MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
2 Ticket



Langit cerah Surabaya tiba-tiba menjadi begitu suram di mata Aditya. Ada yang mengganjal di kerongkongan dan menghimpit dadanya. Seseorang pasti kecewa malam ini. Dan Aditya tidak tahu harus berkata apa. Bukannya dia tidak memenuhi janji, tapi semua ini di luar kekuasaannya.


Telpon dari temannya sore tadi, membuat Aditya harus memutar otak. Bagaimana cara menyampaikan ke Sydney? Bahwa Sydney tidak lolos tes beasiswa ke Malaysia. Pengumumannya baru besok direlease, tapi Aditya sudah mendapat bocoran. Rupanya mundurnya salah seorang calon penerima beasiswa cepat tersebar, sehingga yang mengikuti tes pengganti tidak hanya Sydney.


“Tapi, dia tetap berangkat bersamaku,” ucap Aditya dalam hati ketika melihat Sydney sudah duduk di ranjangnya, dan asyik dengan buku tebalnya. Dan berpakaian lengkap tentu saja. Dia sudah mengatur jadwal kapan dia mandi dan berganti pakaian, yaitu saat Aditya ke mesjid. Jadi Aditya tidak pernah memergoki Sydney, kecuali berpakaian lengkap. Dia benar-benar konsisten dengan kesepakatannya. Gadis itu pasti kecewa, mengingat dia sangat berharap bisa kuliah lagi.


“Assalamualaikum.” Aditya mengucap salam, dan Sydney langsung mendongak.


“Waalaikumsalam.”


Aditya duduk di tepi ranjang dan memindai Sydney. Dia berusaha menyusun kalimat yang tepat. Meski apapun yang terjadi, lolos atau tidak lolos, Sydney tetap berangkat ke Malaysia bersamanya. Paspor sudah di tangan. Tinggal menunggu jadwal keberangkatan.


“What?” tanya Sydney, heran melihat suaminya memandanginya tanpa berucap satu kata pun.


“Tidak ada. Kamu cantik sore ini.”


Sydney tersipu. Dia menutup mukanya dengan buku tebal. Aditya gemas melihatnya. Hatinya sedikit terhibur.


“Zura, besok hasil tesnya keluar. Kalau kamu tidak lolos gimana?”


Sydney mengintip dari balik bukunya. “Kamu pesimis?”


“Tentu tidak. Kulihat kamu sudah berusaha cukup keras. Dan contoh soal yang aku berikan tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Kamu bisa mengerjakannya semua, kan?”


Sydney menerawang. “Aku juga tidak yakin. Tapi Bismillah.”


Hening. Sydney merasa Aditya menyembunyikan sesuatu.


“Kenapa memangnya? Kamu sudah dapat infonya?”


Aditya mengedik bahu. “Kita tunggu saja besok. Banyak berdoa saja, karena ternyata sainganmu cukup banyak.”


Sydney meletakkan buku tebalnya di pangkuannya. Dia lalu meraih beberapa kertas HVS dan pensil.


“Kalau kamu tidak lolos, kita berdua tetap berangkat ke Malaysia. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini.”


“Terus, aku di Malaysia ngapain?”


“Ya di ... asrama, “ sahut Aditya tidak yakin. Saat dia mendapat beasiswa S1, Aditya menempati asrama yang disediakan oleh kampus. Asrama laki-laki. Dan untuk beasiswa S2 ini, sepertinya sama. Kalau dia membawa Sydney, dengan status menikah—tanpa surat nikah? Di mana Sydney akan tinggal? Ah, tapi itu bisa diatur. Ada beberapa teman mahasiswanya yang orang asli Malaysia. Mereka pasti sangat bisa membantu. Yang penting, Sydney harus keluar dari Indonesia.


Adzan maghrib berkumandang. Aditya pamit ke mesjid. Dia berlama-lama di mesjid tidak segera kembali ke Homestay, berusaha mencari solusi yang tepat untuk Sydney dan dirinya. Memiliki Sydney adalah impiannya sejak dulu. Dan dia tidak akan meninggalkannya.


Saat Aditya kembali ke kamar, dia mendapati Sydney sudah tidur. Di meja ada lima lembar sketsa. Gambar dirinya dalam berbagai pose. Aditya tersenyum, sembari mengamati wajah Sydney yang sudah terlelap, merasakan bahwa semakin hari dia semakin mencintai istrinya. Dia belum membayar kelima sketsa ini. Ah, dia lupa. Sydney yang akan membayar dengan kesepakatan satu menit. Karena bila Aditya yang membayar, kesepakatan tidak berjalan normal.


Aditya merebahkan diri di ranjangnya, menghadap Sydney. Tersenyum-senyum memandangi wajah istrinya sampai dia sendiri terlelap. Malam ini tidak ada kesepakatan, tapi gambar-gambar itu telah membuat Aditya merasa tenang.


***


Mila datang ketika matahari belum terbit. Aditya terkejut saat membuka pintu untuk Mila. Semalam kakaknya memang menelpon dan meminta alamatnya, tapi dia tidak menduga sepagi ini Mila akan bertandang. Sydney tidak mengenali Mila, apalagi dia mengenakan jacket bertudung dan masker kesehatan.


“Aku tidak akan lama, “ ucap Mila tanpa basa-basi, “karena aku hanya pamit untuk ke dokter. Hanya flu ringan. Tapi aku harus bertemu kalian.”


Sydney dan Aditya duduk di seberang ranjang tempat Mila duduk. Mila tampak tegang. Dia berusaha keras untuk tenang, tapi wajahnya tidak bisa menipu dua orang di hadapannya.


“Tempat persembunyian kalian sudah ketahuan, “ ucap Mila, “ pagi ini juga, kalian harus keluar dari sini.”


Sydney dan Aditya menegang.


“Dari mana kau tahu?”


“Aku berada di sarang musuh, Aditya. Semalam aku mendengar laporan preman itu, makanya aku menanyakan alamat tempat ini. Mereka mengikutimu, Sydney. Kau habis menghajar mereka kemarin?” tanya Mila dengan tatapan mendesak.


Sydney merasa tangannya tiba-tiba dingin. Dan sekelebat wajah Rey hadir.


“Zura? Apalagi yang kau lakukan?” tanya Aditya tak percaya.


“Ak... Aku hanya menolong seseorang yang dicopet. Aku memang memukuli copet itu. Tapi ...”


“Mereka mengikutimu. Dan semalam, aku mendengar majikanku memerintahkan Darmaji untuk mengecek ke sini. Dan ternyata laporan preman itu benar. Kau ada di sini.”


Aditya mengacak rambutnya. Menyesali tindakan gegabah Sydney.


“Memangnya kamu kemarin ke mana, Zura?” tanya Aditya menginterogasi. Sydney tampak panik, tapi tidak bisa menjawab apapun. Dia harus merahasiakan pertemuan tidak sengajanya dengan Reynand.


“Sudah. Tidak usah bertengkar. Kalian menikah belum sepekan, sudah bertengkar.”


“Kami tidak bertengkar!” seru Sydney dan Aditya serempak.


Mila tersenyum pendek.


Mila bangkit dari duduknya dan mengeluarkan secarik kertas dari saku jacket tudungnya.


“Siang ini, kau harus berangkat ke Malaysia, Dit. Ini tiketmu. Urusan adiministrasimu di sini sudah beres, kan?”


Aditya terperangah mendapat tiket di tangannya. Satu lembar, sudah bernama. Dia menoleh ke arah Sydney.


“Aku tidak akan meninggalkan Sydney. Dia harus ikut bersamaku.”


Mila mengeluarkan secarik kertas lagi dan menyerahkannya ke Sydney.


“Kau, ke Jepang siang ini.”


“APAAA??” seru Aditya dan Sydney serempak.


Mila tersenyum pendek. “Sepertinya kalian sudah mulai kompak untuk urusan membantah.”


Aditya bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan kakaknya.


“Kak, bagaimana mungkin kamu mengatur kehidupan kami seperti main catur saja. Sydney ikut aku ke Malaysia.”


“Dia mau tinggal di mana? Dia tidak lolos beasiswa itu kan?”


Aditya dan Sydney mendelik bersamaan. Sydney karena tidak percaya kalau dia tidak lolos. Dan Aditya karena tidak percaya Mila bisa mengetahui informasi yang tidak mudah didapat jika tidak punya koneksi di Malaysia. Apalagi pengumuman resminya baru dipublish nanti siang di website.


“Darimana kakak tahu? Diumumkan saja belum.”


“Sydney tidak mengikuti tesnya.”


“APAAA??” seru Aditya dan Sydney serempak.


“Aku ikut tes. Aku mengerjakan semua soalnya, “ protes Sydney.


Mila menggeleng. “Tidak. Kau mengerjakan soal yang berbeda.”


“Bagaimana mungkin? Aku sendiri yang mengantar Sydney ke tempat test dan aku tunggu sampai dia keluar.” Aditya mulai panik dan tidak sabar.


Mila mengangkat kedua tangannya melebar.


“Dia mengerjakan tes beasiswa ke Jepang. Dan dia diterima.”


“APAAA??” seru Aditya dan Sydney serempak.


“Kalian tahu, aku mulai sebal kalau kalian berteriak berbarengan seperti itu,” keluh Mila.


Aditya mondar mandir, mengacak-acak rambutnya berkali-kali. Sydney hanya bisa terduduk di ranjangnya, menyandar ke dinding. Sejurus kemudian, tatapan mereka saling bertaut. Mereka punya pemikiran yang sama. Ada seseorang di belakang semua ini. Mila hanya perempuan biasa, tidak mungkin dia bisa mengatur ini semua begitu detil.


“Katakan, siapa yang mengatur semua ini?” tanya Aditya sembari berkacak pinggang dan memaksa Mila menatap matanya. Dia tahu, Mila tidak akan berbohong. Dia hanya belum mengatakan kebenarannya saja.


“Ayahmu, “ jawab Mila sambil melempar pandangan ke arah Sydney, membuat gadis itu langsung menegakkan punggung.


“Sebaiknya kalian berdua menuruti perintah ayah Sydney Azura. Dia sangat tahu bagaimana licik dan kejinya majikanku. Ayah Sydney sudah menjamin keselamatan Sydney. Aku mohon percayalah padaku.”


Mila membalikkan badan dan memakai tudungnya. “Aku harus segera pulang.”


Pintu tertutup. Sydney bangkit dari ranjang dan mengunci pintu, lalu bersandar di pintu, seolah menjaga agar tidak seorangpun bisa mendobrak. Aditya menghampiri Sydney, merengkuh pinggang gadis itu. Mereka saling bicara dengan tatapan. Aditya menempelkan keningnya di kening Sydney. Dirasakannya nafas hangat gadis itu, juga debaran dadanya yang bersicepat.


“Aku mencintaimu,” bisik Aditya lembut.


Sydney memejamkan mata. Memasrahkan dirinya mendapatkan kesepakatan demi kesepakatan dari Aditya, tanpa hitungan menit.