MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pembuktian



Sepertinya, Tuan Osaka sudah mulai memaafkan Kageyama. Saat Obasaan baru pulang dari belanja, dia melihat Kageyama mencium tangan Tuan Osaka. Tuan Osaka hendak keluar dari pagar, dan Kageyama mendekatinya. Membungkukkan badan dengan hormat, lalu mencium tangan Tuan Osaka. Kageyama memang terbiasa cium tangan pada Tuan Osaka setiap mereka bertemu—sebagai tanda hormatnya pada orang yang membiayai kuliahnya.


Cium tangan tidak ada dalam kebiasaan orang Jepang. Itu kebiasaan orang Indonesia. Baik Obasaan maupun Kageyama, tidak masalah dengan kebiasaan Tuan Osaka. Karena Tuan Osaka juga menghormati kebiasaan mereka.


Tuan Osaka sudah menjauh ketika Obasaan mendekati pagar. Kageyama masih berdiri, menatap punggung Tuan Osaka hingga menghilang di tikungan. Hari ini cuaca sangat cerah, setelah semalah hujan turun agak lama. Dan hati Tuan Osaka rupanya secerah suasana hari ini, dia tidak lagi marah pada Kageyama.


“Kageyama, tolong bantu aku,”


Kageyama membalikkan badan dan mendapati Obasaan dengan tas plastik menggelembung di kedua tangannya. Kageyama bergegas mengambil dua tas itu, dan terasa agak berat di tangannya.


“Kau sudah sarapan?”


Kageyama menggeleng. Obasaan membuka pintu pagar dan pemuda tegap itu pun mengikuti langkahnya masuk. Membuka sandal di undakan tangga, dan menuju dapur. Kageyama memindai ruangan, dan matanya menangkap kamar Sydney yang masih tertutup. Dia rindu gadis itu. Dia juga ingin mengucapkan ribuan maaf padanya. Tuan Osaka sudah mengijinkannya untuk menemui Sydney, pagi ini. Untuk menyampaikan permintaan maaf. Beliau juga menyampaikan kalau kalung yang diberikan Sydney, bisa didapatkannya kembali.


“Sydney masih tidur?” tanya Kageyama sembari membantu Obasaan mengeluarkan sayuran dari kantong plastik. Obasaan langsung memilah-milah sayuran itu dan mengambil pisau untuk memulai memasak.


“Kamu jangan mengganggu dia, Kageyama. Kau tahu sendiri bagaimana Tuan Osaka saat marah. Aku sampai takut kau dicekiknya sampai mati.”


Kageyama tersenyum. “Dia tidak akan melakukan itu. Sebenarnya, dia menganggapku sebagai anaknya sendiri. Dia pernah mengatakan hal itu padaku. Jadi, dia tidak akan tega melakukannya.”


“Masalahnya, yang celaka itu adalah putri kandungnya yang sejak lahir belum pernah dia temui. Dia bisa nekad. Jadi kau jangan bikin gara-gara.”


Kageyama mengangguk-angguk. “Tentu saja tidak, Obasaan. Kejadian itu, bukan kesalahan aku dan Sydney. Kami berdua sama-sama berusaha membela wanita itu. Hanya saja, entah kenapa Sydney bisa terluka. Biasanya dia kuat membantingku.”


Obasaan menatap Kageyama iba. Dia baru tahu saat di rumah sakit, bahwa ternyata Kageyama sangat mencintai Sydney. Dia akan melakukan apa saja demi gadis itu. Dan sudah dibuktikannya sendiri. Dia menggendong Sydney sampai ke rumah sakit. Bila tanpa cinta dan kasih sayang, mustahil dia melakukannya. Selama di rumah sakit, dia pun patuh pada kemarahan Tuan Osaka. Hanya berkunjung di halaman depan rumah sakit—dengan wajah cemas—dan Obasaan akan keluar untuk memberitahu kondisi Sydney.


Kageyama melakukan hal itu, setiap hari, sebelum dan sepulang kuliah. Dan saat Sydney pulang dari rumah sakit, Obasaan lupa memberitahunya. Pemuda itu marah pada Obasaan, karena tahu-tahu Sydney sudah pulang—dibopong seorang lelaki Indonesia. Hari ini, dia harus tahu, siapa lelaki Indonesia itu.


“Kau mau bubur? Aku membuatkan untuk Sydney dan masih banyak.” tawar Obasaan. Kageyama mengangguk, lalu menerima uluran semangkuk bubur dari wanita sepuh itu. Masih berasap, karena langsung diambil dari panci. Kageyama langsung melahapnya.


Pintu kamar Sydney terbuka perlahan. Obasaan memiringkan badan—pandangannya terhalang oleh badan Kageyama yang menghadapnya—melihat siapa yang akan keluar dari kamar. Sydney, dengan handuk melingkar di lehernya dan rambut terikat. Dia menyurut masuk lagi ke dalam kamar, ketika Obasaan memberi kode dengan kedipan mata—ada lelaki lain di dalam rumah.


“Kenapa?” tanya Aditya melihat Sydney masuk lagi ke dalam kamar, dan menutup pintu perlahan. Dia kembali duduk di tepi ranjang. Andika yang sedang rebahan, merengkuh pinggangnya. Sydney melepaskan diri perlahan. Perutnya masih nyeri. Sepertinya kram karena tendangan kriminal itu, bukan karena bagian dalam rahimnya yang terluka. Andika mengerti, lalu duduk menjajari Sydney, sembari mengelus bagian perut Sydney.


“Masih sakit?”


Sydney mengangguk. “Nyeri. Sepertinya masih kram.”


“Kenapa tidak jadi mandi? Baru beranjak beberapa langkah, kau sudah kangen padaku?” Aditya benar-benar lebay. Terlebih setelah semalam Tuan Osaka memberikan restu. Dia tak melepas pelukannya pada Sydney sepanjang malam. Mengelus-elus perut Sydney dengan minyak gosok, ketika gadisnya mengaduh karena sesekali rasa nyerinya muncul.


Sydney perlahan bangkit dari tempat tidur. Berdekatan dengan suaminya akan membuat semua kesepakatan akan dilanggar tanpa ampun. Seperti semalam, setiap selesai menggosok perutnya dengan minyak gosok, dia selalu mencuri kesempatan. Akhirnya Sydney berusaha agar tidak berdesis ketika nyerinya timbul karena membalik badan, atau dia tidak akan bisa tidur sepanjang malam karena ulah Aditya.


“Kita harus ke kedutaan hari ini, kan? Ayah menunggu di sana. Dan dia berpesan, jangan terlalu siang.”


“Kau tidak akan suka. Aku sedang nifas.”


Aditya manyun. Menatap Sydney yang menyandar di daun pintu, sedang memikirkan sesuatu.


“Kalau begitu, cepatlah mandi.”


“Aku ada masalah.” Sydney memakali jilbab, lalu membuka sedikit daun pintu, mengintip keluar. Punggung Kageyama masih membelakangi pintu kamarnya. Dan sang bibi sedang asyik dengan tumpukan sayuran. Mereka berdua berbincang dalam bahasa Jepang.


“Siapa dia?” tanya Andika yang tahu-tahu kepalanya sudah ada di atas kepala Sydney, ikut mengintip dari daun pintu yang sedikit terbuka. Sydney kembali menutup pintu.


“Kageyama.”


“Siapa dia?”


“Dia anak asuh ayah. Dia yang selama ini mengajariku bahasa Jepang. Dan dia juga yang menolongku saat perkelahian dan membawaku ke rumah sakit.”


“Hm, jadi dia lelaki yang cukup kuat, sanggup menggendongmu ke rumah sakit.” Sydney menangkap nada cemburu dari kalimat Andika. Sydney tersenyum. Terlintas dalam pikirannya, menggoda Aditya.


“Kurasa, selama ini ...”


“Apa?” Aditya mendekatkan wajahnya ke wajah Sydney. Hingga Sydney menempel ke tembok. Deru napas suaminya terasa begitu hangat menerpa wajahnya. Sydney menatap manik mata Aditya. Wajah itu begitu dikenalnya sekarang, dia tidak tahu kenapa dan bagaimana itu semua bisa terjadi. Apakah, karena dia ... mencintai lelaki yang menatapnya tajam saat ini? Setiap sentuhannya mampu membangkitkan aliran listrik ke sekujur tubuhnya. Mungkin itu sebabnya, hingga sel-sel otaknya bisa bekerja layaknya orang normal.


“Kurasa dia menyukaiku.”


Aditya mendelik. Sydney balas mendelik.


“Menurutmu, apa mungkin dia menggendongku sejauh itu, kalau dia tidak mengkhawatirkan keselamatanku, bahkan nyawaku. Kurasa hanya seorang lelaki yang ...”


Tahu-tahu Aditya menarik ubuh Sydnye dalam pelukannya, dan tmembopongnya dalam sekejap. Sydney nyaris mengaduh keras karena perutnya serasa ditarik. Dia berusaha menahan tawa, tapi dia tidak ingin merusak momen yang membuat detak jantungnya bersicepat. Ditatapnya Aditya mesra, lalu direbahkannya kepalanya di dada bidang suaminya. Aditya mencium kepalanya.


Aditya membuka pintu dengan telapak kakinya, lalu menendang daun pintu agar terbuka lebar.  Suara daun pintu yang mendebam tembok, membuat Obasaan dan Kageyama terkejut. Lelaki sipit bernama Kageyama itu bangkit dari duduknya, membalikkan badan dan berdiri menatap Sydney yang berada dalam gendongan Aditya.


Aditya melangkah perlahan menuju Obasaan—melintasi Kageyama.


“Sydney? Kenapa dia?” tanya Obasaan panik. Dilihatnya Sydney hanya merebahkan kepala di bahu Aditya, memejamkan mata.Obasaan melihat senyum tertahan di raut wajah Sydney dan bola mata di balik kelopaknya bergerak-gerak. Dia tidak pingsan.  Dua anak muda di hadapannya ini sedang usil mengerjainya. Obasaan merutuk kesal dalam hati, sembari melirik Kageyama yang tak lepas menatap Aditya.


“Dia tidak mau mandi, jadi aku akan memandikannya. Di mana kamar mandinya, Obasaan?”