MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Porak Poranda



Aditya tidak habis pikir dengan gadis satu ini. Baru kemarin dia disergap saat berjalan ke pasar, pagi ini dia sudah menenteng keranjang jualannya lagi. Aditya dengan cepat mengenali gestur Sydney dari kejauhan. Bahkan cara berjalannya, baik dari depan, samping atau belakang, Aditya sudah sangat menghafalnya. Memang agak berbeda dengan saat dia masih SMP. Tapi, dalam sepekan ini, Aditya sudah hafal.


“Zura...” panggil Aditya ketika sudah menjajari langkah Sydney di sebelah kanannya.


Sydney menoleh ketika Aditya mengacungkan pergelangan tangannya, menampakkan gelang putih kehijauannya. Sydney tersenyum. Wajahnya kelihatan tenang, sama sekali tidak ada kepanikan, apalagi ketakutan. Kemarin, dengan berbagai alasan, dia menjelaskan pada Neneknya tentang preman pasar yang mengamuk, sehingga Sydney memutuskan kembali dari pasar. Neneknya hanya mengangguk, dan menyuruh Sydney berjualan di depan rumah saja. Sementara pandangan sinisnya pada Aditya—yang telah membantu Sydney melarikan diri—membuat Aditya tahu diri untuk pulang. Tidak ada ucapan terima kasih dari Nenek itu karena Sydney tidak memberitahu yang sebenarnya apa peran Aditya. Dan sepasang mata keriput Nenek memastikan Aditya menyingkir dari halaman rumahnya.


“Aditya? Kenapa ke mari?”


“Kau pikir aku bisa tenang setelah kejadian kemarin?”


Sydney tersenyum, hatinya terasa ringan dan riang. Aditya adalah satu-satunya lelaki yang membantunya menghindari bahaya. Selama ini, Sydney selalu mengatasi semuanya seorang diri. Kadang sampai babak belur sendiri kalau dia mengejar copet dan copetnya melawan. Ternyata, mendapat pertolongan di situasi terjepit, sensasinya berbeda. Apalagi, bila dia seorang pemuda tampan yang membuat dadanya selalu berdesir bila memandangnya.


Aditya membawakan keranjang Sydney. Sydney hanya bisa menunduk, tidak kuasa menolak.


“Oh, iya. Bagaimana tawaranku untuk kuliah di Malaysia? Ikut program yang dulu pernah kuikuti.”


“Aku tidak punya uang.”


“Itu tidak pakai uang. Beasiswa penuh.”


Sydney mencuri pandang ke arah Aditya. Sialnya, lelaki itu sedang memandangnya sembari tersenyum. Sydney merasa pipinya memerah, bergegas dia mengalihkan pandangan ke arah sawah yang menghijau di samping kirinya.


“Entahlah, aku belum punya pikiran ke sana.”


“Aku bisa mengusahakan, Zura. Sebagai alumni sana, aku sangat paham seluk beluk beasiswanya. Aku bisa mengantarmu...”


Sydney menoleh.


“Bila kamu mau...” ucap Aditya, kembali mengembangkan senyumnya.


Ah, lagi-lagi, batin Sydney memaki dirinya. Kenapa dia tidak bisa berbuat apa-apa bila Aditya bersamanya? Sedangkan bila Reynand menyentuhnya, dia seperti dihujani elekron berkekuatan luar biasa, yang membuat sekujur tubuhnya kesemutan. Jadi, siapa sebenarnya... Aditya atau Reynand?


Hhh... Sydney menepis jauh-jauh pikirannya. Dia tidak lagi bisa berharap bertemu Reynand, karena dia sudah tidak lagi di Surabaya. Reynand tidak baca mencarinya ke sini. Dia orang kaya yang tidak akan mengurusi orang miskin seperti dirinya. Hanya menyusahkan saja.


“Aku sih terserah Nenek,” ucap Sydney sembari menatap lurus ke gerbang pasar yang sudah di depan mata, “Nenek pengin aku bisa kuliah dan mendapat pekerjaan yang layak.”


Di pasar, tampak para pedagang berkerumun. Sepertinya di area kios Sydney. Sydney merasa ada sesuatu telah terjadi. Jangan-jangan mbok Min, penjual tempe di sebelahnya. Kadang saat berjualan asmanya kambuh.


Sydney mempercepat langkahnya, menyibak kerumunan pedagang. Mbok Min rupanya belum datang, Sydney berlega hati. Tapi pemandangan yang dilihatnya di lapak milinya, membuat matanya membeliak.


Lapaknya porak poranda, meja untuk membuat rujak hancur berkeping-keping. Kelihatan kalau dihancurkan dengan benda keras. Juga lemari kecil tempat Sydney menyimpan mukena dan sajadah—yang digunakan untuk sholat Dhuha di mushola. Sydney melihat lapak Mbok Min di sebelah kananya, dan lapak Mbak Yanti di sebelah kirinya baik-baik saja.


“Siapa yang melakukan ini?” seru Sydney tertahan, darahnya mendidih, tangannya mengepal gemetar. Dan sejurus kemudian, tinjunya menghantam tiang penyangga atap pasar, yang berada antara lapaknya dan lapak Mbok Min. Tiang itu bergetar, menggetarkan atap pasar yang terbuat dari asbes. Orang-orang yang berkerumun sampai mundur beberapa langkah.


“SIAPA?” teriak Sydney marah, sembari melayangkan mata penuh amarah pada orang-orang di sekelilingnya.


“Mungkin kamu belum bayar iuran preman,” ujar salah seorang.


Sydney menendang salah satu patahan kayu meja, dan patahan itu melayang dan tiba-tiba sudah ada di tangannya.


“Di mana preman-preman itu!”


Belum sempat Aditya mencegah, Sydney sudah berlari keluar pasar, membawa patahan kaki meja. Aditya mengejarnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Mila pernah mengingatkannya untuk menjaga Sydney. Menjaga dengan seluruh jiwa dan raganya. Ada apa, kenapa?


Sydney duduk memandang sawah yang menghijau di hadapannya. Nafasnya sudah tidak lagi terengah. Aditya menyuruhnya menenangkan diri di tepi sawah, sementara dia mencari informasi. Aditya sudah melaporkan kejadian ini ke UPT pasar, dan mereka yang akan mencari pelakunya. Info terakhir yang Aditya dapat, para preman pasar tidak ada lagi di pasar sejak kemarin. Ada sebuah perkelahian tidak jauh dari pasar, yang menyebabkan para preman itu kabur entah ke mana. Makanya, kemarin tidak ada preman yang menjaga keamanan.


Aditya datang. Duduk di sebelah Sydney dan mengulurkan sebotol air mineral. Sydney menerimanya, tapi tidak meminumnya.


“Pelakunya bukan preman pasar. Mereka kabur setelah perkelahian kemarin.”


“Jadi, siapa yang begitu dendam padaku?” tanya Sydney pada dirinya sendiri, tapi Aditya mendengarnya begitu jelas.


“Aku tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau kamu selalu dalam bahaya.”


Sydney menoleh, mendapati Aditya menatapnya dalam. Dia kelihatan khawatir. Sydney tidak bisa mengerti dirinya, kenapa pada lelaki ini, dia mau patuh begitu saja. Ketika dia mencekal lengannya dan memintanya untuk tenang, Sydney menurut. Juga ketika dia meminta Sydney duduk di tepi aspal, menunggunya—Sydney juga menurut.


“Kau ... kenapa kau menolongku?” tanya Sydney, suaranya terdengar parau.


Aditya tersenyum hangat. Sydney mengalihkan pandangan. Dadanya berdebar tak karuan. Kemarin masih berdesir, kenapa hari ini menjadi berdebar? Apa besok jantungnya akan melompat keluar bila Aditya kembali tersenyum?


Ya Allah, please jangan tersenyum, seru Sydney dalam hati.


“Zura, menurutmu, siapa yang datang dengan mobil kemarin? Mobil hitam.”


Sydney mengedik bahu, “Mungkin preman lain, rebutan wilayah. Di pasar-pasar biasa seperti itu.”


Bukan, batin Aditya.


Tidak ada preman pasar dengan dandanan keren seperti itu. Mereka jelas preman yang lebih intelek. Seseorang telah mengirim mereka, untuk melindungi Sydney. Atau, bisa juga sedang mengincar Sydney juga. Dan Sydney tidak menyadarinya.


“Barusan aku mendapat telpon dari temanku di Malaysia. Soal beasiswa itu. Ada anak yang mengundurkan diri, jadi kamu bisa dapat kesempatan. Terakhir besok pemberkasannya.”


Sydney terdiam.


“Aku rasa, kamu tidak bisa lagi jualan rujak. Beasiswa ini, lebih cocok untukmu. Preman-preman itu sepertinya membalas dendam padamu. Mungkin kamu pernah memukuli mereka, tapi kamu tidak ingat?”


Sydney mengedik bahu, “Entahlah. Aku berkali-kali sih menangkap copet pasar. Bisa jadi mereka balas dendam ya?”


“Bisa jadi begitu. Aku khawatir, mereka berbuat lebih kejam lagi. Soalnya ...”


“Apa?” tanya Sydney sembari menatap Aditya, penasaran karena Aditya menjeda kalimatnya.


“Soalnya ... kamu cantik.”


Sydney merasa mukanya memerah. Jantungnya mendetak lebih cepat, hingga Sydnye khawatir jantungnya akan melompat dari dadanya. Dia memalingkan muka ke arah sawah yang menghijau di depannya, tapi tak banyak membantu meredakan irama dadanya.


“Ayo kita pulang.”


Aditya tahu-tahu bangkit dari duduk, membawa keranjang Sydnye. Tanpa merasa bersalah telah membuat gadis gemetar, dan tidak akan bisa tidur nanti malam.