MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Di Ujung Tanduk



Restoran Bluestar dua kali lebih besar dari Restoran Pegasus milik Mulan Bramantya. Rey mendengar kabar, pegawai di Pegasus banyak yang resign. Bahkan ada beberapa yang diam-diam pindah ke Bluestar. Manajer Pegasus justru mengeluhkan kondisi tersebut pada Reynand. Hal yang tidak aneh sebenarnya, karena Reynand adalah pewaris Ariel Bramantya. Meski secara pengalaman dia masih belum punya.


Sebagaimana para pembantu di Rumah Coklat yang mengadu pada Rey, tentang majikannya. Rey sempat terpikir untuk mengusulkan para pembantu Rumah Coklat bekerja di Pegasus, bila manajer Pegasus mau menerima. Tapi tentu saja itu sama dengan bunuh diri bila sampai Nyonya Bramantya tahu. Bisa-bisa Pegasus diberangus. Apalagi bila tahu Rey ada di belakang layar.


Siang ini, Rey mengundang Manajer Pegasus ke Bluestar. Arandi, Manajer Pegasus akan datang menggunakan jasa Ojol. Pastinya, dia berangkat dengan sembunyi-sembunyi. Rey meminta manajer Bluestar menyiapkan satu ruang VVIP. Sekalian setelah pertemuan dengan Arandi, berlanjut pertemuan dengan Merlin dan Nadya.


Seorang perempuan memasuki ruang VVIP dengan seorang pelayan yang mendorong Service Stand Trolley. Menilik seragam yang mereka pakai, mereka adalah pegawai Bluestar. Rey mengangguk mempersilahkan mereka menata makanan di meja. Pegawai perempuan itu bernama Regina. Rey bisa membaca badge nama di seragamnya. Sepertinya dia pernah mengenal nama itu, tapi tidak wajahnya. Wajahnya asing. Sebagaimana wajah semua pegawai Bluestar. Rey hanya mengandalkan seragam dan badge nama untuk mengenali mereka. Sebelumnya, Bluestar tidak memakai badge nama di seragamnya. Sejak Rey mewarisi Bluestar, Rey memberlakukan aturan itu. Juga di Maskapai. Semua pegawai harus tanda pengenal berupa nama yang bisa dibaca Rey dari jarak dua meter. Rey tidak ingin semua pegawainya tahu kalau dia sama sekali tidak bisa mengingat wajah siapapun. Termasuk Merlin. Jadi, dia perlu tanda pengenal dan seragam. Rey juga memberlakukan sangsi bagi pegawai yang tidak memakai seragam dan badge. Pemotongan gaji yang lumayan besar. Sehingga, semua pegawai mematuhi aturannya.


Regina, pelayan Blustar berbadan tinggi semampai, berdiri di samping Rey setelah selesai menata makanan.


“Sudah selesai, Tuan.”


“Terima kasih, “ sahut Rey pendek.


Regina bergeming. Rey melirik sekilas. “Kau boleh keluar.”


“Mmm... saya mau minta maaf atas kejadian waktu itu.”


“Kejadian?”


“Waktu kita pertama kali bertemu. Tuan ingat kan?”


Rey menunduk, membaca sms di ponsel tittutnya.


“Aku tidak mengenalmu.”


Regina mendelik. Bagaimana mungkin lelaki yang sudah dimaki-makinya itu tidak mengingatnya. Perkenalan ala kecelakaan yang disutradarai Mama-nya itu, sudah pasti akan menimbulkan kenangan pahit. Bagi siapapun. Dan itu jelas akan menanam sebuah ingatan yang cukup dalam di otak siapapun. Sombong sekali pemilik Bluestar ini. Dan hal itu membuat Regina gemas. Dia tahu, lelaki dingin di hadapannya ini hanya pura-pura lupa.


“Bagaimana mungkin kau...”


“Sudah selesai? Silakan keluar.”


Regina mengeram dan menghentak kaki. Dia membalikkan badan seketika, dan melangkah kesal menuju pintu. Sebelum membuka pintu, dia menoleh, berharap Rey akan mengikutinya dengan sepasang matanya. Masa lelaki itu sama sekali tidak tertarik melihat tubuhnya denan balutan seragam ketat dan rok mininya? Tapi harapan itu musnah. Rey tetap berkutat dengan ponsel jeleknya. Bagaimana mungkin orang sekaya dia hanya punya ponsel tittut?


Arandi datang tak berapa kemudian, nyaris bertabrakan dengan Regina di depan pintu VVIP. Dia bergegas masuk VVIP setelah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Namun dia salah. Regina memperhatikannya dari atas kepala hingga ujung kaki. Mengenalinya dengan cepat, dan menanamkan ke memorinya. Segala hal tentang Tuan Reynand yang sombong dan dingin itu harus direkamnya. Dia perlu mengumpulkan banyak modal untuk menaklukkan lelaki yang sudah membuatnya tertantang.


“Kau terlambat lima menit,” ucap Rei ketika Arandi duduk di hadapan Rei. Nafasnya terengah.


“Ada banyak hal yang harus aku atur di Pegasus.”


“Termasuk kedatanganmu di sini?”


“Ya. Termasuk keberangkatanku tadi. Kami semua sudah tidak sanggup lagi bertahan di Pegasus. Mama anda ...”


“Aku tahu. Sepertinya dia tidak berbakat mengelola Restoran.”


Arandi mendesah panjang. Dia seorang manajer yang masih muda, bersemangat dan inovatif. Tapi setelah Pegasus dipegang oleh Mulan Bramantya, dia tidak lebih dari seorang atasan depresi yang bersiap hengkang dari Pegasus kapan saja. Hanya karena anak buahnya membutuhkan nafkah, dia berusaha bertahan. Menjalankan Pegasus apa adanya. Pelanggan semakin berkurang dan anak buahnya sudah berloncatan keluar.


“Saya hanya mencoba bertahan, tapi saya yakin tidak lama. Keuangan Pegasus semakin menurun. Bulan ini saya masih bisa menggaji pegawai, saya tidak yakin bisa untuk bulan depan.”


“Apa tidak ada satupun pelanggan datang?”


“Masih ada pelanggan datang. Tapi, uang selalu habis. Dibawa pemilik, anda tahu kan siapa?”


Reynand terdiam. Jujur, dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi hal ini. Dia sama sekali tidak punya pengalaman apapun di dunia bisnis. Manajer Pegasus sampai nekad menyampaikan hal ini padanya untuk meminta solusi, berarti dia sudah tidak punya solusi sebagai seorang manajer.


“Mungkin kau bisa membuat inovasi. Terobosan baru yang bisa mendongkrak keuangan.”


“Beberapa pegawai yang mengetahui kondisi ini, sudah lebih dulu hengkang. Ada yang sudah di Bluestar, atau restoran lain. Saya kehilangan tim, dan saya tidak mungkin merekrut orang baru. Saya tidak punya daya tawar yang bagus kalau kondisi keuangan seperti ini.”


“Kau sudah menyampaikan ke Mama?”


Arandi mendesah panjang. Itu sudah jawaban.


“Kau punya pandangan pekerjaan di luar?”


“Jika kau berhenti, apa yang akan terjadi dengan Pegasus?”


“Anak buah saya akan berhenti semua, dan Nyonya Mulan akan menghancurkan saya.”


Reynand tertawa sumbang. Dia tahu Mamanya sangat bisa melakukan itu. Bubarnya Pegasus akan membuatnya kehilangan sumber keuangan. Dan itu akan membuatnya lebih murka dari kehilangan muka. Seperti yang diperbuat Sydney padanya.


Reynand menatap hidangan di meja. Reynand mengambil salad, dan mempersilahkan Arandi untuk mencicipi. Arandi hanya mengangguk. Dia ke sini memang bukan untuk makan.


“Bagaimana kalau itu kau lakukan?”


“Maksud anda? Berhenti dari Pegasus?”


“Ya. Kau berani? Sekalian kita buat Mama berpikir, bahwa dia harus kehilangan Pegasus. Kita lihat apa yang akan dia lakukan.”


Arandi terdiam. “Tapi harus dengan kondisi yang meyakinkan.”


Reynand tersenyum.


“Aku percaya kau mampu melakukannya lebih baik dari siapapun. Mama hanya akan menyerang orang yang kuat dan sehat. Bila yang diserang sudah lemah, dia akan menyangka kalau dia sudah berhasil melumpuhkan. Tidak menarik lagi baginya. “


Arandi mengangguk. Tanpa menyentuh makanan, dia pamit.


Arandi berpapasan dengan Merlin di pintu masuk. Keduanya saling menatap beberapa detik, tanpa bicara. Merlin agak heran dengan sikap Arandi. Lelaki itu tampak gugup dan panik.


“Kenapa Manajer itu?” tanyanya sembari mengambil tempat duduk tepat di hadapan Reynand.


“Hanya curhat. Dia sedang galau,” sahut Reynad sembari menikmati saladnya, “ayo makan dulu, Merlin. Mana Nadia?”


“Dia ketemu kakaknya di depan. Sebentar lagi dia menyusul.”


“Kakak?”


“Iya. Anak dari istri pertamaku. Oh, iya. Aku belum mengenalkannya padamu. Dia bekerja di sini.”


“Di sini?” tanya Rey heran. Seingatnya, staff Bluestar sudah berumur semua. Yang masih muda hanya para pelayan.


“Iya. Dia tidak kerasan di Australia. Kuliah baru setahun sudah berhenti, dan pulang. Mungkin salahku terlalu memanjakan dia. Ketika dia ingin bekerja di sini, aku rasa dia sudah mulai berubah. Mulai ada rasa tanggung jawab. Jadi, aku minta manajer Bluestar untuk menerimanya bekerja. Aku harap anda tidak keberatan.”


“Hm. Siapa namanya? Mungkin aku akan menyapa dia kalau bertemu. Kau tahu, aku tidak hafal nama semua pegawai.”


“Regina. Dia pelayan bagian mengantar makanan ke pelanggan.”


Rey menelan ludah. Jadi wanita tadi? Yang juga mengaku sudah pernah bertemu dengannya.


“Oh, iya. Dan aku sekalian mohon maaf atas mobil anda.”


Reynand mengernyit. “Mobil?”


“Regina yang menabrak mobil anda di tempat parkir. Saya yang bertanggung jawab karena meminjamkan mobil itu padanya, padahal dia belum punya SIM. Saya sudah mengganti semua biaya perbaikan.”


Reynand tersenyum. Tiba-tiba dia punya ide untuk membalas Regina. Anak itu memang perlu dikasih pelajaran supaya tidak manja.


“Regina masuk Bluetar tanpa tes apapun?”


Merlin mengangguk. Tentu saja karena dia direkomendasikan olah orang kepercayaan Bluestar. Tidak ada yang berani menolak.


“Kalau begitu aku akan mengetesnya sendiri.”