
Sejak semalam aku tidak bisa tidur, akibatnya pagi ini kepalaku pusing dan mata ini terasa berat. Tapi aku harus menyiapkan sarapan seperti biasa. Nenek masih tadarus di ruang tamu. Sepertinya, ini tadarus terlama. Tidak seperti biasanya Nenek tadarus dini hari dan meneruskan selepas subuh.
Mungkin karena kondisi duka mendalam ini.
Kemarin, begitu kukabari masalah Drop Out itu, Nenek sangat marah. Sehingga dia memukul-mukul meja dengan centong nasi, saat menginterogasiku. Saat itu, Nenek memang mau makan siang. Tapi melihat aku masuk rumah sambil menangis, Nenek tidak jadi makan. Malah memaksa aku mengatakan kenapa aku menangis.
Dan, salahku sendiri, aku tidak bisa mengarang cerita bohong. Aku memang gak bisa bohong dari dulu. Lagipula, kalau bohong, Nenek pasti akan tahu pada akhirnya.
Jadilah maka jadilah.
Nenek marah, dan akhirnya Nenek menangis setelah memarahiku. Kami berpelukan sampai sore, meratapi nasib.
Yah, nasib orang miskin seperti aku dan nenek. Yang untuk kuliah saja mengandalkan beasiswa. Dulu semasa aku sekolah, setiap tahun ajaran baru, Nenek selalu menghadap Kepala Sekolah. Meminta supaya aku bisa sekolah dengan membayar uang sekolah sedikit saja, karena aku anak yatim piatu. Sedangkan Nenek hanya seorang penjual rujak.
Aku tidak pernah punya kotak pensil yang bagus, apalagi tas sekolah yang berisi buku-buku baru. Nenek yang selalu mencari pinjaman buku bekas kakak kelas. Tas sekolahku adalah tas yang sama bertahun-tahun. Sepatupun, kalau tidak ada yang memberi, sampai tidak muatpun masih aku pakai ke sekolah, dengan menginjak bagian belakangnya.
Maka, mendapat beasiswa bidik misi, itu adalah berkah dari langit. Mimpi yang menjadi kenyataan. Bisa kuliah gratis dan dapat uang saku. Akan menjadi orang yang berderajat.
Tapi itu semua pupus sudah.
“Zura, sudah ada sarapannya?” tanya Nenek, rupanya mendengar aku sudah menyentuh peralatan dapur.
“Belum, nek.”
Nenek melanjutkan mengaji.
Aku membuka tempat beras. Masih ada beras untuk hari ini. Bagaimanapun kondisinya, aku harus tetap berjualan rujak. Nenek harus memberi makan dua mulut sejak aku libur, sedangkan aku tidak akan lagi mendapat uang saku bidik misi.
Jadi aku harus bekerja lebih keras berjualan rujak. Sebagai orang kecil seperti aku dan nenek, tidak mungkin rasanya aku harus ke kampus dan mengurus semua supaya kembali seperti sediakala.
Ini pasti karena aku sudah menghajar pelatih taekwondoku sendiri. Jadi, aku harus menanggung dosa dan akibatnya, kata Nenek.
“Sudah Nenek bilang, jangan berurusan dengan orang-orang yang sudah Nenek masukkan daftar hitam. Apa perlu Nenek tulis semua nama itu supaya kamu tidak pikun?”
Kalimat terakhir Nenek sebelum akhirnya dia memelukku kemarin, dan kami menangis bersama. Ya, dosaku yang utama adalah tidak menuruti perintah Nenek. Hidupku bergantung pada Nenek, alangkah bodohnya aku tidak menuruti Nenek.
Kalau ayah dan ibu masih hidup, apakah nasibku juga seperti ini? Bahkan aku tidak tahu wajah mereka seperti apa. Terkadang aku merindukan dua orang yang menghadirkan aku di dunia, tapi aku tidak tahu wajah mereka. Aku sangat bodoh, bukan?
Aku melihat titik air jatuh di atas piring yang kupegang. Makin lama makin banyak.
***
Hari Senin, jualan rujak tidak begitu banyak. Jadi keranjang ini tidak begitu berat. Aku berhenti di pohon tempat aku bersandar kemarin, dan menoleh ke belakang. Adakah Aditya mengikutiku? Dadaku tiba-tiba berdesir halus saat mengucap nama itu dalam hatiku. Teringat ceritanya kemarin tentang kuliah di Malaysia. Sepertinya akan sangat menyenangkan bila aku bisa kuliah di sana. Tapi, tentu saja itu mustahil. Berangkat ke sana pasti memerlukan uang banyak. Di kampung ini banyak TKW yang berangkat ke Malaysia. Dan biasanya saat mau berangkat mereka harus membayar berjuta-juta. Apalagi kuliah. Dan Nenek tidak mungkin punya uang sebanyak itu.
Satu tikungan lagi, aku akan sampai di Pasar. Entah kenapa, keranjang bawaanku terasa begitu berat. Mungkin karena kepalaku pusing. Dari arah tikungan, muncul dua lelaki, tiba-tiba menghadang jalanku. Satu berambut keriting, dan yang satu gundul.
“Hei, kamu Sydney Azura, kan?” tanya salah satu dari mereka—si Gundul—mendekatiku hingga berjarak satu meter. Si keriting di sebelah kananku, berkacak pinggang.
Aku mencium tanda bahaya. Sorot mata mereka tajam, mengancam. Mereka pasti berniat buruk. Di sekitar pasar ini memang ada preman, kadang memalak pedagang—katanya untuk menjaga keamanan pasar. Mungkin, mereka ini preman pasar. Aku kan tidak mungkin ingat wajah mereka. Tapi, harusnya mereka kan ingat sama aku, yang rutin membayar keamanan. Apa mereka mabuk ya?
Aku memusatkan tenagaku pada kedua kaki dan tanganku. Sayang tangan kananku sedang memegang keranjang yang berisi bahan jualan rujak. Jangan sampai isinya berhamburan, atau hari ini aku tidak akan mendapat uang untuk makan.
Perlahan, aku letakkan keranjangku di tepi jalan, untuk itu aku harus mundur dua langkah. Dua orang itu maju dua langkah. Belum sempat aku memasang kuda-kuda, si Keriting di sebelah kanan melayangkan tinju. Dengan sigap kutangkap kepalan tangannya, lalu kudorongkan ke si Gundul. Temannya, si Gundul, tampak terkejut karena tidak menduga gerakanku, lalu dia menangkis. Tapi terlambat, kakiku sudah menendang tungkainya. Dia terhuyung sambil memaki. Si Keriting tidak memberi kesempatan padaku untuk melihat si Gundul terhuyung sampai terduduk di aspal—dia langsung mengarahkan tinju ke arah perutku.
Aku berhasil menangkap tangannya yang besar—kurasa karena banyak makan, bukan banyak olah raga—lalu memelintirkan tangan itu, hingga ke punggungnya.
Si Gundul bangkit dari aspal, lalu berteriak sambil melompat ke arahku. Namun tentu saja gerakannya kutahan dengan sekali tendangan, sembari aku memelintir si Keriting. Si Gundul kembali jatuh terduduk di tempat yang sama. Si Keriting memberontak dari pelintiranku, tapi dalam hitungan detik aku sudah menendang punggungnya hingga dia tersungkur di tepi aspal. Kurasa dia mencium aspal hingga tulang hidungnya patah. Karena dia kemudian menoleh dan menyeringai padaku—hidungnya berdarah.
Belum sempat aku melayangkan tendangan untuk membuatnya kembali tersungkur, tiba-tiba ada yang menyergapku dari belakang, memelintir tanganku. Rupanya, penyerangku tidak hanya dua, yang aku belum tahu dia gundul apa keriting. Dengan sigap, aku merunduk dan memusatkan tenaga pada kaki, untuk membanting penyergapku ke dapan. Huft, agak berat, tapi dia berhasil terjungkang di depanku. Ternyata rambutnya cepak.
Kini, si Gundul, si Keriting dan si Cepak berdiri sembari mengusap hidung dan mulut masing-masing. Semuanya berdarah. Aku memasang kuda-kuda sembari mengepalkan kedua tangan. Kulirik keranjangku, aman di samping aspal.
Rupanya si Gundul ketuanya. Dia memberi kode untuk menyerang. Pekerjaan agak berat, karena mereka semua tampak kekar, tapi ****. Si Cepak dan Keriting, berusaha meringkusku, dari kanan dan kiri. Dan Si Gundul berdiri di depanku, berusaha tampak sangar. Tiba-tiba, dia mengeluarkan sesuatu yang berkilat.
Pisau.
Tidak. Mereka bukan preman pasar. Mereka berniat lebih buruk lagi. Aku harus merobohkan mereka semua, lalu lari. Pelajaran pertama bela diri adalah, apabila kita tidak bisa melawan maka kita harus bisa lari dari ancaman.
Belum sempat mereka melangkah, tiba-tiba ada mobil hitam berhenti, remnya mendecit memekakkan telinga. Tiga orang berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam, tahu-tahu turun dari mobil dan menghadapi si Gundul, si Keriting dan si Cepak.
Perkelahian enam orang itu terjadi di depan mataku, dan mereka mengacuhkanku. Jadi, sebenarnya ini perkelahian siapa?
“Zura!”
Seseorang tiba-tiba meringkusku dari belakang, dengan tangan kanan tepat di mukaku. Gelang putih kehijauan. Aditya. Dia membalikkan badanku dengan cepat, hingga mukaku begitu dekat dengan mukanya. Hei, aku yang bisa bela diri di sini, kenapa dia yang justru bisa membalikkan badanku? Beberapa detik, kami saling bertatapan. Dan yang kujumpai adalah tatapan dalam sampai ke dasar hatiku, membuat dadaku menghangat, dan lututku gemetar.
Aditya menarik tanganku, memintaku meninggalkan area perkelahian itu.
“Tunggu, keranjangku!”
Aditya mengambil keranjangku, lalu menarik tanganku, berlari bersamanya.