MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney : Aku



Jadi namanya Rey.


Anak mana dia? Mapala bersama  si burung Hud Hud? Imposible. Casingnya lebih cocok jadi artis korea. Bah, aku paling tidak suka artis korea. Bahasanya sulit, namanya juga sulit-sulit dan semua wajahnya sama!


Sekarang kembali ke Rey. Siapa dia? Lelaki di balkon yang hanya bisa melihat saja, tidak turun tangan, membantu Pak RT kek atau apa .... dan dia menatapku tak berkedip di kantin. I see... dia cuma punya keahlian melihat. Dari bajunya sudah kelihatan kalau orang borju. Bisanya cuma perintah lewat tatapan mata.


Tapi matanya. Iya, masalahnya di matanya. Aku tidak bisa melupakannya. Dan celakanya, aku merindukannya!


“Sid? Kamu dicari Huda.”


Aku segera memasukkan buku harianku ke dalam tas ransel. Buku harianku sudah hampir habis, aku harus membeli yang baru lagi. Akhir-akhir ini, aku menghabiskan 1 buku setiap bulan. Budget yang harus kupangkas.


“Ngapain si burung Hud Hud itu ke sini? Mencari ratu Balqis?” sergahku kesal.


Karin hanya mengikik. Aku tahu dia menggodaku. Huda anak mapala itu, tidak ada kaitannya dengan tempat kost perempuan. Kaitan antara Huda dengan Sidney hanyalah, Sidney pernah meminjam tenda dan merusakkannya. Sekarang tenda itu masih di penjahit untuk ditambal sana dan sini. Semua gara-gara ular yang tak diundang.


Bukannya anak mapala barusan turun gunung, masa begitu buru-burunya mau pakai tenda. Dengan malas segera kusambar jilbab kaos yang menggantung di balik pintu. Kukenakan sekedarnya. Karin menarikku sebelum aku melangkah ke luar kamar.


“Rapikan dong kalau ketemu lelaki, “ ucapnya sembari merapikan jilbabku yang pastinya miring.


“Ah, biasa saja. Bukan siapa-siapa juga,” sahutku.


“Eh, gak boleh begitu.”


Aku menuju ruang tamu dan membuka daun pintu sedikit. Seorang lelaki berbadan tegap berdiri membelakangi pintu dan membalikkan badan begitu pintu dibuka.


“Assalamualaikum, .... saya mau menjemut tenda....” ucapnya sembari mengembang senyum ramah.


“Waalaikumsalam. Aduh, mohon maaf. Tendanya masih di penjahit. Bagaimana ya? Apa diperlukan cepat?”


“Hm, tidak juga sih..... tapi pekan ini kami ada rekrutmen anggota baru. Jadi....”


“Insyaallah pekan depan saya minta penjahit menyelesaikan. Mohon maaf, banyak tambalan nantinya.”


“Tidak apa-apa. Cuma saya pesan saja, lain kalai kalau mukul ular pakai bambu saja, tidak usah pakai golok.”


“Hee ... iya. Maaf. Refleks.”


“Oke, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Aku bergegas menutup pintu yang selama percakapan hanya terbuka seperempat. Si Hud Hud di teras, sedangkan aku hanya menyembulkan separuh badan saja. Ternyata Karin ada di balik pintu. Aku yakin, dia ingin memastikan aku berkomunikasi dengan bahasa baik dan santun. Satu kost ini, hanya aku yang terkenal galak sama lelaki.


“See, aku sudah cukup sopan kan?”


Karin mengacungkan jempol.


“Bagaimana Sid? Huda marah?”


“Ya iyalah Sid. Makanya tenda itu sobek semua karena kamu pukuli pakai golok!”


“La .. daripada kalian semua digigit ular! Tapi kan sukses, ulernya terpotong jadi berapa ya..... lima apa tujuh kalau gak salah.”


“Ya iyalah Sid. Kamu kalap kayak gitu pas mukul ularnya. Siapa yang bayar ongkos jahitnya?”


“Semua anggota kelompok dong!” seruku dan disambut teriakan dari dapur. Beberapa orang sedang memasak di sana dan aku yakin mereka mendengar suaraku.


Aku segera kabur ke kamar sebelum semua orang menyerbuku. Ini semua salahku. Meski iuran untuk ongkos jahit, aku pun bisanya mencicil sampai beberapa bulan. Buku diariku lebih penting. Apalagi kali ini, topiknya tentang Rey. Dan sumber informasinya dari Huda, si burung Hud Hud. Aku yakin, dia bisa menjadi intel di mana saja, seperti burung Hud Hud Nabi Sulaiman. Tapi bagaimana cara mengorek informasi dari dia tentang Rey?


Aku memaki diriku. Tiba-tiba kerinduanku pada Rey membuatku hilang akal. Dan aku sama sekali tidak ada tekad untuk mencegahnya, Aku membiarkannya mengalir dengan deras dalam aliran darahku. Semenjak menatapnya di balkon itu. Bah!


***


Bus yang kutumpangi begitu lambat, berjalan seperti bekicot kelaparan. Bekicot meski lapar atau kenyang kan tetap saja jalannya lambat. Beruntunglah aku sedang tidak terburu-buru mengejar aktu. Weekend, kata Karin, saatnya bersantai-santai memperlambat waktu.


Tapi bagiku, akhir pekan ini, saatnya berjumpa nenek. Dia pasti begitu merindukanku karena sudah enam bulan aku tidak pulang. Sebenarnya cuma tiga jam dari kampus, tapi deru mobil, klakson, asap, membuatku tidak nyaman. Juga wajah-wajah tak kukenal.


Aku mengeluarkan diary baru. Masih bersih, tapi sudah berhias kartu-kartu yang kutempelkan di halaman pertama dan kedua. Aku paling susah mengingat semuanya tanpa kartu-kartu ini. Kartu pertama dan harus ada di deretan atas, bertuliskan nama Karin dan fotonya bersamaku saat MOS dulu. Tulisan di bawahnya, sahabat sampai surga. Lebay banget, tapi aku suka.


Kartu kedua, foto nenek terakhir. Seharusnya foto ini tak bernama, karena orang lain yang melihatnya pasti sudah yakin kalau wanita keriput dengan rambut memutih ini adalah nenek. Tapi kutambahkan caption di bawahnya. Wajahnya mirip ibu. Dan kartu di bawahnya, adalah foto ibu. Hitam putih, ketika dia masih muda. Mungkin kalau ibu masih ada, wajahnya sudah mulai keriput dan ubannya mulai bermunculan.


Kartu ketiga. Mister Edris. Dosen waliku yang super duper galak. Tapi kata Karin, lebih sadis aku kalau sedang marah. Dia hanya bisa marah dengan mulut, kalau aku dengan kaki dan tangan.


Tiba-tiba aku merasa kakiku kesemutan. Mungkin banyak dosa di sana karena sudah menendang banyak orang. Lagipula, siapa dulu yang cari gara-gara? Jangan pernah cari gara-gara di depan mata Sydney Azzura, kalau mau selamat.


“Turun mana?” sapa seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sebelahku.


Aku menoleh, tapi tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia tersenyum ramah, dan aku masih berusaha mengenalinya. Aku yakinkan bahwa dia bukan orang yang mengenalku. Dia mengenakan jaket kulit coklat dan kerudung kaos hitam yang dimasukkan ke dalam jaket coklatnya.


“Terminal,” sahutku pendek.


“Sudah lama ya kita tidak bertemu,” ucap perempuan itu lagi.


Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Siapa perempuan ini? Apa aku punya saudara jauh? Setahuku, ibu anak tunggal. Itu kata nenek. Kerabat nenek juga banyak yang sudah tiada. Dan selama ini kami hidup miskin, jadi kalaupun masih ada saudara, rasanya tidak mungkin mendatangi kami untuk mengaku sebagai saudara. No benefit. Jadi anggap saja aku dan nenek, tidak punya saudara


Kalau teman, aku yakin bahwa tidak ada teman SMA-ku yang kuliah di kota yang sama denganku. Hanya ada satu, itu pun laki-laki. Waktu sekolah SMA saja dia naik mobil, apalagi sekarang. Jadi perempuan ini, bukan siapa-siapa.


Aku mengeluarkan buku diariku, dan membukanya dengan posisi agar dia tidak bisa mengintip.


“Sydney, kan?” tanya dia lagi, kali ini sembari membungkukkan badan untuk melihat wajahku yang semakin kutundukkan.


Deg!