip Kageyama semua, makanya dia tidak bisa mengenali Kageyama.


Sydney mengeluarkan tasbih berwarna hijau dari sajadah yang dilipatnya. Lalu dikalungkannya di leher Kageyama. Wajah mereka hanya berjarak satu lengan, dan Kageyama merasa dadanya seolah akan meledak. Sydney tersenyum manis, bahkan begitu manis di mata Kageyama. Lebih indah dari matahari terbit yang selalu dinantinya setiap pagi.


“Ini hadiah dariku. Terima kasih sudah mengajariku.”


“Apa ini?”


“Kamu harus memakainya bila bersamaku. Bila kamu tidak memakainya, aku tidak mau bicara denganmu.”


Kageyama memegang tasbih itu. Sydney memberinya hadiah. Dia tahu benda ini. Gadis itu kerap memainkan benda ini di tangannya, saat duduk di teras di pagi hari. Sembari menadah sinar matahari dengan wajah manisnya. Benda ini, sepertinya begitu berharga bagi Sydney. Gadis itu memberikan benda ini padanya?


“Tapi... ini milik Sydney.”


“Sekarang, itu milik Kageyama.”


“Kalau aku tidak bersama Sydney, aku apakan kalung ini?”


“Kau bisa menyimpannya di bawah bantal atau selimut. Dia bercahaya di dalam gelap.”


“Benarkah? Bagaimana bisa?”


“Anggap saja, itu cahaya Sydney. Sydney`s Light.”


oOo


Sydney dan Kageyama menyusuri jalan yang ramai oleh pejalan kaki. Kali ini Kageyama membawa Sydney ke area jajanan. Aneka jajanan banyak dimasak dan langsung dijual pada pembeli. Sydney jadi teringat penjuang gorengan dan cilok di dekat kampus. Makanan andalan anak mahasiswa.


Kageyama membeli takoyaki. Makanan berbentuk bola-bola yang ditusuk seperti sate. Mirip cilok, tapi lebih enak Takoyaki tentunya. Adonan tepungnya saja sudah enak, apalagi daging gurita di dalamnya.


“Enak?” tanya Kageyama ketika mereka duduk di sebuah bangku di bawah pohon, menikmati Takoyaki.


Sydney menganggu-angguk dengan mulut penuh makanan. Kageyama terbahak. Dia memberikan miliknya pada Sydney. Gadis itu kelihatan sangat menyukai takoyaki. Wajahnya memerah ketika menerima takoyaki dari Kageyama. Kageyama seperti melihat cahaya matahari pagi di wajah Sydney. Sydney`s Light. Digenggamnya kalung dari Sydney yang menjuntai di dadanya. Sydney tersenyum sembari melihat dadanya.


^You are my sun, my life.^ Kageyama meneriakkan kalimat itu dalam hati. Dia akan memegung teguh janjinya pada Tuan Osaka. Untuk selalu mendampingi Sydney.


Tidak jauh dari mereka duduk, ada sedikit keributan. Seorang perempuan Jepang dengan dua pemuda Jepang. Dari nada suaranya yang semakin meninggi, mereka sepertinya sedang bertengkar. Tidak lama, salah satu pemuda mendorong si perempuan hingga nyaris terjengkang.


“Kageyama....” ucap Sydney, meminta Kageyama menengahi pertengkaran itu.


“Biarkan saja. Mereka bertengkar karena cemburu.”


“Oh ... “ Sydney pun mengabaikan pertengkaran itu. Namun, suara mereka semakin lama semakin meninggi. Mau tak mau, Sydney dan Kageyama memberi perhatian. Beberapa orang yang lalu lalang juga sempat berhenti, sekedar ingin tahu, tapi kemudian berlalu.


Bug! Bug!


Sydney bangkit dari duduknya. Perempuan itu dipukuli oleh satu dari pemuda itu. Terdengar teriakan para pejalan kaki. Perempuan itu roboh. Pemuda yang satunya tahu-tahu mengeluarkan pisau. Sinar matahari Tokyo di sore hari, memantulkan kilatan pisau itu. Dan alarm Sydney sontak berbunyi nyaring.


“Hei!” teriak Sydney. Tiba-tiba dia sudah melesat mendekati lokasi pertengkaran yang berjarak dua puluh meter darinya. Kageyama terkejut. Belum sempat dia berteriak, dilihatnya Sydney sudah menendang tangan pemuda yang memegang pisau hingga pisaunya terlempar jauh.


Belum sempat pemuda itu menyadari apa yang terjadi—Sydney sudah menendangnya lagi hingga terjengkang. Pemuda satunya yang tadi memukul perempuan Jepang—yang kini tersungkur kesakitan—kini berbalik ke Sydney. Dan tanpa ragu, dia menggebuk punggung Sydney. Tapi bukan Sydney namanya kalau dia tidak bisa berkelit. Dia memutar tubuhnya, dan berhasil mendaratkan tinju ke pemuda itu. Sydney tidak menyadari bahwa pemuda yang sudah dijatuhkannya sebelumnya, menarik tangannya dan menghantamkan Sydney ke pagar besi. Lalu sebuah tendangan di punggung, membuat Sydney nyaris berteriak kesakitan. Hantaman itu begitu keras hingga Sydney membungkuk di atas pagar besi.


Kageyama melihat semuanya berlangsung cepat. Dia pun melompat ke arah dua pemuda itu, membuat keduanya terjengkang dengan tendangannya. Sayang, dia tidak membawa tongkat, jadi dia terpaksa mengandalkan tangan dan kaki. Sementara dilihatnya Sydney membungkuk di pagar besi. Sepertinya dia mendapat hantaman cukup keras.


Perkelahian tak terelakkan. Kageyama dikeroyok oleh dua pemuda itu. Tinju demi  tinju diterimanya dari dua pemuda beringas itu, tapi berhasil dibalasnya dengan lebih keras. Kedua pemuda itu berhasil dibuatnya terjengkang berkali-kali. Tapi mereka masih bangkit dan berusaha mengalahkan Kageyama. Namun usaha itu sia-sia saja. Kageyama selalu berhasil merobohkan mereka kembali.


Beberapa polisi datang sejurus kemudian. Dua pemuda itu diringkus tanpa perlawanan. Karena Kageyama sudah membuat keduanya kelelahan berkelahi. Setelah polisi membawa dua berandalan itu pergi dan menolong perempuan Jepang yang menjadi korban, Kageyama baru teringat pada Sydney. Gadis itu terduduk di tepi pagar dan tampak kesakitan.


“Sydney? Kamu baik?” tanya Kageyama.


Sydney menggeleng. Wajahnya pucat. Dia menggigit bibir menahan sakit.