MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Mimpi Buruk



Reynand membuka telapak tangan, dan menghulurkannya ke depan. Di hadapannya, Sydney berdiri agak jauh sembari menatapnya, lalu menatap telapak tangannya. Wajah manisnya begitu jelas di mata Reynand. Setiap detilnya begitu nyata, dan begitu dihafalnya. Sepasang alis yang melengkung dan nyaris menyatu di tengah dahi berpadu dengan sepasang mata jernih berbulu mata lentik. Pipi dengan lesung pipit mungil yang hanya muncul bila dia tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapih. Serta bentuk hidung yang disukai Reynand. Tidak lebar, dan tidak terlalu mancung. Reynand melangkah perlahan, sambil tetap menghulurkan tangan. Dia ingin menyentuh wajah itu, satu-satunya wajah yang dia tidak perlu berusaha keras untuk mengingatnya.


Reynand yakin, Sydney akan menyambut tangannya. Senyumnya mengatakan demikian. Dan mereka akan bergandengan tangan.


Tapi Sydney tahu-tahu berbalik, dan berjalan menuju rumahnya yang sedang terbakar. Reynand memanggilnya, tapi suaranya tidak keluar. Dia berlari mengejar, tapi tangannya tak kunjung sampai menggapai Sydney. Reynand meneriakkan nama Sydney, memaksa pita suaranya bekerja lebih keras. Tapi Sydney semakin masuk dalam kobaran api.


“SYDNEY!”


Reynand terduduk. Nafasnya terengah, dan dia mendapati tangannya terhulur. Di hadapannya bukan Sydney. Tapi meja belajarnya dengan lampu masih menyala. Reynand memindai ruangan yang hanya diterangi oleh lampu belajarnya.


“Rey, kau mimpi?”


Suara Hud, dan Reynand melihat Hud bergerak-gerak di ranjangnya. Rupanya dia terbangun, mungkin karena teriakan Rey. Rey tepekur, seberapa keras tadi dia meneriakkan nama itu. Rasanya, tenggorokannya begitu kering, seolah sudah berteriak ratusan kali.


“Mimpi Sydney?”


Reynand meraba bajunya. Basah oleh keringat. Dia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Hud. Pasti tidurnya terganggu karena mendengar teriakannya dalam mimpi buruk barusan. Bisa jadi, selama dia memanggil nama Sydney dalam mimpinya, Hud mendengarnya.


“Maaf,” sahut Reynand nyaris tidak terdengar.


Rey berdiri menuju pintu balkon, membukanya perlahan, lalu menutupnya lagi ketika dirasakannya angin malam menyeruak masuk. Dingin. Dia pun duduk di meja belajarnya dan mengambil secarik kertas. Sejak kepulangannnya dari kampung halaman Sydney tadi sore, dia tidak banyak bicara. Hud juga.


Rey bahkan tidak makan sejak siang. Perutnya terasa melilit, tapi hatinya lebih pedih.


Ingin dia ke ruang belakang, untuk bermain piano. Tapi, sekarang jam satu dini hari. Rey tidak ingin mengganggu teman-temannya. Dulu, bila dia tidak bisa tidur malam hari, dia biasanya turun ke ruang tengah untuk bermain piano di sana. Biasanya, ayah akan turun begitu dia memencet satu nada. Dan mereka akan bermain piano bersama, tidak peduli Mama akan marah-marah pagi harinya.


Tiba-tiba ponsel tit tut-nya yang tergeletak di meja belajar, bergetar dan menyala, memendarkan cahaya putih. Sebuah pesan pendek masuk. Rey meraihnya malas. Biasanya dari provider mengirim pesan promo. Tapi melihat nama pengirim pesan pendek yang muncul di kotak masuk, Rey mendelik. Sembari melirik Hud, dia membuka pintu balkon. Udara dingin menyerbunya, tapi Rey tak peduli. Pintu ditutupnya kembali perlahan.


"Saya ada info soal Sydney."


Pengacara Julius. Mungkin sebab almarhum Papa percaya padanya karena dia selalu bisa diandalkan. Rey tidak lagi fokus pada kasus pembunuhan Papa. Mamanya sudah menguasai polisi, percuma saja mengandalkan mereka. Kecuali Rey punya kekuasaan yang lebih tinggi lagi. Toh, Papanya tidak akan kembali. Yang Papa inginkan dari Rey adalah menemukan ibu, mengurus Bluestar dan Eagle Air. Itulah cara Rey berbakti pada Papa. Namun saat ini, Sydney adalah fokus utamanya. Gadis itu sudah memenuhi hatinya, dan dia tidak ingin kehilangan lagi, seperti 7 tahun yang lalu.


Ya, Rey yakin. Sydney adalah gadis 7 tahun yang lalu, yang dilukisnya. Karena, hanya wajah Sydney yang bisa diingatnya, dari ribuan wajah asing di sekitarnya. Sekarang, apapun akan dilakukannya untuk menyelamatkan Sydney dari Mamanya.


Rey mendial nomor Pengacara Julius.


“Halo? Bagaimana infonya?”


Pengacara Julius berdehem di seberang. Jadi, dia belum tidur atau sudah bangun, Rey tidak peduli. Dia membayar Pengacara itu, jadi tidak perlu merasa sungkan.


“Sydney dan neneknya selamat.”


Rey merasa dadanya berdegup kencang. Dia menarik nafas panjang. Hidungnya terasa dingin, dan angin malam membuatnya mengerutkan badan.


“Bagaimana keadaan mereka? Di mana mereka sekarang?”


“Mereka tidak di kampung itu lagi. Seseorang atau mungkin beberapa orang telah menyelamatkan mereka, dan itu bukan anak buahku. Sekitar lima jam sebelum kebakaran itu, mereka sudah mengungsi dari rumah itu. Info dari beberapa penduduk, mereka pergi lewat belakang rumah, membawa tas-tas besar. Ada dua orang bersama mereka. Laki-laki dan perempuan.”


“Pastinya, dua orang itu mengetahui situasinya. Siapa mereka?”


“Penduduk yang agak jauh dari kampung situ. Tidak ada yang mengenalnya, apalagi malam dan di area belakang rumah hanya ada ladang dan beberapa rumah penduduk saja. Yang jelas, Sydney-mu selamat.”


Rey bernafas lega. Dia yakin Sydney selamat, karena tidak ada info ditemukan jasad manusia terbakar di reruntuhan, atau korban kebakaran yang dilarikan ke Puskesmas.


“Apa bisa dilacak di mana dia sekarang?”


“Anak buahku masih berada di kampung itu. Mereka masih mencari infomasi. Ada kabar, pagi-pagi sekali ada mobil meninggalkan desa. Bukan mobil dengan plat wilayah situ. Bisa jadi mereka. Karena sejak kebakaran belum ada mobil pergi meninggalkan desa. Aku yakin mereka tidak akan berjalan meninggalkan desa. Ada neneknya yang sudah tua.”


Rey seperti mengingat sesuatu, tapi dia tidak yakin.


“Ada jalan lain keluar desa?”


“Pintu utama adalah jalan yang kalian masuki. Anak buahku sampai menyamar jadi preman dadakan, pura-pura memalak setiap mobil yang lewat jalan itu. Aku yakin, preman suruhan Mamamu tidak akan berani lewat jalan itu.”


“Oke, terima kasih. Infonya.”


“Aku kabari kalau ada perkembangan terbaru.”


“Hud... Hud ... bangun...”. Rey mengguncang-guncang badan Hud.


“Hmm...”


“Aku mau bertanya sesuatu.”


“Besok aja Rey. Aku masih ngantuk ini..., “ ucap Hud sembari membalikkan badan, menghadap dinding.


Rey membalik badan Hud.


“Hud!”


Hud mendecih kesal, “Apaan sih, Rey. Aku mau maju proposal besok, please beri aku waktu istirahat.”


“Hud, aku ingin kau mengingat-ingat sesuatu. Waktu kita terjebak berpapasan dengan mobil. Di kampung Sydney. Kau ingat plat mobil itu kan?”


Hud memaksa membuka mata, melihat Rey dalam remang cahaya. Anak ini sepertinya tidak bisa tidur lagi karena mimpi buruknya tentang Sydney. Jadi pikirannya menganalisa banyak hal tentang Sydney.


“Tidak,” jawab Hud tegas.


“Ayolah, Hud. Kamu harus ingat. Kamu kan berkenalan dengan salah satu penumpangnya.”


“Oke, kalau aku kenalan sama dia. Hello, aku Hud. Nomor platku bla bla bla. Itu perkenalan yang keren bukan? Aku mau tidur.”


Hud menutup kepalanya dengan bantal. Rey menarik bantal itu dan melemparnya ke lantai.


“Di mobil itu ada Sydney!” seru Reynand.


Hud sontak membuka matanya yang berat. Rey senang melihat Hud langsung sadar 100%. Hud langsung duduk, dan Rey menghidupkan lampu kamar.


“Kamu yakin? Info dari siapa?” tanya Hud sembari menyandar ke dinding. Kantuknya masih berat, tapi informasi ini membuat dia harus membuang kantuk.


“Anak buah Pengacara Julius.”


“Lalu kenapa anak buah Pengacara Julius tidak mengejar mobil itu? Beres,kan?”


“Masalahnya, ini baru dugaanku.”


Hud nyaris ngakak, tapi dia tidak ingin membuat Rey kecewa. Anak itu berdiri di tengah kamar, mondar mandir layaknya penyidik yang baru saja menemukan petunjuk penting dan berusaha mengaitkan dengan petunjutk lain.


“Kenapa kau menduga begitu?”


“Malam sebelum kebakaran itu, ada yang menyelamatkan Sydney. Dia pergi dari rumahnya. Dan pagi-pagi, hanya satu mobil yang meninggalkan desa itu. Mobil yang berpapasan dengan kita.”


Hud berpikir sejenak, lalu membuat argumen sendiri. “Bisa jadi Sydney masih di kampung halamannya, bersembunyi entah di mana.”


“Feelingku tidak demikian,” sahut Rey, “dia sudah pergi dari kampung halamannya.”


Hud menatap Rey yang tampak sangat yakin dengan kalimatnya. Dan feelingnya, apakah benar sekuat itu?


“Kalau begitu, kamu mendapat ancaman baru.”


Rey mengernyit. “Ancaman baru?”


“Kalau benar itu mobil yang Sydney di dalamnya. Kamu terancam.”


“Kenapa.”


“Lelaki yang berkenalan denganku, dia lebih cakep dari kamu. Aku yakin, dia tidak akan melepaskan Sydney.”


Rey mengambil bantal yang tadi dilemparnya, lalu dipukulkannya ke kepala Hud berkali-kali. Hud terbahak, sembari menangkis bantal itu dengan tangannya.


Rey merasa mukanya memerah.


“Namanya Aditya.”