
Reynand benar-benar keren dengan
sweeter hitam berleher tinggi sampai ke bawah dagu, dan jas hitam mahal yang
dipakainya. Anak itu tahu benar bagaimana cara berpakaian yang membuatnya
menjadi pusat perhatian. Tentu saja, dibandingkan semua undangan yang notabene
adalah mahasiswa satu kost dan beberapa teman satu jurusannya, dia lebih
berkilau. Bahkan menyilaukan menurut Hud.
Terutama ketika Hud berdiri di
sampingnya, mengenakan setelan jas berwarna hitam dan kaca mata hitam. Berperan
sebagai bodyguard, saat menjabat tangan Merlin. Rey benar-benar seperi bos. Hud
lega, setidaknya, saat turun dari mobil Rey, membukakan pintu mobil bagi Tuan
Reynand Bramantya, Merlin melihatnya telah melakukan tugas sebagai bodyguard
dengan fee dari maskapai. Sore ini, dia dan Rey tidak bernampilan konyol.
Untunglah setelah membuka acara,
Merlin meninggalkan Restoran Pegasus. Rupanya dia kurang begitu suka dengan
suasana pesta, apalagi semua yang hadir berambut hitam dan berkulit kencang. Tidak
seperti dirinya yang sudah keriput dan rambutnya penuh uban. Dia memang orang
yang tahu menempatkan diri. Rey seharusnya bersyukur masih ada Dewan Direksi
seperti Merlin, saat yang lain tidak bisa ditebak mendukungnya atau malah
menusuknya dari belakang. Makanya, dia dengan rela hati menerima hadiah dari
Merlin, yaitu pesta ulang tahunnya yang ke-20, di restoran milik Mamanya. Hud
berharap, wanita gila itu muncul setelah acara bubar.
Hud melepas kaca mata hitam dan jas
hitamnya, dan kembali menjadi mahasiswa seperti yang lain, ketika yakin Merlin
sudah keluar dari ruang utama.
“Hud, cocok juga kamu jadi bodyguard
Rey,” goda Mas Hanif sambil menyikut lengannya.
Hud mencibir dirinya sendiri, “Cuma
peran, mas. Maklum Rey belum punya bodyguard asli.”
“Eh, tapi bisa tuh buat modal pasca
lulus,” sahut yang lain.
Rey dan Hud terbahak bersama. Hud
senang bisa melihat Rey tertawa. Anak itu tampak berusaha menikmati masa
bersama teman-temannya. Sebentar lagi, dia sudah harus mengurus maskapai
warisan Papanya. Dan itu akan membuat dia kehilangan tawa lepasnya. Rambutnya
akan cepat memutih seperti Dewan Direksi.
Hud tidak begitu memperhatikan Rey,
ketika anak itu menangkap gesture Sydney di luar ruangan, berjalan perlahan
menuju pintu yang sudah dipersiapkan khusus. Pintu itu dekat dengan meja Rey.
Rey sudah memerintahkan pada pramuria, bila ada undangan bernama Sydney, harus
dikawal melalui pintu itu, dan diantar menuju tempat duduk yang tidak jauh dari
Rey. Rey tidak ingin, pandangannya terlepas apalagi sampai kehilangan Sydney.
Hanya wajah gadis itu yang membuat harinya kali ini begitu luar biasa, seolah
sejak tadi kembang api meledak di ruangan ini.
Baru saja Sydney memasuki ruangan
tanpa Rey melepaskan pandangan darinya, tiba-tiba monster itu datang. Dia
mendorong tubuh Sydney dari arah belakang, yang menghalangi jalannya untuk
menuju meja Rey sambil memaki Reynand.
“Rey, Mamamu datang!” bisik Hud
tertahan. Tiba-tiba, dia merasa ngeri melihat wanita gila itu berdiri di depan
meja Reynand dan membalik meja bundar itu seperti membalik kapas.
Suasana menjadi ribut seketika. Semua
orang berdiri. Termasuk Reynand dan Hud. Wanita itu berjalan congkak mendekati
Reynand dan mengangkat telapak tangannya di udara. Hud menahan napas, memegang
lengan Reynand. Wanita gila itu tampak sangat marah, dan dia siap menempeleng
anaknya. Rey berusaha melepaskan tangan Hud. Dia hendak menanggung sendiri
kemarahan wanita di depannya.
Tepat sebelum tangan Mulan menyentuh
pipi halus Reynand, sebuah tangan kokoh menangkap tangan Mulan di udara.
Mulan terkejut. Menoleh, dan mendapati
seorang perempuan berjilbab sudah ada di sebelahnya, mencengkeram tangannya.
Dan sedetik kemudian memelintir tangannya ke belakang dan membanting badannya
ke lantai.
Terdengar teriakan kesakitan yang
mengalahkan pekikan keterkejutan semua orang di ruangan. Rey dan Hud melongo,
apalagi ketika Mulan meronta, kaki perempuan berjilbab itu mengunci punggungnya
hingga tidak dapat bergerak.
“Lepaskan aku! Kurang ajar!” teriak
Mulan histeris.
Semua undangan berkerumun. Hud
bergegas mendekati perempuan berjilbab itu, tapi Rey menahan Hud dengan
tangannya. Perlahan Rey mendekat dan berjongkok di dekat Mamanya.
“Sydney, lepaskan dia,” ucap Reynand
lembut, “dia hanya sedang emosi saja.”
Perempuan berjilbab itu—Sydney.
padanya. Rey mengulurkan tangannya ke arah Sydney. Sydney menatap Rey tak
berkedip, lalu menatap telapak Rey yang menadah ke arahnya. Ada kekuatan magnet
luar biasa, yang menarik Sydney untuk meraih tangan itu. Dan hal itu membuatnya
lalai bahwa dia sedang menindih seorang wanita gila. Wanita itu meronta dan
berhasil membuat Sydney terjengkang. Namun, dalam hitungan detik, Sydney
langsung bangkit dan berdiri dengan kokoh, dalam posisi kuda-kuda.
“Dasar wanita murahan!” pekik Mulan
histeris.
Entah dari mana asalnya, dua orang
lelaki kekar meringkus Sydney dari belakang dan menyeretnya keluar ruangan. Dan
Mulan berusaha berdiri dibantu Darmaji yang sudah ada di sampingnya, yang
mengibas tangan Darmaji dengan marah. Sekejap dia berusaha merapikan rambut dan
pakaiannya.
“Kau akan membayar semua ini, Rey.
Ingat itu!” ancam Mulan sembari menatap Rey nyalang.
Rey bergeming, memasukkan tangan ke
saku celananya. Dia berada di atas angin, seperti yang disampaikannya pada Hud.
Bahwa acara ini adalah acara Merlin untuknya. Semua yang hadir adalah undangan.
Termasuk Mulan sang pemilik Restauran.
“Bukankah ini restoran Mulan
Bramantya? Jadi aku tidak perlu membayar kerusakan yang dibuat oleh pemiliknya
sendiri.”
Mulan mendecih penuh kebencian, lalu berlalu
dengan langkah marah keluar dari restoran. Dia merasa begitu terhina oleh
perempuan tadi. Dan bukan Mulan bila dia tidak segera membereskan siapapun yang
menghalangi langkahnya.
“Oke, teman-teman, maaf atas insiden
tadi. Sebentar lagi maghrib, silahkan berbuka,” ucap Rey berusaha mengembalikan
suasana.
Beberapa pelayan datang dan bergegas
membereskan meja yang digulingkan Mulan menyiapkan hidangan pengganti, dan
membersihkan lantai dan piring yang berserakan. Rey memberi kode pada Hud untuk
mengikutinya. Sydney pasti dalam masalah besar.
Di area parkir, Rey dan Hud tidak
mendapati baik Mulan ataupun Sydney. Rey tampak panik. Dia berlarian ke setiap
sudut area parkir, tapi tidak berhasil menemukan Sydney.
“Hud, cari dia di belakang!” perintah
Rey panik.
Hud berlari ke area parkir motor. Rey
melihat mobil Mamanya, sudah siap keluar dari gerbang. Di pintu gerbang, mereka
dicegat oleh dua orang yang meringkus Sydney tadi. Rupanya Mulan memang
berencana membuat kacau acara Rey, dengan membawa dua lelaki yang meringkus
Sydney tadi. Bila tidak ada Sydnye, bisa jadi Hud atau Rey sendiri yang akan
diringkus.
Dan Rey nyaris tertawa melihat muka
dua orang itu babak belur. Yang satu hidungnya berdarah, dan satunya tampak
kesakitan memegang lengannya. Sejurus kemudian, dua orang itu menaiki mobil
Mulan.
Rey memindai sekitarnya ketika mobil
Mamanya sudah menghilang di jalan. Dia yakin, Sydney sudah tidak di sini lagi.
Gadis itu pasti lari entah ke mana. Yang jelas, Rey tahu larinya cepat sekali.
“Sydney, kamu dalam masalah besar bila
berurusan dengan Mama,” ucap Rey sembari meluruskan jas dengan telapak
tangannya.
Dia tak habis pikir, kenapa Sydney
bisa membanting Mulan di depan matanya. Gadis itu, melindunginya! Dan itu
membuatnya tersenyum bahagia. Kado terbaik di ulang tahunnya, Sydney mewakili
keinginannya untuk memukul telak Mulan sekaligus menunjukkan bahwa dia adalah
orang penting bagi Sydney.
Hud datang dengan nafas terengah.
“Rey, kau menemukannya?” tanya Hud
ketika melihar Rey tersenyum-senyum.
Rey membentangkan lengan, “Terima
kasih sudah mendatangkan Sydney, Hud. Tanpa dia, pasti Mama sudah membuatku
menjadi bubur.”
“Mana Sydney?”
“Sudah pergi.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu. Dia sudah menghajar
dua orang itu, membuat hidung mereka berdarah.”
Hud mendelik tak percaya. Sementara
Reynand menyisir rambut dengan telapak tangannya, dengan senyum tak kunjung
reda dari wajahnya.