
Hud tidak bisa menganalisa dirinya sendiri kenapa dia begitu kesal pada Rey sejak pertemuan mereka dengan Sydney. Melihat Rey melintas di kamar, membuatnya membuang muka kesal. Padahal teman sekamarnya itu tidak punya salah apa-apa padanya. Hanya saja gadis itu, saat pertemua di kantin fakultas sama sekali di luar perkiraannya selama ini. Selalu menundukkan pandangan bila bertemu siapa saja, bahkan melebihi gadis berjilbab lainnya. Dan hal itu membuat Hud lebih menghormatinya dari yang lain. Apalagi bila dia mengangguk, sungguh membuat Hud tidak bisa focus.
Tapi, saat Sydney menatap Rey, dia sama sekali tidak melakukan hal itu. Dia seolah terhipnotis atas ketampanan Reynand. Jujur, Hud mengakui, bila dia dibandingkan dengan Rey seperti kopi dengan krim di atasnya. Hud kopinya dan Rey krimnya. Rey lebih manis dan selalu dipandang lebih dulu. Selama ini Hud tak pernah mempermasalahkan standar fisik seperti itu. Meski dia tahu, bila berjalan bersama Rey di sepanjang jalan menuju kampus, semua orang selalu memandang mereka—maksudnya menatap Rey—seraya berbisik-bisik. Terutama perempuan. Ada artis berjalan didampingi body guard, bahkan Hud pernah mendengar kata-kata itu.
Saat ini, tidak mudah menemukan gadis berhijab seperti Sydney. Bila yang bercadar banyak, yang berhijab tapi mengumbar pandangan juga tidak sedikit. Hud sulit membedakan, mana yang benar-benar menundukkan hati dengan menundukkan pandangannya. Tapi pada Sydney, dia menemukan itu.
Namun, beberapa detik saat adzan asar tadi, Hud menyesali bisa sudah menjustifikasi hanya dengan pandangan sesaat. Yang jelas, Rey menjadi lebih diam sejak pertemuan itu. Lebih tepatnya merenung. Dia hanya duduk di mejanya dengan lukisan yang kini terpampang di hadapannya, dilepas dari dinding. Dia tidak lagi melamun di balkon.
Semula Hud hendak menyatakan keberatan dengan lukisan wajah seorang gadis kecil berkepang dua di sudut Rey. Sudut Rey adalah ranjang dengan meja belajar berlampu terang dengan hiasan lukisan-yang katanya hasil karyanya sendiri, gitar menggantung di atas ranjang dan sebuah lemari berkaca setinggi Rey. Sepertinya harus pakai banget bagi Rey untuk selalu menatap wajahnya di cermin, mematut diri berlama-lama. Setidaknya, asuhan Mamanya untuk selalu mengutamakan penampilan masih berbekas.
Sedangkan sudut Hud adalah ranjang dengan aneka barang berserakan di atasnya, dan di kolongnya penuh dengan peralatan mendaki gunung. Lemari dari plastik dan sebuah meja belajar—yang selalu tampak bersih—tanpa hiasan apapun.
Jujur, Hud mengakui bahwa sudut Rey adalah sudut paling rapi serumah kost ini. Bahkan kamar mas Hanif—sang bapak kost—jauh lebih kacau dari sudut Hud.
Hud melirik Rey yang menatap lukisan itu berlama-lama, dan sepekan ini sepertinya dia tidak menyentuh gitarnya. Hud mencoba menganalisa sekali lagi, bahwa bisa jadi Rey menemukan hubungan antara lukisan itu dengan Sydney. Sama-sama tak bisa melepas pandangan dari mereka. Sydney dan lukisan. Dan memikirkan hal itu membuat Hud jengah.
“Rey, kau jadi ikut oprec mapala, kan? Aku sudah mendaftarkan namamu. Pekan depan...”
“Aku mau ikut taekwondo saja,” sahut Rey tanpa membalikkan badan.
Hud menelan ludah. Dia baru ingat bahwa sore tadi dia berjanji mempertemukan Rey dengan pelatih taekwondo. Dan karena anak pelatih itu sedang sakit, makanya janji itu batal. Dan Hud juga ingat, bagaimana dia dan Rey meninggalkan Sydney dengan alasan yang sama. Bertemu pelatih taekwondo. Hud menjambak rambutnya. Dia tidak yakin Rey percaya pada ucapannya sekarang.
“Kamu tidak usah mengantarku, Hud. Aku bisa mendaftar sendiri. Aku tahu tempatnya.”
Hud terdiam, lebih tepatnya dia kebingungan bagaimana harus berkata-kata. Anggukan Sydney benar-benar telah membuatnya gagal focus. Dan Hud memaki dirinya, karena bisa-bisanya dia cemburu pada Rey. Sedangkan baik dia ataupun Rey tidak punya hubungan apapun dengan Sydney. Selain sebuah pertemuan sekilas yang tidak bisa dijadikan justifikasi. Bisa jadi Sydney pun hanya terkesima melihat Reynand.
“Aku akan mengantarmu, bukankah aku sudah berjanji? Lagipula, sekarang bukan masanya oprec. Kalau kamu langsung mendaftar bisa-bisa kamu langsung ditolak, bila kamu berangkat tanpa aku.”
Rey diam. Hud memandangi punggungnya, berharap Rey tidak membalikkan badan dan mengetahui ekpresi wajahnya. Hud tidak akan membiarkan Rey melenggang sendiri menuju club taekwondo. Karena Sydney ikut taekwondo juga!
“Kapan kamu mau mengantarku?”
“Besok pagi, sebelum jam satu siang. Kamu bisa?”
“Bisa. Tapi aku harus ke kantor polisi dulu. Dan aku tidak tahu sampai jam berapa.”
“Oke, aku temani ke kantor polisi kalau begitu.”
“Makasih, Hud.”
Hud menarik nafas lega, seolah lunas membayar hutang.
“Yakin jalan kaki?” tanya Hud sembari memindai postur Rey dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan sungguh dia sebal pada rambut acak-acakan Rey yang membuatnya semakin mirip boyband korea yang sedang naik daun. Posternya ada di mana-mana, karena kabarnya akan konser di kota ini.
Rey mendahului Hud memanjangkan langkah. Hud mengikutinya dari belakang, sembari sesekali menatap ke belakang. Ada yang membuatnya tidak nyaman berkunjung ke tempat ini, dengan semua orang yang berlalu lalang berseragam coklat dengan banyak logo di bajunya. Mungkin karena selama ini dia tak pernah memiliki SIM. Jadi setiap lelaki berseragam polisi, baginya selalu identic dengan operasi pemeriksaan SIM.
“Bagaimana hasilnya tadi?” tanya Hud.
Rey diam, menendang kerikil. Hud memaklumi bila Rey tak mau banyak bicara. Dia hanya butuh teman yang menjajari langkahnya. Katanya, dia khawatir menjadi emosi. Jadi dia perlu seseorang. Atau bisa jadi, selama ini dia selalu didampingi bodyguard. Begitu kuliah, dia merasa was-was dengan sekelilingnya. Apalagi, Mamanya menyimpan api dalam sekam. Beberapa kali, Ibrahim dan Darmaji menghubungi Rey, tapi Rey tak memedulikan mereka. Bahkan dia membuang ponselnya. Hud memungutnya di sampah, mengembalikan di meja Rey dalam kondisi mati.
“Kecurigaan polisi terbukti, Hud. Ada Dewan Direksi yang sampai sekarang berada di luar negeri, dan sulit dihubungi. Ayahku benar-benar dibunuh. Mekanik yang mengundurkan diri di hari kecelakaan itu, juga menghilang.”
Hud menghela nafas, “Lalu kamu bagaimana?”
“Kata mereka, aku dan Mama bisa jadi menjadi sasaran berikutnya. Ada indikasi buruk di Maskapai. Mungkin selama penyelidikan, ada polisi yang akan melindungiku.”
“Kau perlu bodyguard?”
Rey menghentikan langkah, menatap Hud penuh kepercayaan “Aku sudah punya teman.”
Hud mengembangkan senyum, merasa tersanjung.
“Masalahnya adalah, mau tidak mau aku harus masuk ke Maskapai. Aku hasus belajar mengurus maskapai. Masalah kedua, tak ada satu pun orang di sana yang bisa aku percaya. Seingatku, ada Pak Ibrahim yang sering ke rumah, tapi dia lebih sering dengan Mama. Dia ke rumah bila Darmaji disuruh Mama ke luar kota. Dia seperti pengganti Darmaji, menurutku. Dan....”
Rey menelan ludah.
“Seingatku, mereka lebih dari sekedar rapat. Kalau Ibrahim ke rumah, Mama sering bersama Ibrahim berdua dengannya di kamar. Kupikir Mama memukulinya, karena kadang dia keluar kamar dengan mata lebam dan baju berantakan. Kata Mama dulu, Ibrahim adalah bawahan yang harus menuruti semua perintahnya. Aku tidak paham maksudnya. Kamu paham, Hud?”
Hud menelan ludah. Keluarga kacau, batinnya.
“Darmaji juga begitu, dia sopir setia Mama dan paling sering punya luka di tubuhnya. Kalau Papa ke luar negeri, Darmaji selalu berada di sebelah Mama. Kata Mama, Mama takut sendirian bila tidak ada Papa,” gumam Rey, “besoknya, pasti ada luka memar di badan Darmaji. Yang aku heran, mengapa mereka betah bersama Mama?”
“Karena Mamamu gila dan kau idiot, Rey,” gumam Hud dalam hati, “beruntung kau keluar dari rumahmu ketika kau sudah cakep kayak gini.”