MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sarang Musuh



Nenek memindai kamar Mila. Untuk ukuran pembantu, kamar ini lumayan berkelas. Kasur springbed, lemari kayu, sebuah meja dan kursi di sudut, semuanya dalam ruangan seluas 3x3 meter. Bahkan kamar kontrakan Sydney tidak sebagus ini. Hanya sebuah ruangan 2x2 yang ditempati dua orang dengan kasur busa digelar di lantai. Satu rumah dengan banyak kamar dikontrak rombongan, dan semua kamarnya berukuran sama. Sydney pernah menceritakan semua itu dengan detil, karena Nenek harus yakin bahwa cucunya tidak tidur di jalanan.


“Aku harus melapor dulu ke Pak Dar. Dia Kepala Pelayan sekaligus tangan kanan Nyonya Mulan.”


“Jadi kau memanggilnya Nyonya?”


Mila berkacak pinggang di tepi pintu. “Sudahlah, masih banyak hal penting yang harus kita pikirkan selain sebuah gelar. Beristirahatlah. Nanti aku bawakan makan siang.”


Mila menutup pintu, lalu bergegas menuju dapur utama. Dia berharap pembantu lain sudah menyiapkan sarapan. Sesampai di dapur, dapur kelihatan bersih. Tidak ada kegiatan memasak di sana. Pasti Nyonya sedang tidak ada di rumah, sehingga tidak minta dibuatkan sarapan. Ke mana Nyonya Besar sepagi ini?


Pak Dar sedang menikmati kopi dan berita pagi di televisi. Mila menjajari duduk di sebelahnya agak menjauh. Jadi, Nyonya besar ada di rumah. Dia tidak mungkin meninggalkan rumah tanpa Pak Dar.


“Yang lain tidak masak? Apa Nyonya pergi?”


“Tidak, Nyonya sedang tidur. Kurasa dia akan bangun agak siang.”


“Dia mengamuk lagi tadi malam?”


Darmaji mengangguk dalam sesapan kopinya. Mila mahfum. Pasti Darmaji sudah menghiburnya semalaman, hingga sampai pagi Nyonya gila itu belum bangun juga. Meski merasa agak jijik, Mila tidak meninggalkan Darmaji begitu saja.


“Kau baru datang?” tanya Pak Dar tanpa menoleh ke arah Mila. Tatapannya tertuju ke televisi di tembok dapur.


“Iya, baru saja. Seperti yang aku katakan di telpon, aku membawa bibiku. Bagaimana Pak Dar?”


Mila menatap Darmaji, sembari berusaha mengatur nafas. Ini bukan pertama kalinya dia berbohong untuk menyelamatkan yang lain. Biasanya nafas Mila menjadi tidak teratur bila dia berbohong tanpa perencanaan. Tidak ada yang mengetahui hal itu sebaik Utami dan Aditya. Namun bertahun-tahun, Mila telah belajar cara berbohong yang baik dari Darmaji. Darmaji pembohong ulung bila sudah bersama Nyonya besar mereka. Dengan dalih menyelatkan para pembantu yang lain. Padahal, dia menikmatinya seolah dia Tuan Besar di rumah ini.


“Hm, dia bisa kerja apa?” tanya Darmaji tanpa menoleh.


“Dia sudah tua. Aku tidak mungkin meninggalkannya di desa seorang diri. Dia yang mengasuhku sejak kecil. Setidaknya, biarkan dia menghabiskan masa tuanya bersamaku.”


Darmaji mensesap kopinya, “Di sini bukan Panti Jompo, Mila.”


“Dia bisa membantu pekerjaan yang lain. Sekedar menyiram bunga atau lainnya. “


Darmaji diam. Tampak berpikir, tapi sepertinya sedang fokus ke berita di televisi.


“Oke, kamu atur saja. Yang jelas semua pekerjaan beres, dan aku tidak mengurusi pembantu yang penyakitan. Kau tahu kan kalau orang yang sudah tua itu, banyak penyakitnya.”


Mila tersenyum senang.


“Aku jamin. Pak Dar tidak akan mendapatkan hal itu. Dia kuat secara fisik. Cuma agak terguncang saja karena suaminya baru saja meninggal. Jadi, aku sarankan jangan mengusiknya.”


Darmaji menoleh. Mila agak terkesiap, dan dirasakannya nafasnya memendek. Semoga Darmaji tidak mengetahui kalau dia sedang berbohong tanpa perencanaan yang matang.


“Apa dia suka mengamuk tiba-tiba?”


“Tidak juga. Dia hanya mengamuk kalau dia merasa terancam.”


“Baguslah. Jangan pekerjakan dia di dalam rumah kalau sedang ada Nyonya. Kau sendiri yang mengatur gimana baiknya. Kalau Nyonya membentaknya, dan dia mengamuk, aku tidak ingin kau dan aku dapat masalah. Kau tahu sendiri kan kalau Nyonya mengamuk.”


“Aku janji. Terima kasih, Pak Dar.”


***


Mila menghidangkan makan siang buat Nenek di kamar. Mereka makan berdua di dalam kamar. Sementara Mila belum memberitahu pembantu lain tentang kehadiran Nenek, lebih baik Nenek berada di dalam kamar saja. Untung saja wanita tua itu sedang menurut padanya. Mau tidak mau memang dia harus menunjukkan attiude yang baik. Dia sekarang berada di sarang musuh. Tempat paling aman di dunia karena merupakan satu-satunya tempat yang tidak akan diaduk-aduk oleh preman suruhan Mulan.


Nenek mengamati makan siangnya. Dia tidak pernah makan seenak ini. Tiap hari hanya tahu dan tempe. Lebih seringnya ikan asin. Ayam goreng seperti ini hanya bisa dia makan bila ada tetangga yang menggelar hajat, dan mengantar makanan buat janda sepertinya.


“Tiap hari kamu makan enak.”


Mila menghentikan suapannya. Menyadari, baru kali ini sejak dua puluh tahun yang lalu, mereka bisa duduk berhadapan bahkan makan bersama. Satu hal yang tidak pernah dibayangkannya sejak peristiwa itu—pengkhinatannya  menurut Juma. Wanita di hadapannya—Juma—tampak begitu sepuh, meski fisiknya masih nampak kuat.


“Kadang-kadang. Maling sekarang pengecut. Banyak yang sudah tidak berani lewat depan rumahku.”


“Kenapa kamu tidak mengerjarku malam itu?”


Nenek menatap Mila tajam. Tentu saja dia masih ingat kejadian malam itu. Malam saat Sydney dilahirkan.


“Aku sudah mengutukmu, jadi aku tidak perlu mengejarmu. Ada nyawa lain yang lebih berharga untuk aku selamatkan.”


Mila menelan makanan yang dikunyahnya, terasa begitu mencekik kerongkongannya. Dia meraih botol minum dan meneguk minum beberapa teguk.


“Kau bisa mencabut kutukan itu? Aku sudah menolongmu dan cucumu.”


“Anak panah sudah kadung melesat, tidak bisa ditarik lagi. Tunggu saja, bila Tuhan mengabulkan, berarti doaku manjur.”


Mila nyengir. Dia tidak tahu, apa yang disumpahkan Juma malam itu. Yang jelas dia hanya melaksanakan tugas, yang tidak bisa dipahami oleh Juma. Walaupun kemarin dia sudah menjelaskannya panjang lebar. Wanita itu masih belum percaya seratus persen. Tindakannya untuk mau mengikuti Mila adalah bentuk luruhnya ketidakpercayaan itu. Mila berdoa semoga waktu bisa mengurai semuanya. Meski tidak perlu sampai dua puluh tahun.


“Kau berjanji mempertemukan Zura dengan ayahnya.”


Mila mengangguk.


“Di mana dia?”


“Tidak dalam waktu dekat ini. Aku yakin, kalau kau tidak memukulinya, kau akan membunuhnya.”


“Dia benar di dalam penjara?”


Mila tersenyum dan mengangguk.


“Ya, tempat yang orang lain tidak terpikir dia akan berada di sana. Tempat yang paling aman di dunia, setelah rumah ini.”


Nenek akhirnya meraih piring makannya.


“Sebelum besok dimulai, kita harus sepakat dulu. Tentang pekerjaanmu selama di sini. Nyonya besar tidak akan memberi kita makan gratis.”


Nenek diam, sepertinya dia sedang mempertimbangkan kesepakatan kerjanya yang sudah disampaikan Mila setelah bertemu dengan Kepala Pelayan.


“Kau tidak punya ide lain selain menganggapku janda stress dan suka mengamuk?”


Mila nyaris terbahak, tapi berusaha ditahannya.


“Aku hanya berusaha agar tidak banyak orang yang mau mendekatimu selain aku. Termasuk Nyonya besar. Kau bisa masuk ke dalam rumah induk, bila Nyonya besar tidak ada di rumah. Karena kalau dia mengamuk, sama gilanya dengan kamu.”


Nenek menyudahi makannya.


“Kau pernah dipukulinya?”


“Tidak. Pak Dar yang selalu pasang badan. Dia yang selalu melindungi kita, bila Nyonya mengamuk.”


“Pak Dar?”


“Darmaji. Kepala Pelayan.”


“Darmaji? Dia gundik majikanmu,” ucap Nenek sembari meletakkan piring makannya agak keras di lantai.


Mila terkesiap.