MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pembunuhan



Mobil melaju perlahan, mengikuti arus kemacetan menuju pintu masuk tol. Ibrahim yang duduk di bangku belakang tampak sibuk dengan isi kopernya, mengirim beberapa pesan, dan dia mulai kegerahan. Darmaji mengamati semuanya dari kaca spion.


“AC-nya mati?” tanya Ibrahim tak lama kemudian. Dia mulai berkeringat.


“Iya, tuan. Rencana tadi saya mau ke bengkel, tapi saya khawatir terlalu lama. Jam 12 Nyonya meminta saya sudah harus di rumah.”


“Buka saja jendelanya. Apa ada air minum?”


Darmaji mengeluarkan botol air mineral dari sebuah tas plastik di sebelahnya. Dia sudah mempersiapkan dua botol air mineral yang sama. Satu untuknya, dan satu untuk Ibrahim. Untuk Ibrahim dengan segel sudah terbuka. Di apotik tadi, dia sudah memasukkan sesuatu ke dalam botol untuk Ibrahim. Darmaji tersenyum sejenak menatap botol itu dan memberikannya pada Ibrahim. Ibrahim menerimanya, tapi tidak langsung meminumnya. Dia membereskan beberapa kertas ke dalam kopernya. Sepertinya, meski terdesak haus, dia sangat hati-hati menjaga kertas-kertas berharga di kopernya.


Mobil melambat memasuki jalan tol. Darmaji melirik kaca spion dan melihat botol itu masih di bangku. Ibrahim sudah selesai dengan kopernya, tapi masih juga belum menenggak botolnya. Dia mengendurkan dasi, merasa gerah, padahal jendela sudah terbuka sedikit.


“Besok Nyonya dipanggil ke kantor polisi, Tuan. Saya rasa Nyonya belum boleh bepergian ke luar negeri.”


Ibrahim menatap punggung Darmaji, “Tidak juga. Aku saja boleh ke luar negeri.”


“Ah, iya. Saya lupa. Anda sudah diperiksa polisi juga kan?”


“Ya, dan mereka tidak menemukan bukti apapun terkait kematian suami Nyonya Mulan.”


“Saya dengar, ada orang dalam Maskapai yang terlibat. Apa benar, Tuan? Apa Tuan punya dugaan? Terus terang, saya tidak percaya kalau Tuan Ariel dibunuh. Dia orang yang sangat baik. Sungguh tega sekali orang yang membunuhnya.”


Ibrahim mendehem beberapa kali, dan Darmaji melihat dari kaca spion Ibrahim mulai menenggak botol minumnya. Darmaji tersenyum.


“Anda masih ingat Tuan Reynand, kan?”


“Tentu saja, masih ingat. Kau ini bagaimana sih, Darmaji.”


“Maksud saya, apakah anda ingat bahwa Tuan Reynand kerap memergoki anda bersama Nyonya.”


Darmaji merasakan sebuah cekikan di lehernya. Dan mobil yang mereka kendarai menjadi oleng ke kiri jalan. Untunglah jalan tol menuju bandara sedang sepi.


“Apa yang kaurencakan, Dar? Mau menjebakku? Urusanku dengan Nyonya besarmu, tidak ada hubungannya denganmu. Jadi kamu, tidak usah terlalu banyak tahu.”


Darmaji berusaha tertawa, meski tercekik. Darmaji menghentikan mobilnya di tepi jalan tol.


“Anda salah Tuan, saya tahu banyak tentang anda dan Nyonya. Dan bila sampai polisi mengetahui perselingkuhan anda dengan Nyonya …”


Ibrahim mencekik semakin erat, “Sepetinya, polisi salah memeriksa orang. Aku akan memastikan kamu meringkuk di penjara lebih cepat. Bahkan sebelum mobil ini sampai di bandara. Kau tahu, bagi Mulan kau tak lebih dari anjing piaraannya.”


Ibrahim melepas cekikannya, merapikan bajunya. Dan meraih air mineral. Menenggakknya sampai separuh. Setelahnya dia merasa semakin gerah. Dia membuka jas dengan gelisah.


“Kenapa, Tuan? Gerah?”


Ibrahim merasa lehernya tercekik dan dadanya berat. Nafasnya tersengal, memburu semakin cepat. Dadanya sampai membusung berkali-kali.


Darmaji tampak tenang, kembali melajukan mobil di jalanan, setelah meraba lehernya yang masih terasa sakit setelah dicekik Ibrahim. Matanya tak lepas dari spion, terkekeh menatap Ibrahim yang semakin payah bernafas dan roboh ke samping. Darmaji semakin terbahak. Ditutupnya jendela, sementara terdengar suara melenguh di belakang. Dihidupkannya AC, lalu memutar video film blue.


Darmaji tidak mengambil jalan menuju bandara. Dia keluar dari tol, dan menuju Rumah Sakit terdekat.


“Sepertinya, Tuan Ibrahim yang terhormat lebih dulu masuk penjara peti mati daripada saya. Bukan begitu Tuan? Tidak ada yang bisa memiliki Nyonya besar selain saya. Oke, saya memang anjingnya. Saya akan menggigit siapapun yang mengganggu Nyonya besar.”


Darmaji melongok ke bangku belakang. Ibrahim sudah tak bergerak. Darmaji terbahak, aura kemenangan dan kegilaan adalah miliknya. Suara dari video semakin membuatnya bersemangat.


***


Suara sepatu mendetak, menggema di selasar Rumah Sakit. Mulan dan beberapa orang dari Maskapai. Kabar ini sungguh mengejutkan.


“Hubungi polisi yang memeriksa kasus suamiku, “ perintah Mulan sembari berjalan di selasar.


“Darmaji bilang sudah ada polisi di UGD.”


“Polisinya beda, ****. Bisa jadi ini ada kaitannya dengan kasus suamiku, “ sergah Mulan.


Mulan mendapati Darmaji baru saja keluar ruangan dengan membawa beberapa kertas. Dua orang polisi berdiri tidak jauh darinya, memeriksa koper yang terbuka di atas meja.


“Darmaji!” panggil Mulan.


Melihat majikannya, Darmaji bergegas mendekat.


“Bagaimana?”


“Sudah tidak tertolong, Nyonya. Saya sudah menghubungi istrinya.”


Tiga lelaki dari Maskapai geleng-geleng kepala, tak percaya. Salah satunya segera mengeluarkan ponsel. Hendak mengabari maskapai.


“Apa kata dokter?” desak Mulan.


“Serangan jantung.”


“Serangan jantung?” tanya lelaki di sebelah Mulan, “Pak Ibrahim itu lebih layak disebut atlit daripada direksi. Dia rajin olah raga. Bagaimana bisa dia terkena serangan jantung?”


“Mungkin karena nonton video itu…”


“Video apa?”


Darmaji menunjuk ke arah koper yang diperiksa polisi. Salah seorang polisi memegang kepingan Disk.


“Jadi, tadi sedang menonton ini saat serangan jantung?” tanya salah seorang polisi pada Darmaji, “ada beberapa CD di sini. Dan semuanya …. gila.”


“Jangan sampai ini tersebar di publik, apalagi Maskapai, “ perintah Mulan pada orang maskapai, “kalian tahu sendiri kinerja Pak Ibrahim luar biasa. Ini mungkin hobi atau kesenangan saja. Tutupi. Kalian paham? Bereskan berkas maskapai di koper itu.”


Ketiga lelaki itu mengangguk-angguk. Mulan menggamit Darmaji menjauhi polisi dan orang maskapai yang mengerumuni koper milik Ibrahim.


“Apa yang terjadi sebenarnya, Darmaji?” tanya Mulan menelisik muka Darmaji yang tampak tenang.


“Tidak ada nyonya. Dia hanya merasa kegerahan, lalu minta minum. Lalu minta distelkan film blue. Saya hanya menuruti apa kemauannya.”


“Dia tidak mungkin mati begitu saja, Dar. Apa yang terjadi,” desis Mulan sembari menarik baju Darmaji, memberikan nada ancaman.


Kematian ini telah membuyarkan semua rencana indahnya, untuk menikah dengan Ibrahim. Lelaki itu sudah menunjukkan surat cerainya tadi siang, dan Mulan menyimpannya dengan sangat baik. Saat di Paris nanti, istri Ibrahim yang selama ini menyanjungnya, akan menenggak pil tidur hingga overdosis. Wanita rapuh yang mengira dia memiliki Ibrahim seutuhnya. Mulan sudah mempolesnya untuk selalu percaya padanya, dan tikaman pernikahan di Paris itu akan membuatnya menyadari bahwa Mulan telah menggantikannya dengan mudah.


“Saya menyelematkan Nyonya.”


“Apa maksudmu?”


“Polisi sudah tahu, perihal perselingkuhan Nyonya dengan Tuan Ibrahim.”


Mulan mendelik.


“Kamu gila, Dar,” pekik Mulan tertahan, sambil memukul dada Darmaji, “polisi bisa mengaitkan ini dengan kasus suamiku. Ibrahim masuk tersangka juga, kamu tahu itu kan.”


Darmaji terdiam. Hatinya riang bermain-main, tapi berusaha tak dinampakkannya di wajahnya. Melihat wajah Mulan memerah dan gelisah, dia begitu gembira. Di matanya, Nyonya besar terlihat sangat cantik ketika marah.


Mulan tampak gelisah, wajahnya memerah. Dan dia benar-benar panik. Darmaji memang anjingnya yang paling setia, tapi dia tidak menyangka dia benar-benar punya taring yang mengerikan. Rencananya untuk menikah dengan Ibrahim kandas di tangan Darmaji. Tapi, bisa jadi itu hal terbaik dalam hidupnya, seperti halnya kematian Ariel Bramantya. Tidak ada yang akan bisa mengaitkannya dengan kematian suaminya. Tidak Ibrahim, tidak juga Darmaji.


Mulan tiba-tiba tersenyum menatap Darmaji, lalu menepuk pundaknya. Bersikap seperti majikan pada umumnya. Mulan baru menyadari, bahwa dia punya bodyguard yang secerdas dirinya. Kepada Darmaji yang setiap padanya, dia harus bisa memanfaatkannya untuk memenuhi ambisinya. Maskapai.


“Good Job, Dar. Kau tahu, aku selalu memberi harga pantas untuk sebuah pekerjaan bagus.”


Darmaji tersenyum puas.