MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Mulan VS Lusie



Hari Minggu, jalan tampak lengang. Darmaji mengendarai mobil majikannya dengan tenang. Diliriknya sang majikan yang berpenampilan cantik, seperti hendak ke pesta. Jujur saja, Mulan Bramantya kalau sedang tidak mengamuk, dia kelihatan jelita dan elegan. Tidak salah bila dulu Ariel Bramantya menikahinya dan tidak menceraikannya meski tidak bisa memberi keturunan. Mungkin kisah Mulan Bramantya akan berbeda bila Ariel tidak menduakannya. Menikahi pembantu secara diam-diam, hanya untuk mendapat keturunan.


Mulan bukannya tidak tahu siapa yang dikawini suaminya diam-diam. Dia tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Tapi dendam mulai muncul di hatinya. Ariel telah menyakitinya, maka dia mulai menghembus api di dalam sekam. Ambisinya adalah memiliki semua yang dimiliki Ariel.


Wanita bisa menjadi begitu kejam bila dia disakiti.


Maka Darmaji sangat berhati-hati menjaga perasaan majikannya. Rela menjadi box tinju bila dia sedang murka. Asalkan, Mulan tidak mengusirnya, itu sudah cukup baginya. Mulan adalah miliknya, secara harfiah. Darmaji benar-benar memiliki majikannya seutuhnya. Meski dia tahu, hati wanita itu begitu keras, tidak mungkin memberinya cinta, sebagaimana layaknya pasangan kekasih. Bagi Darmaji, cukup berada di samping Mulan, menjadi orang yang selalu diandalkan, itu adalah kekasih yang sebenarnya. Tak peduli apakah cintanya berbalas atau tidak.


Bagi Mulan, urusannya dengan Darmaji adalah urusan driver dan pelampiasan nafsu.


“Masih lama?” tanya Mulan sembari melirik Darmaji.


“Sebentar lagi nyampai, Nyonya.”


Mulan sedang bersiap untuk menghadiri arisan istri Dewan Direksi, ketika sebuah telpon mengabarinya sebuah kondisi genting. Mulan masih merasa layak datang ke arisan istri Dewan Direksi, karena masih punya saham di Maskapai. Meski, melihat para wanita-wanita yang mencari muka itu, membuatnya hendak meludah berkali-kali. Tapi, kelak—ketika dia sudah berhasil merebut maskapai dari Rey—semua wanita itu akan sangat berguna baginya. Mulan tidak ingin melewatkan kesempatan itu di depan hidungnya, jadi dia harus mendatangi setiap undangan di grup istri Dewan Direksi. Namun, berita genting ini harus didahulukan.


“Kamu tahu kronologisnya?” tanya Mulan. Wajahnya datar, tidak kelihatan panik sama sekali.


“Belum tahu, Nyonya. Sepertinya kecelakaan tunggal.”


Mulan menatap lurus ke depan. Tidak jauh, nampak Rumah Sakit yang mereka tuju. Darmaji memarkir mobil, sementar Mulan langsung menuju UGD. Seorang wanita yang lebih muda darinya, langsung mengenalinya. Wajahnya sembab dan dia tampak panik.


“Mbak Mulan ...” ucapnya penuh kesedihan, lalu kembali menangis tergugu.


Mulan menepuk-nepuk pundaknya, memberikan semangat. Meski, dia melakukannya tanpa rasa empati, setidaknya dia mengugurkan kewajiban sebagai atasan.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Mulan.


“Belum sadar. Sepertinya gegar otak. Kedua kakinya patah.”


Mulan mengangguk-angguk.


“Kamu tunggu suamimu, biar aku yang mengurus semuanya.”


Wanita itu menarik nafas lega. Tidak salah dia menghubungi majikan suaminya. Dia pasti bisa membereskan semua masalah ini.


Mulan menuju ruang administrasi. Menyelesaikan pembayaran. Sejurus kemudian, dia pun membuat keputusan. Bahwa tidak mungkin dia mempekerjakan seorang lelaki yang gegar otak apalagi patah kedua kakinya. Bisa jadi dia lumpuh. Sebaiknya, segera diangkat penggantinya. Dan begitu dia keluar dari rumah sakit—kalau dia masih hidup—Mulan berencana membereskan semua pesangonnya. Bagaimanapun, bisnis harus tetap jalan.


Setelah menyelesaikan urusannya, Mulan keluar dari UGD dan menuju kantin. Darmaji menunggu di sana. Di pintu kantin, seseorang menghentikan langkahnya.


“Nyonya Mulan Bramantya yang terhormat, anda ke sini juga?” tanya Lusie sedikit terkejut.


“Lusie...” ucap Mulan sambil mengeram.


Pertemuan terakhir mereka nyaris diakhiri dengan perkelahian. Mulan mengepalkan tangan. Bila Lusie memancing emosinya lagi, dia tidak segan-segan menghantam muka cantik Lusie. Membuatnya lebam dan bengkak berminggu-minggu, sangat mudah bagi Mulan. Dia terbiasa melakukannya pada Darmaji.


“Kau melakukan test juga?” tanya Lusie, “ternyata bukan hanya aku yang khawatir.”


“Apa maksudmu?” tanya Mulan tak mengerti.


“Kau ke sini ....?”


“Anak buahku kecelakaan. Manajer Pegasus.”


“Oh, si Arandi yang ganteng itu. Kau begitu khawatir padanya, jangan-jangan kau makan daun muda juga.”


“Ingat Lusie, kita sudah tidak ada urusan apalagi persaingan. Ibrahim sudah mati, jadi semua cerita tentang dia sudah terkubur. Kau jangan cari gara-gara denganku. Kau tahu sendiri bagaimana bila aku marah.”


Lusie terkekeh, tidak merasa gentar sedikitpun dengan ancaman Mulan.


“Andai kau tahu kalau Ibrahim juga bersamaku saat dia masih hidup, apa kau akan mengancamku seperti ini? Tidak, Mulan. Kau sungguh bodoh, sampai tidak mengetahui bangkai yang berada di bawah hidungmu. Pada dasarnya, akulah yang berada di puncak rantai makanan. Karena aku mengetahui semua yang berada di bawah kendaliku. Sekali lagi, bukan kamu.”


Mulan melayangkan tangan, hendak menempeleng Lusie. Tapi urung, karena Lusie mencengkeram tangannya.


“Ingat, Mulan. Jangan bermimpi kau akan bisa merebut maskapai. Maskapai itu akan menjadi milikku. Bukan kamu. Kau hanya tinggal menunggu waktu saja.”


Mulan menarik tangannya geram. Musuh di hadapannya bukan musuh sembarangan yang bisa dihancurkannya dengan tangan. Dia sama dengannya, penuh nafsu dan muslihat. Mulan harus mencari cara lain untuk menyingkirkannya.


Lusie merapikan pakaiannya. Menepuk-nepuk bahu dan lengan seolah menghilangkan kotoran,


“Aku sedang berbaik hati hari ini, “ ucap Lusie dengan senyum sinis mengembang, “seharusnya kamu tidak mengusir anak tirimu. Itu nasehat pertamaku. Nasehat keduaku .... ah, sebaiknya aku simpan untuk diriku sendiri. Tapi, boleh aku tahu, sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Ibrahim?”


“Apa urusanmu?” sergah Mulan.


“Aku sedang menaksir kekuatanmu.”


Mulan mengernyit. Dia merasa Lusie sedang membodohinya. Tapi, tidak ada salahnya menjawab pertanyaan wanita ini. Dia sedang merasa di atas angin. Dan jika jatuh pasti sangat menyakitkan.


“Tujuh atau delapan tahun.”


Lusie terbahak, girang.


Mulan meraih lengan baju Lusie. “Kenapa? Kamu kalah?”


“Tidak ... tidak....” sahut Lusie, masih tertawa, “aku salah mengira, kukira kalian sudah lima tahun menjalin hubungan.”


“Kenapa kau begitu yakin? Apa karena kau di puncak rantai makanan?”


“Karena suamimu sudah mengetahui hubunganmu dengan Ibrahim sejak lima tahun yang lalu.”


Lusie menghempaskan tangan Mulan agar terlepas dari lengan bajunya. Mulan mendelik. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Lusie bisa mengetahui hal yang selama ini dia mengira bisa menyembunyi dari suaminya sendiri. Yang sangat jelas diingatnya adalah, Ariel Bramantya sudah tidak menyentuhnya lagi sejak tujuh tahun yang lalu. Sejak pertama kali dia memberi harga yang pantas atas sebuah informasi dari Ibrahim.


“Kau tidak perlu terkejut. Merlin dan Ariel sangat dekat. Ariel sudah berencana menceraikanmu, tapi dia masih mempertimbangkan anak tirimu. Dan pada akhirnya, bila semua ini dirangkai menjadi puzzle, kita akan tahu siapa yang membunuh Ariel.... “


Mulan membekap mulut Lusie.


“Sebaiknya kamu diam, atau kau akan menyusul  Ib.... “ ancam Mulan.


“Nyonya ....”


Dua orang wanita itu menoleh. Darmaji berdiri tidak jauh, menatap dua wanita menyedihkan di hadapannya. Lusie menghempaskan tangan Mulan.


“Oh, jadi ini bodyguardmu?” tanya Lusie sembari merapikan bajunya, “waktu kalian tidak lama lagi. Sebaiknya banyak minum vitamin.”


Lusie bergegas meninggalkan Mulan dan Darmaji. Dia yakin, Mulan sudah menularkan penyakit Ibrahim ke banyak orang. Dia tahu, Mulan wanita yang rakus. Banyak lelaki sudah dimakannya untuk memuluskan jalannya. Dan Lusie harus memastikan dirinya bersih dari penyakit hina itu. Atau dia juga akan membawa Merlin ke liang kubur bersamanya. Tidak. Masih ada Nadia dan Regina yang harus tetap punya orang tua.